AKU AKAN TETAP MENYANYI DALAM HATI

Renungan Harian

Menjaga Jalan-jalan Menuju Jiwa

Hendaklah kamu penuh dengan Roh, dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Efesus 5:18, 19

Allah dipermuliakan oleh nyanyian-nyanyian pujian yang keluar dari hati yang bersih yang dipenuhi dengan kasih dan setia kepadaNya. . . . Ucapan syukur yang dirasa oleh mereka (orang-orang Kristen) dan damai Allah menguasai hati mendorong mereka menyanyi dalam hati kepada Tuhan dan oleh perkataan yang menjelaskan hutang kasih dan ucapan syukur kepada Juruselamat yang sangat mengasihi mereka sampai mati agar mereka hidup.

Cerita tentang kidung-kidung Alkitab penuh dengan nasihat yang baik yang digunakan menjadi nyanyian dan lagu yang berfaedah. Musik sering dialihkan untuk maksud-maksud jahat, dan dengan demikian menjadi salah satu perkakas pencobaan yang memikat. Akan tetapi, jikalau digunakan dengan sepatutnya, musik itu merupakan satu pemberian Allah yang sangat berharga, dimaksudkan untuk mengangkat pikiran kepada perkara yang tinggi dan agung, untuk mengilhami dan mengangkat jiwa.

Sebagaimana anak-anak Israel berjalan melalui padang pasir, bergembira karena lagu yang kudus, demikian Allah mengajak anak-anakNya zaman ini menghibur perjalanan hidup mereka. Tidak banyak cara yang lebih berhasil menetapkan firmanNya dalam ingatan dari pada mengulang-ulanginya dalam lagu. Dan lagu tersebut mempunyai kuasa ajaib. Lagu itu berkuasa menaklukkan sifat-sifat kasar dan tak terpelihara; berkuasa menghidupkan pikiran dan membangkitkan rasa belaskasihan, menyelaraskan tingkah Iaku, dan membuang kesuraman dan persangkaan yang mematahkan semangat dan usaha yang melemahkan.

Itulah salah satu cara yang amat berhasil berkesan pada hati dengan kebenaran rohani. Betapa sering jiwa yang tertindas dan hampir putus asa, ingatan mengenang kembali firman Allah—nyanyian masa kanak-kanak yang tak terlupakan dan pencobaan kehilangan kuasanya, hidup mengambil arti dan maksud yang baru, dan keberanian hati serta kegembiraan dibagikan pada jiwa-jiwa yang lain.

Hidupku Kini, hal. 92

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *