renungan berkat

BUAH-BUAH PENYUCIAN

Renungan Harian
Penyucian
Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Filipi 4:4

Melalui Yesus anak-anak Adam yang jatuh menjadi “anak-anak Allah.” “Sebab la yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu; itulah sebabnya la tidak malu menyebut mereka saudara.” Kehidupan Kristen haruslah satu iman, satu kemenangan, dan kesukaan dalam Allah. “Sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan Inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita,” Nehemia, hamba Allah, sesungguhnya berkata, “Karena kesukaan yang dari pada Tuhan itulah juga kuatmu.” Dan Paulus berkata: “Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”

Itulah buah-buah pertobatan dan penyucian dari Alkitab.

Sifat manusia yang sesungguhnya benar telah diresapi dengan kasih akan Allah dan sesamanya manusia dengan cermat sehingga Ia melakukan pekerjaan Kristus dengan hati yang rela. Semua yang datang dari lingkungan pengaruh orang ini merasakan keindahan dan keharuman kehidupan Kristennya, sedangkan dia sendiri tidak menyadarinya, karena itu serasi dengan kebiasaannya dan kehendak hatinya. la meminta terang ilahi, dan suka berjalan di dalam terang itu. Makanan dan minumannya ialah melakukan kehendak Bapanya yang di surga. Hidupnya terpaut dengan Kristus di dalam Allah, namun ia tidak menyombongkannya ataupun bangga akan hal itu. Allah menyenangi orang yang sederhana dan rendah hati yang mengikuti dengan ketat jejak Gurunya. Malaikat-malaikat tertarik kepada mereka dan suka mengikuti jalan mereka. Mungkin mereka dilewati bagaikan barang yang tidak berharga tidak diperhatikan oleh mereka yang menyombongkan hasil yang mereka capai, dan senang memamerkan hasil karya mereka, tetapi malaikat-malaikat surga melindungi orang-orang itu bagaikan dinding api yang mengelilingi mereka. . . . Kepada manusia telah dikaruniakan kesempatan untuk menjadi waris Allah dan sewaris dengan Kristus.

Hidupku Kini, hal. 253

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *