Facebook—atau Buku Kehidupan?

Blog AFI

Facebook di Australia telah berhasil melacak keadaan psikologis dari penggunanya, beberapa diantaranya berumur empat belas tahun. Berdasarkan presentasi yang tersebar, penelitian mereka telah menemukan bahwa “emosi antisipasi biasanya dinyatakan pada awal minggu, sementara emosi reflektif bertambah pada akhir pekan”.

Informasi ini bisa digunakan oleh para pengiklan yang melanggar kode etik dengan cara menargetkan orang berdasarkan keadaan emosinya—memburu konsumen yang depresi dan percaya bahwa hal-hal tertentu dapat membuat mereka merasa lebih baik. Nyatanya, praktek ini juga menimbulkan perhatian tentang bagaimana Facebook menggunakan data yang diperoleh dari penggunanya, lebih dari satu milliar di seluruh dunia. Sementara Facbook telah menyatakan pernyataan maaf, kenyataannya informasi ini tetap dikumpulkan oleh Facebook.

Sementara kebanyakan pengguna waspada terhadap penggunaan teknologi di sekitar kita dapat melacak banyak hal tentang siapa kita dan apa yang kita lakukan, kita sering kali memilih untuk mengabaikan kenyataan ini. Tetapi apakah kita memilih untuk mengabaikan kenyataan atau tidak, itu tidak mengubah yang sedang terjadi.

Tetapi apakah anda tau bahwa Tuhan juga mampu untuk mengetahui setiap ketakutan, sukacita, dan tindakan—dan bahkan mencatatnya? Pemazmur mengungkapkan, “Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan?” (Mazmur 56:9). Apa yang akan Dia lakukan terhadap informasi itu, kita dapat mempercayai-Nya!

Dalam kitab Daniel, sekali lagi kita dapat melihat sekilas dari kitab catatan ini—sebuah kitab yang mencatat setiap nama dari mereka yang mengikut Tuhan dan terluput dari kesesakan besar dunia ini (Daniel 12:1). Meskipun berbagai tantangan kita hadapi dalam hidup kita, kita bisa yakin bahwa Yesus di pihak kita saat penghakiman, ketika kitab ini dibukakan.

Marilah kita mengingat musuh kita bukan Tuhan, tetapi setan, yang terus menjauhkan kita dari surga. Tuhan mengkhendaki untuk menghabiskan masa kekekalan bersama kita dalam hubungan bertatap muka dengan-Nya (1 Korintus 13:12).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *