Haruskah Kita Merayakan Hari Natal?

Blog AFI

25 Desember? Apa yang Alkitab katakan? Haruskah saya ikut merayakannya?

     Kebanyakan umat Kristen diseluruh dunia merayakan 25 Desember sebagai hari libur memperingati kelahiran Yesus Kristus. (Tentunya, bahkan banyak non-Kristen juga merayakan festival ini dengan tukar kado dan perkumpulan sosial). Namun tetap tanggal pasti kelahiran Yesus tidaklah diketahui, dan asal mula Natal yang khalayak umum ketahui sekarang, mulai dipertanyakan. Beberapa mulai bertanya-tanya apakah umat Kristen perlu berpartisipasi dalam tradisi-tradisi Natal yang ada di dunia Barat?

Pertama, adalah jelas bahwa Alkitab tidak pernah memerintahkan untuk kita untuk memelihara Hari Natal sebagai hari kudus sebagaimana Hari Sabat dalam Sepuluh Hukum. Tidak ada ayat Alkitab yang berbunyi, “Ingatlah dan kuduskanlah 25 Desember”. Sementara itu boleh menjadi hari libur nasional, tetapi bukanlah hari kudus secara alkitab.

Bagaimana dengan asal mula Natal? Bukanlah hal baru perihal unsur-unsur kekafiran di dalamnya. Kontroversi mengenai Natal sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Kaum Puritan di Inggris sebetulnya memimpin Parlemen Inggris untuk melarang Natal dalam beberapa waktu sebagai “festival kepausan tanpa pembenaran alkitabiah”. Serta menyebutnya waktu penuh kesia-siaan dan perilaku tak bermoral. Bahkan dalam Kolonial Amerika sekitar tahun 1659 Natal tidak sah secara hukum. Belakangan ini, unsur-unsur sekuler dari masyarakat telah berhadapan dengan kelompok-kelompok agama berkenaan dengan adegan malam kelahiran yesus dan salib-salib pada ranah umum.

Alkitab pastinya menggaris bawahi kelahiran Kristus (Lukas 2:7). Tidak hanya menerangkan tentang pengumuman mulia akan kelahiran Sang Mesias (ay.13) tetapi juga menyatakan para gembala yang datang menyembah anak yang baru lahir ini (ay.16). Para penyembah sederhana ini juga tidak hanya berdiam diri atas apa yang mereka lihat (ay.17). Lebih lanjut, ada sebuah catatan tentang orang bijaksana dari Timur membawa persembahan kepada Yesus – meskipun ini sepertinya terjadi ketika Yesus sudah balita (Matius 2:11). Jika mereka mengakui kelahiran Kristus melalui penyembahan dan membawa persembahan, mungkin ada sesuatu yang bisa kita pelajari dari contoh mereka.

Disamping dari unsur-unsur kekafirannya, kebanyakan orang memahami bahwa Natal ialah perayaan kelahiran Yesus. Tapi pada praktiknya, orang menghabiskan lebih banyak waktu di bulan Desember menjelajahi pusat perbelanjaan daripada mempelajari kehidupan Juruselamat. Frosty the Snowman (cerita boneka salju) dan Rudolf the Red-Nosed Reindeer (cerita Natal si rusa kutub berhidung merah milik Sinterklas) bersaing dengan kisah tiga orang bijak dan para gembala untuk merebut perhatian kita. Selama masa kesibukan antara “Black Friday” dan Malam Natal, meterialisme cenderung mengalahkan kesederhanaan.

Tetapi bagaimana sekiranya umat Kristen menghabiskan lebih banyak waktu bersaksi bagi Kristus pada hari Natal? Atau membeli dan membagikan sumberdaya Kristen yang membawa orang kepada Yesus? Apa yang terjadi jika lebih banyak keluarga mendedikasikan waktu dan uang untuk melayani orang miskin dan mempercepat pekabaran Injil melalui pelayanan misi singkat? Bagaimana gereja kita akan dikuatkan, sekiranya selama waktu libur ini, umat percaya menyelidiki nubuatan-nubuatan mengenai kedatangan Kristus pertama kali begitu pula kedatangan-Nya yang kedua kali? Mungkin perhatian kita terhadap Natal akan berkurang pada hal-hal kekafirannya dan lebih kepada praktik-praktik yang mulia.

Banyak orang mungkin menolak jika dikatakan mereka “menyembah” hari ini sebagai hari kudus, tetapi apakah itu penyembahan? Penyembahan tidaklah diukur hanya dengan menghadiri konser Natal atau misa tengah malam. Penyembahan ialah bagaimana kita menjalani hidup kita dan menghabiskan semua yang ada pada kita. Sebagaimana Paulus katakan, “Siapa yang berpegang pada suatu hari yang tertentu, ia melakukannya untuk Tuhan” (Roma 14:6). Dan, “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1 Korintus 10:31)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *