Hidup dalam Perbudakan

Blog AFI
Mari bagikan artikel ini

living-in-slavery-large

Baru-baru ini diberitakan Global Slavery Index (Indeks Perbudakan Global) tahun 2016 diperkirakan 45.800.000 orang saat ini terjebak dalam beberapa bentuk perbudakan.

Perbudakan adalah ketika “seseorang tidak bisa menolak atau pergi karena ancaman, kekerasan, pemaksaan, penyalahgunaan kekuasaan atau penipuan, dengan perlakuan mirip dengan hewan ternak.” Kategori ini termasuk perdagangan manusia, kerja paksa, penjualan dan eksploitasi anak-anak, dan pernikahan yang dipaksa seperti diperbudak. Indeks tersebut menunjukkan peringkat negara-negara berdasarkan “proporsi penduduk yang diperkirakan berada di perbudakan modern.”

Dengan oknumnya (seperti sekte) negara Komunis mempekerjakan paksa pekerja di kamp-kamp penjara, seperti Korea Utara memiliki rata-rata kasus tertinggi perbudakan, diikuti oleh Uzbekistan, Kamboja, India, dan Qatar. Korea Utara juga memaksa wanita dalam pernikahan dan eksploitasi seksual komersial di negara-negara terdekat. Negara-negara yang memiliki angka tertinggi mutlak bahwa orang dalam perbudakan adalah India, China, Pakistan, Bangladesh, dan Uzbekistan.

Perbudakan bukan hanya dosa, tapi alhasil dari dunia yang penuh dosa yang kurang peduli terhadap orang lain. Tapi apakah Anda akan terkejut jika mengetahui bahwa banyak orang yang hidup dalam perbudakan, bahkan mereka tidak tahu mereka adalah budak?

Yesus pernah berkata, “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yohanes 8:31, 32). Para pendengar yang bingung menjawab, “Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?” (Ayat 33).

Perhatikan respon Kristus:  “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.” (ayat 34).

Banyak yang menghina perbudakan tetapi mengabaikan perbudakan mereka sendiri yang terjadi oleh dosa mereka. Ini adalah sifat dosa menipu seseorang untuk berpikir bahwa mereka bebas padahal sebenarnya mereka terjerat dalam perangkap mematikan. Alkitab menjelaskan, “Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati, baik dalam dosa yang memimpin kamu kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran?” (Roma 6:16).

Membandingkan masa sebelum banjir di seluruh Bumi dengan akhir zaman, Yesus berkata, ” Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia” (Lukas 17:26). Orang-orang sebelum banjir yang diperbudak oleh dosa berpikir mereka hidup dalam kebebasan. Hal ini tidak berbeda dengan sekarang.

Apakah Anda menemukan Kebenaran yang akan membebaskan Anda dari perbudakan dosa? Informasi Lebih Lanjut Silahkan Klik Disini.


Mari bagikan artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *