Hidup Dalam Roh

Hidup Dalam Roh

Bank Pustaka

BK-LNEPendahuluan

Kebutuhan terbesar gereja saat ini adalah kebangkitan dan reformasi rohani yang sejati. Inilah yang didoakan umat Kristiani sejati selama bertahun-tahun – dalam lingkungan keluarga, dalam doa pribadi, dan bersama jemaat pada hari Sabat. Ada perasaan ketidaksanggupanan yang mendalam ketika kita duduk di suatu rumah memberikan Pendalaman Alkitab atau berdiri di hadapan ratusan orang yang akan membuat keputusan untuk Kristus. Kita tahu bahwa tidak ada cara manusia yang dapat memenangkan jiwa atau meyakinkan mereka akan Kebenaran. Hanya Roh Kudus yang benar-benar dapat melembutkan hati untuk menerima dan menyentuh jiwa kepada Kebenaran. Jadi kita berdoa sementara kita menjangkau dengan kata-kata yang tidak sempurna sehingga kuasa Tuhan akan turun pada saat bersaksi.

Kadang-kadang, tentu saja, kita melihat jawaban doa. Orang-orang diubahkan, yang sakit disembuhkan, dan keputusan untuk baptisan pun dibuat. Tapi kenapa kita tidak sering melihatnya? Apakah saksi Roh Kudus yang kadang ada dan kadang menghilang seperti ini yang kita harapkan dari Tuhan? Kenapa tidak terjadi setiap kali kita berdoa dan menuntut janjinya?
Ada waktu tertentu dimana hati kita terbakar, dan kita meninggalkan pertemuan doa dengan gembira karena pelayanan Roh Kudus yang menyegarkan kerohanian kita. Tapi apa pendapat Allah mengenai pertemuan doa tersebut? Apakah Ia dapat menyelesaikan kehendak-Nya yang sempurna dalam pertemuan tersebut? Ketika kepenuhan kuasa Allah dinyatakan, tidak seorangpun yang akan pergi dan membagikan pekabaran dengan cara yang membosankan dan tidak hidup. Seperti api dari surga, Roh Kudus akan bersinar dan menerangi jiwa demi jiwa hingga bumi sendiri akan diterangi dengan kemuliaanNya.

Tapi mengapa kita masih menginginkan penggenapan janji Roh Kudus sepenuhnya seperti kuasa yang berlaku pada saat Pentakosta? Mungkin tidak satupun orang Kristen yang cakap akan berpendapat bahwa penggenapan janji sudah terjadi sekarang ini. Bukan maksudnya bahwa tidak ada penglihatan menggembirakan dan ilham sesaat untuk berkat tersebut yang akan memimpin kepada berkat-berkat lainnya. Tetapi umat Kristen yang lapar dan rindu akan firman Tuhan di manapun mengakui bahwa kita hanya memiliki sedikit saja goresan janji Allah.

Kenyataannya, ada konsensus umum bahwa gereja sedang berdiri pada ambang pintu pelayanannya yang paling unik dan yang sudah ditetapkan. “Hujan akhir” dari Roh Kudus memberikan sebuah pintu masuk menuju fase penuaian akhir dari injil kekal. Dan jika waktu yang tepat dari fase tersebut tidak diketahui, ada sejumlah ayat yang menggambarkan konsekuensi rohani dari keadaan tersebut. Banyak yang mempercayai bahwa “waktu penyegaran” telah tiba dan bahwa iman dan persiapan kita yang kurang telah menahan baptisan Roh Kudus dalam manifestasi akhirnya. Apabila kita membaca janji Firman Tuhan bahwa Ia mau untuk bekerja melalui umatNya yang memiliki komitmen, maka tidak diragukan bahwa kesalahan terletak pada kita bukan pada Allah.

Gambaran peran kita di bawah Roh Kudus membuat kita hampir sesak nafas. Kata-kata dan frase-frase yang digunakan sepertinya sangat fanatik dan berlebihan. Pikiran kita kagum oleh jangkauan luar biasa dari janji yang diperuntukkan untuk umat-umat Allah saat ini. Kita mengedipkan mata kita dan berpikir pasti ada kesalahan disini, atau mungkin ada makna rahasia atau tersembunyi dalam kata-katanya. Alkitab lagi dan lagi menggunakan ekspresi bentuk superlatif dalam menjelaskan kemenangan umat percaya. Tuhan tidak berkata bahwa kita akan menjadi pemenang; tapi Ia berkata kita dapat menjadi “lebih dari pemenang”. Ia tidak hanya berkata bahwa kita dapat diselamatkan, tapi “diselamatkan seutuhnya”. Ia tidak hanya akan membantu kita untuk menang, tapi “selalu menang”. Apakah kata-kata tersebut bermakna seperti apa adanya?

Saya meyakinkan anda bahwa Allah tidak akan menambahkan perkataan-perkataan baik untuk menyenangkan kita. Ada kuasa yang kuat dan benar dalam setiap janji Alkitab. Betapa ekstrim ayatnya terdengar di telinga kita, apapun yang dijanjikan akan digenapi secara tepat segera setelah kita percaya. Betapapun mustahil kedengarannya, kita dapat mempercayainya karena Allah yang mengatakannya.
Pertimbangkan kemewahan dalam janji yang terdapat pada 2 Petrus 1:34, “Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia.” Pertama-tama, perhatikan bahwa “kuasa ilahi” merujuk kepada Roh Kudus. Roh Kudus telah dikirimkan untuk melanjutkan pekerjaan yang Yesus lakukan ketika Ia berada di atas bumi. Ayat tersebut tidak menyatakan bahwa kuasa “akan memberikan”, tetapi “telah menganugerahkan”. Kita tidak perlu mencari persediaan kuasa di masa yang akan datang. Kuasa itu sekarang adalah milik kita untuk meminta dan menuntutnya. Yang kita perlukan hanyalah mengambil apa yang sudah menjadi bagian kita!
Tapi apa yang Roh Kudus sudah siapkan bagi kita? Ayat tersebut mengatakan, “Segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia.” Bukankah pernyataan tersebut mengejutkan anda? Kita seperti menerima cek kosong dari bank surga, bukan? Tapi bukan hal materi seperti rumah, mobil, dan tanah, tapi pastinya mencakup segala sesuatu yang anda perlukan untuk memiliki hidup yang spritual.
Apakah anda merindukan kemenangan atas dosa, disucikan, menjadi suci, menjadi seperti Kristus, murni, dan sempurna dalam karakter? Semua itu tercakup dalam “segala sesuatu” yang tertera pada ayat di atas. Dan jangan coba membantah firman tersebut atau salah menafsirkannya.
 

Iman yang Berkuasa

Saya ulangi bahwa kuasa tersebut adalah cek yang ditandatangani Allah untuk sumber daya yang penuh kuasa dan yang tidak pernah akan habis dari bank surga. Allah berkata agar kita menulis cek dengan jumlah yang paling besar. Cek sudah ditandatangani dan dijamin oleh Allah. Sebuah janji yang luar biasa! Tapi mungkin anda bertanya, “Bagaimana ceknya akan diproses?” Ayat berikutnya menjelaskan prosedurnya. “Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.” Ayat 4.

Begitulah caranya! Kuasa ada dalam janji itu sendiri. Segera ketika kita mempercayainya, kehidupan kita secepatnya mulai mengambil bagian dalam kodrat ilahi. Apakah ada hak istimewa yang lebih tinggi daripada mengambil bagian dalam kehidupan Tuhan kita Yesus Kristus? Ke-Maha-Kuasaan-Nya bersatu dengan kelemahan kita, dan kita diberikan kuasa untuk menghidupkan kemenangan yang Ia dapatkan ketika “sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa”. Kita tidak harus menyerah kepada kejahatan dan nafsu dunia; kita bisa “lolos” darinya dengan menuntut “kuasa ilahi” dari “kodrat ilahi”.
Banyak orang yang mengaku umat Kristen tidak dapat memiliki iman yang cukup untuk mempercayai janji-janji yang diberikan. Mereka memilih untuk mempercayai bahwa sifat berdosa kita terlalu dalam untuk bisa menang atas dosa, meskipun dengan kuasa Firman Tuhan. Sungguh suatu tragedi! Mereka mempercayai perkataan Firman Tuhan bermakna berbeda dengan apa yang sebenarnya tertulis. Intinya, mereka meninggikan kuasa Setan di atas kuasa Allah, dan membuatnya mustahil untuk benar-benar berhenti berbuat dosa.

Janji yang Luar Biasa

Sekarang mari kita lihat salah satu janji yang paling mengagumkan yang dapat ditemukan di dalam firman-Nya. “Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.” Efesus 3:16-19.
Kalimat terakhirlah yang perlu kita perhatikan dengan seksama. Bagaimana mungkin kalimat itu bisa benar-benar terjadi? Saya tidak memahami betapa dalamnya kata-kata tersebut. Bahkan, saya sepertinya berdiri di tepi pantai dari lautan luas kegelisahan, dan melihat ombak yang akhirnya surut. Dipenuhi dengan seluruh kepenuhan Allah adalah salah satu Kebenaran berharga yang tidak dapat kita pahami sehingga kita hanya bisa menerimanya dengan iman. Kita tidak akan pernah sanggup untuk memahaminya, tapi kita dapat mempercayainya.

Apa arti dari seluruh kepenuhan Allah? Pasti mencakup kebenaran, kemenangan, dan kodrat ilahi Allah. Kita hanya dapat mulai memahami jangkauan dari janji tersebut. Ternyata, Ia ingin agar kita menerima dan berbagi semua yang Ia miliki. Sebagai anak-anak Allah kita adalah bagian dari keluarga kerajaan, dan sepenuhnya berhak untuk berpartisipasi dalam seluruh hak istimewa ilahi.

Tapi sekarang mari kita membaca klimaks dari piramid janji dalam Efesus 3. Paul menulis, “Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita.” Ayat 20. Dan kuasa apakah itu? Tentu saja Roh Kudus. Ketika kita menganalisa ayat tersebut, kita semakin terkagum-kagum.

Bukankah sudah cukup mengagumkan jika Allah berjanji untuk memberikan semua yang kita minta? Tawaran terbuka tersebut menjadi terbatas hanya karena kita enggan untuk meminta. Namun Bapa kita yang mengagumkan dan dermawan meyakinkan kita di dalam ayat ini bahwa Ia mau memberikan “jauh” lebih banyak dari pada yang kita doakan. Ia tahu bahwa kita cepat merasa puas, dan tidak cukup berani dalam menyampaikan permohonan kita. Bahkan, Ia tidak hanya memberikan lebih dari “semua” yang kita minta untuk berkat rohani, tapi akan mencurahkan “jauh” lebih banyak dari pada yang kita doakan. Tapi itu belum mencakup semuanya! Dalam kemurahan kasih Allah kepada kita, Ia berjanji untuk “jauh lebih banyak dari pada” yang kita doakan. Betapa suatu rentetan kata sifat yang penuh penekanan untuk menggambarkan kekayaan rohani yang tersedia dengan mudah untuk kita semua. Dan anda bisa saja menambahkan 20 atau 100 kata lain dan itu tidak akan membuat janji itu lebih pasti dibanding seperti yang sudah dituliskan sekarang.

Jika anda merasa bahwa tidak ada lagi yang dapat membuat ayat tersebut lebih fantastis dari pada yang sudah kita diskusikan, mari kita lihat lagi. Dua kata lagi membuatnya sangat menakjubkan dalam seluruh ayat Alkitab – “atau pikirkan”. Ia tidak hanya melakukan “jauh lebih banyak dari pada” yang kita doakan, tapi bahkan jauh lebih banyak dari pada yang kita bayangkan dalam mimpi tergila kita. Sungguh luar biasa! Kadang kita memiliki kerinduan rohani terdalam yang terlalu sulit untuk diungkapkan. Kita takut terdengar gegabah apabila kita ungkapkan. Tetapi, Allah kita yang Maha Pengasih rindu melampaui cara menjangkau jiwa yang paling hebat sekalipun untuk membantu kita secara spiritual. Kita berdiri tercengang dan malu dihadapkan pada persediaan Allah yang begitu berlebihan untuk keperluan kita. Juru Selamat yang Mengagumkan!

Merasakan Surga di Bumi

Alangkah baiknya apabila saat ini kita membaca definisi Alkitab mengenai pekerjaan Roh Kudus untuk memeteraikan jiwa. Salah satu deskripsi yang paling singkat dan padat terdapat dalam Efesus 1:1314. “Di dalam Dia kamu juga–karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu–di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.” Tertulis dalam tiga kata sederhana! Pemeteraian atau diisi oleh Roh Kudus adalah “jaminan bagian kita”. Apa artinya? Apa bagian kita? Dan, apa artinya jaminan?
Secara sederhana, surga adalah bagian kita. Yang mencakup hidup kekal dan persekutuan dengan Yesus. Inilah hadiah atau bagian kita yang akan digenapi ketika Yesus datang kembali. Tapi, sementara ini kita menerima sebuah “jaminan” dari bagian itu melalui tercurahnya Roh Kudus. Sebuah jaminan adalah uang muka yang memberikan kepastian bahwa jumlah keseluruhan akan dibayarkan ketika pekerjaan telah selesai.
Jadi, bila disimpulkan, kita memiliki pernyataan mencengangkan bahwa surga dapat dimulai sekarang ini di bumi sementara kita menunggu kedatangan Yesus. Dengan hidup yang dipenuhi oleh Roh Kudus kita dapat mencicipi pengalaman sebenarnya dari sukacita abadi nan menggetarkan di hadapan Juru Selamat kita.
Mungkin seseorang menentang bahwa kebahagiaan surgawi hanya untuk mereka yang telah ditebus, dan bahwa Alkitab sendiri menyatakan, “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” 1 Korintus 2:9. Tapi mereka lupa memperhatikan ayat selanjutnya yang berkata, “Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh.” Ayat 10.

Dengan kata lain, melalui urapan Roh Kudus kita sekarang dapat mulai mengalami kualitas kehidupan yang dituliskan di dalam Alkitab sebagai “kehidupan kekal”. Sungguh sebuah konsep yang menggembirakan! Tolong ingat bahwa kita masih membicarakan mengenai sebuah deposit awal dari hal sesungguhnya, dan surga sendiri akan jauh melebihi segala sesuatu yang kita bisa alami di sini.

Tujuan dari Hujan Akhir

Tapi apa tujuan dari baptisan Roh Kudus? Kita sering mendengarnya diucapkan sebagai “waktu kelegaan”, pengurapan, hujan akhir, atau janji Roh Kudus. Alkitab sering menggunakan istilah Timur Tengah untuk menanam-benih dan menuai. Segera setelah menanam, musim hujan memberikan kelembaban yang diperlukan untuk bertunas dan proses pertumbuhan. Hujan tersebut dikenal sebagai “hujan awal”. Lalu, mendekati waktu menuai, musim hujannya akan dikenal sebagai “hujan akhir”. Penulis Alkitab menggunakan istilah ini untuk menggambarkan turunnya Roh Kudus atas gereja. “Hujan awal” turun ketika Pentakosta untuk memberikan dorongan dan kekuatan kepada saksi injil mula-mula. Kecurahan dahsyat berikutnya ditetapkan mendekati musim menuai akhir dari jiwa-jiwa di bumi, tepat sebelum kedatangan Kristus kedua kali.
Beberapa orang mungkin berpikir bahwa tujuan dari turunnya berkat spritual pada zaman akhir adalah untuk memberikan kemenangan atas dosa, persiapan sebelum diangkat ke surga. Tapi bukanlah demikian tujuannya. Sesungguhnya tidak ada yang akan menerima “hujan akhir” jika mereka belum memiliki kemenangan atas dosa melalui kuasa “hujan awal”.

Secara perorangan, setiap orang Kristen mengalami Pentakosta pada saat bertobat. Di bawah kekuatan baptisan spiritual, kuasa diberikan untuk disucikan seutuhnya. Sementara kita membahas tujuan dari “hujan akhir”, semakin jelas mengapa terpisah dari dosa diperlukan di bawah pelayanan hujan awal (pertobatan).

Yesus menyatakan dengan jelas alasan Roh Kudus diperlukan dengan sepenuhnya. “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Kisah 1:8.

Sungguh menarik bahwa berkat yang dijanjikan tidak berhubungan dengan perasaan atau pencapaian pribadi. Tapi menyanggupkan umat percaya menjadi saksi-saksi. Dan memberikan kuasa kepada mereka untuk berkata-kata. Tentu saja, seorang saksi adalah adalah seseorang yang dapat membuktikan sebuah tindakan atau peristiwa. Tidak ada hakim yang akan menerima kesaksian seorang saksi yang memberikan informasi sebagai orang kedua atau ketiga.

Apa yang harus kita bagikan dari pengalaman pribadi kita yang menguntungkan kesaksian Roh Allah yang luar biasa? Saya takut apabila kebanyakan umat Allah membutuhkan sesuatu untuk dibicarakan lebih dari pada membutuhkan kuasa untuk menceritakannya. Mereka sudah mempunyai semua kuasa yang mereka perlukan untuk menceritakan kekalahan dan keputusasaan mereka.

Berkat Abraham

Salah satu ayat yang paling jelas di Perjanjian Baru memberikan sebuah gambaran yang tepat mengenai apa yang kita perlu ketahui dan alami sebelum kita layak sebagai seorang saksi yang dipenuhi oleh Roh Kudus. Pesan menakjubkan yang terdapat dalam ayat ini menjelaskan satu-satunya kelompok yang akan menerima hujan akhir. “Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.” Galatia 3:14.

Analisa yang teliti terhadap ayat ini menyatakan bahwa hanya mereka yang memiliki “berkat Abraham” yang akan menerima “Roh yang telah dijanjikan itu”. Suatu hal diberikan (berkat Abraham) supaya kita bisa menerima berkat lainnya (Roh yang telah dijanjikan itu).

Karena ayat ini begitu penting, maka kita perlu mempelajarinya dengan teliti. Apa yang dimaksud dengan “Roh yang telah dijanjikan itu”? Kita telah memutuskan bahwa maksudnya adalah kecurahan Roh Kudus dalam kepenuhannya untuk memberikan kita kuasa dalam bersaksi. Tapi, berdasarkan ayat tadi, seseorang harus menerima dahulu “berkat Abraham” supaya menerima baptisan Roh. Apapun yang tercakup dalam “berkat” itu, pasti merupakan kebutuhan yang paling kita butuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Inilah syarat absolut untuk setiap jiwa yang mau dipenuhi dengan pengalaman “hujan akhir”.

Untuk memahami berkat Abraham kita harus membaca Roma 4:19-22 dengan teliti. “Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan. Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran.“

Dari ayat di atas kita memahami bahwa berkat Abraham adalah dibenarkan oleh iman. Apakah kita bisa menyederhanakan frase tersebut? Bayangkan janji yang Allah berikan kepada bapa yang sudah tua ini dan kepada istrinya yang berumur 90 tahun. Bagaimana mungkin Sarah bisa mengandung dan melahirkan seorang anak ketika Alkitab sendiri menyatakan bahwa rahimnya telah tertutup? Mereka berdua tahu dengan pasti bahwa mereka terlalu tua untuk memiliki seorang anak. Menjadi seorang ibu bagi Sarah adalah mustahil secara fisik dan biologis. Namun, Allah berkata bahwa dia akan melahirkan seorang anak!

Apa yang Sarah akhirnya lakukan ketika keraguan terhadap janji Allah terus menyerangnya? Dia meminta agar Abraham mengambil Hagar, hambanya, dan mencoba untuk memiliki seorang anak darinya! Jika berhasil, setidaknya sebagian janji Allah akan digenapi. Sepertinya Sarah berusaha untuk menolong Tuhan dari situasi yang sangat memalukan yang mana Tuhan terlibat di dalamnya. Bahkan meskipun ia tidak dapat melahirkan seorang anak, paling tidak Abraham dapat menjadi seorang ayah, dan dapat menyelamatkan sebagian reputasi Allah.

Seperti yang kita semua ketahui, Abraham memiliki seorang anak dari Hagar yang bernama Ismael, tapi apakah Allah pernah mengakuinya sebagai anak perjanjian? Tidak pernah. Ia datang kembali kepada pasangan berumur tersebut dan menekankan kembali janji-Nya bahwa mereka akan memiliki seorang bayi. Dan kali ini mereka mulai percaya bahwa jika Allah mengatakannya, mukjizat akan terjadi. Singkatnya, dalam iman mereka mempercayai janji seolah-olah janji tersebut sudah dipenuhi. Dan, dengan kuasa Allah yang mengagumkan Sarah melahirkan seorang anak dari mana keturunan Juru Selamat dunia berasal.
Karena kepercayaannya yang absolut dalam Firman Allah – mempercayainya diatas semua keganjilan – Abraham menjadi “bapa orang beriman”. Allah memberikannya kredit untuk melakukan hal yang benar karena dia mempercayai hal yang belum terjadi, seolah-olah sudah terjadi.

Penjelasan di atas menjelaskan “berkat Abraham” sejauh apa yang dialami oleh Abraham, tapi bagaimana aplikasinya kepada kita? Kita telah mempelajari bahwa tidak satupun di antara kita yang dapat menerima baptisan Roh kecuali kita mengalami terlebih dahulu “berkat Abraham”, atau pun pembenaran oleh iman.
Bagaimana kita memenuhi prasyarat baptisan Roh Kudus? Apakah kita juga memiliki janji-janji luar biasa yang dibuat untuk kita? Betul, kita memilikinya, dan beberapa janji begitu luar biasa sehingga kita bergumul, sama seperti Sarah, untuk mempercayai bahwa janji-janji itu nyata untuk kita.

Salah satu janji ditulis dalam 1 John 1:9, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Sungguh suatu jaminan yang tidak ada batasnya! Tapi bagaimana kita tahu bahwa pengampunan telah diberikan? Hanya melalui iman dalam janji Allah. Seperti Abraham kita harus menerima Firman Allah seperti sudah digenapi, hanya karena Allah yang mengatakannya. Kita menyebut tindakan iman seperti itu dengan istilah teologi “dibenarkan oleh iman”. Secara sederhana mengatakan bahwa melalui pertobatan dan pengakuan dosa, kita telah dihapuskan dari semua dosa kita di masa lalu, dan telah memasuki hubungan baru dilahirkan kembali.

Dibenarkan dan Disucikan

Pertanyaannya adalah: Apakah pengalaman dibenarkan oleh iman sama dengan pembenaran oleh iman? Jawabannya pasti tidak. Dibenarkan oleh iman adalah bagian dari pembenaran oleh iman, jadi kedua hal tersebut tidak benar-benar setara. Kebenarannya adalah kita semua membutuhkan lebih dari pengampunan karena masa lalu kita; kita juga membutuhkan kuasa untuk masa depan. Ada lebih banyak janji di dalam Alkitab untuk mendapatkan kemenangan atas dosa. Contohnya: “Bagi Dia, yang berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya.” Yudas 24.

Apa yang terjadi ketika kita berdoa bertelut dalam iman dan menuntut kuasa untuk berhenti berbuat dosa? Allah memberikan persediaan kekuatan dalam kehidupan kita, dan pada waktu itu kita dapat menuntut pembebasan dari setiap dosa. Sebuah istilah teologi yang panjang telah diberikan oleh para pelajar Alkitab untuk pengalaman tersebut yaitu – disucikan. Intinya bermakna bahwa Allah telah masuk dalam kehidupan kita untuk memberikan kuasa atas kecenderungan dosa yang diwariskan dan dipupuk. Seperti dibenarkan oleh iman, kita memperolehnya dengan iman terhadap janji-janji Allah.

Sekarang kita siap untuk menggabungkan kedua proses iman dan mendapatkan definisi sebenarnya dari pembenaran oleh iman. Ketika dibenarkan dan pembenaran bersatu dalam hubungan kasih dengan Kristus, anda melihat “berkat Abraham” dalam makna sesungguhnya. Sekarang anda benar-benar memiliki sesuatu untuk diceritakan! Dan berdasarkan Paulus anda juga berhak untuk menerima kuasa untuk menceritakannya.
Jika anda bertemu dengan seseorang yang belum menerima Kristus sebagai Juru Selamatnya, anda dapat memberikan kesaksian yang indah berdasarkan sukacita pribadi anda dan jaminan di dalam Kristus. Anda juga dapat memberikan kesaksian sebagai orang pertama terhadap langkah-langkah sederhana dari kematian menuju kehidupan!

Bahkan, jika anda bertemu dengan seseorang yang bergumul dengan kelemahan atau kebiasaan pribadi, anda dapat membagikan dengan penuh kuasa rahasia menuntut kemenangan melalui janji-janji yang anda telah penuhi. Dengan mengalami kedua hubungan prasyarat ini, sekarang anda siap menuju langkah akhir dari baptisan Roh Kudus. Mohon diingat bahwa kepenuhan ini juga diterima sebagai “Roh yang telah dijanjikan itu.” Galatia 3:14. Dengan demikian memberikan kita konsep yang jelas mengenai bagaimana dan kapan kecurahan terjadi. Kecurahan harus turun karena janji dan dengan iman.

Segera kita dapat melihat bahwa banyak gereja-gereja modern telah salah memahami topik ini. Kelompok-kelompok yang meminta beberapa “bukti” secara fisik dari baptisan tidaklah berdasarkan Alkitab. Iman dan perasaan saling berlawanan dalam situasi ini. Tujuan dari pengurapan ini bukanlah untuk sensasi semata, tapi untuk pelayanan. Mengalami perubahan emosi atau perubahan dalam panca indra berarti menolak perkataan ini, “dengan iman”.

Apakah kegagalan dalam meminta pemberian pembenaran oleh iman menjadi alasan kurangnya kuasa di dalam gereja sekarang ini? Bisa dikatakan itulah faktanya. Alkitab berulang-ulang menuliskan bahwa Roh Kudus tidak dapat tinggal bersama mereka yang tidak menurut. “Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia.” Kisah 5:32.

Roh Kudus dapat membuat orang berdosa melihat jahatnya dosa yang dilakukannya dan membantu mereka untuk bertobat, tapi kuasa bersaksi tidak akan terjadi hingga para saksi diperlengkapi sepenuhnya dengan suatu kesaksian. Dan Alkitab menjelaskan bahwa kesaksian tersebut adalah kesaksian dari dibenarkan dan disucikan. Apakah ada yang telah menerima kedua pengalaman prasyarat ini namun belum dipenuhi oleh kuasa yang telah dijanjikan? Iya, bisa saja terjadi hanya karena mereka belum memintanya. Kita sedang membahas mengenai sebuah karunia khusus yang sangat spesial yang membutuhkan penyerahan dan iman sepenuhnya ketika memintanya. Mari kita ulangi kembali langkah-langkah yang memimpin kepada kecurahan kuasa Roh.

Persiapan pertama untuk kecurahan ilahi adalah meminta karunia dibenarkan. Pada waktu tersebut, suatu bagian Roh Kudus diberikan kepada umat percaya yang memampukan mereka untuk mengalahkan setiap kelemahan yang diwariskan atau karena dilakukan berulang-ulang. Ketika kita mengalami kekuatan pengalaman diubahkan (hujan awal), persiapan kedua menjadi mungkin – disucikan. Disucikan berarti menggunakan kuasa “hujan awal” untuk menyempurnakan karakter umat Kristiani, dan mencerminkan kebenaran Kristus sepenuhnya. Baik dibenarkan maupun disucikan merupakan transaksi iman.

Persiapan ketiga mencakup latihan iman untuk membagikan kepada orang lain pengalaman indah dari persiapan pertama dan kedua. Juga sebenarnya mencakup menuntut kuasa yang dijanjikan itu agar kata-kata kita meyakinkan dan berbuah. Tidak ada yang lebih sia-sia dari pada sebuah kesaksian tanpa Roh Allah, dan tidak ada yang lebih merendahkan hati dari pada melihat apa yang Allah dapat lakukan terhadap kesaksian terbata-bata dari seorang kudus yang tulus dan dipenuhi Roh.

Baru-baru ini, seorang pendeta muda menyampaikan sebuah cerita yang menggambarkan apa yang Allah dapat dan akan lakukan kepada kita jika kita mau digunakan oleh Roh Kudus. Tony sebelumnya seorang Katholik dan menerima kebenaran di jalanan kota New York, dan tidak lama kemudian dia menerima panggilan yang tidak bisa dia abaikan untuk menjadi seorang pendeta. Dengan dua anak kecil dan uang yang sangat sedikit, nampak mustahil baginya untuk mendaftar ke universitas atau sekolah seminari. Tapi panggilan itu begitu kuat sehingga dia memutuskan untuk melangkah dalam iman.

Sebelum mendaftar di universitas Kristen, Tony berjanji kepada Tuhan bahwa ia akan menerima setiap kesempatan untuk berbicara di depan umum. Dia menyadari betapa dia perlu belajar berpikir cepat, dan menyampaikan isi pikirannya kepada jemaat.

Segera setelah kelurganya pindah ke lingkungan kampus, Tony mengetahui bahwa banyak gereja kecil di sekeliling kampus, dan para mahasiswa baru jurusan kependetaan mencoba mendapatkan kesempatan melayani di gereja-gereja tersebut. Tidak terlalu lama, Tony didekati pada suatu Jumat sore untuk berkhotbah di salah satu  gereja tersebut. Meskipun dia hanya memiliki waktu di malam hari untuk mempersiapkan khotbahnya, Tony mengingat janjinya untuk menerima setiap kesempatan berbicara. Jadi dia menerima tawaran tersebut. Tony berusaha semaksimal mungkin untuk menyusun catatan khotbahnya sambil berdoa dan membaca hingga larut malam. Tapi, sayangnya Tony hanya bisa menyusun catatan khotbah maksimal 10 menit. Berharap dengan kemungkinan yang sangat kecil bahwa dia dapat menambahkan beberapa hal kedalam khotbahnya ketika diskusi Sekolah Sabat, Tony berangkat cepat ke tempat yang saat itu menakutkan baginya. Sebagai seorang Kristen yang masih sangat muda dalam iman, dia tidak pernah memiliki pengalaman sebelumnya berbicara di mimbar dan sangat takut bahwa khotbah 10 menitnya akan menjadi cemoohan gantinya menjadi berkat.

Setibanya di gereja, Tony masuk ke dalam salah satu kelas, berharap untuk sebuah kesempatan bisa berbaur dengan kelompok diskusi dan mempelajari kembali catatan khotbahnya selama diskusi berlangsung. Tapi kenyataannya tidak demikian. Pada hari itu, dalam kelas diskusi hadir seorang laki-laki yang menciptakan keributan. Dia terus-menerus menyerang poin yang diberikan oleh perempuan pemimpin diskusi dan sepertinya berusaha melakukan segala cara untuk mempermalukannya. Sepanjang diskusi, Tony membantu perempuan tersebut dari serangan pria yang mengganggu dan tidak relevan terhadap topik diskusi.
Sementara Tony menunggu berjalan ke mimbar, pikirannya masih bergumul dengan emosi karena diskusi Sekolah Sabat dan bahkan catatan khotbah singkatnya tidak begitu jelas lagi baginya. Dengan doa yang sungguh-sungguh, dia menyerahkan dirinya kepada Tuhan dan melangkah menuju mimbar.

Tony benar-benar bergumul sepanjang khotbah 10 menitnya, dan sementara dia berdiri putus asa mencari kata-kata lain, terdengar teriakan yang berasal dari jemaat. Melihat ke bagian tengah, Tony melihat seorang laki-laki yang telah terjatuh dari kursi yang terletak di ujung dan berjalan dengan kaki dan tangannya menuju mimbar. Dia menangis sekerasnya, dan istrinya berusaha menariknya kembali ke kursi dengan sia-sia.

Melihat sekilas jelas bahwa itu adalah pria yang berdebat tanpa rasa kasihan ketika diskusi Sekolah Sabat. Kemudian di tengah-tengah tangisnya, dia memohon anggota jemaat berdoa untuknya. “Khotbah anda menyentuh hati saya dan Roh Kudus menyatakan dosa-dosa saya. Saya telah melanggar hukum Allah dan sekarang saya ingin bertobat. Tolong doakan saya.”

Dalam sekejap, jemaat juga menangis, dan kebaktian ditutup dengan catatan kemenangan mulia ketika jemaat bersatu hati dalam doa untuk pendosa yang bertobat.

Sungguh suatu dorongan semangat bagi seorang pengkhotbah muda! Tony berkata kepada saya bahwa dia tidak mengingat satu patah kata pun dari apa yang dia ucapkan pada hari itu. Tapi Allah hanya menambahkan Roh Kudus kepada usaha dengan hati yang berserah, dan mukjizat pun terjadi. Ketika Tony kembali ke gereja tersebut setahun kemudian, dia melihat pria yang sama melayani sebagai pimpinan ketua jemaat.
Apakah anda sekarang dapat melihat perbedaan bila dipenuhi dengan Roh Kudus? Inilah kehendak Allah bagi setiap kita dan Ia telah membuatnya mungkin melalui janji indah yang terdapat dalam Galatia 3:14. Bersaksilah sekarang dan teguhkan iman anda pada berkat Abraham. Dalam kekuatan kebenaran, yang diperhitungkan dan diberikan oleh iman, anda dapat memiliki kuasa untuk mengucapkan kata-kata yang akan mengubah kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *