Hukuman Kekal ?

Blog AFI

what-about-forever-large

Apakah anda tahu bahwa di dalam Alkitab, istilah “selamanya” merupakan istilah yang sering digunakan bersamaan dengan suatu peristiwa yang telah berlangsung ?

Sebagai contoh, Hana berjanji kepada Tuhan bahwa ia akan menyerahkan Samuel bayi laki-lakinya untuk melayani di rumah Tuhan di Silo, dimana ia akan tinggal “selamanya” (1 Samuel 1 : 22). Tidak ada pembelajar Alkitab yang mengambil hal ini dan menyatakan bahwa Samuel akan berada di rumah Tuhan terus selama waktu berlangsung. Hana sendiri mengartikan pernyataannya dengan arti bahwa Samuel akan melayani di rumah Tuhan “selama ia hidup” (ayat 28).

Dalam kasus yang lain, Yunus menyatakan bahwa ia berada di perut ikan “selamanya” (Yunus 2 : 6), tapi kita tahu bahwa ia bertahan dalam perjalanannya yang menyeramkan di bawah laut selama “tiga hari tiga malam” (Yunus 1 : 17).

Tentu saja, lebih dari 50 kali Alkitab menggunakan kata “selamanya” sebagai maksud “selama waktu berlangsung dalam suatu kasus tertentu.” Bahkan hari ini, istilah tersebut digunakan dalam keseharian untuk menggambarkan hujan lebat atau sore hari yang begitu panas saat musim panas yang “berlangsung selamanya.”

Alkitab menyatakan kepada kita bahwa “upah dari dosa” bukanlah selamanya berada di neraka, tapi “mati” (Roma 6 : 23), hukuman yang sama seperti yang Allah yakinkan akan terjadi pada Adam dan Hawa jika mereka memakan buah terlarang.

Yehezkiel menyatakan dengan jelas bahwa “jiwa yang berdosa harus mati” (Yehezkiel 18 : 4), dan kebanyakan dari ayat-ayat dan perikop-perikop lain dalam Alkitab mendukung hal ini. Nabi Maleakhi menulis bahwa pendosa akan dibakar sampai habis seperti “jerami” dan akan menjadi “abu di bawah telapak” dari kaki orang-orang yang ditebus (Maleakhi 4 : 1,3).

Bahkan nasib akhir setan dengan jelas dinyatakan dalam Yehezkiel 28 : 18, dimana Alkitab mengatakan bahwa musuh jiwa itu akan dihancurkan menjadi abu di atas “bumi.”

Bandingkan hal tersebut dengan Mazmur 37 : 10 (“Karena sedikit waktu lagi, maka lenyaplah orang fasik”), Mazmur 68 : 2 (“Seperti lilin meleleh di depan api, demikianlah orang-orang fasik binasa di hadapan Allah”), dan beberapa ayat serupa lainnya. Kelak anda akan mendapat gambaran jelas bahwa tujuan dari api neraka tersebut adalah untuk membasmi dosa dan menghilangkan keberadaan kejahatan di bumi.

Menariknya, adalah setan yang pertama menyatakan bahwa pendosa tidak akan mati (Kejadian 3 : 4). Neraka dimana pendosa tidak akan pernah binasa akan membuktikan bahwa setan benar dan membuat Allah, yang mengatakan kepada Hawa bahwa ia “pasti mati” sebagai hasil dari pelanggaran (Kejadian 2 : 17), menjadi pembohong.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *