renungan

JANGANLAH MENANGIS

Renungan Harian

Kristus Dekat di Sisimu

Mengapa engkau menangis? Yonanes 20:15

Sering Mereka (murid-murid itu) mengulangi perkataan, ”Kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel.” Dalam kesunyian dan sakit hati teringatlah mereka akan perkataanNya, “Jikalau orang berbuat demikian dengan kayu hidup, apakah yang akan terjadi dengan kayu kering?” Mereka berhimpun bersama-sama di ruang atas, menutup dan mengancingkan pintu, sebab mengetahui bahwa nasib Guru mereka yang kekasih dapat menimpa mereka sawaktu-waktu.

Dan sepanjang waktu itu mereka dapat bergembira bila mengetahui tentang Juruselamat yang sudah bangkit. Di dalam taman Mariam telah berdiri sambil menangis, ketika Yesus berada di sampingnya. Matanya sangat dibutakan oleh air mata sehingga ia tidak mengenal Dia. Dan hati murid-murid sangat berdukacita sehingga mereka tidak percaya akan pekabaran malaikat-malaikat atau perkataan Kristus Sendiri.

Betapa banyaknya orang yang masih berbuat apa yang diperbuat oleh murid-murid ini. Betapa banyak orang yang menggemakan tangisan putus asa Mariam, “Tuhanku, telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana la diletakkan.” Kepada beberapa banyak orang perkataan Juruselamat diucapkan, “Mengapa engkau manangis? Siapakah yang engkau cari?” la ada dekat di sisi mereka, tetapi mata mereka yang dibutakan dengan air mata tidak mengenal Dia. Ia berbicara kepada mereka, tetapi mereka tidak mengerti.

Oh, sekiranya kepala yang tunduk dapat diangkat, supaya mata dapat dibuka untuk melihat Dia, supaya telinga dapat mendengar suaraNya! “Segeralah pergi dan katakanlah kepada murid-muridNya bahwa ia telah bangkit.”. . . Jangan berkabung seperti mereka yang tidak menaruh pengharapan dan tidak berdaya. Yesus hidup, dan sebab Ia hidup, kita akan hidup juga. Dari hati yang bersyukur, dari bibir yang disentuh dengan api suci, biarlah nyanyian gembira digemakan, Kristus sudah bangkit! ia hidup untuk mengadakan syafaat bagi kita. Peganglah pengharapan ini, dan hal itu akan menahan jiwa bagaikan jangkar yang pasti  dan telah diuji. Percayalah dan engkau akan melihat kemuliaan Allah.

Hidupku Kini, hal. 185

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *