Kasih Tuhan

Mengenal Yesus

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Yohanes 3:16 (TB)

Mungkin kebanyakan dari kita sudah sering membaca ayat ini. Tapi kali ini, kita coba pelajari lebih dalam lagi kata per kata!

Karena. Alasan. Sesuatu mungkin terjadi sebelum atau sesudahnya dan frase inilah alasannya. Kalau kita perhatikan, frase selanjutnya adalah “sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal.” Kalau begitu, frase pertama adalah alasan dari frase kedua. Kasih adalah alasan mengapa Bapa mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal.

Begitu besar. Sangat. Sangat besar kasih Allah akan dunia ini. Bukan cuma ‘besar’ doang, tapi ‘begitu besar’. Apa yang besar? Kasih.

Kasih Allah. Berasal dari kata Yunani ἀγαπάω (agapaō) yang adalah bentuk lain dari kata agape. Dalam bahasa Yunani, Agape adalah tingkatan kasih paling tinggi. Bapa sangat mengasihi kita bahkan sampai Ia mau memberikan Anak-Nya. Kasih apakah yang bisa lebih tinggi dari pada kasih yang rela untuk mengorbankan Anak sendiri untuk orang asing?

Akan dunia ini. Dengan spesifik Alkitab mengatakan bahwa Tuhan mengasihi dunia ini. Ya, bumi kita ini. Bukan planet Mars, atau planet lainnya. Tuhan, yang menciptakan seluruh alam semesta ini, mengasihi kita orang2 berdosa di bumi. Bukankah ini sangat luar biasa?

Sehingga. Menunjukkan hasil. Hasil dari kasih Bapa (frase pertama yang sudah kita bahas).

Ia. Ini menunjuk kepada Bapa. Bapa yang menjadi subjek di frase ini. Bapa yang menjadi peranan aktif. Hmm, ternyata bisa kita lihat bahwa Bapa itu aktif dalam rencana keselamatan kita. Dia tidak hanya berpangku tangan setelah kita jatuh ke dalam dosa. Dia dengan aktif mau membawa kita kembali dengan rela mengorbankan Anak-Nya bagi kita.

Telah mengaruniakan. Telah menunjukkan bahwa peristiwa ini sudah terjadi. Yesus mengatakan ini sebelum Ia di salib. Telah mengaruniakan. Karunia diberikan secara cuma2. Umat manusia tidak melakukan apa2 untuk mendapatkan keselamatan. Di sini kita berperan pasif. Di sisi lain, Bapa adalah yang aktif dan berinisiatif untuk mengorbankan Anak-Nya.

Anak-Nya. Yesus Kristus. Anak dari Bapa adalah Yesus. Seperti yang Bapa sendiri katakan di Matius 3:17. Bukan malaikat yang Bapa kirimkan, tetapi Anak-Nya sendiri. Bisakah kita bayangkan betapa beratnya untuk mengorbankan anak sendiri bagi orang lain? Dengan kata lain, bisakah kita lihat nilai diri kita di hadapan Bapa? Nilai kita seharga darah Anak-Nya (1 Petrus 1:18-19).

Yang tunggal. Hanya ada satu. Bapa hanya memiliki satu Anak, tidak ada lagi. Walapun mereka seperti berbeda, tetapi Bapa dan Anak juga adalah satu (Yohanes 17:21).

Supaya. Menunjukkan tujuan dari pada alasan yang tertulis sebelumnya. Tujuan pengorbanan Anak-Nya adalah supaya orang percaya tidak binasa.

Orang yang percaya. Hanya orang yang percaya saja yang akan mendapatkan hadiah hidup kekal ini. Jika tidak percaya, tidak akan dapat. Dan di Alkitab, percaya bukan hanya sekedar percaya tetapi bertindak juga. Yakobus 2:26.

Kepada-Nya. Kepada Anak-Nya yang tunggal, bukan percaya kepada yang lain. Kisah 4:12 berkata, “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”

Tidak binasa. Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, manusia harus mati pada satu saat dalam hidupnya. Tetapi dengan percaya kepada Yesus, kita bisa tidak binasa. Binasa di sini menunjuk kepada kematian yang kekal di mana kita akan hilang selama2nya. Tidak binasa di sini menunjuk kepada kehidupan setelah kematian, yaitu di dalam kerajaan Sorga. 1 Tesalonika 4:14, “Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia.”

Beroleh hidup yang kekal. Hidup yang telah Tuhan janjikan kepada kita. Hidup dimana tidak akan ada lagi air mata, maut, perkabungan, ratap tangis, atau dukacita (Wahyu 21:4). Kekal berarti selama2nya, tanpa ada batas, hidup bersama Tuhan yang kita sembah dan muliakan.

Kesimpulan

Bukankah ini menjadi kerinduan dari setiap kita untuk hidup bersama dengan Tuhan yang kita cintai? Selama2nya kita akan bersama dengan Dia yang suci, tidak berdosa, dan mulia. Tidak akan ada lagi perpisahan, ratap tangis, dan maut. Mereka yang percaya akan hidup bersama selamanya.

Pertanyaannya, percayakah kamu kepada Yesus? Percayalah, maka Ia akan menyelamatkanmu.

Kiranya Tuhan memberkati!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *