Kematian di Dapur

Kematian Di Dapur

Bank Pustaka

death dan kithenOleh: Joe Crews
Kesehatan – Hal Utama

Beberapa tahun yang lalu sebuah survey dilakukan di salah satu wilayah di Amerika, dimana pesertanya diminta untuk menjawab 156 pertanyaan. Ditemukan bahwa hal yang menjadi perhatian utama mereka adalah mengenai kesehatan – bukan tentang politik, sejarah, ataupun iklim – tetapi adalah tentang kesehatan, baik mengenai kesehatan mereka sendiri ataupun yang terkait dengan kesehatan keluarganya. Betapa berbedanya situsi yang terkait kesehatan pada zaman ini. Dimana kita menjadi lebih sering memerlukan dokter, rumah sakit, obat-obatan; kita lebih memerlukan pengetahuan akan perawatan dan terapi untuk menyembuhkan penyakit; membutuhkan lebih banyak obat-obatan, kapsul, vitamin, dan sebagainya.; tetapi tetap saja kita diserang oleh penyakit.

Ada banyak orang yang menderita diakibatkan oleh dampak dari cara hidup yang salah melalui makanan dan minuman. Kita hidup di dunia yang penuh dengan kesengsaraan. Kesengsaraan karena penyakit menjadi tren masyarakat modern saat ini. Walaupun ada begitu banyak program yang luar biasa yang dihasilkan dari penelitian kesehatan, masalah kesehatan tetap menjadi masalah serius dalam masyarakat saat ini.

Alkitab telah memberikan jawaban yang sederhana atas keingintahuan mengenai kecacatan dan kematian di usia muda. Berjuta-juta manusia akan tetap bisa menikmati hidupnya lebih lama jika mereka menuruti amaran yang Tuhan berikan dalam Keluaran 15:26: firmannya: “Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara Tuhan, Allahmu, dan melakukan apa yang benar di mata-Nya, dan memasang telingamu kepada perintah-perintah-Nya, maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit manapun, yang telah Kutimpakan kepada orang Mesir; sebab Aku Tuhanlah yang menyembuhkan engkau.”

Firman tersebut menunjukan dengan jelas bahwa siapa saja dapat menunda kematiannya sendiri. Dengan menurut akan hukum Tuhan mengenai kesehatan dan pola makan yang benar, maka kita dapat terhindar dari segala macam penyakit. Sesuai dengan firman tersebut, bahwa bukanlah kemauan Tuhan agar manusia mengalami kematian dengan lebih cepat dari seharusnya. Tuhan ingin agar kita memiliki kesehatan yang sempurna – secara fisik, pikiran dan jiwa.

Jadi mengapa kita seringkali melihat penderitaan karena penyakit pada saat ini? Jawabannya adalah karena manusia seringkali melanggar prinsip kesehatan. sama halnya dengan hukum alam yang sudah pasti, begitu juga dengan tubuh kita. “Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya’ (Galatia 6:7). Jika seseorang jatuh dari atap rumah, maka hukum alam gravitasi pasti akan terjadi. Terlepas berapapun usianya, laki-laki ataupun perempuan, apapun golongan ekonominya, orang tersebut pasti akan jatuh dan terluka bahkan dapat mengalami kematian. Begitu juga dengan kesehatan kita, jika kita melanggar prinsip kesehatan, maka kita juga pasti akan menderita penyakit bahkan mengalami kematian.

Setiap dampak yang terjadi pasti ada penyebabnya. Setiap orang yang dengan sungguh-sungguh mempelajari akan nasihat Tuhan dan tren kesehatan saat ini, pasti akan mengerti. Para ahli menemukan bahwa penyakit kanker semakin bertambah. Walaupun ada banyak penyakit yang sudah bisa diatasi, namun penyakit kanker semakin menjadi-jadi. Dengan begitu banyaknya penelitian mengenai hal ini, tetapi tidak menghasilkan perubahan yang berarti dalam mengatasi penyebab kematian yang tinggi ini.

Di Amerika penderita penyakit kanker paru-paru terlihat terus bertumbuh secara terus menerus dikarenakan kebiasaan merokok. Tren ini akan terus berlangsung, kecuali seseorang tersebut dengan berani mengatakan “Tidak” terhadap racun yang mematikan tersebut. Hanya sebagian orang saja yang memahami bahwa sepertiga kanker yang terjadi pada tubuh adalah di bagian perut. Setengah bagiannya menyerang bagian pencernaan, termasuk di hati, pankreas, dan usus besar dan kecil.

Selain dari paru-paru, yang diserang oleh tar dari rokok tersebut, bagian perut adalah organ yang paling diserang juga. Dr. James Ewing, salah satu pendiri American Cancer Society, memberikan pendapatnya melalui sebuah brosur dengan judul Cara Mencegah Kanker: “Bagi kondisi perut yang normal, tar dapat menyebabkan kanker, namun bagi kondisi perut yang lebih lemah, sedikit saja tar dapat menyebabkan hal yang sama. Kedua hal ini menjadi bagian yang menarik. Kita tahu bahwa perut tidak dilindungi oleh lapisan tembaga, tetapi dengan barisan sel epitel yang sangat rumit. Artinya kita harus menjaga perut dari hal-hal yang dapat merusak perut agar dapat terhindar dari kematian yang disebabkan oleh penyakit dari perut”.

Tes dilakukan melalui helai rambut dan contoh darah untuk melihat apa saja yang masuk ke dalam perut  masyarakat Amerika termasuk anak-anak. Tes tersebut memperlihatkan bahwa yang masuk ke perut adalah makanan yang enak dan memberikan rasa nikmat dan menyenangkan secara berkelanjutan bagi diri. Tidak mengherankan ada 50% dari populasi tersebut yang menderita obesitas dan lebih dari tiga juta dollar yang dikeluarkan setiap tahunnya untuk dapat menjalankan diet yang tepat dan dengan menggunakan peralalatan olahraga yang canggih.

Fakta yang tidak terduga ditemukan bahwa orang Amerika mengkonsumsi 1448 pon makanan setiap tahunnya. Tidak diragukan lagi bahwa inilah faktor terbesar yang menyebabkan setengah juta orang yang di rawat di rumah sakit setiap tahunnya. Pernahkah anda memperhatikan bahwa 3 huruf dari kata DEATH (kematian) adalah EAT (makanan)?

Paul Bragg, dalam buku memasaknya yang terkenal, mengatakan: “Ada banyak orang meracuni dirinya sendiri setiap harinya dengan makanan yang dimakannya. Mereka seringkali makan hanya “menggunakan” matanya saja. Jika makanan tersebut terlihat menarik dan lezat, mereka tidak lagi mempertimbangkan apakah makanan itu sehat atau bahkan dapat menyebabkan kematian. Memang ada beberapa orang yang telah mengetahui jenis makanan yang tepat untuk dikonsumsi yang bisa memberikan kesehatan dan kekuatan bagi tubuh. Tetapi, pada umumnya, dari lahir hingga lanjut usia  mereka tidak pernah memakan makanan yang alami. Selama beberapa generasi, indera perasa kita sudah merasakan makanan yang tidak alami, yang mengandung penyedap rasa buatan, sehingga kita cenderung untuk tidak bisa lagi merasakan rasa alami yang sebenarnya dari sebuah makanan. Makanan tersebut diolah, dipanggang, digoreng, dikukus, direbus, dibakar, diasamkan, diawetkan, diberi perasa tambahan, diasinkan, dikeringkan, diberikan lemak berlebih, diberikan vinegar, diasapkan, di haluskan, di warnai, dan hal-hal lainnya, sebagai usaha untuk menambah selera makan.” Kemudian, ia juga menambahkan, “Manusia seringkali tidak merasa puas dengan makanan yang telah disediakan secara alami oleh sang Pencipta dan cenderung melakukan sesuatu yang kurang sehat agar terasa lebih enak dan nikmat saat dikonsumsi.”

Sesuai penemuan National Observer di Amerika, ada 25 ton aspirin yang dikonsumsi setiap harinya. Diperkirakan setiap laki-laki, perempuan, dan anak-anak membutuhkan 2 ¼ tablet setiap harinya dalam 1 minggu. Seandainya pun orang tersebut tidak membutuhkan tabletnya, pasti ada orang lain yang membutuhkan tablet itu secara ganda.

Salah satu hal yang mengherankan yang terjadi di Amerika justru berada pada bagian kesehatan. Walaupun orang-orang merasa takut akan menderita suatu penyakit, namun mereka tidak melakukan apapun untuk mencegahnya hingga penyakit itu menyerang mereka pada akhirnya. Dalam 1 tahun, banyak sekali dana yang digunakan hanya untuk membayar biaya kesehatan. 95% digunakan untuk membayar biaya obat-obatan untuk sembuh dari suatu penyakit, 5% nya lagi digunakan untuk membeli obat-obatan pencegah penyakit. Ini tidak masuk akal tetapi sepertinya tidak ada yang peduli akan hal ini.

Saya teringat akan satu kelompok turis di Spanyol yang berkunjung untuk melihat salah satu situs bersejarah di sana. Di salah satu sisi tebing, terdapat satu biara bersejarah yang ingin mereka kunjungi. Satu-satunya jalan menuju kesana adalah dengan menaiki sebuah keranjang yang ditarik oleh para biarawan. Setelah mereka melihat-lihat biara tersebut, mereka diturunkan kembali melalui sisi tebing tadi. Ketika mereka akan menaiki keranjang tersebut untuk turun kembali, mereka memperhatikan bahwa talinya terlihat usang. Kemudian mereka bertanya kepada biarawan yang menarik tali tersebut “seberapa seringkah tali ini diganti?” Dan biarawan tersebut menjawab, “Kami menggantinya ketika sudah rusak.” Jawaban tersebut menimbulkan kekhawatiran bagi mereka yang akan menaiki keranjang tersebut.

Sekarang ini, semakin sering para peneliti kesehatan menemukan bahwa pola makan yang tepat sangat mempengaruhi kondisi kesehatan kita. Mesin di dalam tubuh kita pada dasarnya berjalan sesuai dengan sumber energi yang kita makan. Kualitas daripada kondisi saraf, tulang, darah,dan sel-sel tubuh kita bergantung pada gizi yang baik dan pola makan yang tepat. Pepatah lama dapat saja menjadi kenyataan: Berjuta-juta manusia menggali kuburannya mereka sendiri dengan giginya.

Tubuh Kita bukan Milik Kita

Mungkin kita akan berpikir apa hubungannya makanan dengan agama kita. Mengapa Tuhan  memberikan perhatian khusus dengan budaya makan kita? Bukankah itu adalah urusan pribadi masing-masing kita? Pertanyaan-pertanyaan ini saling berhubungan dan tidak bisa dilupakan begitu saja.

Sebenarnya, Pencipta kita tidak membiarkan kita bertanya tanpa memberikan jawabannya. “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1 Korintus 10:31). Luar biasa bukan? Tuhan sungguh memperhatikan hal-hal kecil terhadap apa dan bagaimana pola makan kita. Alkitab mengatakan bahwa Tuhan tidak menciptakan mesin tubuh manusia dan membiarkannya bekerja sendiri. Tuhan belum pernah melepaskan hak ciptanya terhadap apa yang telah diciptakannya.

Rasul Paulus menulis: “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, – dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (1 Korintus 6:19,20). Melalui firman ini menunjukkan kepada kita bahwa dalam pemeliharaan tubuh kita bukan saja keharusan secara rohani namun juga secara moral. Walaupun kita mempunyai kuasa dalam mengontrol tubuh kita sendiri, tetapi tubuh kita bukan milik kita. Kita hanya pelayan dari seseorang yang memiliki tubuh kita yang sebenarnya.

Tidak ada satupun yang berhak untuk mengatakan, “Aku dapat melakukan apa saja yang kusukai terhadap tubuhku, karena ini adalah urusanku sendiri.” Kita tidak bisa mencuri dari Allah dengan menyalahgunakan tujuan dari tubuh kita sebagai Bait Allah.

Melalui ayat ini Paulus berkata kepada gereja dan juga anggota jemaat: “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu” (1 Korintus 3:16,17). Hal ini telah ditetapkan dari dahulu sampai sekarang dimana seseorang tidak boleh merusak milik Allah.

Tetapi bagaiamana caranya kita mengetahui tentang tubuh kita sendiri dan bagaimana cara memeliharanya? Bukankah terasa aneh jika orangtua lebih mengetahui kebutuhan tubuh dari ayam atau anjingnya, dibandingkan kebutuhan tubuh anak-anaknya sendiri? Laki-laki biasanya lebih mengetahui apa yang menjadi kebutuhan mesin mobilnya dibandingkan kebutuhan tubuh keluarganya! Mengapa seringkali kita tidak memperdulikan pentingnya menjaga tubuh kita yang adalah Bait Allah? Alkitab mengatakan bahwa tubuh kita harus dijaga dengan benar, dan dipelihara sesuai dengan firman Alkitab. Masalahnya adalah kebanyakan orang Amerika lebih mengikuti kepuasan pribadi mereka dalam memilih makanan dan minuman.

Apakah penuntun yang terdapat di Alkitab terkait pemeliaraan tubuh kita? Allah bertanya, “Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik, dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat” (Yesaya 55:2). Dan bagaimana kita mengetahui apa yang baik? Yang pasti bukan karena selera atau karena sebuah iklan makanan atau karena menariknya tampilan dari sebuah makanan. Seringkali orang-orang Amerika ketika berbelanja di supermarket akan mengisi keranjang belanja mereka dengan makanan-makanan yang diiklankan di televisi. Tanpa memperhatikan kandungan dari makanan tersebut, mereka cenderung untuk mengikuti selera dan tampilan menarik yang terlihat pada makanan. Seperti halnya bayi burung yang membuka mulutnya terhadap makanan apapun yang dibawa oleh ibunya, begitu juga mereka dibutakan oleh iklan-iklan makanan yang menarik yang mempengaruhi pilihan makanan mereka.

Petunjuk dari Pencipta

Hanya ada satu cara untuk mengetahui apa yang baik bagi kebutuhan tubuh kita yang kompleks ini, yaitu dengan bertanya kepada Penciptanya. Hanya yang menciptakan yang mengetahui cara terbaik dalam memelihara ciptaannya. Pencipta mobil selalu memberikan instruksi dalam memelihara kendaraan yang dibeli agar kondisi mobil tersebut tetap baik.

Ketika Allah menciptakan tubuh kita, Ia juga memberikan instruksi yang spesifik untuk menggunakannya, termasuk jenis energi apa yang baik untuk tubuh kita maupun bagaimana cara memeliharanya. Dalam Kejadian 1:29, “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu.” Tidak ada apapun yang bisa menandingi hal itu. Kacang-kacangan, buah-buahan, biji-bijian dan sayur-sayuran adalah sumber gizi yang paling baik yang menjadi makanan kita.

Kita tidak perlu menolak akan pola makan vegetarian yang dianjurkan Tuhan saat Ia menciptakan tubuh manusia yang sempurna pada masa awal penciptaan. Saat ini, dengan meningkatnya dampak dari dosa, maka ukuran dan stamina tubuh kita menjadi menurun, tetapi tidak ada argumentasi maupun data ilmiah apapun yang dapat menandingi kemampuan tubuh saat pertama kali diciptakan Allah.

Perhatikan orang Amerika saat ini dimana mereka lebih sering memakan makanan yang mengandung protein daging yang berlebihan, karbohidrat dan kue-kue yang manis. Awalnya, Tuhan melarang kita untuk memakan daging. Hanya pada masa air bah saja pertama kali Tuhan mengijinkan untuk memakan daging dikarenakan tidak adanya tumbuh-tumbuhan, tetapi itupun hanya daging tertentu saja. Tuhan berkata kepada Nuh: “Dari segala binatang yang tidak haram haruslah kau ambil tujuh pasang, jantan dan betinanya, tetapi dari binatang yang haram satu pasang, jantan dan betinanya” (Kejadian 7:2).

Perhatikan akan fakta yang signifikan mengenai binatang haram dan tidak haram sudah ada sejak awal zaman. Banyak yang beranggapan hanya bangsa Yahudi saja yang dilarang memakan binatang haram. Tetapi itu adalah anggapan yang salah. Tidak ada orang Yahudi pada zaman Nabi Nuh, tetapi aturan soal haram dan tidak haram sudah diberlakukan. Mengapa binatang yang tidak haram jumlahnya lebih banyak di dalam bahtera Nuh? Karena semua tumbuh-tumbuhan dan tanaman akan musnah oleh air bah, dan untuk pertama kalinya, Tuhan mengijinkan manusia untuk memakan daging.

Tetapi hanya daging dari binatang yang tidak haram! Jika Nuh dan keluarganya memakan daging dari binatang yang haram, maka  keberadaan dari jenis tersebut pasti akan punah. Ada 7 pasang binatang yang tidak haram di dalam bahtera. Hal itu bertujuan agar binatang tidak haram lainnya, yang tidak menjadi konsumsi Nuh dan keluarganya, masih tetap dapat berkembang biak sehingga keberadaannya tidak akan punah.

Dengan adanya bukti bahwa di zaman buku Kejadian sudah ada binatang haram, jadi bagaimana kita menentukan mana yang tidak haram dan yang haram? Tuhan tidak membiarkan kita begitu saja menghadapi sendiri hal yang serius seperti ini.

Tuhan menjawab dengan jelas di dalam Imamat 11:3-11: “setiap binatang yang berkuku belah, yaitu yang kukunya bersela panjang, dan yang memamah biak boleh kamu makan. Tetapi inilah yang tidak boleh kamu makan dari yang memamah biak atau dari yang berkuku belah: unta, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah; haram itu bagimu. Juga pelanduk, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah; haram itu bagimu. Juga kelinci, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkukuk belah, haram itu bagimu. Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu. Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan bangkainya janganlah kamu sentuh; haram semuanya itu bagimu. Inilah yang boleh kamu makan dari segala yang hidup di dalam air: segala yang bersirip dan bersisik di dalam air, di dalam lautan, dan di dalam sungai, itulah semuanya yang boleh kamu makan. Tetapi segala yang tidak bersirip atau bersisik di dalam lautan dan di dalam sungai, dari segala yang berkeriapan di dalam sungai dan dari segala makhluk hidup yang ada di dalam air, semuanya itu kejijikan bagimu. Sesungguhnya haruslah semuanya itu kejijikan bagimu; dagingnya janganlah kamu makan, dan bangkainya haruslah kamu jijikkan.”

Daging Babi yang Haram

Betapa beruntungnya kita bahwa yang menciptakan kita juga telah memberikan petunjuk akan apa yang boleh dan tidak boleh dimakan. Kita mungkin belum bisa memahami secara mendalam mengapa ada yang haram dan ada yang tidak haram, namun kita hanya perlu mengimani bahwa Pencipta kita mengetahui perbedaannya, dan karena kasihNya kepada kita maka Ia memberitahukan apa yang baik bagi tubuh kita. Segala binatang yang tidak berkuku belah dan tidak memamah biak janganlah dimakan. Kita sudah dapat menduganya bukan bahwa  Setan pasti akan berusaha untuk menciptakan suatu rasa yang menarik terhadap makanan yang dilarang oleh Tuhan? Dan kita juga sudah dapat menduga bahwa dari setiap makanan haram yang telah dilarang oleh Allah itu maka akan dijumpai segala penyakit daripadanya? Larangan memakan babi merupakan salah satu contoh bagaimana nafsu manusia menolak larangan Tuhan. Walaupun kita belum bisa membuktikan secara ilmiah akan dampak negatif dari memakan binatang yang haram, namun sudah dibuktikan bahwa daging babi sama sekali tidak baik untuk dimakan.

Daging babi mengandung cacing-cacing yang sangat kecil yang disebut trichina, dan jika cacing tersebut masuk ke dalam tubuh, maka akan menyebabkan penyakit trichinosis.  Pemerintah mengatakan bahwa belum ada amaran untuk dilakukan inspeksi terhadap jenis parasit tersebut, dan sebuah artikel di majalah Readers’ Digest mengatakan bahwa tidak ada pengobatan jika terjangkit penyakit tersebut.

Pada judul artikel “Apakah daging babi akan dibiarkan untuk tetap dikonsumsi padahal tidak aman?” disampaikan tentang penyakit trichinosis ini: “Satu porsi dari daging babi, bahkan 1 sendok saja, dapat membunuh atau menyebabkan penderitaan sakit seumur hidup. Penyakit unik ini, trichinosis, tidak ada obatnya. Tanpa obat tentu cacing-cacing tersebut akan berkembang biak didalam jaringan sel-sel di dalam sistem tubuh kita.

“Lalu hal-hal lain akan terjadi, tergantung dari seberapa banyak infeksi yang terjadi. Bisa saja menyebabkan kematian atau pertumbuhan kista, yang berisi parasit-parasit yang semakin aktif dan akan tinggal di dalam tubuh selama bertahun-tahun. Kita tidak bisa menyalahkan dokter. Para dokter akan berusaha melakukan yang terbaik dengan berusaha mengembalikan kekuatan orang yang terjangkit penyakit ini dan berusaha menghilangkan rasa sakit yang di rasakan, berdasarkan gejala-gejala yang tampak” (Reader’s Digest, March 1950). Gejala-gejala yang terlihat biasanya tidak disadari oleh yang telah terjangkiti. Karena trichinosis seakan-akan seperti penyakit yang biasa. Rasa nyeri di lengan ataupun kaki bisa saja itu karena radang sendi atau reumatik, tetapi bisa juga itu karena trichinosis. Rasa sakit yang ada di sekitar punggung bisa saja karena ada hubungannya dengan masalah kantung empedu, tetapi bisa juga itu sebenarnya adalah trichinosis.

Dr. Samuel C. Gould, seorang pejabat kesehatan di Washington, yang telah banyak meneliti tentang trichinosis, mengatakan bahwa masyarakat Amerika mengkonsumsi paling tidak 200 jenis makanan mengandung babi selama hidupnya. Hanya karena ada label yang bertuliskan “Telah lulus uji oleh pemerintah Amerika”, bukan berarti telah dilakukan tes atas keberadaan cacing trichina pada makanan tersebut. Untuk memastikan ada atau tidaknya cacing tersebut pada setiap daging babi yang dimakan, perlu untuk di teliti dengan menggunakan mikroskop.

Dinas Kesehatan menyarankan agar daging babi yang akan dikonsumsi harus di masak hingga benar-benar matang untuk membunuh cacing trichina. Tetapi beberapa berpendapat bahwa dengan memasak hingga matang dan membunuh cacing-cacing tersebut maka daging babi menjadi terasa kurang nikmat. Perilaku seperti ini sangat dibenci oleh Tuhan. Mengapa sulit bagi umat Kristen untuk menerima kehendak Tuhan untuk menghindar dari nafsu menyimpang karena selera makan?

Ada yang mempertanyakan mengapa Tuhan menciptakan babi jika memang tidak boleh untuk dimakan. Jawabannya untuk itu sudah sangat jelas. Babi, seperti halnya elang, ular dan hyena, adalah binatang-binatang “pemulung” dari kotoran di bumi ini. Mereka selalu memakan bangkai atau kotoran yang ada, yang binatang lain tidak mau memakannya. Dalam arti mereka ‘membersihkan’ sampah yang ada di bumi. Setiap ciptaan-Nya sudah mempunyai tujuan tersendiri, tetapi tidak semuanya yang cocok untuk dimakan dan dicerna oleh tubuh manusia. Mungkin kita belum mampu untuk memahami penjelasan ini hanya dengan menggunakan kebijaksanaan kita sendiri, namun firman Tuhan telah mengungkapkannya dengan jelas.

Banyak yang berpendapat bahwa sekarang dunia sudah lebih bersih dibandingkan pada era Perjanjian Lama dulu, sehingga sekarang babi sudah cukup bersih untuk dimakan. Sebenarnya cukup sulit untuk dipercaya bahwa binatang-binatang yang ada di darat maupun di laut sudah lebih baik saat ini karena sudah berkurangnya polusi seiring dengan berjalannya waktu. Padahal justru pada saat lebih banyak racun kimia yang mencemari tanah, laut, dan udara, dan sudah menjadi masalah besar menurut pemerintah. Bahkan aktifis pemerhati lingkungan selalu mengingatkan kita betapa besarnya pencemaran yang telah terjadi di bumi ini karena pestisida, insektisidan dan kandungan beracun lainnya.

Dan jika dengan fakta tersebut masih juga tidak meyakinkan kita bahwa binatang haram tersebut masih tetap haram dari dulu sampai sekarang, maka ada firman Tuhan yang dengan jelas mengatakan tentang hal tersebut. Yesaya menuliskan: “Sebab sesungguhnya, TUHAN akan datang dengan api, dan kereta-kereta-Nya akan seperti puting beliung, untuk melampiaskan murka-Nya dengan kepanasan dan hardik-Nya dengan nyala api. Sebab TUHAN akan menghukum segala yang hidup dengan api dan dengan pedang-Nya, dan orang-orang yang mati terbunuh oleh TUHAN akan banyak jumlahnya. Mereka yang menguduskan dan mentahirkan dirinya untuk taman-taman dewa, dengan mengikuti seseorang yang ada di tengah-tengahnya, yang memakan daging babi dan binatang-binatang jijik serta tikus, mereka semuanya akan lenyap sekaligus, demikianlah firman TUHAN.” (Yesaya 66:15-17)

Ayat ini berbicara tentang kedatangan Yesus yang kedua kali dan sangat jelas dikatakan bahwa binatang-binatang haram tersebut tidak akan berubah dan masih tetap bukanlah sebagai makanan yang layak untuk dikonsumsi – bahkan hingga dunia ini berakhir pada saat Yesus datang kembali. Babi ditempatkan sebagai kategori yang dibenci oleh Tuhan, dan Tuhan dengan jelas mengatakan kepada yang memakannya “maka akan dimusnahkan sekaligus.” Tidak ada yang bisa mengatakan bahwa amaran peringatan tidak diberikan dalam bahasa yang tidak dimengerti, karena ayat tersebut telah sangat jelas mengatakannya.

Seafood Tidak Baik untuk Dimakan

Telah dikatakan dalam Imamat 11 bahwa hanya binatang laut yang memiliki sirip dan sisik yang “halal”. Selainnya adalah kekejian dihadapan Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa tiram, udang, kepiting, kerang, belut, lele, lobster dan udang karang adalah haram. Kembali disampaikan bahwa binatang pemakan bangkai tidak baik untuk tubuh.

Apakah ada alasan ilmiah untuk menerima penilaian Tuhan ini terhadap mengkonsumsi kerang dan makanan laut (seafood) lainnya tersebut? Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa binatang-binatang air (seafood) ini memakan limbah dan polusi yang ada di air.
Majalah Prevention pada September 1972, menuliskan artikel yang menarik dengan judul “Kerang adalah Binatang yang Kotor dan Berbahaya”. Penulisnya sepertinya merasa enggan untuk menyampaikannya namun Ia berkomitmen untuk menyampaikan hal yang benar terkait topik yang sensitif ini. Ia menuliskan: “Kerang enak; kerang lezat; kerang bahkan bergizi. Tetapi karena habitatnya berasal dari polusi limbah, maka seharusnya kita tidak memakannya, walaupun kerang itu begitu menggoda untuk dimakan, dan bahkan jika orang-orang disekitarmu terlihat menikmati dalam memakan kerang tersebut, tetapi berusahalah untuk tidak memakannya. Akibat memakannya akan terlihat di masa yang akan datang.

 “Mengapa kerang berbahaya? Karena mereka lebih kotor dibandingkan dari air tempat habitatnya sendiri yang memang sudah kotor.

Mereka hidup dan berkembang biak di muara pesisir. Muara ini tempat berakhirnya limbah-limbah kotoran yang terbawa oleh air dari pembuangan kota seperti drainase rumah atau limpasan pertanian.

Habitat tempat tinggal mereka yang merupakan kumpulan limbah merupakan salah satu hal yang menunjukkan bahwa mereka berbahaya. Fakta bahwa mereka menjadi pemakan dari limbah yang bersatu dalam tubuh mereka merupakan hal yang lebih berbahaya lagi.

Sebagai contoh adalah tiram, dimana cara mereka mendapatkan dan menyerap makanannya, telah terbukti telah meningkatkan konsentrasi virus polio 20 – 60 kali dari air laut itu sendiri.

Tidak ada makanan berbahan dasar hewan yang ditawarkan dalam menu di restoran favorit anda bersamaan dengan kotorannya. Tapi sayangnya itu lah yang terdapat di seafood. Semuanya tersaji lengkap, termasuk usus dan kotorannya.

Orang membayar mahal untuk menikmati kuliner seafood ini. Secara konstan telah ditemukan wabah hepatitis dapat disebabkan karena makan seafood. Setelah seafood-seafood ini memakan limbah kotoran, kemudian dipanen dan dijual. Wabah ini seperti siklus yang berputar, dari manusia yang mengidap hepatitis, menghasilkan kotoran limbah tubuhnya, kemudian dimakan oleh seafood-seafood, lalu kembali lagi ke manusia karena manusia memakan seafood-seafood tersebut.

Sekali lagi kita memang harus mengakui akan perhatian yang penuh kasih dari Tuhan yang Maha Tahu untuk kesehatan dan kebahagiaan ciptaan-Nya. Dan kepada mereka yang melanggar akan hukum kasih ini akan merasakan sendiri konsekuensi karena ketidaktaatannya.

Alkohol – Sebuah Kutukan

Sekarang mari kita lihat bagaimana caranya kita memuliakan Tuhan melalui apa yang kita minum. Alkitab mengatakan, “Jika engkau makan atau jika engkau minum…. lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah”. (1 Korintus 10:31). Di antara semua racun yang popular pada peradapan manusia saat ini, salah satu yang paling berbahaya dan menghancurkan adalah alkohol. Dengan mengkonsumsi alkohol, yang seakan-akan melambangkan kebesaran akan kesuksesan hidup, justru sebenarnya menjadi penyakit sosial yang paling ganas dalam masyarakat. Tidak heran jika Alkitab mengatakan tidak ada pemabuk di dalam kerajaan surga.

Saat ini kita sering kali berkompromi dengan tetap meminum minuman beralkohol atas dasar alasan bersosialisi. Dari yang tadinya menolak total meminum alkohol, sekarang berkompromi dengan bersikap modern. Selama tidak mabuk maka boleh meminum minuman yang mengandung alkohol. Namun apakah itu menjadi pembenaran diri kita untuk boleh meminum minuman beralkohol? Penelitian menunjukkan bahwa 1 dari 10 orang yang mengkonsumsi minuman beralkohol pada akhirnya menjadi pencandu alkohol atau memiliki masalah karena alkohol.

Banyak orang Kristen beranggapan bahwa Alkitab membolehkan meminum minuman  beralkohol sekali-sekali pada waktu tertentu. Pendapat ini berlandaskan pada penggunaan kata “anggur” di dalam Alkitab. Tetapi anggur yang dikatakan di dalam Alkitab adalah anggur yang tidak mengandung alkohol. Penggunaan kata anggur biasanya berlaku baik pada minuman anggur yang difermentasi ataupun yang tidak difermentasi.  Tuhan mengatakan, “Beginilah firman TUHAN: “Seperti kata orang jika pada tandan buah anggur masih terdapat airnya: Janganlah musnahkan itu, sebab di dalamnya masih ada berkat! demikianlah Aku akan bertindak oleh karena hamba-hamba-Ku, yakni Aku tidak akan memusnahkan sekaliannya” (Yesaya 65:8).

Anggur yang dimaksud disini adalah jus segar anggur. Inilah jenis minuman anggur satu-satunya yang diberkati Tuhan. Tidak ada berkat di dalam botol minuman yang difermentasi yang jelas-jelas sudah beracun. Lebih lanjut firman Tuhan mengatakan, “Anggur adalah pencemooh, minuman keras adalah peribut, tidaklah bijak orang yang terhuyung-huyung karenanya” (Amsal 20:1). “Jangan melihat kepada anggur, kalau merah menarik warnanya, dan mengilau dalam cawan, yang mengalir masuk dengan nikmat,  tetapi kemudian memagut seperti ular, dan menyemburkan bisa seperti beludak” (Amsal 23:31,32).

Apakah Yesus telah melakukan hal yang bertentangan dengan Perjanjian Baru dengan merubah air menjadi anggur? Ini adalah hal yang harus Ia lakukan. Ia menuruti akan Perintah Tuhan. Air anggur yang Ia rubah adalah air anggur yang tidak difermentasi. Saat ini kita sudah mengetahui dampak negatif apa yang terjadi kepada tubuh akibat mengkonsumsi minuman beralkohol. Penelitian membuktikan bahwa terjadi keracunan pada otak yang menghalangi asupan oksigen ke otak akibat mengkonsumsi minuman beralkohol. Kekurangan oksigen ini akhirnya menghancurkan sel-sel otak, yang mempengaruhi kesadaran kita. Apakah mungkin bahwa Yesus, yang menciptakan tubuh kita, akan melakukan sesuatu yang dapat mengakibatkan melemahnya moral, mengurangi kemampuan berpikir baik, dan akhirnya menghancurkan tubuh yang merupakan Bait Allah ini? Tidak mungkin kan? Dan apa yang terjadi akibat kita mengkonsumsi rokok?

Nikotin – Racun Paling Mematikan

Ada banyak buku yang telah ditulis yang menceritakan tentang penelitian-penelitian besar yang telah dilakukan terkait efek berbahaya nikotin terhadap tubuh. Semenjak Surgeon General’s menulis artikel mengenai hal tersebut, maka ada banyak penelitian baru lainnya yang mendukung akan penemuan tersebut. Nikotin adalah racun paling mematikan bagi manusia. Jutaan manusia meninggal karena efek berbahaya dari nikotin ini. Dengan masuknya nikotin ke dalam darah manusia, maka itu akan memaksa jantung bekerja dengan lebih keras. Paru-paru menghasilkan sel karsinoma penyebab tumor/kanker. Dapat memberikan dampak negatif terhadap janin. Tidak ada satupun organ tubuh yang luput dari racun nikotin.

Apakah dosa kalau kita merokok? Tidak ada yang dapat menyanggahnya bahwa segala hal yang meracuni tubuh yang adalah Bait Allah maka itu adalah dosa. Tuhan mengatakan bahwa Ia akan melenyapkan siapapun yang meracuni Bait Allah. Jelas bahwa merokok adalah dosa, dan tidak seharusnya seorang Kristen mempersingkat usia hidupnya dengan merokok.

Beberapa anggota jemaat gereja tidak membiarkan zat arsenic atau striknin masuk ke dalam tubuhnya walaupun dalam jumlah yang sangat kecil sekalipun, tetapi mereka justru membiarkan satu zat yang paling mematikan masuk ke dalam tubuhnya. Secara perlahan zat tar yang terdapat dalam rokok akan menghanguskan paru-paru dan kemudian membunuhnya. Hal yang sama juga akan terjadi kepada siapapun yang menghirup asap dari rokok. Ini adalah bunuh diri yang terencana. Merupakan hal yang salah jika kita mengambil dari apa yang menjadi milik Allah, dengan mencurangi penatalayanan kita, dan dan mencuri harta-Nya.

Dan apa yang dapat kita katakan mengenai penggunaan uang yang sia-sia karena rokok? Pada umumnya perokok akan menggunakan sekitar Rp. 650.000 dalam sebulan untuk menuruti kesenangan mereka ini. Ketika Ia pensiun jumlah ini mencapai sekitar Rp. 325.000.000. Jumlah yang cukup untuk masa tuanya, bahkan tanpa bantuan asuransi sekalipun. Namun ditemukan bahwa kepada mereka yang menggunakan uangnya untuk rokok maka pada masa tuanya justru tidak mempunyai uang sama sekali dan bergantung kepada belas kasihan keluarganya. Adalah suatu tragedi yang memalukan! Untuk itu Tuhan berkata, “Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah” (Hosea 4:6). Akan lebih mudah jika membakar saja langsung Rp. 325.000.000 itu. Paling tidak aksi tersebut tidak merusak tubuh.

Jelas kita sudah mengerti sekarang betapa pentingnya untuk tidak menodai tubuh dan pikiran yang diciptakan hanyalah untuk tujuan spiritual. Prinsip ini tertulis di Alkitab bahwa kita bertanggung jawab atas tubuh kita dihadapan Allah, namun saat ini sudah banyak orang yang menyadari bahwa kesehatan memang perlu diperlihara agar terhindar dari penderitaan karena penyakit. Dan dengan dasar ini maka seharusnya kita sudah cukup termotivasi untuk menjalani pola hidup yang benar.

Namun terkadang logika, dan bahkan bukti ilmiah, mengakibatkan konflik besar antara prinsip kesehatan dengan nafsu makan, budaya, dan kecanduan. Salah satu contoh adalah kafein. Ada banyak sekali penelitian-penelitian yang membuktikan bahwa kafein adalah musuh yang jahat untuk kesehatan tubuh. Zat ini sangat kuat dan bisa menyebabkan kecanduan. Banyak ditemukan bahwa lebih sulit untuk berhenti meminum minuman berkafein dibandingkan berhenti dari merokok atau meminum minuman berlakohol. Padahal kafein dapat menyebabkan efek yang merugikan untuk jantung, lambung, saraf, bahkan janin pada ibu hamil.

Mabuk Kopi

Obat-obatan buatan Merck Index membuat daftar akan gejala yang timbul akibat kafein dan salah satunya adalah jika memiliki indikasi 7 grains dari obat maka itu adalah dosis medis. Minuman Cola, teh dan kopi biasanya terdiri dari 1,5 – 3 grains. Banyak orang yang mengkonsumsi lebih dari dosis medis saat makan. Dampaknya mengakibatkan tubuh menstimulasi sel-sel tubuh untuk bekerja lebih keras dari apa yang Allah telah tentukan. Seorang dokter mengatakan: “Masyarakat Amerika adalah bangsa yang mabuk akan teh dan kopi”.

Ditemukan bahwa Amerika mengkonsumsi 275 juta pon kopi setiap tahunnya. Artinya setiap orang mengkonsumsi sekitar 17 pon, baik pria, wanita ataupun anak-anak. Dokter-dokter menyarankan kepada penderita penyakit jantung dan penderita sakit maag untuk tidak mengkonsumsi kopi dan tidak merokok. Bahkan temuan baru-baru ini menunjukkan bahwa kopi dapat menyebabkan kanker. Ini merupakan penemuan yang serius dalam penelitian tentang kopi. Walaupun carcinogen belum ditentukan sebagai kafein, namun sudah pasti berhubungan dengan minuman kopi.

Teh, selain mengandung kafein, juga mengandung zat berbahaya lainnya, yaitu asam tanat. Zat kimia asam tanat ini biasanya digunakan dalam proses pencelupan warna untuk kulit binatang. Kandungan gula dalam minuman berkafein juga merusak kesehatan. kandungan gula yang terdapat dalam minuman ringan juga dapat mengganggu kesehatan.

Adalah hal yang lumrah ketika kita melihat seorang sekretaris atau direktur yang duduk di mejanya dengan rokok di tangannya, segelas kopi didekatnya, dan juga Coca-Cola. Semua pasti sudah pernah mendengar: “Jika aku tidak minum kopi (atau cola) maka aku akan sakit kepala.” Kafein memang bisa menghilangkan sakit kepala, tetapi begitu juga dengan 10 grain morfin. Untuk sementara rasa sakit itu memang hilang, tetapi dengan meresapnya zat tersebut dalam saraf maka lama kelamaan akan menimbulkan ketagihan.

Fakta menyedihkan yang disebabkan karena ketagihan ini justru ditemukan pada ibu-ibu hamil. Ada begitu banyaknya data yang membuktikan akan dampak buruk alkohol, rokok dan kafein terhadap janin, namun ibu-ibu hamil ini tetap saja meracuni bayi yang dikandungnya tersebut. Adalah hal yang mungkin jika seseorang membahayakan dirinya sendiri dengan mengkonsumsi zat-zat beracun tersebut, tetapi bagaimana mungkin ia juga tega membahayakan bayi yang dikandungnya? Jawaban atas pertanyaan tersebut menunjukkan besarnya masalah ketagihan pada masyarakat Amerika.

Pertanyaan Besar

Pertannyaan besar, tentunya, adalah bagaimana caranya berhenti. Setelah bertahun-tahun keinginan dilemahkan oleh kepuasan, bagaimana bisa menemukan kekuatan untuk melawan ketagihan-ketagihan tersebut? Kebanyakan menemukannya dari luar diri. Pertama-tama, harus ada keputusan dalam diri untuk berhenti – kemauan untuk membuang kebiasaan yang mengikuti kesenangan sementara. Pergunakan semua usaha yang memungkinkan untuk melawan kebiasaan ini. Kemudian berdoa. Minta janji kemenangan yang Tuhan mau berikan.

Jangan lagi mencoba untuk mengikuti keinginan yang salah secara moral dan fisik. Bukan begitu caranya. Itu sama saja seperti memotong sedikit demi sedikit ekor anjing untuk mempermudah anjing tersebut. Cara seperti itu justru lebih menyakitkan. Sebuah kebiasaan (habit) tetaplah sebuah kebiasaan (habit). Kalau dipotong terlebih dahulu huruf “h” maka masih ada huruf “abit” yang tertinggal. Dipotong huruf “a”-nya, masih tetap ada huruf “bit” yang tersisa. Menghilangkan huruf “b”, masih juga ada huruf “it” disitu. Bahkan dengan menghilangkan juga huruf “i”, masih ada tersisa huruf “t”. Hal yang sedikit-sedikit tersebut justru mempersulitmu untuk menang dari godaanmu. Mungkin seseorang mengatakan bahwa tidak harus langsung dihilangkan semuanya. Padahal kita juga sering menerima atau melakukan segala sesuatu berlebihan. Seperti memakan kentang atau biji-bijian terlalu banyak juga bisa berbahaya bagi tubuh. Definisi yang sebenarnya tentang kesederhanaan adalah: Menolak terhadap semua hal yang dapat merusak tubuh, bijaksana terhadal semua hal yang baik untuk tubuh. Bukankah itu lebih masuk akal? Dengan prinsip tersebut maka ada banyak hal yang baik yang bisa terjadi, dan cukup alkitabiah juga.

Paul Harvey menuliskan dalam salah satu artikelnya bahwa seseorang mampu untuk menunda kematiannya sendiri. Dengan judul Makan Benar, Hidup Lebih Lama, Harvey berbicara tetang penelitian di dunia barat tentang memperpanjang usia. Penelitian ini berdasarkan pada akte kematian yang terdapat antara anggota Advent dan bukan anggota Advent di California. Ditemukan bahwa orang Advent (yang mengajarkan untuk tidak mabuk-mabukan, merokok dan menggunakan kafein) mempunyai usia hamper 6 tahun lebih lama dibanding orang yang bukan Advent.

Kurang dari 70% orang Advent meninggal karena kanker, kurang dari 68% meninggal karena masalah pernapasan, kurang dari 88% meninggal karena TBC dan kurang dari 85% meninggal karena penyakit paru-paru. Orang Advent meninggal 46% lebih sedikit karena stroke, 60% lebih sedikit karena penyakit jantung. Dan mungkin karena tidak meminum minuman beralkohol, hanya sekitar 1/3 saja yang dikarenakan kecelakaan.

Kita benar-benar dihadapkan pada fakta kebenaran bahwa kita dapat menambahkan usia hidup kita lebih lama lagi, dengan mematuhi prinsip kesehatan yang telah diberikan oleh Pencipta kita di dalam Alkitab. Daripada kita merasa tertipu oleh godaan kita sendiri, akan lebih baik jika kita dapat melihat betapa baiknya dan kasihnya Tuhan kita kepada kita sehingga Ia memberikan rahasia untuk memperoleh usia lebih panjang dan memperoleh berbahagia dalam hidup. Rasul Paulus menulis, “Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci” (1 Yohanes 3:2,3).

Apakah engkau memiliki iman dan keberanian untuk menerima resep yang diilhami oleh Tuhan ini untuk memperpanjang usia dan ketenangan hidup Anda? Praktekkanlah sekarang sebagai makananmu, yang dapat menyehatkan tubuhmu selama engkau hidup dan mempersiapkanmu untuk kehidupan kekal kelak di Surga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *