Memahami Karunia Lidah

Memahami Karunia Lidah

Bank Pustaka

BK-UTSuatu Fakta yang Menakjubkan

Legenda mengatakan bahwa ketika orang-orang Yunani tidak dapat mengalahkan kota Troy bahkan setelah melakukan pengepungan selama 10 tahun, mereka akhirnya tiba pada suatu strategi yang pintar. Tentara Yunani berpura-pura untuk berlayar pergi dan meninggalkan di pantai, sebuah kuda kayu besar berongga, yang jelas kelihatan sebagai hadiah kemenangan. Namun, hadiah itu sebenarnya diisi dengan beberapa prajurit bersenjata! Sinon, mata-mata Yunani dalam kota Troy, membujuk Trojan untuk membawa Kuda ke dalam tembok kota, sambil berkata bahwa dengan melakukannya akan membuat Troy tak terkalahkan secara misterius. Malam itu Sinon melepaskan pasukan yang bersembunyi di dalam kuda raksasa. Setelah membunuh penjaga Trojan, mereka membuka gerbang untuk para prajurit Yunani yang menunggu, dan Troy ditangkap dan dibakar.

Perbedaan dalam intepretasi

Pemberian dari musuh bisa sangat berbahaya. Dunia yang jahat ini telah berhasil menghabisi banyak sekali umat manusia dengan membungkus sebuah bom dengan sangat indah sebagai pemberian dengan ikatan berbunga dan kertas yang segera meledak ketika itu dibuka. Hari ini, setan menggunakan tiruan dari karunia Roh-karunia berbicara dalam wujud paganisme- untuk mendapat akses ke dalam gereja dan menghancurkannya dari dalam.

Tidak berapa lama setelah menjadi Kristen, Saya bepergian dari Palm Springs ke Los Angeles untuk bertemu ibu saya. Dipertengahan perjalanan, saya mendapatkan tumpangan dari seorang wanita beragama Pentakosta paruh baya yang sangat baik dan dengan senang hati mendengarkan perbincangan saya. Selagi kami terus dalam perjalanan, dia bertanya, “apakah engkau sudah menerima Roh Kudus?” Saya cukup terkejut dengan pertanyaannya, karena tidak pernah ada yang menanyakan hal itu kepada saya sebelumnya. “Ya, saya rasa..” dengan perlahan saya bicara. “Saya yakin merasakan pekerjaan Roh Kudus di dalam kehidupan saya. TUHAN membantu saya dalam membuat banyak sekali perubahan, seperti meninggalkan narkoba, mencuri, berbohong, memaki, dan masih banyak lagi.”

“Bukan, bukan itu yang saya maksudkan,” dia berkata, dan telihat sedikit kecewa. “Apakah kamu pernah menerima baptisan Roh Kudus? Berbicara dalam bahasa roh?” Ganjil bagi saya, karena ia terlihat lebih tertarik kepada, pernah atau tidakkah saya memiliki pengalaman dalam berkata-kata dalam kegembiraan yang meluap-luap, daripada dia mendengar bahwa saya telah memiliki kemenangan atas dosa-dosa yang telah lama menawan saya!

Bahkan, perempuan yang baik ini yakin bahwa saya melewatkan suatu unsur penting dari pengalaman Kristiani. Dan tidak mau kehilangan sesuatu yang sangat penting, saya memulai pencarian yang dalam mengenai subyek menganai karunia berbicara yang kontroversial ini. Beberapa gereja pertama yang saya hadiri, semuanya adalah gereja karismatik, yang artinya mereka percaya atas pengalaman berkata-kata dalam kegembiraan yang meluap-luap yang sering disebut sebagai “glossolalia.” Banyak dari teman baru saya dari kelompok pendalaman Alkitab “berbicara dalam bahasa roh,” jadi informasi yang mau saya bagikan adalah hasil dari pengalaman pribadi pada tahun-tahun permulaan dari perncarian saya.

Saya perlu menyampaikan beberapa fakta yang tidak begitu populer dari penyelidikan ini, dan saya harus mulai dengan menyatakan bahwa sekalipun saya tidak setuju dengan beberapa ajaran dari saudara-saudara saya yang beragama karismatik, saya sangat yakin bahwa TUHAN mempunyai ribuan anak-anak-Nya dalam perkumpulan ini. Saya juga mendapati bahwa bahkan didalam karismatik ada perbedaan mencolok dari intepretasi mengenai karunia bahasa roh, jadi saya memohon maaf jika saya menyamaratakannya. Peperangan saya bukanlah melawan manusia, tetapi melawan kesalahan. Kebenaran yang menyakitkan kita di waktu tertentu, adalah kebenaran yang sama juga yang menjanjikan kita kebebasan! Yohanes 8:32.

 

Karunia Berbicara yang Sebenarnya

Mari mulai dengan sebuah definisi. Kata “lidah” di dalam Alkitab berarti “bahasa.” TUHAN memberikan karunia Roh untuk memenuhi kebutuhan secara praktikal. Apakah itu kebutuan akan “lidah”?

Yesus mengatakan kepada para murid-Nya, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Matius 28:19). Perintah ini menimbulkan suatu kendala. Bagaimana bisa para murid berkhotbah ke seluruh dunia, disaat mereka hanya berbicara dalam satu atau dua bahasa? Setelah itu, murid-murid Yesus dimampukan, sekalipun kebanyakan dari mereka tidak menerima pendidikan formal. Agar dapat memenuhi amanat agung, Ia berjanji untuk memberikan mereka karunia Roh Kudus yang cukup unik. Sebuah mukjizat, kemampuan supernatural untuk berbicara dalam bahasa asing yang mana mereka tidak pernah belajar atau ketahui secara khusus, hanya untuk tujuan penyebaran injil.

Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya:…mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka,” (Markus 16:17) Fakta bahwa Yesus mengatakan berbahasa yang baru, dapat menjadi “tanda” yang mengindikasikan bahwa kemampuan untuk berbicara tidak datang sebagai hasil dari pembelajaran bahasa seperti pada umumnya. Sebaliknya, ini adalah sebuah karunia yang didapat secara langsung untuk dapat berkhotbah dengan lancar dalam bahasa yang tidak pernah mereka pahami sebelumnya.

Hanya ada tiga contoh jelas dari berbahasa yang dicatat di dalam Alkitab (Kisah Para Rasul pasal 2, 10, dan 19). Jika kita melihat kepada tiga cerita ini, kita akan menemukan gambaran yang jelas akan karunia yang kontrofersial ini.

Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.” (Kisah Para Rasul 2:1-4).

Api adalah simbol dari kuasa. TUHAN memberikan karunia ini dalam bentuk lidah api, sehingga mereka dapat mengetahui bahwa Ia akan menyanggupkan lidah mereka yang lemah sebagaimana Ia memampukan Musa untuk pergi kepada Firaun (Keluaran 4:10-12) dan menjamah lidah Yesaya dengan bara dari mezbah surgawi (Yesaya 6:6,7).

Kenapa TUHAN menunggu hingga hari Pentakosta untuk menganugerahkan karunia ini? Kisah para Rasul 2:5-11 menceritakan kejadiannya: “Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: “Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita:… kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.

Hari Pentakosta adalah hari yang kudus bagi orang Yahudi, yang jatuh 50 hari setelah Paskah. Orang Israel yang setia akan datang dari seluruh daerah kekuasaan Roma untuk berbakti di Yerusalem. TUHAN memilih kesempatan tahunan ini untuk menganugerahkan karunia berbicara ini kepada para murid, sehingga mereka dapat mengabarkan injil kepada orang-orang yang datang ke daerah Yahudi, dalam bahasa mereka masing-masing. Paling tidak ada 15 bahasa yang berbeda yang diucapkan di keramaina pada waktu itu (Kisah 2:9-11)! Sebagai hasilnya, ribuan pendatang ini bertobat. Lalu, setelah Pentakosta, mereka kembali pulang sambil membawa iman mereka yang baru ke negara mereka masing-masing.

Dari contoh ini sudah sangatlah jelas bahwa karunia lidah diberikan untuk mengkomunikasikan Injil dalam bahasa-bahasa berbeda yang ada di dunia. Beberapa telah keliru menyarankan bahwa keajaiban pada hari Pentakosta adalah karunia untuk mendengar dan memahami bahasa yang berbeda. Itu bukan karunia dari pendengaran diberikan kepada pendengar, melainkan karunia Roh diberikan untuk memungkinkan orang percaya untuk berbicara (Kisah Para Rasul 2: 4). Hal ini tidak disebut karunia mendengar untuk pendengar, tetapi karunia berbicara untuk para pembicara. Selanjutnya, tanda itu bukanlah telinga api kepada para pendengar, tetapi lidah api kepada mereka yang berkhotbah.

Hal ini juga kadang-kadang dinilai bahwa karunia berbicara adalah “bahasa surgawi” yang hanya dimengerti oleh Allah atau mereka dengan karunia penafsiran. Sangat jelas Alkitab menyatakan dalam Kisah Para Rasul pasal 2 bahwa baik para murid dan orang-orang yang mendengarkan mengerti apa yang dikhotbahkan – “perbuatan-perbuatan besar yng dilakukan Allah” (Ayat 11). Mari kita lihat sekarang di contoh kedua ketika Petrus berkhotbah kepada Kornelius dan keluarganya: ” Ketika Petrus sedang berkata demikian, turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu. Dan semua orang percaya dari golongan bersunat yang menyertai Petrus, tercengang-cengang, karena melihat, bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga, sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah.(Kisah Para Rasul 10:44-46).

Kisah Para Rasul 10: 1 mengatakan bahwa Kornelius adalah seorang Italia, sementara Petrus adalah seorang Yahudi dan berbicara dalam bahasa Aram. Sejarah juga mengatakan kepada kita bahwa pelayan di rumah Romawi bisa berasal dari mana saja di dunia. Karena ada hambatan yang jelas dalam hal bahasa pada pertemuan ini, Petrus mungkin mulai berkhotbah melalui seorang penerjemah. Tapi ketika Roh Kudus jatuh pada Kornelius dan keluarganya, orang-orang Yahudi dengan Petrus bisa memahami bangsa-bangsa lain yang berbicara dalam bahasa lain selain bahasa ibu mereka. Dicatat bahwa orang-orang Yahudi mendengar mereka “memuliakan Allah” dalam berbagai bahasa. Ketika kemudian melaporkan pengalaman ini kepada para pemimpin gereja, Petrus berkata, “Roh Kudus turun pada mereka, seperti dahulu ke atas kita ” (Kisah Para Rasul 11:15, penekanan ditambahkan).

Petrus disini jelas memberitahu kita bahwa Kornelius dan keluarganya menerima karunia berbicara yang sama dengan bagaimana para murid terima pada hari Pentakosta. Dengan kata lain, mereka berbicara bahasa yang mereka tidak mengerti sebelumnya dengan cara yang bisa dipahami.

Contoh ketiga dan terakhir dari berbicara dalam bahasa roh adalah ketika Paulus berkhotbah kepada 12 murid di Efesus. Kisah Para Rasul 19:6 mencatat, “Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa Roh, dan bernubuat.”

Paul adalah yang paling berpendidikan dan paling banyak melakukan perjalanan dari para rasul, dan ia berbicara banyak bahasa (1 Korintus 14:18). Ketika Roh Kudus turun ke atas 12 orang Efesus ini, Paulus mengakui bahwa mereka bernubuat, atau berkhotbah, dalam bahasa baru. Kemungkinan besar mereka berbicara dalam bahasa umum di seluruh Kekaisaran Romawi, karena itu akan menjadi praktis untuk menyebarkan Injil. Lukas tidak mengatakan bahwa mereka menerima bentuk karunia berbicara yang berbeda dari dua contoh pertama, jadi kita harus mengasumsikan bahwa itu adalah jenis yang sama dari karunia yang diberikan pada hari Pentakosta.

Anda akan menemukan bahwa satu-satunya karunia berbicara dikaitkan dengan pencurahan Roh Kudus adalah ketika sekelompok orang-orang dengan lebih dari satu bahasa berkumpul bersama, sehingga menciptakan hambatan komunikasi.

Perhatikan bahwa dalam Kisah Para Rasul pasal 4 Anda memiliki pengulangan pengalaman yang dijelaskan dalam pasal 2. Tempat itu terguncang dan mereka dipenuhi dengan Roh Kudus, tetapi karena tidak ada orang asing, karunia berbicara tidak ada.

Kisah Para Rasul 4:31 mengatakan, ” Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani”.

Tujuan dari baptisan Roh Kudus bukanlah untuk bergumam atau mengocehkan suara yang tidak dapat dimengerti, melainkan untuk memiliki kekuatan untuk berkhotbah. Inilah sebabnya mengapa Yesus berkata, ” Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.“(Kis 1: 8).

 

Pesan kepada Korintus

Dari 14 Perjanjian Baru yang ditulis oleh Paulus, 1 Korintus adalah satu-satunya di mana ia berhubungan dengan subjek berbicara. Jelas, gereja Korintus memiliki masalah ini hanya  sementara, karena surat kedua Paulus ke Korintus tidak pernah menyinggung soal berbicara.

Kota kuno Korintus terkenal karena dua pelabuhan internasionalnya. Karena jemaat Korintus adalah tempat berbaur dari berbagai negara yang berbeda, perbaktian disana sering menjadi kacau dan membingungkan. Terbukti beberapa anggota akan berdoa, bersaksi, atau berkhotbah dalam bahasa yang tidak diketahui oleh orang lain hadir. Inilah sebabnya mengapa Paulus memerintahkan bahwa jika mereka berbahasa yang bukan mayoritas, mereka harus tetap diam kecuali ada seseorang di sana untuk menafsirkan atau menerjemahkan (1 Korintus 14:28). Dengan kata lain, tidaklah sopan untuk berbicara dalam bahasa yang audiens Anda tidak bisa mengerti. Perhatikan tulisan yang jelas ini dari rasul Paulus: Jadi, saudara-saudara, jika aku datang kepadamu dan berkata-kata dengan bahasa roh, apakah gunanya itu bagimu, jika aku tidak menyampaikan kepadamu penyataan Allah atau pengetahuan atau nubuat atau pengajaran? Sama halnya dengan alat-alat yang tidak berjiwa, tetapi yang berbunyi, seperti seruling dan kecapi–bagaimanakah orang dapat mengetahui lagu apakah yang dimainkan seruling atau kecapi, kalau keduanya tidak mengeluarkan bunyi yang berbeda? Atau, jika nafiri tidak mengeluarkan bunyi yang terang, siapakah yang menyiapkan diri untuk berperang? Demikianlah juga kamu yang berkata-kata dengan bahasa roh: jika kamu tidak mempergunakan kata-kata yang jelas, bagaimanakah orang dapat mengerti apa yang kamu katakan? Kata-katamu sia-sia saja kamu ucapkan di udara!… Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh… Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya. Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan Jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah. (1 Korintus 14:6-9, 19, 27, 28).

Ini benar-benar menakjubkan bahwa beberapa orang mengambil bagian ini dan menggunakannya sebagai alasan untuk mengoceh selama perbaktian! Pesan yang konsisten dari Paul di seluruh Kitab Suci adalah sangat berlawanan. Dalam 1 Timotius 6:20, ia secara khusus menyebutkan Hindarilah omongan yang kosong dan ocehan yang sia-sia.” Dan dalam 2 Timotius 2:16, Paulus mengulangi nasihat bahwa: ” Tetapi hindarilah omongan yang kosong dan yang tak suci yang hanya menambah kefasikan” Dengan kata lain, tujuan utama dari karunia berbicara adalah untuk mengkomunikasikan pemikiran Anda. Jika mereka yang hadir tidak mengerti komunikasi Anda, berdiamlah.

 

Doa dalam bahasa surgawi?

Banyak teman-teman saya yang karismatik akan setuju bahwa “lidah” yang diucapkan dalam kitab Kisah Para Rasul adalah bahasa normal dunia. Tetapi mereka dengan segera akan menambahkan bahwa ada pemberian selanjutnya- Doa dalam bahasa surga. Pemberian ini, kata mereka, adalah untuk mengekspresikan di dalam Roh, “keluhan-keluhan yang tidak terucapkan” (Roma 8:26). Tujuannya, kata mereka, supaya iblis tidak bisa mengerti doa kita. Tapi kita tidak pernah diajarkan untuk menyembunyikan doa-doa kita dari iblis. Dia gemetar ketika ia mendengar orang-orang Kristen berdoa!

 Pengajaran akan bahasa doa ini, berdasarkan atas 1 Korintus 14:14 dimana Paulus berkata, “Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa.”

Mereka menanggap ini berarti bahwa ketika Paulus berdoa dalam Roh, dia menggunakan “bahasa surgawi” dan dia sendiripun tidak mengetahui apa yang didoakannya. Teori ini meenimbulkan pertanyaan yang sangat penting. Bagaimana sang pemohon mengetahui jika doa nya dijawab?

Jadi apa yang sebenarnya Paulus katakan dalam 1 Korintus 14:14? Masalah dalam memahami ayat ini sebagian besar berasal dari terjemahan rumit. Perkenankan saya untuk menyampaikan ayat ini dalam bahasa modern: “. Jika saya berdoa dalam bahasa yang orang di sekitar saya tidak tahu, saya mungkin akan berdoa dengan Roh, tetapi apa yang pikirkan saya tidak akan berarti apa-apa untuk mereka yang mendengarkan.” Paulus menekankan bahwa jika kita berdoa dengan suara yang lantang, kita harus juga berdoa supaya orang lain di sekitar kita dapat memahami atau bagi sebagian lainnya dapat  berdiam! Perhatikan beberapa ayat berikutnya: Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku. Sebab, jika engkau mengucap syukur dengan rohmu saja, bagaimanakah orang biasa yang hadir sebagai pendengar dapat mengatakan “amin” atas pengucapan syukurmu? Bukankah ia tidak tahu apa yang engkau katakan? “(1 Korintus 14: 15,16)? Menurut teks ini, siapakah yang memiliki masalah dengan pemahaman? Adalah para pendengar dan bukan pembicara seperti yang biasa diajarkan.

Jika Anda pernah berdoa dengan seseorang yang menawarkan doa dalam bahasa yang tidak Anda ketahui, maka Anda tahu apa yang Paulus maksudkan ketika ia mengatakan sulit bagi Anda untuk mengatakan “Amin” (yang berarti “jadilah demikian“) pada akhir doa. Tanpa seorang penerjemah, Anda tidak akan memahami apa yang Anda “Amini”. Sejauh yang bisa dikatakan, Anda mungkin baru saja meminta berkat dari iblis!

Hal ini jelas dari konteks 1 Korintus 14 bahwa tujuan dari berbicara dalam bahasa roh, atau bahasa asing, adalah untuk mengkomunikasikan Injil dan dengan demikian membangun jemaat. Jika pendengar tidak mengerti bahasa yang digunakan mereka tidak dapat diteguhkan. Akibatnya, jika tidak ada penerjemah, pembicara hanya berbicara ke udara dan satu-satunya yang hadir yang tahu apa yang dikatakan adalah Tuhan dan dirinya sendiri. Ini adalah arti yang jelas dari ayat yang sering salah dikutip, ayat 2. ” Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorangpun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia.

Paulus menekankan lagi bahwa bahasa yang digunakan perlu dipahami oleh pendengar atau orang lain yang ingin berbagi rahasia Injil perlu duduk diam dalam meditasi antara dirinya dan Tuhan. ” Demikianlah juga kamu yang berkata-kata dengan bahasa roh: jika kamu tidak mempergunakan kata-kata yang jelas, bagaimanakah orang dapat mengerti apa yang kamu katakan? Kata-katamu sia-sia saja kamu ucapkan di udara!” ” Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan Jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah.” (ayat 9, 28). Jelas, seluruh tujuan karunia berbicara adalah untuk menyeberangi hambatan bahasa dan mengkomunikasikan Injil!

Yang lain pernah bertanya, “bukankah Paulus berkata bahwa Ia berbicara dalam bahasa malaikat?”

Tidak. Paulus berkata, ” Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat...” (1 Korintus 13:1). Jika Anda membaca ayat ini dalam konteksnya, Anda akan melihat bahwa kata “meskipun” berarti “bahkan jika.” Misalnya, Paulus juga mengatakan dalam ayat 2, “Meskipun aku memiliki iman …” Dia tidak memiliki semua iman. Dan ayat 3 menambahkan, “Meskipun aku memberikan tubuhku untuk dibakar …” Paul mati dipenggal, tidak terbakar. Jadi kita dapat melihat bahwa Paulus di sini menggunakan kata “meskipun” berarti “bahkan jika.”
Prioritas yang Benar

Saya percaya bahwa semua karunia Roh, termasuk karunia berbicara yang sesungguhnya, adalah dibutuhkan dan disediakan untuk gereja hari ini. Namun Alkitab mengajarkan bahwa beberapa karunia adalah lebih penting daripada yang lain dan bahwa kita harus fokus pada yang paling penting. ” Jadi berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama.” (1 Korintus 12:31)

Bahkan, ketika Alkitab menuliskan karunia-karunia rohani, karunia berbicara biasanya ditemukan di bagian bawah dalam daftar. ” Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh.” (1 Korintus 12:28). ” Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh,” (1 Korintus 14:5)

Namun beberapa pengkhotbah karismatik telah membalik daftar ini terbalik dan membuat karunia berbahasa Roh menjadi yang utama dari khotbah mereka. Mereka ingin kita berpikir bahwa seorang Kristen yang tidak berbicara dalam bahasa roh adalah warga negara kelas dua. Tetapi Paulus menjelaskan bahwa karunia yang diberikan kepada setiap orang adalah berbeda-beda, dan tidak ada seorangpun yang diharapkan memiliki semua karunia. Dia bertanya dalam 1 Korintus 12:29,30: ” Adakah mereka semua rasul, atau nabi, atau pengajar? Adakah mereka semua mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, atau untuk menyembuhkan, atau untuk berkata-kata dalam bahasa roh, atau untuk menafsirkan bahasa roh? “ Jawabannya jelas tidak!

Alkitab mengatakan, “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. ” (Galatia 5:22, 23). Tapi pengkhotbah sama ini juga, ingin kita percaya bahwa buah Roh adalah karunia berbicara atau bahwa setiap orang yang dipenuhi dengan Roh Kudus dapat berbicara dalam bahasa roh. Namun dari lebih dari 50 contoh dalam Alkitab di mana Allah memenuhi orang-orangNya dengan Roh, hanya tiga kali karunia berbicara menjadi pengalaman.

Lagi pula, Yesuslah teladan kita. Ia dipenuhi dengan Roh Kudus, namun ia tidak pernah berbicara dalam bahasa roh. Yohanes Pembaptis “penuh dengan Roh Kudus, bahkan dari rahim ibunya” (Lukas 1:15), tetapi bahkan tidak ada catatan bahwa ia berbicara dalam bahasa roh.

Dari 27 buku dalam Perjanjian Baru, benar-benar hanya tiga yang membuat referensi yang berhubungan dengan karunia berbicara. Ada sekitar 39 penulis Alkitab. Dari 39, hanya tiga-Lukas, Paulus, dan Markus- yang menyebutkan subjek berbahasa. Dengan kata lain, kita harus menempatkan penekanan di mana Allah menempatkan penekananNya.

 

Pemalsuan yang Kreatif

Karunia berbicara yang sesungguhnya adalah alat yang ampuh untuk memberitakan Injil. Tapi ingat, setan memiliki kepalsuan untuk setiap kebenaran Allah.

Glossolalia (glô´se-lâ’ lê-a) adalah kata yang seringkali digunakan untuk mendeskripsikan pengalaman yang populer, didalam kebanyakan gereja kharismatik. Ini didefinisikan di dalam American Heritage Dictionary sebagai berikut: “Fabricated (menciptakan atau menyusun (sesuatu), biasanya dengan maksud menipu) dan ucapan-ucapan tanpa arti, khususnya berbicara yang berhubungan dengan kesurupan atau sindrom skizofrenia tertentu (sindrom skizofrenia : perilaku sosial abnormal dan kegagalan untuk mengenali apa yang nyata). Kontras, dengan definisi dari kamus yang sama untuk arti bahasa: “Penggunaan oleh manusia dari suara terdengar, dan simbol-simbol sering ditulis mewakili suara-suara, dalam kombinasi dan pola terorganisir untuk mengekspresikan dan mengkomunikasikan pikiran dan perasaan” Menurut definisi apapun, suara terputus-putus dari glossolalia bukanlah bahasa.

Percayalah, saya telah melihat praktik ini berkali-kali. Dalam satu gereja karismatik yang saya sering hadiri, pendeta dan istrinya adalah “tim bahasa roh.” Setiap minggu di tengah-tengah khotbah pendeta, istrinya akan melompat berdiri, melemparkan lengannya di udara, dan berteriak dalam ucapan penuh kegembiraan. Tapi dia selalu mengatakan hal yang sama. “Handa kala shami, Handa kala shami, Handa kala shami ….” Lagi dan lagi. Ini langsung tampak mencurigakan kepada saya karena Yesus berkata, “Tetapi ketika kamu beroda, jangan gunakan kalimat yang bertele-tele dan diulang-ulang, seperti yang dilakukan oleh orang-orang kafir ” (Matius 6: 7).

Setiap kali hal ini terjadi, suami wanita itu akan berhenti berkhotbah dan memberikan terjemahan bahasa Inggris yang meragukan untuk -yang ia sebut-pesannya itu. Biasanya dimulai dengan “Beginilah firman Tuhan.” Namun terlepas dari fakta bahwa dia selalu mengulangi kata-kata “Handa kala shami,” interpretasi jelas pendeta itu berbeda setiap kali-dan kadang-kadang tiga kali lebih lama daripada ucapan. Saya sering bertanya-tanya mengapa, jika ini adalah pesan dari Tuhan, bukankah pertama Ia akan memberikannya kepada kita dalam bahasa Inggris.

 

Baptisan Paganisme

Paparan saya untuk “tim bahasa roh” karismatik ini mengingatkan saya pada beberapa hal yang saya telah baca di buku-buku sejarah pada waktu saya tumbuh dewasa. Manifestasi modern dari karunia ini menemukan akarnya tidak berdasarkan Alkitab, melainkan dalam ritual pagan kuno spiritualistik. Pada abad keenam S.M, peramal dari Delphi bersemayam di sebuah kuil dibangun di dekat kaki Gunung Parnassus. Delphi juga suci untuk Dionysus, dewa yang berhubungan dengan anggur, kesuburan, dan tari sensual, dan untuk sembilan Muses, dewi penyokong musik.

Sementara musik yang menggembirakan dimainkan, pendeta kepala bernama Pythia akan menghirup uap-uap memabukkan, menjadi kesurupan dalam hiruk pikuk, dan kemudian mulai mengoceh. Suara aneh yang pendeta gumamkan kemudian ditafsirkan oleh seorang imam, yang biasanya berbicara dalam ayat. Ucapan-ucapan nya dianggap sebagai kata-kata Apollo, tetapi pesan yang begitu ambigu sehingga jarang sekali mereka dapat terbukti salah.

Ketika tinggal dengan penduduk asli Amerika di New Mexico, saya menyaksikan ritual serupa beberapa kali. Orang-orang Indian akan memakan peyote halusinogen (tanaman di daerah Texas dan daerah padang Mexico yang dapat membuat mabuk dan berhalusinasi), kemudian duduk dalam lingkaran dan bernyanyi sambil memainkan drum selama berjam-jam. Jauh sebelumnya, beberapa orang bergumam dengan tidak teratru sebagaimana mereka mengalami penglihatan mereka yang menyiksa. Hari ini gereja-gereja karismatik adalah yang paling populer di kalangan penduduk asli Amerika karena transisi yang mudah dan alami seperti dari agama lama mereka.

Di antara banyak suku Afrika kafir untuk memohon berkat dari dewa mereka, orang-orang akan mengorbankan ayam atau kambing dan kemudian menari di sekitar api selama berjam-jam, menyanyikan lagu-lagu dengan irama hipnotis dari drum berdebar. Akhirnya beberapa orang akan menjadi kesurupan oleh dewa-dewa mereka dan mulai berbicara bahasa menakutkan dari dunia roh. Kemudian dukun lokal atau imam akan menerjemahkan pesan. Ritual ini masih dipraktekkan saat ini di antara Katolik Voodoo di Hindia Barat.

Praktek kafir ini pertama kali masuk ke gereja-gereja Kristen Amerika Utara di awal 1800-an. Banyak dari para budak Afrika yang dibawa ke Amerika dan dipaksa menerima Kristen tidak dapat membaca Alkitab untuk diri mereka sendiri. Meskipun mereka berasal dari berbagai suku di Afrika, salah satu praktek yang dimiliki oleh hampir semua suku adalah “Roh Tarian” dengan “kerasukan roh” dalam orang yang bergumam.

Secara keliru para budak terkait dengan “karunia berbicara” orang Kristen dan mulai memasukkan versi modifikasi dalam pertemuan mereka. Perbaktian yang hiruk pikuk ini, yang disertai dengan musik berirama keributan, pada awalnya mulai tersebar hanya di daerah Selatan dan mereka diejek oleh denominasi umum sebagai “Rollers Kudus.” Bahkan beberapa bertindak terlalu jauh dengan mengambil ular berbisa selama fase kerasukan mereka, sebagai ajang pembuktian bahwa mereka memiliki “roh.” (Ini adalah penyalah gunaan Markus 16:18, yang mengatakan, “Mereka akan mengambil ular,” mengacu pada waktu Paulus sengaja digigit ular, tapi tidak terluka oleh racun. Lihat Kisah 28:3-6). Bagi orang-orang untuk memburu dan mengambil ular yang mematikan untuk membuktikan bahwa mereka memiliki Roh Kudus, dalam kenyataannya, adalah mencobai Allah!

Ekspansi nasional gerakan Pentakosta antara orang Kaukasi dimulai di Los Angeles saat Apostolic Faith Gospel Mission di Azusa Street di tahun 1906. Pemimpinnya adalah seorang mantan pendeta kekudusan hitam bernama William Seymour. Sejak dari situ, para pemimpinnya terus menyempurnakan doktrin dan membuat mereka lebih menarik dan cocok untuk orang-orang Kristen lainnya.

“Kemudian pada tahun 1960 gerakan karismatik mulai menarik pengikut dalam denominasi tradisional. Dari situ, mereka terus memiliki pertumbuhan eksplosif. Sampai sekarang ada beberapa juta karismatik di Protestan dan gereja Katolik di seluruh dunia.

Hal ini penting untuk dicatat, peran penting dari musik yang dimainkan dalam semua agama paganisme yang mempraktikan glossolalia. Karunia berbicara yang palsu pertama kali menemukan pijakan awalnya di gereja-gereja umum melalui “baptisan” dalam gaya musik dan penyembahan berhala. Irama yang dominan, berulang-ulang dan ketukan sinkopasi meruntuhkan daya nalar dan menempatkan pikiran bawah sadar dalam kondisi hipnosis.

Dalam kondisi yang rentan ini, roh dengan ucapan-ucapan penuh kegembiraan menemukan akses yang mudah. Sekarang setan menggunakan karunia berbicara yang palsu ini, seperti kuda Trojan, untuk memperkenalkan gaya ibadah pagan ke dalam gereja-gereja Kristen dengan tingkat keberhasilan yang mengerikan. Setan ingin mengalihkan perhatian orang-orang Kristen dari iman kepada perasaan. Beberapa gereja-gereja karismatik sudah kelewatan, dengan mengatakan bahwa Alkitab adalah surat tua, dan bahwa pesan yang datang melalui bahasa roh adalah wahyu roh yang segar dan karena nya,  itu lebih bisa diandalkan. Jadi sekarang mimbar diatur untuk kinerja akhir Setan!

 

 Bagaimana Roh Kudus mempengaruhi kita

Konsep bahwa orang yang “mati dalam roh” harus jatuh ke tanah dan bergelimangan dan bergumam merupakan penghinaan terhadap Roh Kudus. Alasan Tuhan memberikan kita Roh-Nya adalah untuk memulihkan gambar-Nya di dalam kita-bukan merampok dari kita semua martabat dan kontrol diri!

Di gunung Carmel, para nabi pagan Baal melompat di atas mezbah dan berteriak dan mengerang. Mereka bernubuat dan memotong sendiri. Sebaliknya, Elia dengan khidmat berlutut dan mengucapkan doa sederhana (1 Raja-raja 18: 17-46).

Karena Allah tidak menghendaki kekacauan” (1 Korintus 14:33). Jika Tuhan tidak menginginkan ini, maka siapa?

Gagasan bahwa kita kehilangan kendali ketika kita menerima Roh tidak konsisten dengan Alkitab. “Roh-roh para nabi tunduk pada nabi” (1 Korintus 14:32 – terjemahan literal)

Berikut ini hal yang lain. Setelah Yesus menyelamatkan pria mengamuk yang kerasukan setan, di laut, orang yang disembuhkan itu terlihat “duduk di kaki Yesus, berpakaian, dan waras” (Lukas 8:35). Undangan Allah “Marilah, baiklah kita berperkara, Firman TUHAN” (Yesaya 1:18). Dia ingin kita untuk menggunakan pikiran kita.

Beberapa dari Anda yang membaca penelitian tanpa keraguan akan berpikir: “Berani sekali kau mengatakan hal-hal ini? Saya telah berbicara dalam bahasa roh selama bertahun-tahun dan saya tahu itu dari Allah!” Sebagai orang Kristen, seharusnya jangan pernah kita mendasarkan kesimpulan kita pada apa yang kita rasakan. Sesungguhnya, iblis pasti bisa membuat kita merasa baik. Sebaliknya, kita harus mendasarkan keyakinan kita pada Firman Allah yang pasti.

Seorang teman saya adalah seorang karismatik aktif yang sering berbicara dalam bahasa roh. Ketika ia belajar hal-hal ini, ia mulai mempertanyakan apakah “karunia” ini memang berasal dari roh yang benar. Jadi dia tulus berdoa dan berkata, “Tuhan, jika hal ini bukanlah kehendakMu, dan jika karunia berbicara yang selama ini saya alami tidaklah benar, maka ambillah!” Dia mengatakan kepada saya bahwa, sejak hari itu, pengalaman glossolalia tidak pernah kembali. Seorang Kristen sejati harus bersedia untuk menyerahkan setiap pandangan yang dinilai indah dan setiap praktek di altar kehendak Allah dan meninggalkan segala praktek yang mungkin dipertanyakan- tidak perduli seberapa populer, diterima, atau dicintai di antara orang Kristen lainnya. Ada beberapa hal yang sangat terhormat di antara manusia tetapi adalah kekejian di hadapan Allah (Lukas 16:15).

 

Ocehan di Babilon

Mengapa memahami subjek bahasa roh sangatlah penting bagi kita hari ini? Saya percaya gerakan karismatik modern diramalkan dalam nubuatan Alkitab.

Wahyu pasal 18 mengatakan: Dan ia berseru dengan suara yang kuat, katanya: “Sudah rubuh, sudah rubuh Babel, kota besar itu.. Lalu aku mendengar suara lain dari sorga berkata: “Pergilah kamu, hai umat-Ku, pergilah dari padanya supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya “(ayat 2, 4).

Kita harus ingat bahwa salah satu ciri utama dari Babilon kuno di menara Babel adalah kebingungan dalam berbicara (Kejadian 11: 7-9). Wahyu mengatakan kepada kita bahwa di hari-hari terakhir, umat Allah harus dipanggil keluar dari Babel dan sistem agama palsunya yang membingungkan.

Dan aku melihat dari mulut naga dan dari mulut binatang dan dari mulut nabi palsu itu keluar tiga roh najis yang menyerupai katak.” Wahyu 16:13. Ungkapan “keluar dari mulut” mewakili ucapan, dan jangan lewatkan fakta bahwa senjata utama katak adalah lidahnya. Lidah yang najis? Mungkin Tuhan sedang mencoba mengatakan sesuatu kepada kita. Ingat bahwa kebingungan berbicara di Babilon bukanlah karunia Roh, melainkan kutuk karena pemberontakan mereka. Bahkan, kita mendapatkan kata “mengoceh” di zaman modern adalah dari kisah Babilon kuno. Pada hari Pentakosta adalah kebalikan dari kutukan di Babilon, sehingga orang lain dapat memahami Injil.
Diberikan kepada yang menurut

Saya telah bertemu orang-orang yang mengatakan kepada saya bahwa mereka sudah menerima baptisan Roh Kudus karena mereka berbicara dalam bahasa roh; namun mereka memegang rokok di satu tangan dan kaleng bir di tangan satu lagi. Sekarang mari kita lakukan sesuatu yang jelas. Ada beberapa persyaratan dasar untuk menerima karunia yang paling berharga ini, dari Roh Kudus.

Yesus berkata, Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,  yaitu Roh Kebenaran..” (Yohanes 14:15, 16, 17) “Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia. (Kisah 5:32).

Beberapa tahun yang lalu beberapa penginjil TV terkenal terjatuh. Mereka semua mengaku diisi dengan Roh Kudus dan memiliki karunia berbahasa roh. Tapi mereka hidup dalam ketidaktaatan dan bermoral kotor. Mereka akan berbicara dalam bahasa roh di TV, kemudian meninggalkan studio untuk hidup penuh kompromi. Sesuatu yang jelas tidaklah benar. Orang-orang ini juga membuat saya bertanya-tanya, “Jika ini adalah karunia berbicara yang benar, lalu mengapa para penginjil karismatik ini perlu pasukan untuk menerjemahkan mereka ketika mereka berkhotbah ke berbagai negeri?”

Mengapa Allah memberikan Roh Kudus? “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku.” Kisah Para Rasul 1: 8. Tuhan tidak memberi kita Roh untuk berceloteh, tetapi sebagai kuasa untuk bersaksi!

Bagaimana kita bisa menerima karunia Roh Kudus yang sesungguhnya? Benar-benar berserah kepada Allah, bersedia memaafkan orang lain, menaati-Nya, dan meminta. Lukas 11:13 mengatakan, ” Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *