MONITOR DAN TEMAN

Renungan Harian

Ingatlah kepada zaman dahulu kala, perhatikanlah tahun-tahun keturunan yang lalu, tanyakanlah kepada ayahmu, maka ia memberitahukannya kepadamu, kepada para tua-tuamu, maka mereka mengatakannya kepadamu. Ul. 32:7

Hidup adalah bagaikan pelayaran. Kita mengalami badai dan panas matahari, tetapi kita tetap berpikir bahwa kita sudah mendekati pelabuhan. Tidak lama lagi kita akan berada di balik badai dan gelombang besar itu. Tugas kita sekarang ialah mendengarkan suara yang berkata, ”Belajarlah kepada-Ku karena Aku Iemah lembut dan rendah hati” (Mat. 11:29). Setiap hari kita harus memenuhi undangan ini. Peristiwa-peristiwa masa yang lalu ada dalam buku itu dimana segala sesuatu dituliskan. Kita tidak bisa menghapus catatan itu, tetapi kita bisa belajar banyak perkara jikalau kita memilih demikian. Pengalaman masa yang lalu harus menjadi pelajaran bagi kita. Sementara kita membuat masa lalu sebagai monitor (pemantau), kita juga bisa membuatnya sebagai sahabat kita. Sementara kita teringat hal-hal yang tidak baik pada masa lalu, biarlah itu mengajar kita untuk tidak mengulanginya kembali.

Di masa depan biarlah tak satu pun yang bisa ditelusuri yang akan menyebabkan penyesalan di kemudian hari. Sekarang ini kita bisa menghindarkan menaburkan hal-hal yang buruk. Kita hidup setiap hari sedang membuat sejarah kita. Hari ini adalah milik kita, kemarin berada di Iuar pengendalian kita. Oleh sebab itu janganlah kita mendukakan Roh Tuhan hari ini, karena besok kita tidak bisa lagi menarik kembali hari ini; itu akan menjadi kemarin bagi kita. . . .

Yesus Kristus mempunyai kasih karunia dan pertolongan yang melimpah bagi semua mereka yang menghargainya. Tuhan adalah penolong kita; pada-Nya ada pengampunan. Ia sendiri mampu menghapuskan dosa-dosa pada masa lalu. Ia dapat menguatkan pikiran. Jikalau kita menganggap masa lalu sebagai tidak lagi musuh bagi kita, tetapi sebagai teman yang mengamarkan kita akan hal-hal yang tidak boleh kita dekati, ia akan terbukti sebagai teman sejati. . . .

Akankah kita pegang dan hargai yang baik dan menolak yang jahat? Akankah kita berjalan bersama Tuhan dalam kerendahan hati? . .

Kita tidak boleh gagal dan tawar hati; kemudian pekerjaan sekarang, yang sekarang sedang berlalu di Iuar kendali kita, akan menjadi juru bayar kita. . . . Kita hanya mempunyai sedikit waktu untuk bekerja. Kita tidak boleh mendidik diri kita khawatir. Tetaplah memandang ke atas, tertuju kepada tanda panggilan kita dalam Yesus Kristus. Kita mempunyai pekerjaan yang harus dilakukan; marilah kita kerjakan itu dihadapan seluruh alam semesta. Kita tidak boleh pudar, jatuh sebagai orang yang tidak percaya. Tuhan rindu agar kita memandang kepada-Nya sebagai sumber kecukupan kita dan berjuang terus untuk mencapai kesempurnaan dalam Dia.

 

“That I May Know Him”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *