Pencuri Di Dalam Gereja

Pencuri Di Dalam Gereja

Bank Pustaka

BK-TICOLeh : Joe Crews

Pendahuluan

Apakah engkau tahu ada satu dosa yang tidak mau diakui oleh siapapun? Itu adalah sebuah dosa paling kita takuti untuk kita sebutkan. Kita takut untuk mengakui karena tidak ada satupun orang yang memang berani menyebutkannya. Orang-orang mau mengakui bahwa mereka telah melakukan kesalahan dan dosanya yang kelam. Seperti mabuk, mencuri, memaksa masuk ke rumah orang lain, membunuh, membawa-bawa nama Tuhan ketika sedang kesulitan, selingkuh, melanggar kesucian hari Sabat. Namun belum pernah ada orang yang mau mengakui satu dosa yang satu itu. Dan menurut saya alasannya kenapa orang tidak mau mengakui dosa yang satu itu adalah karena itu merupakan akar dari dosa; dasar dari segala dosa; asal dari penyebab dosa.

Yesus sendiri sudah memperingati kita akan dosa ini dalam Lukas 12:15: Kata-Nya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupmya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” Jadi, dosa yang tidak ingin diakui oleh orang itu adalah ketamakan atau cinta akan uang.

Orang tidak mungkin dengan mudah mengatakan “Ya, aku adalah orang yang tamak. Aku mau menyimpan sendiri semua uang yang kumiliki. Aku mau meraih apapun yang bisa aku raih dan harus tetap memilikinya terus.” Dan tidak ada juga orang yang menghampirimu dan mengatakan, “Aku mau mengakui sesuatu. Ketamakan adalah masalahku. Aku adalah orang yang cinta uang.” Aku selalu merasa bingung ketika orang mau mengakui dosa-dosanya yang kelam, tetapi ketika itu menyangkut ketamakan, tidak ada yang berani mengakuinya. Ini bukanlah mengenai bahwa adalah wajar dalam usia tertentu kita hanya memikirkan soal materi. Bahkan gereja juga seringkali tidak menyoroti perilaku seperti itu, Dimana biasanya ketika ada anggota yang melanggar salah satu hukum taurat maka akan diberi sangsi. Tetapi ketamakan — dimana tidak ada yang tahu engkau tamak atau tidak, tapi pasti ada yang tamak — adalah sesuatu yang Tuhan pernah peringatkan namun seringkali diabaikan; namun di pandangan Tuhan itu adalah dosa yang paling kelam dari segala dosa karena adalah akar dari segala dosa. Rasul Paulus mengatakan dalam Roma 7:7, “…karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan, Jangan mengingini!” Hal yang ingin disampaikannya adalah bahwa setiap dosa berakar pada ketamakan, dan ini adalah alasan mengapa menurut Allah poin ini perlu untuk menjadi bagian dalam 10 Hukum Taurat. Keinginan adalah asal mula dan yang akan menuntun kepada setiap dosa.

Allah Menyebut Manusia itu “Bodoh”

Aku ingin mengingatkan kepadamu bahwa tidak ada cara yang memungkinkan untuk membuang rasa tamak kecuali melalui Yesus Kristus. Kita membutuhkan kuasa khusus dari Surga untuk mampu melawan dosa ini. Namun mari kita lihat cerita dalam Lukas 12. Setelah Yesus mengatakan “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan”, Ia kemudian menceritakan perumpamaan terkait perkataanNya tersebut. Dimulai dari ayat 16: Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: “Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! etapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.”

Sekarang, perhatikan. Yesus menyebut orang itu Bodoh. Saya bisa saja salah menyebut seseorang itu bodoh, namun ketika Yesus menyebut orang itubodoh, berarti dia memang bodoh. Kenapa orang ini bodoh! Karena dia hanya memikirkan tentang dirinya saja. – “Saya….”, “Saya…”, “Saya…” – dan dia lupa akan satu khidmat dimana satu waktu nanti dia akan berhadapan dengan Allah di masa penghakiman. Lalu Yesus mengatakan Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?

Ini adalah cerita yang penuh khitmat. Pengikut Kristus harus memberikan perhatian yang mendalam terhad cerita tersebut. Tuhan ingin mengatakan, ” Pergilah. Lakukanlah seperti a yang kau inginkan. Simpanlah terus hal yang bukan menjadi bagianmu. Perbanyaklah bagianmu dalam berbuat dosa. Engkau memiliki hak untuk memilih, tetapi ketika hari penghakiman itu tiba dan jiwamu diambil daripadamu, untuk siapakah semua ini?”
Engkau tahu, banyak orang berpikir mereka tidak akan ketahuan akan dosa- dosa rahasia mereka – terkait akan hal-hal yang ada di dalam hati yang tidak akan ketahuan – sepeti rasa mengingini milik orang lain. Seseorang dapat saja tidak ketahuan akan dosa rahasia mereka tersebut dan menjadi seorang kristen yang dihormati di lingkungannhya. Dosa rahasia itu memang tidak akan diketahui oleh orang lain, namun ingatlah hal ini, pada saat penghakiman, semuanya itu akan terlihat dan semua orang dapat melihat akan semua dosa-dosa kita, termasuk dosa mengingini hal yang bukan menjadi haknya.

Mengingini Pujian, Kehormatan, Jabatan Orang Lain

Saya khawatir kita belum terlalu memahami akan hal ini. Seperti contoh, cemburu dalam bidang pekerjaan. Namun hal tersebut bukan saja dalam bidang pekerjaan, tetapi kecemburuan adalah hal yang bisa terjadi pada siapa saja dan dimana saja. Ibu rumah tangga cemburu kepada ibu rumah tangga lainnya; para suami cemburu kepada suami lainnya; pekerja kepada teman kerjanya; dan ini disebut ketamakan – mengingini pujian yang orang lain dapatkan, rasa hormat yang diperoleh orang lain, atau jabatan orang lain. Keinginan seperti ini ada dimana saja bahkan di kalangan para pendeta, yang kemudian di bawa ke rumah.

Seseorang dapat saja membangun sebuah rumah yang indah dan suatu hari saya dapat datang dan berkata bahwa, “ Rumah ini sangat luar biasa indah. engkau sudah melakukan hal yang hebat untuk rumah ini.” Dan mengatakan hal ini tidak membuat saya rugi apapun – dan lebih mudah juga untuk saya memberikan komentar sederhana seperti itu mengingat saya bukanlah tukang bangunan. Seseorang juga dapat menghasilkan warna cat yang luar biasa indah dan saya pun dapat memberikan komentas seperti, “Wah ini indah; ini luar biasa; Saya tidak pernah melihat hal yang seperti ini.” Saya dapat saja memuji orang tersebut dan hal itu tidak merugikan saja karena saya pun bukanlah seorang yang ahli dalam pengecatan. Tapi ketika seseorang menyampaikan khotbah yang jauh lebih baik daripada Saya – dan Saya secara jujur dari hati mengatakan, “Ini luar biasa; Tuhan menyertaimu” – maka ini berbeda.

Apakah engkau dapat melihat apa yang Saya maksudkan? Itulah hal yang akan kita pelajari. Hal mengingini pujian orang lain, kesuksesan orang lain, kebanggaan orang lain, adalah satu dosa terbesar yang di sebutkan dalam Alkitab. Adalah doa Saya ketika kita lebih lanjut dalam mempelajari pelajaran ini, maka kita memutuskan dalam hati kita untuk bergantung pada Tuhan untuk memperoleh kemenangan. Adalah sangat buruk ketika seorang Kristen bersalah karena Mengingini milik orang lain. Menjadi seperti dunia saja sudah tidak baik apalagi jika sampai mengingini milik orang lain. Kita harus belajar untuk tetap bersyukur dalam segala hal; sehingga kita tidak akan mengingini apa yang menjadi miliki orang lain. Segala pujian atas apa yang kita miliki hanyalah untuk Tuhan, yang memang pada dasarnya segala yang kita miliki itupun adalah milik Tuhan.

Hal mengingini ini juga terjadi dalam ranah hal memberi. Ada banyak orang yang mengaku umat Allah ternyata bersalah dalam penggelapan uang Allah.

Setiap Hari Kita Mengelolah Uang Orang Lain

Kita sering membaca di surat kabar tentang seseorang yang menyalahgunakan berjuta-juta uang. Para penggelap uang ini seringkali berada di satu Negara, mengambil yang, dan menyebabkan kehancuran financial terhadap orang-orang yang uangnya diambil tersebut. Kita berharap hukum akan dapat menangkap dan menghukum mereka. Tetapi, mari kita tidak mengambil kesempulan dengan cepat. Bukan hanya orang itu, tetapi kita semua juga menggunakan uang orang lain.

Siapapun engkau, kamu menggunakan uang yang bukan milikmu. Uang yang kita gunakan itu adalah milik Allah. Apakah itu artinya bahwa kita bersalah dalam penggelapan dana surga? Apakah kamu tahu bahwa pemilik lahan dan segala hal yang ada di dunia ini telah dirongrong dan dicuri secara terus menerus tapi Ia tidak pernah mengalami kerugian apapun? Allah adalah Pemilik Besar. Dalam hal ini Saya berbicara mengenai Perpuluhan dan Persembahan. Dalam Imamat 27:30 Firman Allah mengatakan bahwa persembahan persepuluhan adalah milik Allah. Tidak ada yang lain lagi.

Mungkin saya perlu membacakan ayat tersebut. Isinya adalah: Demikian juga segala persembahan persepuluhan dari tanah, baik dari hasil benih di tanah maupun dari buah pohon-pohonan, adalah milik TUHAN; itulah persembahan kudus bagi TUHAN.” Secara spesifik mengatakan bahwa segala persembahan persepuluhan adalah milik Allah.

Kemudian dalam Maleakhi 3 ditambahkan juga. Pada ayat 8: Bolehkah manusia menipu Allah? Namun kamu menipu Aku. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau?” Mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan khusus!  Sekarang perhatikan: Seseorang yang tidak memberikan perpuluhan adalah seorang pencuri, ditambahkan juga, seseorang yang tidak memberikan perpuluhan adalah bersalah di hadapan Allah karena sudah mencuri apa yang menjadi milikNYA; jadi persepuluhan dan persembahanmu adalah milik Allah. Oh, mudah-mudahan ini dapat terukir dalam hati setiap orang. Bahwa apa yang kita miliki bukan milik kita, tetapi milik Allah. Kita menangani dana yang kudus, dan pertanyaannya adalah bagaimanakah cara kita menangani dana kudus ini? Apakah kita menyalahgunakan uang Allah tersebut?
Apakah persepuluhan itu? Bacalah Imamat 27:32: Mengenai segala persembahan persepuluhan dari lembu sapi atau kambing domba, maka dari segala yang lewat dari bawah tongkat gembala waktu dihitung, setiap yang kesepuluh harus menjadi persembahan kudus bagi TUHAN. Ini artinya sepuluh persen dari penghadilan kita adalah kudus milik Allah. Kita tidak bisa menyimpannya untuk diri kita dan menjadi pencuri seperti pada hukum ke delapan. Jika seseorang memperoleh $1000 sebulan maka $100 bukanlah miliknya. Tentunya hanya profit saja yang dihitung untuk persepuluhan. Artinya, jika seorang pengusaha mendapatkan pemasukan sebesar $5000 sebulan tetapi $4000 diperlukan untuk membayar gaji karyawan dan ongkos produksi lainnya, maka profitnya adalah $1000 pada bulan itu dan persepuluhannya adalah $100.

Ada yang beranggapan bahwa persepuluhan itu hanya berlaku pada zaman Musa, saat Perjanjian Lama, dan tidak berlaku lagi pada masa Perjanjian Baru. Pada kenyataannya bahwa memberikan persepuluhan ini sudah berlaku beratus tahun sebelum zaman Musa. Abaraham memberikan perpuluhannya sesuai arahan langsung dari Allah dan itu terjadi jauh sebelum zaman Musa. Persepuluhan merupakan kewajiban sebelum hukum upacara Yahudi muncul.

Tetapi mari sekarang kita membaca apa yang Yesus katakana mengenai persepuluhan. Yesus adalah penuntun dan contoh yang benar bagi kita dalam hal kerohanian. Dalam Matius 23:23:    Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Kata “harus” menandakan kewajiban dan menjadi dasar moral dari doktrin. Hal ini menjadi moral karena ini berkaitan dengan mencuri dari Allah, seperti yang sudah kita baca sebelumnya.

Persepuluhan Hanya Digunakan untuk Satu Tujuan Saja

Pertanyaan berikutnya adalah, Apa tujuannya uang persepuluhan itu digunakan untuk pekerjaan Tuhan? Mari buka 1 Korintus 9:13: Tidak tahukah kamu, bahwa mereka yang melayani dalam tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus itu dan bahwa mereka yang melayani mezbah, mendapat bahagian mereka dari mezbah itu? Paulus mengacu pada Imam-Imam pada Perjanjian Lama dan bagaimana mereka memperoleh mata pencahariannya untuk pelayanan mereka di mezbah. Dan mari kita baca ayat selanjutnya, ayat 14: Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu.  Ayat ini dengan jelas mengatakan bahwa pelayanan Injil didukung persis seperti Imam-Imam pada Perjanjian Lama.

Sekarang mari kira lihat apa yang Tuhan rencanakan untuk mendukung pelayan Injil dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Pada Bilangan 18:21, Mengenai bani Lewi, sesungguhnya Aku berikan kepada mereka segala persembahan persepuluhan di antara orang Israel sebagai milik pusakanya, untuk membalas pekerjaan yang dilakukan mereka, pekerjaan pada Kemah Pertemuan.   Bani Lewi tidak diwarisi apapun seperti halnya bani Israel. Mereka tidak memiliki ternak atau usaha apapun. Bani lainnya yang memberikan persepuluhan dan persepuluhan tersebut digunakan untuk membiayai pekerjaan Imam-Imam Lewi.

Paulus mengatakan “Allah mengatakan bahwa pelayan mereka yang melayani di tempat kudus mendapat penghidupan dari tempat kudus.” Jadi, persepuluhan bukan digunakan untuk dana pendidikan, dana pengeluaran gereja, atau bahkan bukan untuk mendanai orang miskin. Tetapi sesuai perintah Allah bahwa persepulunan untuk membiayai penginjilan. Mendukung pekerjaan Pendeta adalah Alkitabiah.
Saya pernah mendengar dimana Pendeta menutup gerejanya dan menolak untuk melayani sebelum target persembahan terpenuhi. Gereja lain berusaha mencapai target financial gerejanya melalui bazaar, lotre, permainan bingo, dan lain-lain. Apakah seperti ini rencana Tuhan? Apakah ini adalah jalan yang Tuhan rancang untuk mengatasi kesulitan financial di gereja? Ini bukanlah rancangan Tuhan. Adalah salah jika melibatkan hal duniawi agar sebuah gereja tetap beroperasi. Jika Kristus datang berkunjung ke gereja-gereja saat ini, Akankah Ia marah seperti dahulu kala. Dan Ia mengatakan kembali, “Bawa pergi semua ini. Engkau membuat rumah doa menjadi sarang penyamun.” Adalah sebuah tragedy ketika orang-orang muda menjadi ahli perjudian dalam gereja kita sendiri. Adalah hal yang menyedihkan ketika pemimpin agama modern saat ini justru mendukung hal-hal seperti itu. Apakah ini yang diharapkan Allah dari kita?

Beberapa Pendeta Takut Mengkhotbahkan akan Kebenaran Karena Uang

Allah tidak pernah bermaksud agar para pendeta untuk mencari penghasilannya juga melalui usaha real estate, sales mobil atau usaha lainnya. Seseorang yang dipanggil Allah seharusnya memberikan seluruh hidupnya untuk mengabarkan Firman Tuhan. Mata pencahariannya harus bersumber dari persepuluhan yang kudus. Persepuluhan mengeliminasi pencobaan besar dalam penginjilan modern. Beberapa pendeta tidak berani memberitakan akan kebenaran karena khawatir akan mempengaruhi penghasilan mereka.
Ketika seorang Pendeta digaji langsung oleh jemaat dan bergantung kepada kemurahan hari kelompok di gereja, maka Ia akan mudah merasa cemas. Jika Ia menegur dosa yang memang harus ditegus, maka seseorang yang ditegur tersebut akan berhenti memberikan persembahan, dan hal ini akan mengancam penghasilan Pendeta tersebut.

Menurut saya, tidak ada Pendeta yang berkhotbah hanya untuk memperoleh keuntungan duniawi, namun, masih banyak takut untuk mengkhotbahkan seperti kondisi yang saya jelaskan di atas. Rencana Allah adalah untuk menghapuskan godaan tersebut agar kebenaran bisa terungkap. Jemaat seharusnya tidak membayar langsung gaji Pendetanya, dan hal ini akan membantu untuk menjauhkan godaan terbesar tersebut. Pemberian persepuluhan akan menghapuskan godaan Pendeta untuk menyembunyikan akan kebenaran tersebut.

Beberapa orang berkeluh kesah bahwa mereka tidak mampu memberikan persepuluhan karena seluruh penghasilannya sudah digunakan untuk membayar tagihan-tagihan yang ada. Tetapi, apakanh kita melakukan hal yang benar ketika kita membayar dulu semua tagihan kita baru kemudian sisanya untuk membayar persepuluhan? Dalam Amsal 3:9: “Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu.”  Dengan kata lain, berikan persepuluhan terlebih dahulu. Bahkan seorang Pendeta sekalipun – yang penghasilannya berasal dari persepuluhan – tetap membayar persepuluhannya juga. Lagipula, semuanya memang milik Tuhan, bukan? Semua perak dan emas dan ternak yang ada di bumi adalah milik Tuhan, kita hanyalah pengelolanya. Dia menginjinkan kita untuk menggunakannya. Kita membayar uang sewa rumah yang sebenarnya bukanlah milik kita. Kita hanya menggunakannya. Sama halnya dengan kita memberikan persepuluhan kepada Allah untuk mengakui bahwa segala milik kita hanya dipinjamkan kepada kita. Semuanya itu adalah milik Allah, Sang Pencipta.

Kita sering mendengar orang berkata, “Saya pergi ke gereja dan memberikan persepuluhan saya,” padahal maksud mereka adalah pergi ke gereja dan memberikan persembahan; kita bukanlah pemberi persepulhan jika kita tidak memberikan sepersepuluh dari penghasilan kita.  Persepuluhan berarti sepersepuluh. Dan itu yang Alkitab katakana, sepersepuluh dari penghasilan seseorang.

Ada yang mengatakan, “Bukankah itu terlalu besar, 10% dari penghasilan?” Bayangkan seseorang datang kepadamu dan mengatakan, “Saya ingin memulai usaha saya. Saya ingin memberikan modal, tempat usaha, peralatan, dan sebagainya. Saya ingin kamu mengelolanya. Lalu pada akhir bulan saya ingin kamu menghitung keuntungannya. Ketika kamu mendapati jumlahnya, maka untukmu 90% sedangkan untuk saya 10%.” Lalu kamu akan melihat orang tersebut dan berkata, “saya rasa anda membuat kesalahan. Maksudnya adalah anda mendapat 90% dan saya 10%.”

Kenapa salah? Karena engkau belum pernah mendengar tawaran yang seperti itu. Orang tidak membuat tawaran seperti itu tetapi Allah menawarkan seperti itu. Itu sudah pasti. Dunia dan segala isinya adalah milik Allah. Dia membuat segala sesuatunya dan itu adalah milikNya. Alkitab sangat jelas mengatakan akan hal tersebut. Maszmur 24:1, ”TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.”  Mazmur 50:10-12, sebab punya-Kulah segala binatang hutan, dan beribu-ribu hewan di gunung. Aku kenal segala burung di udara, dan apa yang bergerak di padang adalah dalam kuasa-Ku. Jika Aku lapar, tidak usah Kukatakan kepadamu, sebab punya-Kulah dunia dan segala isinya.”   Hagai 2:8 mengatakan “Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas, demikianlah firman TUHAN semesta alam.”  Ulangan 8:18,  Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan..”

Jika kita menggabungkan keseluruhan dan menyimpulkan, Alkitab menyampaikan bahwa Segala sesuatu adalah milik Allah. Jika kita memiliki segalanya dalam hidup, itu karena Allah memberikanmu kuasa, kekuatan dan kemampuan untuk  memperolehnya. Dan Dia akan mengatakan kepadamu, “10% dari yang kamu peroleh itu adalah milikKu. Aku mau kau mengembalikannya kepadaKu.” Apakah itu penawaran yang adil? Saya pastikan kepadamu bahwa tidak aka nada penawaran yang adil dan murah hati dimanapun kamu berada. Ingat akan firman Tuhan dalam Imamat 27:30, mengatakan bahwa persepuluhan adalah milik Allah. Allah memastikan akan hal tersebut. Bukan terserah kepada keputusan kita apakah itu harus dikembalikan kepadaNya atau tidak. Apakah itu harus menjadi milikNya atau akan menjadi milikNya; tapi pada dasarnya itu semua itu memang sudah milik Allah. Itu telah ditetapkan. Persepuluhan adalah milik Allah, 10% dari penghasilan kita kembali kepada Allah. Apapun itu alasannya, 10%  harus dikembalikan kepada Allah Bapa.
Akhirnya, kita tiba pada ayat yang paling penting dalam Maleakhi 3:8-11, “Bolehkah manusia menipu Allah? Namun kamu menipu Aku. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau?” Mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan khusus! amu telah kena kutuk, tetapi kamu masih menipu Aku, ya kamu seluruh bangsa! Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan. Aku akan menghardik bagimu belalang pelahap, supaya jangan dihabisinya hasil tanahmu dan supaya jangan pohon anggur di padang tidak berbuah bagimu, firman TUHAN semesta alam.”

Manusia mencuri dari Allah. Dalam satu tahun FBI menemukan adalah 111.750 kasus pencurian di Amerika Serikat dan lebih dari sejuta kasus perampokan. Tetapi ini hanyalah gambaran kecil. Berapa juta anggota jemaat yang sudah mencuri dari Allah? Mungkin lebih banyak pencuri di gereja daripada di luar gereja. Jika kita tidak memberikan persepuluhan kita maka kita mencuri dari Allah.

Apakah kamu dapat melihat hubungan antara persepuluhan dan 10 hukum? Hal mengingini ada pada hukum ke 10, dan perintah untuk memberikan 10% kepada Allah adalah metode Allah untuk menghilangkan ketamakan. Alasan dasar untuk melanggar akan hukum Tuhan ini adalah keegoisan. Lawan dari keegoisan adalah kasih, dan segala penurutan didasarkan pada kasih kepada Allah dibandingkan kepada diri sendiri.
Kasih artinya member, seperti yang kita pelajari dari Yohanes 3:16, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan (memberikan)…,  Kita tidak akan mampu untuk menandingi besarnya kasih Allah ketika Ia menyerahkan Anaknya, tetapi kita dapat menunjukkan kasih kita kepadaNYa dengan memberikan 10% atau 50% dari apa yang kita miliki bukan dan tidak menganggapnya sebagai sebuah pengorbanan. Perkataan Tuhan yang mengatakan “ujilah Aku” selalu memberikan hasil yang sama kepada siapapun yang percaya akan FirmanNya. Janjinya sungguh nyata bahwa “tidak aka nada ruang yang cukup untuk menerima” berkat yang dikembalikan kepada kita Jangan meremehkan berkat-berkat dan keuntungan yang kita peroleh jika kita beralih dari pencurian. Ketika kita mencuri dari Allah, sebenarnya kita mencuri dari diri kita sendiri. Kita akan kehilangan berkat-berkat termasuk didalam berkat penurutan. Janji yang indah akan pemeliharaan dan kemakmuran akan diberikan kepada setiap orang yang bekerjasama dengan Allah dalam member dengan setia. Buah dari penatalayanan dan tidak mementingkan diri sendiri, yang berlandaskan kasih, baik untuk direnungkan. “Ujilah Aku,” kata Pemilik segala sesuatu itu. Apakah engkau bersedia untuk membuat perjanjian dengan Allah untuk menjadi penatalayanan yang jujur dalam pemberian persepuluhan dan persembahan?

Apakah Nilai sebuah Waktu?

Beberapa hari yang lalu saya 30 menit waktu saya terbuang bergitu saja karena menunggu tukang sepatu memperbaiki sepatu saya yang seharus dijanjikan sudah selesai. Saya menghitung bahwa waktu 30 menit saya lebih besar nilainya dibandingkan harga perbaikan sepatunya. Pemikiran ini tidak memberikan menenangkan rasa kesal saya, tetapi membuat saya mulai memikirkan nilai dari sebuah waktu.
Unfortunately, we equate the value of time with a certain number of dollars and cents. People are paid so much an hour, or so many dollars a month. On the basis that one is paid $10 an hour for his work, let’s try to evaluate the true worth of that 60 minutes. The equation would go something like this: one hour of time equals $10 in cash money.

Biasanya, kita menyamakan nilai waktu dengan jumlah uang. Orang-orang dibayar secara per-jam, dan memperoleh uang yang banyak dalam satu bulan. Seseorang dapat digaji $10 per-jam, dan mari kita mengevaluasi nilai sesungguhnya 60 menit itu. Perhitungannya kira-kira seperti ini, 1 jam = $10. Mengartikan waktu ke dalam bentuk uang, dan menganggap bahwa uang setara dengan 60 menit, maka kita dapat menentukan nilai waktu setiap jam seperti kita menentukan arti $10. Seberapa berharganyakah uang $10 itu kepada orang yang menukarnya dengan nilai uang? Berapa banyak kebaikan yang dihasilkan olehnya, dan berapa banyak hal tersebut berkontribusi terhadap kualitas hidupnya? Jika $10 dapat membuat lebih bahagia, panjang umur dan merasa aman, maka kita dapat menyimpulkan bahwa waktu seseorang itu pantas dinilai sebesar uang tersebut.

Namun jika $10 itu digunakan untuk minuman keras, apakah akan mengarah ke kecanduan atau penyakit? Uang tersebut menjadi memiliki arti negative, dan waktu yang kita miliki menjadi tidak berharga. Dengan kata lain, waktu kita akan bernilai sebesar bagaimana kita mempergunakan yang tersebut. Jika uang tersebut menciptakan kehidupan yang lebih baik, lebih bergahagia, maka waktu kita bernilai lebih dari yang nilai uang itu sendiri. Sebaliknya, jika kita menggunakan uang tersebut terhadap hal-hal yang mengundang penyakit, yang bahkan lebih rendah dari nilai moral kita, dan membuat kita kehilangan kesempatan memperoleh hidup yang kekal, maka uang yang kita miliki tidak ada artinya.

Jika prinsipnya seperti itu, maka standar duniawi dalam mengevaluasi arti waktu adalah salah. Beberapa orang digaji berjuta dolar setahun menggunakan kekayaannya untuk merusak tubuh dan pikiran bahkan merusak kerohanian. Masyarakat bisa mengatakan apa saja, tetapi orang tersebut sudah membuang waktunya dengan percuma, karena mereka mempergunakan uangnya dengan salah.

Beberapa orang memperoleh gaji yang kecil, tetapi mereka mempergunakan uangnya kepada hal-hal yang dapat memberikan ketengan pikiran, membangun karakter moral yang kuat, dan mempersiapkan diri untuk kehidupan yang kekal. Mereka adalah orang-orang yang mempergunakan waktunya dengan sebaik-baiknya, bahkan, lebih berharga dari orang-orang yang memperoleh gaji besar yang menyalahgunakan kekayaannya.

Apakah engkau dapat memahaminya, bahwa uang mewakili waktumu? Apa yang engkau lakukan dengan uangmu, adalah merupakan hal yang sama yang engkau lakukan terhadap waktumu? Manfaat yang diperoleh dari yang mewakili nilai dari waktumu.

Pikirkanlah. Bagaimana engkau menggunakan uangmu? Apakah engkau menggunakannya untuk memperoleh kebahagiaan dan keamanan abadi? Apakah uangmu dapat digunakan orang lain sebagai sebuah berkat dari Tuhan untuknya? Dan sebagai hasil dari penggunaan uang tersebut, apakah orang tersebut akan bersama-sama denganmu memuji Tuhan di surga?
Lalai dalam menggunakan uang dengan benar dapat membuat kehilangan kehidupan yang kekal. Bukan saja pada saat kehidupan di bumi yang hilang, tetapi kehidupan kekal juga tidak akan diperoleh. Segala uang yang dimiliki sebagai hasil dari waktu yang kita gunakan untuk bekerja tidak akan ada artinya kecuali itu dapat membangun kualitas hidup yang benar. Sangat disayangkan bahwa kita sering melihat penggunaan uang hanya untuk kepuasan diri sendiri, kecanduan narkotika, dan hal-hal merusak lainnya. Jiwa hilang sia-sia dan uangpun hilang sia-sia.

Banyak yang telah menulis tentang Howard Hugher, jutawan eksentrik, dimana kekayaannya yang luar biasa itu menjadi penyebab kematiannya yang mengerikan. Karena mencurigai semua orang, ia mengasingkan dirinya dari teman dan masyarakat, yang akan menguras uangnya. Bahkan setelah kematiannya, malah menciptakan permusuhan antara orang-orang yang bersaing untuk mendapatkan bagian dari harta yang ditinggalkannya.

Apakah waktu Howard Hugher penting dan berharga? Waktunya menghasilkan uang yang mendatangkan kematian kepadanya. Ingatlah, adalah lebih baik jika kita tidak perlu lahir ke dunia ini jika selama kita hidup  kita hanya memikirkan diri sendiri yang pada akhirnya membuat kira kehilangan hidup yang kekal. Adalah lebih baik menjadi miskin daripada memperoleh kekayaan yang menyebabkan diri sendiri atau orang lain kehilangan hidup yang kekal.

Kembali ke pertanyaan sebelumnya, bagaimanakah engkau menggunakan uangmu? Uangmu terkait kepada tahun-tahun kehidupanmu. Menyalahgunakan uang tersebut sama dengan membuang waktu hidupmu. Ketika hidupmu berakhir, maka tahun-tahun kehidupanmu akan terlihat dari peninggalanmu. Mungkin itu memang kecil, tetapi itu mewakili nilai waktu yang engkau tukar.

Bagaimana engkau menghargai waktumu? Bagaimana engkau menilai tiap tahun kehidupanmu? Jawaban dari pertanyaan itu akan terlihat dari apa yang engkau miliki. Jika uang tersebut digunakan pada kebutuhan-kebutuhan yang paling utama, maka waktu yang engkau gunakan untuk memperoleh uang tersebut digunakan sebagaimana mestinya. Dan jika uang tersebut digunakan untuk membeli mobil yang digunakan untuk menjangkau jiwa-jiwa kepada Kristus, maka nilai dari waktu yang engkau gunakan untuk memperoleh uang tersebut jauh melebihi dari nilai sebenarnya. Kenapa? Saya berikan ilustrasinya.

Jika uangmu digunakan untuk membawa satu jiwa kepada Kristus, seberapa banyak waktu yang perlu untuk digunakan? Coba pahami hal ini dari terminologi berikut: satu jiwa yang diselematkan akan hidup lebih lama dari seluruh waktu yang digabungkan dari orang-orang yang hidup dan mati di dunia ini. Dapatkah engkau memahaminya? Kenyataannya kehidupan kekal satu orang akan melampaui jumlah total waktu jutawan, presiden perusahaan dan pemimpin dunia selama masa hidup mereka. Dan jika jutawan dan orang-orang terkenal itu tidak terselamatkan, maka satu jiwa yang terselamatkan jauh lebih berharga dari seluruh total jumlah waktu dari pemimpin-pemimpin tersebut.

Apa yang saya maksud adalah uang, kesuksesan, dan segala hal yang berhubungan dengan itu akan sia-sia kecuali digunakan untuk mempersiapkan diri untuk kehidupan kekal, atau membantu orang lain untuk siap menerima kehidupan kekal. Waktu kita sangat berharga, tapi hanya akan berharga jika digunakan untuk tujuan kehidupan yang kekal. Jika uang kita digunakan sia-sia, maka waktu yang kita gunakan untuk memperoleh uang tersebut pun akan sia-sia. Yesus mengatakan, “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?”  Matius 16:26.

Bahkan Kristus pun berbicara tentang pertukaran. Menukar sesuatu untuk mendapatkan sesuatu. Kita menukar waktu kita untuk uang. Dan kita menukar uang kita terhadap apa? Terhadap hal-hal yang membuat kita tidak layak di surga? Jika ya, waktu dan juga uang kita sudah digunakan dengan sia-sia. Saya ulangi kembali, lebih baik kita tidak lahir daripada hidup dan mati tanpa Kristus. Jauh lebih baik hidup sebagai orang miskin daripada sebagai jutawan yang tidak layak masuk surga.

Analisa pernyataan tersebut dengan baik. Orang Kristen yang miskin mungkin akan hidup dengan segala kekurangan, tetapi ia memiliki ketengangan pikiran dan berbahagia. Orang kaya hidup dengan berkelimpahan, tetapi pikirannya penuh dengan tekanan dan tidak berbahagia. Walaupun seandainya tidak ada kehidupan kekal setelah kematian, tetap saja seorang Kristen yang miskin memiliki hidup yang berbahagia dibandingkan jutawan yang tidak terselamatkan itu.

Tetapi pikirkan kedua orang itu dalam terminologi kekekalan. Orang miskin yang diselematkan akan jauh hidup lebih lama dari orang kaya, dan ia akan hidup dalam rumah yang indah yang tidak bisa dibayangkan oleh pengusaha minyak kaya manapun. Ketika hidupnya di dunia berkahir, orang miskin yang selamat itu akan tetap hidup dalam kekekalan.

Dan apa yang dimiliki orang kaya itu? (Segalanya! Hanya saja ia kurang satu hal – iman kepada Yesus). Apa yang akan terjadi kepadanya? Sebelum ia dimusnahkan dalam api neraka, ia memiliki kesempatan untuk melihat Yerusalem Baru terlebih dahulu. Pada saat itu ia akan menyadari betapa kosongnya hidupnya tanpa Allah. Waktu yang digunakannya untuk memperolah kekayaannya akan terlihat sia-sia. Penyesalah yang menyakitkan akan langsung terasa dan menguasai pikirannya, dan menjadi hukuman yang paling berat dan paling menderita.

Sekarang, apakah engkau tidak merasa bersyukur karena kita diberikan kesempatan saat ini untuk berubah? Kekekalan ada di hadapanmu. Tetapi kita hanya memiliki sedikit waktu tersisa dimana kita akan menukar waktu kita dengan uang. Lalu setelah itu  apa? Uang akan ditukar menjadi hal yang lain. Apakah hal yang lain itu akan membantu kita untuk layak masuk surga atau justru membuat kita kehilangannya. Yang mana pilihanmu?

Satu lagi kebenaran penting tentang uang, mengingat uang itu setara dengan waktu yang digunakan untuk memperolehnya, selama masih ada uangmu yang tersisa, pengaruhmu masih tetap dapat dirasakan pada waktunya. Bahkan setelah engkau meninggal, uangmu akan mewakili jam, bulan dan tahun yang engkau gunakan untuk memperolehnya. Banyak yang tidak terlalu memikirkan pengaruh uangnya setelah meninggal. Uang yang diperoleh selama hidupnya biasanya jauh di tangan kerabat atau pengacara yang tidak bermoral. Seringkali peninggalannya justru tidak digunakan sebagaimana yang almarhum inginkan ketika ia hidup untuk memperolehnya. Ia menanam waktu dalam bentuk uang, yang justru pada akhirnya digunakan untuk pertikaian dan tidak sesuai dengan rencana yang disusun almarhum.

Setiap orang harus membuat wasiat untuk melindungi peninggalannya. Sama seperti ketika waktunya tidak mau terbuang sia-sia, mereka tidak mau uang mereka, yang mewakili waktu mereka, hilang sia-sia setelah mereka meninggal. Dengan membuat wasiat bagaimana seharusnya peninggalan itu digunakan, maka pengaruhnya masih akan tetap hidup. Nilai waktu yang telah digunakannya masih dapat diwariskan dalam bidang kerohanian, seberapa besar atau kecil pun itu.

Termasuk juga kepada orang-orang yang lebih sering menyimpan uangnya daripada menggunakannya, tidak perlu merasa khawatir, karena melalui wasiat penggunaaan uangnya dapat diatur, sebagai hasil dari investasi waktu mereka selama hidup.

Banyak yang merasa khawatir akan menipisnya tabungan mereka dan bergantung kepada orang lain. Namun setelah kematian tidak ada lagi yang perlu ditakutkan. Mereka tetap dapat meraih misi Kristus yang tidak mereka peroleh selama mereka hidup. Dan jiwa-jiwa masih tetap dapat dimenangkan kepada Kristus. Mereka dapat mempersiapkan orang untuk memperoleh kehidupan kekal. Ada banyak orang Kristen yang tidak mereasakan kebahagian karena memenangkan jiwa untuk Kristus, akan bertemu dengan jiwa-jiwa tersebut di surga, dan mereja akan berterimakasih untuk peninggalan mereka yang membawa kepada kebenaran keselamatan.

Mungkin engkau sedang berada pada kategori ini. Engkau tidak memberikan banyak kepada Tuhan karena khawatir bahwa di masa akan datang penyakit yang engkau derita membutuhkan biasa rumah sakit yang tidak sedikit dan menguras seluruh tabunganmu. Engkau ingin Yesus segera datang, dan kebenaran dikabarkan seluruh penjuru, tetapi engkau tidak berani memberikan uangmu untuk kegiatan itu yang merupakan satu-satunya penyangga kebutuhanmu. Engkau menentukan dan mempertahankan tabunganmu untuk kebutuhan di masa akan datang. Saya pikir Allah ingin agar kita benar-benar bijaksana dalam mengelola keuangan kita. Namun jika, melalui berkat dan pemeliharaanNya, dana itu tidak diperlukan, maka dapat digunakan untuk memenangkan jiwa-jiwa; dengan perencanaan yang matang dan hati-hati dalam pelaksanaannya.
Banyak jiwa yang dimenangkan kepada Kristus karena kita peduli, dan membuat wasiat penggunaan harta untuk tujuan itu. Adalah sesuatu yang luar biasa indah bagi umat Kristen yang penuh dengan komitmen, dan bankit dalam kebenaran, dan melihat bahwa hasil kehidupan mereka dapat tetap menjadi pekabaran bahkan lama setelah ia meninggal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *