Sebuah Pulau Di Suatu Masa

Blog AFI

Pulau Lewis, di ujung Utara kepulauan Skotlandia, hanya berpopulasi 18.500 an – dan memiliki sebuah tradisi keagamaan yang kental. Orang-orang pulau Lewis sebagian besar adalah anggota dari dua kelompok Prebisterian, tetapi di sana juga ada sebuah gereja Katolik Roma dan kelompok Kristen lainnya di pulau tersebut.

Bagian dari tradisi keagamaan mereka adalah untuk berhenti melakukan semuanya di hari Minggu, yang para penduduk Lewis anggap sebagai hari Sabat. Di awal Januari sebuah teater film lokal mengatakan bahwa mereka akan mulai sebuah percobaan buka di hari minggu, sesuatu yang menjadi bahan perbincangan dan menarik media di seluruh Inggris raya.

“Apa yang kita lakukan adalah pelaksanaan sebuah riset penonton yang sejati dan tidak bermaksud sama sekali untuk menantang, atau melawan tradisi setempat,” ujar kepala eksekutif teater Ellie Fletcher di sebuah wawancara BBC. “Pemeliharaan Sabat adalah sesuatu yang sangat penting bagi pulau Lewis, dan ada sebuah sejarah kuat akan pemeliharaan Sabat di sini, dan kita selalu ingat dan menghargai hal tersebut,” tambahnya.

Tetapi James Eglinton, seorang pengajar teologia di universitas Edinburg memiliki sebuah pandangan berbeda. Menulis di Times of London, Ia katakan, “Di Lewis peristirahatan ada seminggu sekali dan adalah sebuah persekutuan ritme kehidupan,” menambahkan kemudian, “Tidak ada yang terbukti dengan sendirinya lebih unggul dari ritme kehidupan dataran utama,” yang mana termasuk kegiatan usaha setiap hari sepanjang minggu.

Sementara yang berdiskusi tentang pulau Lewis tadi mungkin tidak memahami hari Sabat yang sebenarnya – Keluaran 20:8 memastikan “hari ketujuh adalah Sabat TUHAN Allahmu,” – lagipula seseorang perlu angkat topi untuk orang-orang baik di pulau Lewis yang coba memelihara sesuatu yang disebut hari peristirahatan mingguan “pulau itu di suatu masa”.

Daripada sekedar membuka sebuah usaha guna aliran keuntungan yang lebih, Eglinton mengatakan bahwa menetralkan sebuah hari peristirahatan di pulau akan menempatkan sebuah beban bagi mereka yang mencoba untuk beristirahat satu hari dalam tujuh hari yang ada: “Itu menjadi sebuah pertentangan upaya budaya, satu set negosiasi dengan norma baru yang sederhananya mengasumsikan kesediaan untuk bekerja shift hari minggu itu, untuk membawa anak Anda pada klub olahraga minggu dan sebagainya,” tulisnya.

Itulah masalah-masalah yang sangat akrab bagi mereka yang membuat sebuah komitmen untuk memelihara apa yang Alkitab katakan sebagai hari Sabat, hari ketujuh mingguan. Itu seringkali mengasumsikan seseorang dapat bekerja lembur di hari Jumat, sampai malam, atau “hanya beberapa jam” di Sabtu pagi. (Penyedia kerja yang sama itu biasanya tidak mempunyai keluhan untuk tutup di hari minggu, tetapi itu bahan perbincangan di lain waktu.)

Tentu saja memelihara Sabat Alkitab melibatkan lebih dari sekedar tidak bekerja (atau melakukan bisnis) di hari yang dimaksud minggu itu. Tetapi lebih berarti mengingat dan menghormati Dia yang tidak hanya mencetuskan hari Sabat, tetapi juga menciptakan segalanya, termasuk Anda dan saya.

Untuk belajar lebih tentang Sabat, silakan tekan di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *