Sekali lagi… dimana Tuhan?

Blog AFI

Ini adalah pertanyaan yang banyak dipertanyakan orang di Texas dan Amerika Serikat sebagai sebuah berita tragis, sebuah kecelakaan yang dapat dihindari tayang sekilas di layar TV mereka. Sebuah bis membawa para orang tua kembali dari retreat gereja ditabrak dari arah sebaliknya muka dengan muka oleh sebuah truk terbuka yang melewati garis pembatas tengah jalanan. Tabrakan tersebut membunuh semua orang kecuali satu dari empat belas orang dalam bis.

Penyebab kecelakaan tampaknya adalah karena pengemudi truk sedang berbalasan pesan singkat di handphonenya alih-alih daripada berfokus mengemudi. Banyak dari para penumpang tampaknya adalah orang Kristen yang penuh dedikasi yang telah mengabdikan hidupnya bagi Tuhan.

Dimanakah Tuhan dalam tragedi ini? Tuhan macam apa yang tidak mau turut campur tangan bahkan bagi yang setia kepada-Nya?

Pertanyaan mengenai rasa sakit dan penderitaan seakan tidak pernah berakhir di dunia yang penuh dosa ini. Alkitab tidak malu-malu menyatakan bahwa para pria dan wanita yang setia mengalami penderitaan. Daud meluangkan waktu 10 tahun sebagai pelarian. Yusuf harus meluangkan bertahun-tahun di penjara. Yohanes pembaptis di bunuh dengan kejamnya. Kisah yang lain mengingatkan kita bahwa umat Tuhan sepanjang zaman telah berhadapan dengan tragedi yang tidak terjawab. Yesus menandakan dalam Lukas 13:4 bahwa orang-orang seringkali mati dalam sebuah peristiwa meski tidak ada salah dalam diri mereka sendiri.

Jadi dimanakah Tuhan? Alkitab mengatakan pada kita bahwa Ia tepat di samping kita. (Bacalah Mazmur 23:4-6). Ia sederhananya meminta kita untuk percaya bahkan di lembah yang terkelam, Ia masih memimpin umat-Nya ke sebuah tempat yang aman dan penuh kedamaian kekal.

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda percaya bahwa karena Tuhan mengizinkan para pria dan wanita Kristen mati dalam sebuah kecelakaan, itu adalah kehendak-Nya?

Elia adalah pengikut Tuhan yang setia. Meskipun ia mengikuti arahan Tuhan, ia tetap menemukan dirinya sendiri dalam masalah. Tuhan telah mengirim dia untuk bersembunyi dekat sungai Kerit, tetapi sungai itu mengering. Elia harus menunggu arahan Tuhan kembali sebagaimana ia menghadapi kemungkinan kematian yang nyata karena dehidrasi. Waktu penantian ini, inilah waktu dimana kita tidak selalu memahami rancangan Tuhan, membiarkan kita untuk percaya dalam kasih karunia-Nya. Pelajarilah lebih lagi dengan membaca tulisan ini, bagaimana Tuhan beserta kita melewati penderitaan kita dengan klik disini .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *