Amazingfacts.id: Dalam film Daniel and the Fiery Furnace yang tayang baru-baru ini mengisahkan mengenai perjalanan iman Daniel dan teman-temannya.
Daniel adalah salah satu tokoh yang tertulis kisah hidupnya di dalam Alkitab. Daniel menjadi tawanan Babel pada zaman pemerintahan dari Raa Yoyakim sebagaimana tertulis dalam firman Tuhan: “Pada tahun yang ketiga pemerintahan Yoyakim, raja Yehuda, datanglah Nebukadnezar, raja Babel, ke Yerusalem, lalu mengepung kota itu.” Daniel 1:1.
Kehidupan Daniel bukanlah kehidupan yang gampang, apalagi dia adalah seorang tawanan, lalu bagaimana dia mampu menjalani kehidupan yang sulit tapi bisa menang atas semuanya itu?
1. Hidup Dengan Tidak Menajiskan Dirinya
“Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya.” Daniel 1:8.
Daniel memiliki beberapa alasan dalam hal ini:
- Makanan dari Meja raja mungkin berisi daging yang tidak semuanya halal, Anda dapat melihat Kitab Imamat 11 sebagai panduan dasar dalam makanan halal dan haram
- Makanan itu sebelum disajikan di meja makan, pertama-tama makan itu disajikan sebagai santapan bagi patung dewa mereka, baru setelahnya dikirim di depan raja untuk dikonsumsi.
Daniel meskipun menolak makanan-makanan dari santapan raja dan dilakukan percobaan antara daniel dan teman-temannya yang tidak menyantap makanan raja dengan orang-orang muda di sana yang memakan santapan raja. Didapati bahwa Daniel dan kawan-kawannya lebih unggul kesehatan maupun kecerdasan mereka daripada pemuda-pemuda yang memakan santapan raja.
2. Setia Menjalin Hubungan Yang Dekat Dengan Tuhan
Perubahan hidup Daniel dan teman-temannya tidak membuatnya berhenti untuk terus menjalin hubungan dengan Tuhan sekalipun identitasnya (namanya) telah diubah ke dalam nama-nama dewa Babel. Kebiasaan mereka selalu melakukan penyembahan doa kepada Tuhan Allah Israel dan tidak pernah meninggalkan kebiasaannya bahkan ketika mereka hidup dalam tawanan.
“Tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.” Daniel 6:11.
3. Menjadikan Tuhan Sebagai Penasihat Yang Agung Dan Utama
“Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan bermohon, sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu.” Daniel 9:3
Dalam setiap pergumulan hidup yang dihadapi, mereka selalu meminta petunjuk Tuhan, sebagai Penasehat dalam memecahkan setiap permasalah hidup mereka.
4. Berani Berkata Dan Bertindak Benar
Daniel dan teman-temannya berani untuk bertindak benar sekalipun nyawa mereka menjadi taruhannya, Anda dapat membacanya secara lengkap dalam Kitab Daniel, tetapi sebagai salah satu contoh yang bisa diambil adalah ketika mereka menghadapi tekanan mengenai penyembahan pada patung Raja Nebukadnezar di dataran Dura. Mereka tak gentar untuk tetap memilih setia pada penyembahan yang benar, yaitu menyembah Tuhan Allah.
“Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” Daniel 3:17-18.

Dari kisah hidup Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego maka kita belajar bahwa kita akan sanggup menghadapi setiap tantangan iman dalam hidup kita asalkan kita menjaga diri kita dari segala bentuk kenajisan, setia menjalin hubungan yang berkesinambungan secara terus menerus dan percaya bahwa Tuhan sanggup melepaskan kita dari setiap jerat yang ada di depan kita, menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya penasehat utama kita dalam mengambil setiap keputusan, serta berani berkata dan bertindak benar bukan atas pengertian kita sendiri tapi atas dorongan firman Tuhan.
Tantangan yang dihadapi oleh Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego bukan hanya sekedar tantangan biasa, dan mereka bisa menang atas itu semua karena Tuhan memelihara hidup mereka. Ketika tantangan ada dihadapan Anda, apakah Anda akan bertindak sama dengan yang Daniel dan kawan-kawannya lakukan? Atau justru kita bertindak sesuai dengan hikmat sendiri?