Hari-Hari Perayaan Dan Sabat

Hari-Hari Perayaan Dan Sabat

Bank Pustaka

BK-FDS_Hari-Hari-Perayaan-Dan-SabatOleh: Joe Crews
APAKAH HUKUM ITU MASIH BERLAKU?

Ada berapa banyak perintah yang terdapat dalam Kesepuluh Firman? Apakah pertanyaan ini kedengaran konyol? Maka perhatikanlah fakta bahwa ada ribuan orang religius yang akan menjawab “94” atau “110”. Anda bisa melihat, ada banyak orang yang memegang kepercayaan aneh bahwa Kesepuluh Firman yang ditulis dengan jari Tuhan ini sebenarnya adalah bagian dari hukum upacara Musa yang berisi banyak peraturan spesifik. Mereka tidak melihat Kesepuluh Firman sebagai sesuatu yang berbeda dan benar-benar unik karena dibuat oleh Tuhan. Mereka juga tidak melihat perbedaan yang jelas ada yang telah ditetapkan alkitab untuk hukum moral yang disebut KESEPULUH Firman.

Jelas bahwa seseorang akan dengan mudah menghilangkan Kesepuluh Firman dengan menggabungkannya dengan 90an atau 100 hukum yang lainnya dan menyebutnya sebagai “ketetapan” gantinya hukum. Usaha radikal seperti itu telah dibuat untuk mengaburkan kuasa satu-satunya Firman yang ditulis dengan jari Tuhan sendiri. Lebih jauh lagi, sebuah pernyataan dibuat bahwa karena Kesepuluh Firman adalah bagian dari hukum ketetapan Musa yang berakhir di kayu salib, maka kita tidak perlu lagi untuk mematuhinya sama seperti kita sudah tidak perlu lagi mempersembahkan anak domba sebagai korban.

Apakah ada bukti nyata di Alkitab bahwa hukum moral dan hukum upacara tidak tergabung menjadi satu? Adakah petunjuk bahwa Kesepuluh Firman itu permanen, dan memiliki sifat berkelanjutan sementara hukum upacara yang terdiri dari ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan berakhir ketika Yesus wafat? Ya, bahkan ada melimpah bukti untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan jawaban Ya!

Tuhan telah memberi tahu perbedaannya kepada hambaNya Musa, dan Musa pun menjelaskan hal itu kepada bangsa Israel di gunung Horeb. “Dan Ia memberitahukan kepadamu perjanjian, yang diperintahkanNya kepadamu untuk dilakukan, yakni Kesepuluh Firman dan Ia menuliskannya pada dua loh batu. Dan pada waktu itu aku diperintahkan TUHAN untuk mengajarkan kepadamu ketetapan dan peraturan, supaya kamu melakukannya di negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya.” (Ulangan 4:13,14).

Mohon perhatikan betapa jelas Musa membedakan antara Kesepuluh Firman, dengan berkata “yang diperintahkanNya kepadamu” dari “aku diperintahkan TUHAN untuk mengajarkan kepadamu ketetapan dan peraturan.”. Pertanyaan utama sekarang, adalah apakah ketetapan dan peraturan yang diberikan Musa kepada bangsa Israel dirancang sebagai “hukum” yang terpisah dan unik?

Tuhan menjawab pertanyaan penting tersebut dengan cara yang sedemikian rupa sehingga tidak tersisa ruang untuk keraguan. “Aku tidak akan membiarkan bangsa Israel lagi dibawa keluar dari tanah yang telah Kuberikan kepada nenek moyang mereka, asal saja mereka tetap berbuat tetap seperti yang telah Kuperintahkan kepada mereka dan tetap menurut hukum yang telah diperintahkan kepada mereka oleh hamba-Ku Musa.”(2 Raja-raja 21:8). Di sini kita diyakinkan bahwa ketetapan yang diberikan Musa kepada bangsa Israel disebut sebagai “hukum”. Anak kecil sekalipun dapat mengerti perbedaan kedua hukum yang telah dijelaskan di atas. Tuhan membicarakan hukum “yang telah Kuperintahkan” dan juga “hukum yang…diperintahkan…Musa”. Jika kebenaran ini tidak dimengerti dengan benar, kebingungan besar akan terjadi.

Daniel juga diilhami untuk membuat perbedaan jelas ketika Ia berdoa untuk bangsanya yang tercerai berai. “Segenap orang Israel telah melanggar hukum-Mu dan menyimpang karena tidak mendengarkan suara-Mu. Sebab itu telah dicurahkan ke atas kami kutuk dan sumpah, yang tertulis dalam kitab Taurat Musa, hamba Allah itu, sebab kami telah berbuat dosa terhadap Dia.” (Daniel 9:11).

Sekali lagi kita menemukan “hukum-Mu” dan “kitab Taurat Musa”, dan kali ini keduanya dibedakan menurut isinya. Tidak ada kutuk yang tercatat di Sepuluh Firman yang ditulis dengan jari Tuhan, tetapi hukum yang ditulis oleh Musa mengandung banyak kutuk dan penghakiman.

Tetapi poin penting yang membedakan antara hukum Tuhan dan hukum Musa, terletak pada bagaimana hukum Musa tersebut dicatat dan disimpan. Kita sudah mengutip pernyataan Musa bahwa Tuhan “menuliskannya (Kesepuluh Firman) pada kedua loh batu.”(Ulangan 4:13). Bandingkan dengan Keluaran 31:18,”…kedua loh hukum Allah, loh batu, yang ditulisi oleh jari Allah.”

Tidak ada yang bisa salah mengerti mengenai cara Sepuluh Firman dibuat dengan cara hukum Musa dibuat,”Setelah hukum Taurat itu dituliskan Musa…Ketika Musa selesai menuliskan perkataan hukum Taurat itu dalam sebuah kitab sampai perkataan yang penghabisan, maka Musa memerintahkan kepada orang-orang Lewi pengangkut tabut perjanjian TUHAN, demikian: ‘Ambillah kitab Taurat ini dan letakkanlah di samping tabut perjanjian TUHAN, Allahmu, supaya menjadi saksi di situ terhadap engkau.’” (Ulangan 31:9,24-26). Kitab yang berisi ketetapan dan penghakiman yang ditulis Musa ini ditempatkan di samping tabut perjanjian. Sebaliknya hukum yang ditulis oleh Tuhan di dua loh batu ditempatkan di dalam tabut perjanjian. “Dalam tabut itu haruslah kautaruh loh hukum, yang akan Kuberikan kepadamu.”(Keluaran 25:16).

Hingga titik ini, kita bisa mencatat beberapa perbedaan antara kedua hukum tersebut. Keduanya memiliki penulis yang berbeda, dicatat di atas bahan yang berbeda, ditempatkan di lokasi berbeda dan memiliki isi yang benar-benar berbeda.

HUKUM UPACARA MELAWAN KITA

Sekarang, mari kita lihat lebih dekat mengenai ketetapan upacara yang ditulis Musa di kitab. Kitab itu ditempatkan di ‘samping tabut perjanjian…menjadi saksi di situ terhadap engkau.’ Menarik untuk diperhatikan bahwa kutuk dan penghakiman dari hukum yang menghasilkan hukuman untuk pelanggarannya benar-benar tidak ada dalam Sepuluh Firman. Untuk alasan ini, maka hukum upacara dianggap sebagai hukum yang “melawan” bangsa Israel. Bahkan di perjanjian baru, kita dapat melihat bahasa penjelasan yang sama digunakan untuk merujuk pada hukum upacara. “dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib:”(Kolose 2:14).

Jelas bahwa tidak hukum di dalam Sepuluh Firman yang bisa dinyatakan bertentangan bagi Paulus dan jemaat kepada siapa ia menulis. Tidaklah bertentangan bagi orang Kristen mula-mula untuk menjauhkan diri dari perzinahan, pencurian, berbohong, dll. Sebaliknya hukum moral adalah pelindung yang sangat besar bagi mereka dan menguntungkan setiap segi kehidupan mereka. Kita baru saja membaca penjelasan mulia Paulus tentang Sepuluh Firman sehingga dapat menyadari bahwa prinsip-prinsip kekal tersebut tidak pernah dihapuskan atau dipakukan ke salib. Setelah mengutip perintah ke-10 dalam Sepuluh Firman pada tulisannya di Roma 7:7, Paulus kemudian menuliskan kalimat ini, “Jadi hukum Taurat adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik”(ayat 12). Ia melanjutkan di ayat 14, “Sebab kita tahu, bahwa hukum Taurat adalah rohani…”

Jika Sepuluh Firman tidak pernah dipakukan di salib, akankah Paulus berbicara dengan bahasa yang bersinar tentang kesempurnaan dan kerohanian hukum itu? Ia tidak berbicara tentang hukum yang lama. Ia berkata,”hukum Taurat ADALAH kudus…hukum Taurat ADALAH rohani.”(Roma 7:12,14). (dalam KJV menggunakan present tense “is”)Dengan kata lain, hukum yang disebutkan Paulus ketika ia menulis kepada jemaat di Roma itu sangat hidup dan masih tetap berlaku. Sebagai perbandingan, dalam bahasa aslinya, ketika menjelaskan tentang surat hutang dengan ketentuan-ketentuan hukum di Kolose 2:14, Paulus menggunakan bentuk past tense (kata kerja untuk menunjukkan suatu kejadian di masa lampau) yang dalam bahasa aslinya yaitu bahasa Yunani adalah EN yang berarti yang dulu. Perhatikan kalimat di Kolose 2:14 dengan makna literalnya…”dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum…YANG DULU (EN) mengancam kita.” Jelas bahwa Paulus tidak membicarakan hukum yang sama. Yang satu masih berlaku sementara yang lain sudah berlalu.

Yang menarik, Paulus mengangkat hukum ke-5 ketika ia menulis kepada jemaat di Efesus.”Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu—ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.” (Efesus 6:1-3). Sekali lagi, kita melihat bahwa rasul Paulus menegaskan bahwa hukum itu masih berlaku dan bukannya sudah berlalu. Jika hukum ke-5 merupakan bagian dari ketetapan yang dibicarakan di Kolose 2:14, maka Paulus akan mengatakan janji itu masih berlaku.

Di gereja Perjanjian Baru, ada banyak pertentangan sehubungan dengan sunat, yang merupakan syarat utama dari hukum upacara. Dalam Kisah 15:5 kita membaca,”Tetapi beberapa orang dari golongan Farisi, yang telah menjadi percaya, datang dan berkata: ‘Orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa.’” Seperti yang kita ketahui bersama, tidak mungkin hukum yang dibicarakan di sini adalah Sepuluh Firman. Perintah sunat tidak ada di dalam Sepuluh Firman. Lebih lanjut Paulus menyatakan, “Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah.”(1 Korintus 7:19). Jika hukum yang mengatur tentang sunat sudah DITIADAKAN (dihapuskan), jadi “hukum-hukum” apa yang dibicarakan Paulus di 1 Korintus 7:19 yang masih berlaku? Hanya orang buta yang tidak bisa melihat bahwa ada dua hukum yang dibicarakan di sini. Yaitu hukum moral yang masih berlaku, dan hukum sunat (hukum upacara) yang telah ditiadakan.

Kenyataannya, ada sejumlah referensi dalam Alkitab yang membuktikan bahwa hukum Musa yang berisi tipe dan bayangan, oleh karena aplikasinya yang sementara, tidak bisa disamakan dengan hukum moral yang kekal. Hukum Musa yang merupakan hukum upacara ini memuat sistem pengorbanan, keimamatan manusia dan hari-hari raya dibuat setelah dosa hadir di dunia dan selalu menunjuk langsung pada keselamatan dari dosa yang akan digenapi oleh Anak Domba sejati dan Imam yang akan datang—Yesus.

Penulis kitab Ibrani menghabiskan banyak waktunya untuk membuktikan bahwa hukum keimamatan Lewi harus berubah untuk menyesuaikan dengan keimamatan Yesus. Yesus tidak lahir dari suku Lewi, melainkan suku Yehuda. Oleh karena itu, kita memiliki referensi bahwa Yesus,”yang menjadi imam bukan berdasarkan peraturan-peraturan manusia, tetapi berdasarkan hidup yang tidak dapat binasa.”(Ibrani 7:12,16).

“Peraturan-peraturan manusia” yang berkaitan dengan keimamatan manusia ini ditemukan dalam hukum tulisan tangan Musa. Ini sangat kontras dengan penjelasan Paulus mengenai Sepuluh Firman yang “rohani” dan “kudus” dan “baik”. Tidak ada orang yang bisa bersifat daging dan rohani pada saat yang sama. Dan tidak ada pula yang bisa menjadi “baik” dan “tidak baik” pada saat yang sama. Dan dalam kitab Yehezkiel kita membaca kalimat ini:

“Oleh karena…melanggar kekudusan hari-hari Sabat-Ku dan matanya selalu tertuju kepada berhala-berhala ayah-ayah mereka. Begitulah Aku juga memberi kepada mereka ketetapan-ketetapan yang tidak baik dan peraturan-peraturan, yang karenanya mereka tidak dapat hidup.” (Yehezkiel 20:24,25). Perhatikan secara seksama bagaimana nabi menyebutkan tentang hukum Sabat, dan setelah itu segera mengatakan,”Aku juga memberi mereka ketetapan-ketetapan yang tidak baik.” Ingat bahwa Sepuluh Firman disebut Paulus sebagai “kudus, benar dan baik” (Roma 7:12). Oleh karena kutuk dan penghakiman yang terjadi karena ketidaktaatan bangsa Israel yang terus menerus terjadi, maka hukum Musa disebutkan bertentangan dengan mereka dan “tidak baik”.

HUKUM MORAL SUDAH ADA SEJAK DI EDEN

Hukum musa tidak pernah setara dengan kode moral kekal yang telah berlaku sejak awal sejarah manusia. Meskipun baru dituliskan di Gunung Sinai, Sepuluh Firman sudah dimengerti dan dihormati oleh nenek moyang kita yang paling pertama. Bahkan Kain pun tahu bahwa membunuh Habel adalah perbuatan berdosa, karena Tuhan memperingatkan Kain bahwa,”dosa sudah mengintip di depan pintu.”(Kejadian 4:7).

Dosa tidak akan ada jika tidak ada hukum. Alkitab mengajarkan,”tetapi di mana tidak ada hukum Taurat, di situ tidak ada juga pelanggaran.” (Roma 4:15). Sekali lagi kita diberitahu,”Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah.” (1 Yohanes 3:4). Prinsip ini semakin jelas oleh pernyataan Paulus,”oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan:’Jangan mengingini!’” (Roma 7:7).

Ayat-ayat ini memberikan kebenaran bahwa dosa tidak akan ada jika Sepuluh Firman tidak ada. Peringatan Tuhan kepada Kain bahwa dosa sudah mengintip di pintu sehubungan dengan rencana Kain untuk membunuh Habel, menunjukkan pelanggaran salah satu dari Sepuluh Firman. Ini merupakan bukti absolut bahwa hukum moral sudah berlaku sejak awal dunia dijadikan. Kemudian, peristiwa Yusuf juga menunjukkan bahwa ia sadar akan hukum yang sama yang mengikat. Ia mengatakan kepada istri Potifar,”Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” (Kejadian 39:9). Yusuf tahu bahwa adalah dosa untuk melakukan zinah.

Lewat kata-kata ini, Tuhan memberikan pujianNya kepada Abraham: “karena Abraham telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku.”(Kejadian 26:5). Sangat jelas bahwa hukum yang ditaati oleh Abraham dengan setia ini bukanlah hukum Musa, karena hukum Musa baru diberikan 430 tahun kemudian. Dan kita baru saja mempelajari bahwa Sepuluh Firman sudah ada sebelum Abraham dilahirkan, karena hukum itu menyalahkan pembunuhan yang dilakukan oleh Kain. Kita juga tidak bisa memiliki pemikiran bahwa Abraham yang saleh itu tidak mengerti persoalan dasar mengenai apa yang benar dan apa yang salah yang terdapat dalam Sepuluh Firman.

Sangat pasti bahwa ada hukum lain yang ditambahkan 430 tahun kemudian, sebagai tambahan dari hukum yang ditaati Abraham dengan tekun. “Maksudku ialah: Janji yang sebelumnya telah disahkan Allah, tidak dapat dibatalkan oleh hukum Taurat, yang baru terbit empat ratus tiga puluh tahun kemudian, sehingga janji itu hilang kekuatannya.”(Galatia 3:17)

Konteks dari Galatia 3:17 mengindikasikan bahwa hukum Taurat yang dibicarakan oleh Paulus di ayat tersebut adalah hukum upacara dan bukan hukum moral yaitu Kesepuluh Firman. Pada ayat 10, Paulus menyebutkan kutukan “yang tertulis dalam kitab hukum Taurat.” Kita tahu hukum itu pastilah hukum Musa karena, seperti yang sudah kita dapati, tidak ada kutukan yang tercatat dalam Sepuluh Firman yang tertulis di loh batu.

Dapatkah kita menemukan peneguhan lebih lanjut bahwa hukum yang ditambahkan kemudian ini adalah hukum Musa? Jawabannya ada di Galatia 3:19, “Kalau demikian, apakah maksudnya hukum Taurat? Ia ditambahkan oleh karena pelanggaran-pelanggaran—sampai datang keturunan yang dimaksud oleh janji tersebut…” Di sini kita mendapatkan 2 fakta signifikan mengenai hukum yang ditambahkan tersebut. Kita mendapatkan alasan mengapa hukum itu diberikan dan sampai kapan hukum itu berlaku. Dua informasi ini akan kita gali lebih dalam karena di situ terkandung bukti yang sangat jelas.

PERTAMA: MENGAPA HUKUM ITU DIBERIKAN? Galatia 3:19 menyatakan bahwa hukum itu “ditambahkan oleh karena pelanggaran-pelanggaran”. Fakta ini sangat membuka pikiran karena kita baru saja mempelajari bahwa “di mana tidak ada hukum Taurat, di situ tidak ada juga pelanggaran.”(Roma 4:15). Seseorang tidak dapat dinyatakan bersalah karena melanggar hukum yang tidak ada. Dalam kasus ini, ada suatu hukum yang jelas ada; dan hukum itu sudah “dilanggar” sehingga harus ada hukum lain yang ditambahkan 430 tahun kemudian setelah Tuhan membuat perjanjian dengan Abraham. Dan karena telah tertulis bahwa “Abraham telah… memelihara…hukum-Ku”(Kejadian 26:5), maka kita harus yakin bahwa hukum yang sebelumnya, yang dipelihara Abraham adalah Sepuluh Firman. Musa saat itu belum lahir, sehingga tidak mungkin hukum upacara Musa lah yang dipelihara oleh Abraham.

Jadi apa yang bisa kita simpulkan dari bukti ini? Sepuluh Firman sudah dilanggar, sehingga hukum upacara harus ditambahkan. Jika dipikirkan, ini sangat masuk akal. Jika ada hukum yang dibuat yang melarang pembunuhan, dan hukum itu dilanggar, maka harus ada hukum lain yang dibuat untuk menjelaskan hukuman untuk pelanggaran hukum yang pertama. Kita baru saja mempelajari bahwa Sepuluh Firman tidak mengandung kutukan (hukuman) atau penghakiman (penghukuman), tetapi hukum Musa memiliki semua itu.

KEDUA: SAMPAI KAPAN HUKUM YANG “DITAMBAHKAN” INI BERLAKU?
Alkitab mengatakan, “sampai datang keturunan yang dimaksud”. Tidak ada keraguan mengenai identitas dari keturunan itu. Ia adalah Kristus. Tapi apakah kita memiliki bukti bahwa hukum yang dihapuskan dan dipakukan di kayu salib itu adalah hukum Musa? Hukum yang manapun itu, hukum itu merupakan “surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum”(Kolose 2:14). Dalam Sepuluh Firman, tidak ditemukan ketentuan-ketentuan hukum. Istilah ini digunakan untuk kode hukum lokal yang sempit dan terbatas, sebagai contoh, “ketentuan-ketentuan hukum kota” yang hanya berlaku bagi kota saja. Sebagai perbandingan, Sepuluh Firman itu sama seperti konstitusi suatu negara.

HUKUM YANG MANA YANG DIHAPUSKAN?

Akan tetapi mari kita lihat lebih jauh kalimat di Kolose 2:14-16 untuk mendapat gambaran yang utuh. Setelah menjelaskan tentang “menghapuskan” dan “memakukan” surat hutang yang oleh ketentuan-ketentuan hukumnya mendakwa dan mengancam kita, Paulus kemudian menulis di ayat 16, “KARENA ITU jangan sampai orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman.” Kata “karena itu” berarti “berdasarkan apa yang sudah dibicarakan, kita akan mengambil kesimpulan”. Dengan kata lain, Paulus mengatakan, “Berdasarkan fakta bahwa surat hutang yang berisi ketentuan-ketentuan hukum telah dihapuskan, KARENA ITU janganlah ada orang yang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman.”

Sekarang kita mulai melihat dengan jelas hukum yang mana yang sedang dibicarakan. Apakah ada tertulis di Sepuluh Firman mengenai makanan dan minuman?
Tapi mari kita baca ayat Kolose 2:16 dan 17 secara lengkap: “Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus.”

Pertanyaan: Mungkinkah hari sabat yang dibicarakan di ayat di atas adalah Sabat Hari Ketujuh yang terdapat dalam Sepuluh Firman? Bukan. Karena dikatakan bahwa makanan, minuman, hari raya, bulan baru dan hari sabat merupakan “bayangan dari apa yang harus datang”. Harap diingat bahwa Sabat mingguan ditetapkan Tuhan sebelum ada dosa di dunia. TIDAK ADA BAYANGAN SEBELUM DOSA MUNCUL! Semua bayangan diperkenalkan karena dosa ada dan semua bayangan itu merujuk langsung kepada penyelamatan dari dosa melalui Kristus. Sebagai contoh, semua anak domba yang disembelih menggambarkan Yesus, ANAK DOMBA sejati, yang akan mati untuk dosa dunia. Jika dosa tidak masuk ke dalam dunia, maka tidak perlu ada Juruselamat, sehingga tidak perlu ada anak domba yang disembelih atau upacara bayangan untuk menggambarkan Juruselamat yang akan datang.

Jadi jika hari Sabat yang disebutkan di Kolose 2:16 hanyalah bayangan sehingga tidak mungkin merujuk pada Sabat hari Ketujuh, maka hari sabat yang mana yang sedang dibicarakan Paulus di sini? Apakah ada “sabat-sabat” lain selain Sabat mingguan? Ya, ada sabat-sabat tahunan yang jelas tidak ada kaitannya dengan Sabat hari Ketujuh di Sepuluh Hukum. Dan sabat-sabat ini adalah bagian dari sistem “ketentuan-ketentuan hukum” yang berakhir di kayu salib.

Sebagai bukti, mari kita baca kembali hukum Musa yang membahas tentang hari raya tahunan dimana terdapat sabat-sabat bayangan. “Berbicaralah kepada bani Israel, dengan mengatakan: Dalam bulan ketujuh, pada tanggal satu bulan itu, haruslah itu menjadi sabat bagimu, suatu peringatan peniupan nafiri, suatu pertemuan kudus.” (Imamat 23:24 Indonesia Literal Translation ‘ILT’). Kemudian kembali kita membaca di ayat 27 dan 32, “Akan tetapi pada tanggal sepuluh bulan yang ketujuh itu ada hari Pendamaian…Itu harus menjadi suatu sabat, hari perhentian penuh bagimu.”

Seperti yang bisa Anda lihat dengan jelas, sabat-sabat tahunan ini jatuh di hari yang berbeda setiap tahunnya, dan Tuhan dengan spesifik menjelaskan bahwa sabat-sabat ini tidak boleh disalahartikan dengan Sabat mingguan. “Maka inilah segala masa raya Tuhan, yang hendak kamu seru-serukan akan perhimpunan yang suci dan akan dipersembahkan kepada Tuhan beberapa korban api dan korban bakaran dan persembahan makanan dan korban sembelihan dan persembahan minuman, masing-masing pada harinya. (Imamat 23:37 Terjemahan Lama). …BELUM TERMASUK HARI-HARI SABAT TUHAN…” (Imamat 23:38 Terjemahan Baru)

Sekarang kita dapat mengerti apa yang dimaksudkan oleh Paulus ketika ia menulis kepada jemaat di Kolose tentang makanan, minuman dan hari sabat yang merupakan bayangan. Ada persembahan tertentu yang harus diberikan di setiap hari raya tahunan, dan semua persembahan itu adalah bayangan yang menunjuk kepada pengorbanan Yesus di masa depan. Akan tetapi Alkitab mengatakan bahwa semua itu “BELUM TERMASUK HARI-HARI SABAT TUHAN,” atau Sabat Hari Ketujuh.

Sekarang telah dipastikan hukum yang mana yang dihapuskan dan dipakukan ke kayu salib. Pada saat kematian Kristus, tabir Bait Suci yang memisahkan tempat kudus dan tempat maha kudus terbelah dua dari atas sampai ke bawah oleh tangan yang tak terlihat (Matius 27:51). Tempat maha kudus di Bait Suci menjadi terlihat oleh semua orang, dimana darah yang dipercikkan ke sana mencatat dosa semua umat Israel. Akan tetapi sudah tidak diperlukan lagi pemercikan darah; tidak ada lagi anak domba yang perlu disembelih; karena Anak Domba yang sejati telah datang untuk menggenapi semua korban di perjanjian lama yang merujuk kepadaNya. Sejak saat itu, merupakan suatu penyangkalan kepada Juruselamat jika seseorang mempersembahkan korban hewan. Itu berarti ia menyangkal bahwa Yesus merupakan penggenapan dari semua bayangan upacara. Oleh karena itu, akan jadi pertentangan bagi kita untuk terus memelihara hukum Musa.

Untuk membuat pembahasan ini lebih jelas, mari kita tanyakan satu atau dua pertanyaan sederhana. Pada hari sebelum Yesus wafat, berdosakah jika seseorang menolak untuk mengorbankan anak domba agar dosanya dihapuskan? Jawabannya, tentu saja ya. Itu adalah dosa, karena hanya itulah satu-satunya cara untuk mendapatkan pengampunan dosa. Pertanyaan berikutnya: berdosakah jika seseorang menolak untuk mengorbankan anak domba, SEHARI SETELAH YESUS WAFAT? Tidak, karena Anak Domba yang sejati telah mati, dan tirai telah terbelah dua, dan ketetapan-ketetapan hukum telah dihapuskan. Hukum upacara Musa telah dihapuskan dengan dipakukan di kayu salib. Paulus merujuk pada hukum yang sama ketika ia berbicara di Efesus 2:15, “sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya…”

Sekarang mari kita tanyakan pertanyaan lain: Pada hari sebelum Yesus wafat, apakah dosa bagi seseorang jika ia mencuri? Tanpa ragu jawabannya adalah ya. Pada hari setelah Yesus wafat, apakah dosa bagi seseorang jika ia mencuri? Jawabannya adalah ya; sama salahnya jika ia mencuri pada hari sebelum Yesus wafat. Jelas, semua penghapusan ketetapan hukum dan upacara bayangan tidak sedikit pun mempengaruhi kode moral agung yang ada dalam Sepuluh Firman—semua tetap berlaku sama seperti sebelum Kristus wafat.

Ada orang Kristen sekarang ini yang masih berkeras bahwa sabat tahunan harus dipelihara sebagaimana Sabat mingguan. Jika hal itu benar, maka hari sabat yang mana yang dihapuskan dan dipakukan di kayu salib? Dan “hari raya” apa yang disebutkan oleh Paulus telah dihapuskan sebagaimana “hari sabat” yang merupakan bayangan di Kolose 2:16? Kata Yunani untuk “hari raya” adalah heorte, yang juga digunakan untuk salah satu dari hari-hari raya tahunan bangsa Yahudi: “Sesudah itu ada hari raya (heorte) orang Yahudi, dan Yesus berangkat ke Yerusalem.” (Yohanes 5:1). Tidak diragukan lagi, ini adalah salah satu hari raya yang disebutkan oleh Paulus telah dihapuskan. Sebaliknya, Sabat mingguan tidak pernah disebut sebagai “hari raya”dan juga tidak pernah dikaitkan dengan orang Yahudi dengan menyebutnya “sabat orang Yahudi”. Sabat mingguan hanya disebut sebagai “hari sabat Tuhan”.

Sangat menarik untuk diperhatikan bahwa beberapa komentator alkitab terkenal (termasuk Adam Clarke dan Albert Barness) sepakat bahwa dalam Kolose pasal 2 Paulus tidak sedang membicarakan Sepuluh Firman yang dihapuskan di kayu salib. Dwight L. Moody, Dr. C. I. Schofield dan Billy Graham juga dengan teguh menegaskan bahwa hukum yang dihapuskan adalah hukum upacara.

SEPULUH FIRMAN DI SURGA

Mungkin pada titik ini kita akan bertanya, apa pentingnya loh batu yang berisi hukum Allah ditempatkan di dalam tabut perjanjian? Ketahuilah bahwa tempat dimana tabut perjanjian berada merupakan tempat paling kudus di muka bumi karena itu menggambarkan takhta Allah. Tuhan berkata, “Dan di sanalah Aku akan bertemu dengan engkau dan dari atas tutup pendamaian itu, dari antara kedua kerub,”Keluaran 25:22. Di bawah kemuliaan shekinah yang melambangkan kehadiran Tuhan, terletak hukum kudus yang mendefinisikan dosa. Dan dari Alkitab, kita tahu bahwa di situlah Yesus, Imam Besar kita, melakukan pengantaraan untuk pendamaian dosa.

Kemah suci yang di bumi dibuat Musa berdasarkan pola Bait Suci yang ia lihat di surga. Seluruh pelayanan keimamatan di sana merupakan bayangan dari pekerjaan Yesus, Imam Besar yang sejati, di tempat kudus dan tempat maha kudus Bait Suci surgawi. “Sebab Kristus bukan masuk ke dalam tempat kudus buatan tangan manusia yang hanya merupakan gambaran saja dari yang sebenarnya, tetapi ke dalam sorga sendiri untuk menghadap hadirat Allah guna kepentingan kita.”(Ibrani 9:24). Rasul Yohanes melihat Bait Suci surgawi dimana Kristus kini melayani sebagai Imam Besar untuk membuat pendamaian dosa. Apakah arti dosa? “Dosa ialah pelanggaran hukum Allah.” (1 Yohanes 3:4). Hukum yang mana? Yohanes memberikan jawabannya di Wahyu 11:19, “…terbukalah Bait Suci Allah yang di sorga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu..”

Pikirkan ini sejenak! Bait Suci di surga itu benar-benar ada, dan Bait Suci di perjanjian lama dibuat menyerupai gambaran yang di surga. Di Bait Suci surgawi ada Imam yang sejati, pengantaraan yang sebenarnya, dan DI DALAM TABUT PERJANJIAN, terdapat Sepuluh Firman. Tapi coba pikirkan jika skenario mengejutkan ini terjadi—JIKA HUKUM DI DALAM TABUT PERJANJIAN ITU DIBATALKAN DI KAYU SALIB, MAKA KRISTUS SEKARANG SEDANG MEMBUAT PENGANTARAAN PELANGGARAN TERHADAP HUKUM YANG SUDAH TIDAK BERLAKU! Ingat bahwa Yohanes sedang melihat peristiwa di surga yang terjadi jauh setelah penyaliban. Dan Bait Suci surgawi masih ada di surga hingga hari ini! Di ruang takhta Tuhan, di atas tutup pendamaian, dimana darahNya kini dipercikkan untuk penghapusan dosa. Dosa tetaplah dosa seperti definisinya sebelumnya, dan Kristus sedang melakukan pengantaraan dengan darahnya untuk menghapus dosa. Tidak heran tutup pendamaian diletakkan tepat di atas hukum yang telah dilanggar. Memindahkan tabut perjanjian yang berisi hukum Tuhan berarti memindahkan fondasi takhta Tuhan, pemerintahanNya. Itu juga berarti Anda telah menghilangkan hukum yang mendefinisikan dosa dan yang mana lewat hukum itu pula seseorang dihakimi. Jika tidak ada hukum, maka tidak ada pelanggaran, sehingga tidak diperlukan pengantaraan dari Juruselamat.

Dengan mengetahui bahwa takhta Allah di Bait Suci surgawi berada di atas tabut perjanjian yang berisi Sepuluh Firman, maka tidak ada keraguan lagi terhadap bahwa Sepuluh Firman masih berlaku. Kenyataannya, semua manusia akan dihakimi berdasarkan kode hukum kekal yang membentuk fondasi pemerintahan Tuhan. Yakobus menulis, “Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya. Sebab Ia yang mengatakan: “Jangan berzinah”, Ia mengatakan juga: “Jangan membunuh”. Jadi jika kamu tidak berzinah tetapi membunuh, maka kamu menjadi pelanggar hukum juga. Berkatalah dan berlakulah seperti orang-orang yang akan dihakimi oleh hukum yang memerdekakan orang.” (Yakobus 2:10-12).

Jangan coba melewatkan kebenaran besar yang terdapat di Yakobus 2:10-12. Dengan hukum inilah kita akan dihakimi! Hukum yang manakah itu? Yakobus dengan jelas memaparkannya. Ia mengutip 2 hukum dari Sepuluh Firman. Tapi perhatikan bahwa hukum itu merupakan satu kesatuan. Ia menyatakan bahwa kita bertanggung jawab untuk menuruti “seluruh hukum itu”. Ada berapa banyak perintah yang terkandung di dalam “seluruh hukum itu”? Ada sepuluh perintah di dalamnya! Apa yang terjadi jika kita melanggar salah satu dari sepuluh hukum? Yakobus menjawab, “pelanggar hukum”. Dan itulah apa yang disebut dengan dosa di dalam Alkitab. “Dosa ialah pelanggaran hukum Allah”.

Mengapa Yesus datang? “engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”(Matius 1:21). Perhatikan bahwa Yesus datang untuk menyelamatkan kita dari melanggar hukum, akan tetapi, “…jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara kepada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil.” (1 Yohanes 2:1). Lewat ayat ini kita memiliki gambaran tentang Imam Besar kita, Pembela kita, yang membuat pengantaraan dengan darahNya di Bait Suci surgawi di hadapan takhta Bapa bagi mereka yang melanggar hukumNya. Di manakah takhta itu terletak? Di atas tabut perjanjian yang berisi Sepuluh Firman yang dikatakan oleh Yakobus bahwa semua orang “akan dihakimi hukum yang memerdekakan orang”.

Ada argumen yang mengatakan bahwa Kesepuluh Firman telah dihapuskan di kayu salib, kemudian sembilan dari sepuluh hukum itu dipulihkan kembali di Perjanjian Baru. Apakah argumen tersebut benar? Ini adalah pendapat buatan manusia yang menipu untuk menghindari hukum ke-4. Tidak ada orang Kristen yang pernah merasa keberatan terhadap sembilan hukum lainnya. Mengapa mereka ingin menyingkirkan hukum ke-4? Alasannya adalah karena mereka melanggar hukum ke-4 dan tidak mau percaya bahwa mereka akan dihukum oleh karena pelanggaran tersebut. Bisakah mereka meniadakan Sepuluh Firman lalu mengembalikan sembilan di antaranya? Kita sudah membuktikan lewat Alkitab bahwa hanya hukum Musa yang ditiadakan, bukan Sepuluh Firman. Lebih jauh lagi, Yakobus telah menyatakan bahwa keseluruhan hukum itu masih mengikat, dan melanggar satu di antaranya adalah dosa. Bagaimana mungkin seseorang mengambil hukum ke-4 dari Sepuluh Firman dan kemudian masih menyebutnya “seluruh hukum”?

Dan secara kebetulan, hukum “sabat” disebut di perjanjian baru lebih sering daripada 9 hukum lainnya. Ini bisa dikaitkan dengan fakta bahwa tampaknya Tuhan telah memilih hukum ke-4 untuk menjadi ujian terbesar di antara hukum-hukumNya. Dalam Keluaran 16, Ia menggunakan Sabat hari Ketujuh untuk mencobai bangsa Israel, untuk melihat apakah mereka hidup menurut hukumNya atau tidak. (Keluaran 16:4)

Adakah alasan untuk percaya bahwa hukum Sabat memiliki kualitas untuk menjadi suatu ujian, yang tidak ditemukan di 9 hukum lainnya? Ini adalah pertanyaan menarik untuk didalami. Pertama, hukum ke-4 diawali dengan kata yang berbeda dengan hukum-hukum lainnya. Hukum ke-4 dimulai dengan kata ‘Ingatlah’ gantinya ‘jangan’. Kedua, hukum ke-4 dapat dilanggar tanpa menyebabkan rasa bersalah bagi orang yang melanggarnya sebelum mengetahui kebenarannya. Seseorang mungkin tidak mau mencuri karena takut masuk penjara, dan tidak mau berzinah karena takut dibunuh oleh pasangannya yang murka. Faktanya, adalah ilegal untuk melanggar beberapa perintah dari Sepuluh Firman, sehingga manusia mungkin akan menaatinya agar terhindar dari dampak negatif pelanggaran. TAPI PERTIMBANGKAN INI: DI DUNIA KITA SEKARANG INI, HUKUM KEEMPAT MENJADI TANDA BAGI MEREKA YANG MENAATINYA! Faktanya, satu-satunya alasan mengapa seseorang memilih untuk menaatinya adalah karena kasih mereka kepada Kristus sehingga mereka lebih memilih mengikuti kehendakNya daripada kehendak mereka sendiri. Oleh karena itu, hukum keempat lah yang akan menjadi ujian khusus untuk membuktikan kasih sejati kepada Kristus.

BUKTI BAHWA SABAT MASIH BERLAKU

Meskipun ada banyak bukti bahwa Sepuluh Firman termasuk juga Sabat dipelihara oleh Gereja di Perjanjian Baru, tapi saya memilih untuk fokus ke satu bagian di alkitab yang sering terlewatkan dan disalahartikan. Bagian itu adalah Ibrani 4, dan mungkin inilah satu referensi yang paling meyakinkan untuk pemeliharaan Sabat yang ada di alkitab.

Untuk sedikit latar belakang, kita perlu menyelidiki gambaran besar di balik seluruh kitab Ibrani. Penulis surat ini menunjukkan berapa banyak bagian dari perjanjian lama yang kini sudah tak berlaku lagi. Kita hampir dapat merasakan kegundahan orang Kristen Yahudi ketika Paulus menjelaskan kepada mereka bahwa sistem pengorbanan sudah dihapuskan, karena telah digenapi dalam Kristus. Keimamatan Lewi telah disingkirkan, digantikan oleh Kristus sebagai Imam Besar kita. Dengan khawatir mereka menunggu untuk mendengar apakah Paulus akan mengatakan bahwa Sabat juga sudah ditiadakan? Jika demikian, mereka pasti sangat lega ketika Paulus menuliskan kata-kata ini,”Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah.” (Ibrani 4:9).

Konteks dari Ibrani pasal 3 dan 4 tidak mengindikasikan bahwa Paulus berusaha meyakinkan orang Kristen Yahudi hari yang mana yang harus dikuduskan. Mereka sudah mengetahuinya. Beban besar bagi Paulus adalah untuk meyakinkan mereka agar memasuki hubungan rohani dengan Kristus—untuk memiliki pengalaman perhentian dari melakukan pekerjaan dosa. Paulus membuktikan bahwa bangsa Israel tidak menemukan perhentian sejati karena mereka kurang iman dan tidak taat ketika mengembara di padang gurun. Meskipun kata Yunani untuk perhentian, KATAPAUSIS berarti “berhenti dari pekerjaan,” konteks dari kalimat ini menandakan bahwa Paulus sebenarnya sedang berbicara mengenai menemukan perhentian rohani dalam hidup.

Namun demikian, pasal 3 dan 4 dari kitab Ibrani jelas mengaitkan perhentian rohani dengan pemeliharaan Sabat hari Ketujuh yang dimulai dan diperintahkan oleh Tuhan sejak awal penciptaan. Jika tidak demikian, Ibrani 4:4 tidak akan dikutip langsung dari Kejadian 2:2, “Sebab tentang hari ketujuh pernah dikatakan di dalam suatu nas: “Dan Allah berhenti pada hari ketujuh dari segala pekerjaan-Nya.”

Alasan mengapa Paulus mengutip Tuhan berhenti pada hari Sabat dari pekerjaan penciptaanNya dapat diungkapkan jika kita menganalisa ayat 9 dan 10. Paulus mengatakan bahwa yang masih tetap ada untuk umat Tuhan bukanlah KATAPAUSIS (perhentian rohani), melainkan SABBATISMAS, yang berarti pemeliharaan literal hari Sabat. Kemudian di ayat 10 kita menemukan kunci sebenarnya yang menjawab pertanyaan bahwa perhentian SABBATISMAS bukan sekedar perkara rohani, akan tetapi perhentian sesungguhnya dari pekerjaan fisik. “Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya (KATAPAUSIS), ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya (sebagai tambahan dari istirahat rohani), SAMA SEPERTI ALLAH BERHENTI DARI PEKERJAAN-NYA.” (Ibrani 4:10).

Pertanyaan besar sehubungan ayat ini adalah: pekerjaan yang manakah yang berhenti dilakukan? Apakah pekerjaan dosa? Atau pekerjaan untuk mendapatkan keselamatan? Atau apakah itu pekerjaan fisik yang berhenti kita lakukan ketika hari Sabat? Jawabannya dengan jelas didapat dari kalimat “SAMA SEPERTI ALLAH BERHENTI DARI PEKERJAAN-NYA.” Kembalilah ke ayat 4 dan kita akan mulai mengerti mengapa kutipan ayat dari kitab Kejadian ini dimasukkan ke dalam tulisan Paulus. Adalah penting untuk mengetahui pekerjaan mana yang Tuhan hentikan. Tuhan berhenti dari pekerjaan fisik menciptakan pada hari ketujuh, dan kita juga diperingatkan untuk berhenti dari pekerjaan fisik juga, sama seperti Tuhan berhenti dari pekerjaanNya. Tuhan tidak hanya memasuki perhentian rohani pada hari ketujuh. Jika kita menyimpulkan demikian, maka berarti Tuhan tidak melakukan perhentian rohani pada 6 hari sebelumnya. Faktanya adalah Tuhan selalu ada dalam perhentian rohani. Dan Ia juga tidak pernah berbuat dosa sehingga harus berhenti dari itu. Ia hanya berhenti pada hari ketujuh dari pekerjaan penciptaan, dan lewat Paulus kita diberi tahu bahwa mereka yang betul-betul telah menerima perhentian rohani dari keselamatan juga akan berhenti dari pekerjaan fisik mereka pada hari Sabat, SAMA SEPERTI ALLAH BERHENTI DARI PEKERJAAN-NYA.

Tidakkah Anda melihat bagaimana hal ini memberikan dimensi spiritual baru sehubungan pemeliharaan Sabat? Memelihara Sabat mematrikan pengalaman keselamatan pribadi kita. Sabat menjadi peringatan mingguan terhadap perhentian berkelanjutan dari dosa yang kita peroleh melalui Kristus. Tidak heran Sabat “masih tersedia” bagi umat Allah! Pencipta kita telah menjadikan Sabat sebagai lambang berkat rohani terindah yang tersedia bagi keluarga manusia.

Kita dapat mengerti mengapa Tuhan melakukan ini ketika kita berhenti sejenak untuk memikirkan hubungan pemeliharaan Sabat dengan pengalaman keselamatan. Apa yang membuat hari Sabat kudus? Dalam Yesaya 58:13 Tuhan menyebutkan hari Sabat “hari kudusKu” dan “hari kenikmatan”. Dengarkan! Hadirat Tuhan lah yang membuat sesuatu menjadi kudus. (Ingat semak-semak yang terbakar di peristiwa Musa bertemu Tuhan?). Hadirat Tuhan di hari Sabat adalah sama seperti kehadiranNya yang ditunjukkan di hidup seorang Kristen sejati. Jadi pemeliharaan Sabat yang benar dapat menjadi peringatan keselamatan sejati dalam Kristus.

Bukan suatu kebetulan bahwa kata Ibrani yang sama, CHASID, digunakan dalam Yesaya 58:13 untuk mendeskripsikan bahwa Sabat (hari KUDUS Ku) dan juga dalam Imamat 19:2 untuk mendeskripsikan umat Tuhan (KUDUSLAH kamu). Tuhan hadir di hari Sabat, dan Ia hadir di tengah-tengah umatNya sebagai pengaruh yang menguduskan, sehingga Sabat dan umat Tuhan disebut “kudus”. Inilah mengapat Tuhan membuat Sabat, sejak awal dunia, sebagai tanda pengudusan. “Hari-hari Sabat-Ku juga Kuberikan kepada mereka menjadi peringatan di antara Aku dan mereka, supaya mereka mengetahui bahwa Akulah TUHAN, yang menguduskan mereka.” (Yehezkiel 20:12).

Agar tidak ada orang yang mengemukakan argumen bahwa hari Sabat hanyalah tanda kekudusan bagi bangsa Israel, saya akan mengangkat ayat ini: “Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.” (Galatia 3:29). Semua orang Kristen yang sudah terlahir kembali adalah Israel Sejati, dan mereka sudah dikuduskan untuk Tuhan. Oleh karena itu, Sabat adalah untuk mereka.

Tanda pengudusan telah ditegaskan kembali di Perjanjian Baru oleh pernyataan dramatis Paulus di Ibrani 4:9,10 bahwa pemeliharaan Sabat masih tersedia untuk umat Allah. Karena kita telah memasuki perhentian rohani keselamatanNya (“Kuduslah kamu”), Paulus juga menyatakan bahwa kita JUGA harus beristirahat dari pekerjaan kita di hari kudusNya, “SAMA SEPERTI ALLAH BERHENTI DARI PEKERJAAN-NYA.”

Seseorang mungkin akan mengatakan bahwa setelah kita memasuki perhentian rohani, maka kita sudah tidak perlu lagi memperingatinya dengan memelihara hari Sabat secara fisik. Akan tetapi jika pendapat itu benar, maka kita juga harus berhenti melakukan baptisan air. Diselamkan dalam air melambangkan kematian kita terhadap dosa. Kita mengalami pertobatan SEBELUM memasuki air untuk dibaptis. Jika peringatan secara fisik sudah tidak perlu hanya karena kita sudah mengalami pengalaman itu secara rohani, maka kita harus meninggalkan tradisi fisik.

Lebih jauh, kita juga akan harus meninggalkan perayaan perjamuan kudus. Perjamuan kudus juga mematrikan pengalaman hati ketika seseorang menerima pengorbanan Tuhan kita dengan iman. Tetapi haruskah kita meninggalkan pemeliharaan fisik komuni hanya karena kita telah memasuki sukacita rohani yang dilambangkan oleh perjamuan kudus? Tentu saja tidak! Lalu mengapa ada orang yang mengatakan bahwa hari Sabat seharusnya sudah tidak dipelihara lagi hanya karena hari Sabat digunakan sebagai peringatan persatuan dengan Kristus? Paulus mengatakan bahwa MASIH TERSEDIA perhentian Sabat untuk umat Allah. Dalam buku Commentary On the Whole Bible (Uraian tentang Seluruh Alkitab), Jamieson, Fausset dan Brown memberikan uraian ini untuk Ibrani 4:9,”Ayat ini secara tidak langsung menetapkan bahwa kewajiban untuk memelihara hari Sabat masih berlaku.” (hlm. 449). Sangat menarik bahwa sarjana-sarjana teologi yang memelihara hari Minggu ini, dengan bahasa kepercayaan tertinggi, membuat pernyataan demikian. Hubungan antara perhentian rohani keselamatan dan pemeliharaan Sabat secara fisik tidak terbantahkan dalam konteksnya.

Jadi bagaimana kita merangkum seluruh penemuan kita tentang dua hukum di alkitab? Jelas sudah ditetapkan bahwa Sepuluh Firman berada dalam kategori berbeda dengan hukum Musa yang berisi ketentuan-ketentuan hukum yang hanya sementara. Kode moral Sepuluh Firman, diletakkan di dalam tabut perjanjian, dan sebagaimana perabotan Kemah Suci yang lain, adalah pola tiruan dari Bait Suci surgawi. Ini tidak hanya diulangi dan dikuatkan di Perjanjian Baru tapi juga dilihat oleh Yohanes dalam penglihatannya, dimana hukum itu terletak di bawah tutup pendamaian di bait suci surgawi, dimana Kristus melayani dengan darahNya untuk pelanggaran terhadap hukum yang kudus. Dari posisi paling mendasar, Sepuluh Firman menjadi basis bagi pengantaraan Kristus untuk kita di ruang takhta di surga. Sehingga Sepuluh Firman ditentukan sebagai perintah Tuhan yang paling tidak tergoyahkan dan tidak bisa diubah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *