PERTAHANAN YANG KUAT MELAWAN PENCOBAAN

Renungan Harian

Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai. Ibr. 2:18.

Penebus kita mengerti benar kebutuhan manusia. Ia yang menurunkan martabat-Nya mengambil sifat manusia kepada diri-Nya untuk mengenal kelemahan manusia. Kristus hidup sebagai teladan bagi kita. Ia telah dicobai dalam segala hal seperti kita, agar Ia mengetahui bagaimana menolong semua yang dicobai. Ia telah melalui jalan kehidupan di hadapan kita dan menanggung ujian-ujian yang paling berat demi kita. Ia adalah manusia yang berdukacita dan yang biasa dengan kesedihan. . . .

Kristus mengambil kepada diri-Nya kelemahan-kelemahan kita, dan dalam kelemahan manusia Ia perlu meminta pertolongan dari Bapa-Nya. Ia sering berdoa dengan sungguh-sungguh, di semak-semak, di tepi danau dan di bukit-bukit. Ia telah menyuruh kita untuk berjaga dan berdoa. . . . Tanpa kesadaran perlunya pertolongan dari Tuhan, tidak akan ada doa yang sungguh-sungguh, yang datang dari lubuk hati memohon pertolongan Ilahi. Hati kita adalah penipu, musuh kita banyak dan siap siaga. Jikalau kita lalai untuk memperkuat salah satu titik lemah dalam tabiat kita, Setan akan menyerang kita dari titik lemah itu dengan pencobaan-pencobaannya. Ia senantiasa merencanakan kebinasaan jiwa-jiwa dan akan memanfaatkan setiap kelalaian keamanan kita.

Kristus datang ke dunia kita untuk ikut terlibat dalam pertempuran yang dilakukan-Nya sendiri melawan musuh manusia, dan dengan demikian merampas manusia itu dari genggaman Setan. Untuk mencapai tujuan ini Ia tidak menyayangkan nyawa-Nya sendiri. Dan sekarang, dalam kekuatan yang akan diberikan oleh Kristus, manusia harus berdiri sebagai penjaga yang setia melawan musuh yang licik. Kata rasul, “Berjalanlah dengan berhati-hati” — jagalah setiap jalan menuju jiwa, senantiasa memandang kepada Yesus, Teladan yang benar dan sempurna, dan berusahalah meniru teladan-Nya, tidak semata-mata hanya pada satu atau dua hal, tetapi dalam segala hal. Dengan demikian kita akan siap menghadapi segala keadaan darurat. . . . Ia yang pikirannya senang tinggal bersama Tuhan mempunyai pertahanan yang kuat. Ia akan segera mengetahui bahaya yang mengancam kehidupan rohaninya, dan perasaan bahaya akan menuntunnya untuk meminta pertolongan dan perlindungan dari Tuhan.

Inilah Hidup yang Kekal Hal. 239

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *