AGUSTINUS DAN PESAN KEBENARAN – BAGIAN 2

Renungan Harian
Mari bagikan artikel ini

cahaya penuh kepastian

Saat itu ia sedang berada di sebuah taman di samping rumah tempat tinggalnya. Temannya, Alypius, sedang duduk di bangku dekatnya, di mana Agustinus meninggalkan sebuah salinan surat Paulus kepada jemaat di Roma. “Saya mengambilnya,” tulisnya, “membukanya, dan dalam keheningan membaca paragraf yang pertama kali membuat mata saya tertuju…”

“Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.” (Roma 13:13, 14).

Setelah membaca ayat tersebut, Agustinus mengenang, “Di dalam hati saya tertanam sesuatu seperti cahaya yang penuh kepastian dan semua kegelapan keraguan lenyap.” Ia menutup buku dan membagikan pengalamannya kepada Alypius yang, pada gilirannya, membaca ayat berikutnya, “Terimalah orang yang lemah dalam iman…” (Roma 14:1). Bersama-sama, kedua orang itu membuat “komitmen penuh tanpa keraguan.”

doa ibu

Agustinus kemudian masuk ke dalam rumah untuk memberi tahu ibunya, yang saat itu tinggal bersama mereka, tentang apa yang terjadi. Ia menulis bahwa “ia melompat kegirangan penuh sukacita” dan memberkati putranya.

Ia mengulangi janji Alkitab bahwa Allah “dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita.” (Efesus 3:20). Allah telah mengubah “kesedihannya menjadi sukacita yang berlimpah-limpah, melebihi apa yang ia inginkan.”

Penulis Kristen Ellen White membuat catatan ini: “Ibu dari Agustinus berdoa untuk pertobatan putranya. Ia tidak melihat bukti bahwa Roh Allah sedang mempengaruhi hatinya, tetapi ia tidak patah semangat. Ia meletakkan jarinya di atas teks-teks itu, mempersembahkan di hadapan Allah kata-katanya sendiri, dan memohon seperti yang hanya dapat dilakukan oleh seorang ibu. Kerendahan hatinya yang dalam, kesungguhannya yang besar, imannya yang tak tergoyahkan, menang, dan Tuhan memberinya keinginan hatinya. Hari ini ia sama siapnya untuk mendengarkan permohonan umatnya” (Pendidikan Kristen, hal. 236).

Renungkan: Sudahkah Anda berdoa dengan sungguh-sungguh dan dalam waktu yang lama agar orang yang Anda kasihi berbalik kepada Allah? Jangan pernah menyerah. Bertekunlah dalam doa dengan iman yang teguh dan saksikanlah bagaimana Allah bekerja dengan cara-cara yang dahsyat.

Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita. Efesus 3:20.


Mari bagikan artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *