Kesepian Dalam Keramaian

KESEPIAN DALAM KERAMAIAN

Bank Pustaka

BK-ATCOleh Joe Crews

Sendiri di dalam kumpulan mayoritas

Pada setiap proses penggantian kulit, fenomena lain yang menarik terjadi. Dalam menanggapi beberapa naluri primitif setiap udang sengaja menempatkan sebutir pasir di tempat khusus di kepalanya. Pada setiap siklus penggantian kulit batu kecil dibuang bersama dengan kulit tua, dan butiran pasir yang baru diletakkan dengan hati-hati pada tempatnya.

Karena keunikan fungsi dari batu-batu ini, mereka telah dinamakan “batu-batu status” atau batu berdiri. Batu-batu ini sangat dibutuhkan untuk kelangsungan hidup dari binatang-binatang laut yang tangguh ini. Tanpa batu-batu tersebut udang akan terus gugup dan bingung. Di tengah2 kericuhan air pasang dan arus kencang, kapal mereka terbalik. Hanya dengan perasaan tarikan gravitasi yang kecil di atas batu di bawah kepala mereka baru mereka mengetahui bahwa kapal mereka telah terbalik.

Dalam kasihNya yang besar dan kebijaksanaan, Allah menyediakan mekanisme ini untuk menyanggupkan udang yang lemah agar tetap menjaga keseimbangan yang bermartabat di tengah2 elemen2 bergejolak di habitatnya itu.

Sebab sudah jelas bahwa tidak ada udang yang menceritakan fakta-fakta ini kepada saya, anda mungkin bertanya-tanya bagaimana informasi menakjubkan ini terungkap. Beberapa tahun yang lalu seorang ahli biologi kelautan melakukan percobaan pada beberapa udang yang telah ditempatkan di akuarium besar. Di bagian bawah aquarium ilmuwan menempatkan kerangka baja

Kemudian ahli biologi membawa elektromagnet kuat dan meletakkannya di atas akuarium. Segera semua udang  terbolak balik  dan mulai berenang di sekitar dalam posisi terbalik. Tarikan magnet pada sepotong baja lebih kuat dari tarikan gravitasi, dan mereka yakin sedang terombang ambing . Untuk membuat percobaan lebih dramatis ilmuwan kemudian membawa udang dari laut dan ditempatkan di akuarium. Secara alami, pendatang baru ini pada saat kejadian itu mendayung dalam posisi tegak yang tepat.

Tidak bisa Anda bayangkan kekhawatiran yang mungkin diprovokasi oleh penampilan eksentrik ini di dalam tangki? Tampaknya sangat mungkin bahwa beberapa bisikan jahat mulai beredar dalam air yang tergoncang itu. “Siapa yang dipikirkan oleh makhluk aneh ini mengenai dirinya? Siapa yang dia coba kesankan? Apakah makhluk aneh ini membayangkan bahwa ia akan menunjukkan kepada kita cara yang lebih baik untuk berenang? Mengapa ia melakukannya terbalik?”

Anda lihat, bahwa baja-in-the-head, salah arah kerumunan tidak memiliki firasat bahwa pengunjung baru-baru ini benar-benar satu-satunya udang yang berenang dengan benar. Mereka selalu bergantung pada dua hal untuk membuktikan mereka benar-side up-mereka perasaan, dan apa yang mayoritas di sekitar mereka lakukan. Tapi sekarang bahwa batu statusnya telah dirusak, mereka tertipu menjadi percaya kebohongan pada kedua dihitung.

 

Mengikuti Perasaan atau Mengikuti Mayoritas.

Lebih banyak saya berfikir tentang cerita itu, lebih lagi saya sadar bahwa semua kita ada di dalam akuarium selagi kita menjalani kehidupan kita di dunia ini. Magnet2 kuat cobaan ada di sekitar kita untuk mencoba menggangu keseimbangan spiritual kita dan menerbalikkan kita. Mereka yang percaya dengan perasaan dan opini mayoritas sangat mudah celaka dengan atraksi kuat dari luar. Merasa nyaman akan banyaknya orang di sekitar mereka yang melakukan hal yang sama, mereka segera mulai melihat semuanya dari sisi penglihatan mereka yang rusak. Mereka memundurkan semua sinyal2 untuk bisa membacanya dengan lebih baik, dan menumbuhkan rasa kepastian yang kuat bahwa mereka itu seimbang dan benar, selagi semua orang yang berbeda dari mereka adalah salah. Akhirnya mereka melihat salah sebagai benar dan benar sebagai salah. Siapa saja yang berbeda dalam pendapat dengan mereka secara instan dilabel sebagai fanatic atau seseorang kritis pembuat masalah.

Ini menonjolkan satu kebenaran yang sangat penting: kita tidak bisa mengetahui dengan semata apa yang benar dan salah dengan perasaan kita atau  dengan apapun yang dilakukan mayoritas. Kita membutuhkan sesuatu di luar dari kita sendiri untuk memberitahu kita apa yang benar. Dorongan hati kita mungkin sangat nyata seperti tarikan magnet, tapi bisa juga menyesatkan. Teman2 kita yang banyak mungkin adalah sekelompok orang2 yang paling dihormati dan beragama tetapi batu status mereka bisa saja di hubungkan ke sistem petunjuk yang salah, dengan lihainya di sabotase oleh si musuh.

Hanya ada satu batu  status yang benar dan terpercaya untuk orang2 Kristen, yaitu Alkitab. Pada saat firman diletakkan di dalam pikiran, itu akan memberikan standard kebenaran yang selalu bisa dihandalkan. Segala dorongan perasaan hati harus di uji coba dengan firman itu. Gaya hidup total, termasuk kata2, tingkah laku, dan pikiran harus di arahkan di bawah satu pusat control pengarahan yang agung. Bukanlah berlebihan untuk mengatakan bahwa semua penyimpangan dari perintah Tuhan adalah karena mengikuti kata hati atau mengikuti mayoritas.

Sangatlah penting bagi kita untuk mempelajari dua senjata yang sangat kuat ini yang Setan pergunakan dengan keahliannya yang licik. Keduanya berakar di dalam kebutuhan psikologis manusia yang terdalam. Kita sering melupakan suatu fakta bahwa musuh spiritual kita telah mempelajari sifat manusia selama hampir 6000 tahun – jauh lebih lama daripada psikolog yang paling sukses zaman sekarang. Dia juga telah bereksperimen dengan kelemahan emosi kita, menggunakannya untuk mengeksploitasi kita di saat keadaan kita paling lemah.

Berapa banyak yang telah terperangkap dengan alat alat manipulatifnya? Sekilas observasi yang jelas akan masyarakat kita yang cenderung mengikuti keinginan daging akan menyediakan kita jawabannya. Yesus melihat itu jauh sebelum hal itu terjadi dan mencoba untuk memperingatkan pengikut2nya dan kita tentang kekuatan dari serangan2 ini. Dia mengatakan, “Karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Matius 7:14).

Dalam kesempatan yang lainnya sang Guru menanyakan pertanyaan yang penting ini, “Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” (Lukas 18:8). Di ceramah yang sama Ia mengatakan, “Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulallah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia” (Lukas 17:26).

Yang pastinya hanya sebagian kecil dari penduduk bumi yang akan luput dari penipuan yang luar biasa dari hari2 akhir dan diselamatkan. Orang orang yang sisa, seperti biasanya, akan lebih perhatian dengan berperilaku yang benar daripada memuaskan diri sendiri, suatu kelompok, atau individu2 yang lain. Catatan sejarah hampir selalu menuliskan cerita tentang satu grup minoritas yang berani menolak kenyamanan untuk bergabung dengan orang banyak. Grup mayoritas tidak akan menghabiskan waktunya mencari kebenaran; mereka menginginkan suatu agama yang nyaman, lancer, dan mudah yang memperbolehkan mereka untuk hidup sesuai yang mereka mau. Untuk mereka doktrin apapun yang mengajarkan penyangkalan diri atau hidup disiplin adalah berita buruk.

 

Apakah mudah untuk memberitakan kebenaran?

Tanpa ragu, inilah alasan mengapa di kebanyakan gereja sekarang, firman yang diberitakan “berat sebelah”. Tidak ada pelayan Tuhan yang enggan untuk mengumandangkan kebenaran penting tentang pemberian kasih karunia yang membutuhkan hanya iman dan penerimaan. Tapi ada bagian lain dari firman yang terdiri dari buah buah dan perbuatan baik. Namanya adalah pengudusan. Ini membicarakan tentang kepatuhan dan mengikuti contoh Kristus di setiap situasi hidup. Aspek kebenaran lewat iman inilah yang sangat tidak terkenal dengan orang banyak sekarang, karena meminta perilaku dan ketaatan.

Apakah beberapa pengkhotbah takut untuk memberitakan kebenaran ini karena tidak mau ditolak atau dihina? Apakah keberanian mereka hilang saat melihat pelayan pelayan Tuhan yang lain diserang sebagai legalistis dan menghakimi? Kamu mungkin menjawab pertanyaan itu dengan basis observasi dirimu sendiri. Cerita tentang nabi Nuh memberikan bukti yang kuat bahwa tidaklah mudah memberitahukannya persis seperti yang sebenarnya. Tidak ada yang akan menerima tugas Nabi Nuh.

Apakah lebih mudah untuk berdiri di hadapan orang2 berdosa dari berbagai warna dan keragaman dan menyampaikan kata2 ultimatum Yesus, “Pergi dan janganlah lagi berdosa?” Sebagai ambassador untuk Tuhan, saya bisa mengatakan bahwa ada cobaan yang besar untuk merasa kasihan untuk orang orang seperti penyandung narkoba, pemabok dan pelacur, dan menurunkan syarat syarat untuk meninggalkan perbuatan berdosa. Kita tidak mau mempersusah mereka. Kita tidak mau mematahkan semangat mereka dengan memberitahu bahwa mereka harus merubah gaya hidup mereka. Paling tidak, tidak seketika itu juga. Bagaimanapun caranya kita mau tetap mengakomodasikan naluri badani sedikit saja untuk membuat agama lebih nyaman untuk mereka.

Pertanyaan: Apakah ada agama yang benar yang menyokong perbuatan berdosa dalam kadar apapun? Apakah ada satu kalimat di seluruh Alkitab yang menyatakan pemikiran bahwa kita hanya boleh mengurangi jumlah dosa yang kita lakukan? Bisakah berkat Kristus yang membenarkan dan mengubah menutupi perbuatan berdosa apapun? Paul berkata: “Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh, dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging: karena keduanya bertentangan: sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki” (Galatia 5:17).

Apabila kalimat itu tidak cukup kuat untuk permasalahan ini, baca kalimat para rasul di Roma 8:13, “Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.” Itu dia! Kita bisa melakukan yang satu atau yang lain, tetapi kita tidak bisa melakukan keduanya dalam waktu yang bersamaan. Kita hanya bisa memilih untuk hidup menurut daging atau menurut Roh. Paul berkata “Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh.” Itu cukup jelas. Tidak akan bisa ada pembagian otoritas di antara dua kekuatan ini. Kita harus mengubur perbuatan dari tubuh atau mengakomodasi mereka. Apa yang akan dipilih? Tidak bisa dua2nya.

Tetapi mari kita kembali ke poin kita tentang mengikuti orang banyak. Kita telah menemukan bahwa mayoritas itu biasanya salah, dan mereka tidak mau diperingatkan akan dosa dosa mereka. Kita juga telah memikirkan betapa susahnya untuk memberitahu orang banyak betapa salahnya mereka. Sekarang saat yang tepat untuk membaca firman Yesus, “Lalu Ia berkata kepada mereka: “Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah.” (Lukas 16:15).

 

Bahaya “Sangat Dihormati”

Kalimat terakhir mengandung prinsip yang berharga untuk kita semua pada zaman ini. Yesus mengatakannya kepada orang2 Farisi yang secara tidak malu membenarkan jalan2 mereka yang salah karena mereka mengikuti kode2 yang diterima pada zaman itu. Di dengan jelas mengindikasikan bahwa opini mayoritas akan berada di sisi yang salah dalam hampir semua pertanyaan. Dia telah menyatakan bahwa kebanyakan orang akan memasuki jalan yang lebar menuju kebinasaan. Pandangan dan perilaku mereka akan merepresentasikan mereka yang salah – mereka yang akan hilang. Tetapi orang2 yang memiliki opini itu akan berjumlah terbanyak – berlawanan dengan yang “sediki” di jalan yang sempit. Hal yang mengejutkan ialah hal hal yang “sangat di hormati” di mayoritas manusia adalah sangat buruk di penglihatan Tuhan.

Tidaklah susah untuk melihat kebenaran dari kalimat ini pada saat kita melihat kepada prinsip2 dimana masyarakat beroperasi saat ini. Apakah itu pada saat kita melihat kepada pakaian, diet, hiburan, ataupun standar edukasi, ada perbedaan yang besar di antara cara dunia dan ideal Tuhan. Kadang kadang kita bersungut sungut seperti bangsa Israel, karena kita tidak bisa menjadi seperti bangsa bangsa di sekitar kita, tetapi Tuhan telah memberikan kepada kita standar yang lebih baik dan lebih tinggi untuk diikuti.

Banyak yang terkagum kagum atas doktrin kemuliaan dengan cara perpisahan yang tersebar di Alkitab. Kenapa Tuhan melarang orang2 kunoNya untuk berbaur dan menikah dengan bangsa2 kafir? Penulis penulis perjanjian baru juga membuat panggilan berulang ulang untuk Israel spiritual untuk “keluar” dan menjadi terpisah dari sebuah sistem yang mereka panggil “dunia.” Mereka yang terpanggil dinamakan “gereja”, yang selalu berarti berlawanan dengan “dunia.” Kata asli untuk gereja datang dari dua kata Yunani, ek yang berarti “keluar dari dan kalleo yang berarti “terpanggil” – eklesia: gereja, yang terpanggil.

Mengapa Tuhan tidak memperbolehkan sebuah hubungan erat di antara pengikut2nya yang “sedikit” dengan yang “banyak” di jalan lebar? Dan mengapa kebanyakan orang memilih untuk menjadi hilang? Bagaimana Setan menarik mereka untuk mengikuti programnya? Jawaban terhadap semua pertanyaan itu juga akan menyediakan penjelasan untuk panggilan keras untuk nabi2 dan penulis2 kitab untuk memisahkan diri dari mayoritas itu.

Inilah mengapa banyak yang telah tertangkap oleh si jahat: rencana pergaulan bersahabatnya  berdasar atas sebuah hukum pikiran yang menyatakan bahwa kita secara bertahap beradaptasi kepada orang2 sepergaulan. Efek bawah sadar dari mendengar dan melihat kata2 dan gaya hidup mereka pelan2 membuat kita menerima apa yang waktu itu kita piker memuakkan. Pengaruh pembentukan dari eksposur seperti itu menghancurkan reservasi moral, dan akhirnya menuju ke sifat mendamaikan terhadap dosa.

The whole scheme is deadly because the leavening process takes place so subtly. Tidak ada signal bahaya yang diserukan. Hati nurani berbelok beberapa derajat menuju pola piker toleran. Beginilah caranya “batu status” spiritual telah dirubah. Perpindahan yang perlahan dari prinsip Alkitab ke opini mayoritas biasanya dibuat dengan conflik spiritual yang minimum karena perubahan yang bersifat bertahap.

Survey demi survey telah memperlihatkan bagaimana standard moral telah diturunkan dibawah pengaruh mematikan dari lingkungan. Tidak ada cara untuk menjadi suci selagi bergaul dekat dengan yang tidak suci. Kita tidak bisa terus mengisi pikiran dengan hal hal yang tidak baik tanpa mengalami akibatnya. Roh Tuhan terus menerus menekankan perpisahan dari keduniaan di dalam daging. Berdoa dan belajar Alkitab bahkan tidak akan terus memberikan perlindungan dari godaan untuk melihat dan mendengar hal hal yang menurun dan menghancurkan.

 

Kesalahan Besar dari Mengikuti Perasaan

Sekarang kita pastinya lebih mengerti mengapa pelajaran tentang udang itu sangat penting untuk kita pahami. Mengikuti orang banyak tidak pernah aman. Tetapi sekarang mari lihat akibat berbahaya yang kedua dari batu status yang bermasalah. Si udang percaya akan perasaan yang dihasilkan oleh tenaga dari luar yang kuat yang bekerja atas batu status itu. Jelasnya perasaan2 itu adalah tidak akurat dan tidak dapat dihandalkan karena batu itu di dalam kepalanya telah terubahkan.

Tandai baik2: tidaklah lebih aman untuk mengikuti perasaan daripada mengikuti orang banyak. Tidak peduli seaman apapun udang itu rasakan tentang tarikan magnet itu, itu menyebabkan dia untuk berbuat salah dan membodohi dirinya sendiri. Setan akan merasa senang untuk menuntun masing2 kita untuk melakukan hal yang sama. Dia telah melakukannya ke mayoritas dengan membuat mereka mempercayai “batu pendirian” yang lain selain Firman Tuhan. Menggunakan magnet kuat kelompok masyarakat yang berkilau dan mempesonakan, setan telah menciptakan perasaan2 yang menyenangkan tapi menyesatkan. Jutaan telah terpikat ke dalam perasaan keamanan yang palsu dimana mereka secara tidak masuk akal merasa terlalu percaya diri dan aman. Mereka Hampir seolah-olah terhipnotis dan menuruti keinginan pemikiran orang lain dan bukan pemikiran mereka sendiri.

Apakah hampir seluruh dunia beroperasi dibawah kondisi kesurupan yang dikarenakan kekuatan hipnotis Setan? Tidak ada yang bisa meragukan keahlian ilmuwan pikiran untuk menghasilkan suatu keadaan pikiran seperti itu di semua orang yang akan melihatnya atau mendengarkannya. Selalu ada suatu titik pertemuan yang dipakai untuk menempatkan subyek di bawah daya hypnosis. Perhatian harus difokuskan kepada suatu cahaya atau objek yang lain dan juga kata2 yang diucapkan. Tanpa perhatian penuh tidak ada yang bisa dikuasai si ahli hipnotisme itu.

Apaka Setan harus mendapatkan perhatian yang sama untuk menarik siapa saja di bawah kendalinya? Dia juga menggunakan titik pertemuan, biasanya kelemahan2 yang dimanjakan, keinginan daging, atau area godaan yang lain. Satu-satunya cara kita untuk aman dari godaan adalah untuk tidak memperbolehkan diri kita sendiri untuk menonton atau mendengar hal hal Setan yang menarik perhatian. Pada saat perasaan menjadi kriteria untuk menguji kebenaran, suatu sikap membela diri akan terciptakan. Orang orang yang paling sungguh2 sangat yakin bahwa mereka benar dan orang lain betul2 salah. Di dalam perasaan keamanan mereka yang palsu mereka menolak semua logika dan akal budi yang sehat yang berasal dari kebenaran di luar diri mereka sendiri.

Dapatkah perasaan atau suasana hati seperti itu berbahaya bagi orang Kristen? Memang, Setan menggunakan mereka untuk menghancurkan kemampuan untuk bertindak secara rasional. Misalkan Anda duduk di sebuah ruangan kecil yang tidak mempunyai ventilasi udara. Sebuah tungku pembakaran minyak telah mengkonsumsi oksigen untuk beberapa waktu. Secara bertahap Anda menjadi begitu mengantuk sehingga otak Anda hampir tidak mampu berpikir. Anda merasa seperti tidak mau bergerak dari kursi Anda. Terutama, Anda tidak merasa seperti bangun untuk membuka jendela atau pintu. Namun keinginan Anda untuk tidak bergerak adalah tanda bahaya dimana Anda harus membuat diri Anda segera bertindak untuk mendapatkan lebih banyak oksigen ke dalam ruangan atau Anda tidak akan pernah bergerak lagi.

Pernahkah Anda berada dalam suasana hati untuk tidak berdoa, atau tidak membaca Alkitab Anda? Tentu saja Anda pernah. Saya juga pernah. Haruskah kita menyerah pada perasaan itu? Dengar, doa adalah nafas jiwa seperti oksigen nafas tubuh. Suasana hati kita untuk tidak berdoa dan belajar adalah sinyal bahwa kita lebih baik membuat diri kita melakukannya dengan cepat karena kehidupan rohani kita sedang terancam. Itulah saatnya kita memaksa diri ke dalam lemari, ke atas lutut kita, dan selagi kita berdoa, keinginan spiritual mulai dating kembali. Segera doa akan dipulihkan sebagai sesuatu yang menyenangkan, memenuhi hak istimewa. Tapi asalkan kita memecahkan mantra hipnotis perangkap “perasaan” Setan dengan bertindak melawan titik kontaknya, kita ditempatkan dalam bahaya rohani yang besar. Kita harus bertindak atau ditindaklanjuti.

 

Bertindak atau Bereaksi

Hal ini membawa kita untuk realisasi fantastis dimana kita semua baik hidup berdasarkan akting atau bereaksi. Kita membuat keputusan independen kita sendiri tentang bagaimana kita akan hidup atau kita hanya akan bereaksi terhadap cara orang lain memperlakukan kita. Dalam kasus terakhir kita mengubah arah hidup kita kepada orang lain dan memperbolehkan mereka untuk menentukan kepribadian dan masa depan kita.

Harap perhatikan bahwa kita masih berbicara tentang manipulasi Setan akan perasaan kita, tetapi dalam kasus ini dia bekerja melalui beberapa orang lain untuk melakukan kontrol nya. Sangat mungkin bahwa tidak ada orang yang di luar pengaruh tindakan orang lain sampai taraf tertentu, tetapi sebagian besar sebenarnya ada keadaan apa pun yang terjadi di sekitar mereka, Daripada mendasarkan keputusan mereka yang paling penting pada alasan deliberatif atau doa, mereka secara impulsif menyerang di salah satu atau semua arah, tergantung pada bagaimana emosi mereka telah diaduk oleh orang lain.

 

Dr. Hunter adalah dokter bedah jantung dari Inggris yang sendirinya menderita penyakit koroner. Suatu hari Ia berkomentar kepada seorang rekan, “Hidupku di tangan setiap bajingan yang memilih untuk mengganggu saya.” Nubuat-Nya terbukti benar. Kemudian seseorang berurusan dengan dia dengan cara yang membuatnya marah, dan dia terjatuh dan mati karena serangan jantung. Benar2 suatu ilustrasi bahwa pendidikan dan kecerdasan yang tinggi tidak dapat melindungi kita dari kebodohan sifat manusia kita yang telah jatuh! Semua gelar2 terhormat dari pendidikan yang dijalaninya tidak memberikan Dr. Hunter kontrol atas jiwanya sendiri. Dia benar-benar memperbolehkan individu lain untuk membuat keputusan apakah ia akan hidup atau mati.

Tapi kesalahan dokter adalah sangat kecil dibandingkan dengan mereka yang membiarkan orang lain benar-benar menentukan nasib kekal mereka. Di sekitar kita setiap hari kita amati permainan mengerikan dari sebuah drama yang tidak perlu, dan sering kali anggota gereja terlibat di dalamnya. Orang mengizinkan emosi stabil mereka melonjak luar kendali sebagai pembalasan atas bagaimana mereka diperlakukan, dan beberapa dosa paling gelap dicatat tentang mereka di dalam buku-buku surga. Banyak yang akan kehilangan jiwa mereka karena mereka menolak untuk memikul tanggung jawab untuk tindakan mereka sendiri. Bahkan, mereka tidak bertindak sama sekali; mereka hanya bereaksi. Kita dapat mengatakan tanpa syarat bahwa mereka yang tidak merebut kekuasaan ilahi untuk menghidupi kehidupan berdisiplin, yang dikendalikan diperintah dari Setan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Tidak satu orang memiliki semacam kekuatan dari dalam dirinya sendiri. Kemampuan untuk mengendalikan kehidupan diri sendiri dengan menolak setiap provokasi dari teman dan musuh harus datang dari kasih karunia Allah dalam.

Rahasia sebenarnya dari perlindungan dari bereaksi bisa ditemukan dalam nasihat Paulus kepada jemaat di Filipi, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Filipi 2: 5). Tidak ada yang bisa menyerang kembali jika dia berpikir pikiran Yesus. Di kayu salib Kristus tidak memberi tanda pembalasan, iritasi, atau pembalasan. Doanya adalah, “Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.”

Apakah keadaan pikiran seperti ini dapat diakses orang biasa? Memang, Yesus memiliki sifat manusia yang telah jatuh yang sama yang semua anak warisi dari orang tua mereka. Namun Dia tidak pernah bereaksi terhadap tusuk jarum penolakan tunggal atau penghinaan. Jenis ketenangan yang Dia tunjukkan dijanjikan untuk setiap anak percaya Allah yang menerima itu dalam iman. Paulus menyatakan dalam 2 Korintus 10:5, “Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus.” Jangan ada yang percaya bahwa jenis integrasi seperti ini dengan pikiran dan pikiran Kristus bisa datang tanpa perjuangan dan penyerahan.

Karakter ini sesuai dengan pola ilahi oleh dua hal yang beroperasi sejalan dengan kehendak Roh Kudus-man dan tindakan manusia. Tuhan tidak akan pernah melakukan dua hal bagi kita. Setiap orang harus membuat keputusan untuk berbalik dari dosa, dan kemudian dia harus mulai bertindak melawan dosa. Tak satu pun dari langkah-langkah ini akan efektif jika tidak disertai dengan kuasa Roh Kudus yang memampukan. Tidak ada orang yang memiliki kekuatan untuk menghentikan bereaksi dengan marah terhadap cara dia diperlakukan, tetapi Ia memiliki kekuatan untuk memilih untuk berhenti bereaksi. Dia juga memiliki kemampuan untuk mulai menolak dorongan untuk bereaksi. Apakah kedua langkah ini membawa kemenangan? Memang, ketika diambil setelah mengklaim pembebasan yang dijanjikan, mereka memberikan bukti dramatis iman yang benar. Dan iman, pada gilirannya, mengerakkan lengan Allah yang mahakuasa untuk campur tangan dengan kekuatan yang menghancurkan terhadap praktek dosa apapun.

 

Berurusan dengan Pelanggaran

Seiring dengan iman itu juga sangat penting untuk mengembangkan filsafat pemahaman terhadap mereka yang mungkin tampaknya memberikan pelanggaran. Banyak dari masalah berasal dari keengganan atau ketidakmampuan untuk mempertimbangkan mengapa orang yang bertindak sedemikian rupa.

Adalah fakta yang telah didemonstrasikan bahwa sikap kita sendiri terhadap pelaku menentukan secara besar bagaimana kita bereaksi terhadap apa yang dia lakukan terhadap kami. Sayangnya hanya ada sedikit kecenderungan untuk menjadi bijaksana dan masuk akal ketika salah satu sedang diserang fisik atau verbal. Kemarahan impulsif mengambil kendali, dan kita menyerang membabi buta untuk perlindungan diri. Apakah kita mampu menjaga perasaan sensitif itu akan memberi kita waktu untuk bertanya dan menjawab beberapa pertanyaan tentang motif orang lain. Bahkan pemikiran rasional beberapa saat saja bisa menyarankan kemungkinan bahwa pelaku mungkin beroperasi di bawah informasi palsu dan sangat sungguh2 dalam apa yang dia lakukan. Hal ini tentu bisa memperbaiki reaksi kita sendiri kepadanya.

Beberapa tahun yang lalu saya mendengar cerita yang telah menginspirasi saya yangmembuat  saya sering berbagi cerita itu sepanjang sejarah pelayanan saya. Sering kali saya harus meyakinkan diri sendiri akan ceritanya lagi untuk membantu meringankan dan melalui beberapa waktu saya mengalami stres pribadi yang sangat sulit. Ini menyangkut seorang filsuf Yunani kuno dengan nama Philip yang sedang berjalan di sepanjang jalan dengan teman satu hari. Kebetulan musuh Philip mengawasinya datang dari jendela di atasnya. Selagi  keduanya lewat ia melemparkan seember air ke orang tua yang bijak itu. Tanpa reaksi sedikit pun untuk kemarahan, Philip melanjutkan pembicaraan seolah-olah tidak ada sama sekali yang telah terjadi. Temannya berhenti dan menawarkan untuk membantu dia menemukan dan menghukum orang yang memperlakukannya begitu kasar, Philip dengan tenang menjawab bahwa tidak ada seorangpun yang memperlakukan dia dengan salah. Teman memprotes dengan takjub, “Tapi pria itu melemparkan air ke seluruh tubuh Anda. Anda basah kuyup.” ” Tidak,” jawab filsuf, “Anda keliru. Dia tidak membuang air pada saya. Dia melemparkannya pada seseorang yang dia pikir itu aku.”

Betul2 suatu sikap! Dan itu akan membuat dunia yang sangat berbeda jika semua orang memiliki semangat untuk hal tanpa pamrih untuk perasaan orang lain. Sebagian besar pengasingan pribadi, masalah rasial dan sengketa internasional dapat diselesaikan dalam sekejap jika semua orang mempraktekkan filosofi Philip.

Beberapa waktu lalu saya sedang mempersiapkan seorang ibu muda untuk dibaptis. Pada saat saya mengunjunginya untuk review akhir dari doktrin-doktrin gereja, dia tiba-tiba menangis. “Saya tidak bisa dibaptis,” serunya. “Tadi malam ibu saya mengunjungi saya dan mengingatkan saya bahwa karena saya membenci saudara saya itu tidak akan tepat untuk masuk ke dalam baptisan.” Di bawah dorongan lembut saya, Carol sepakat untuk berbagi untuk pertama kalinya mengapa ia membenci saudara satu2nya selama bertahun-tahun. Bahkan ibunya tidak tahu alasan di balik kepahitan itu. Ketika dia berusia tujuh tahun adik remajanya mulai memaksanya berhubungan seksual dan mengancam jika dia pernah mengatakan kepada siapa pun. Selama delapan tahun dia mengalami pelecehan yang tak bisa terbayangkan di tangan yang saudara kejam.

 

Aku benar-benar bisa memahami kemarahan bernanah Carol dan kebencian terhadap kakaknya. Aku kewalahan oleh rasa dibenarkan nya yang manusiawi dan direndahkan. Bagaimana saya bisa mengatakan apa pun yang mungkin bisa mengubah perasaannya atas sakit psikologis yang dalam dan bekas luka itu? Lalu aku teringat kisah filsuf Yunani kuno. Setelah berbagi dengan dia, saya meminta informasi lebih lanjut tentang saudara yang dibenci itu. Apakah dia pernah seorang Kristen? “Tidak,” kata Carol, “dia adalah kebalikan dari seorang Kristen. Dia tampak selalu berada di bawah kendali setan, dan dia masih sama. ”

Aku berkata, “Carol, bukankah itu sebuah tragedy bahwa saudara Anda tidak pernah tahu kekuatan kasih karunia Allah dalam hidupnya? Dia memang dikendalikan oleh Setan di semua yang dia lakukan. Tanpa Allah di dalam hidupnya tidak ada kesempatan baginya untuk menolak hal-hal yang Setan lakukan melalui dia. Dia dimanipulasi dan digunakan oleh iblis. Kalau saja dia tahu Tuhan Yesus, ia tidak akan pernah seperti itu. Dia akan memperlakukan Anda dengan cinta dan hormat. Sekarang Anda memberitahu saya bahwa dia belum menjadi seorang Kristen. Dia masih dipaksa untuk melakukan hal-hal yang jahat dan tidak memiliki kekuatan untuk melawan. Betapa perbedaan itu akan membuat jika ia bisa belajar tentang Yesus dan menerima Dia. Dia akan memiliki sukacita yang sama Anda telah menemukan di dalam Kristus. Kita perlu berdoa untuk dia, Carol, yang entah bagaimana dia bisa keluar dari bawah kekuatan jahat ini yang telah menggunakan dia. ”

Selagi saya berbicara air mata mulai mengalir lagi, tapi kali ini mereka adalah air mata kesedihan dan kasih sayang untuk kakak kehilangan yang lebih harus dikasihani dan didoakan daripada dibenci. Carol akhirnya berlutut hari itu, meminta Tuhan untuk menyelamatkan kakaknya dari penangkaran menyedihkan kekuasaan Setan. Kebencian pribadinya sendiri tersapu air mata, dan hari berikutnya saya memiliki sukacita melihat Carol tua dikubur di kuburan air. Hidupnya berubah ketika ia mulai menyadari bahwa kakaknya bahkan tidak tahu dia – tidak benar-benar. Jika Ia telah peka terhadap dirinya sebagai pribadi, ia tidak akan memperlakukan dia seperti itu. Pemahamannya telah terubah oleh dosa.

Bisakah kita percaya hal yang sama tentang orang-orang yang menganiaya kita sepanjang jalan kehidupan? Apakah mereka akan bertindak dengan cara yang sama jika mereka benar-benar memahami apa yang mereka lakukan? Kita tidak bisa berasumsi bahwa mereka tidak benar-benar memiliki informasi lengkap tentang kami, tentang perasaan kita, dan siapa kita sebenarnya? Jika saja kita bisa memberi mereka keuntungan dari keraguan itu dan mengatakan, “Mereka tidak melakukannya untuk saya yang sebenarnya. Mereka melakukannya dengan orang yang mereka pikir sebagai saya.” Kemudian kita bisa merasa kasihan pada mereka, karena mereka tidak tahu lebih baik. Dan yang terbaik yang kita bahkan bisa lakukan ialah kita dapat mulai untuk berdoa bagi mereka.

Jadi kita dibawa kembali ke dua pelajaran besar yang diajarkan oleh udang yang memiliki batu di kepala mereka. Kita tidak bisa mengukur apa yang benar dan salah oleh perasaan subjektif kita atau dengan apa yang mayoritas lakukan. Batu pendirian kami harus jadi Firman Allah. Terlepas dari kerumunan, terlepas dari suasana hati atau perasaan kita, terlepas dari cara orang memperlakukan kita, kita harus memilih untuk memesan hidup kita atas dasar prinsip ilahi. Seperti Paulus kita katakan, “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” (Gal. 2:20).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *