Kompromi Penyesuaian Diri dan Keberanian

Kompromi Penyesuaian Diri dan Keberanian

Bank Pustaka

BK-TFRTFakta Menakjubkan

Karena cara pertumbuhannya yang tidak biasa, pohon beringin (ficus annulata) dikenal sebagai “ara pencekik”. Pohon besar ini biasanya memulai proses pertumbuhannya ketika bijinya dibawa oleh burung yang menjatuhkannya ke dahan pohon lain. Biji kemudian tersemai dan menjadi parasit di pohon tersebut. Ia pun berakar dan perlahan turun menjulur ke bawah, merambat dan membelit pohon inangnya demi mencari tanah. Makin lama, akar-akar sulur ini menjadi semakin tebal, kuat dan saling menyilang di batang pohon inang hingga akhirnya menghalangi pertumbuhan pohon inang dengan merampas cahaya, air dan nutrisi lainnya. Akhirnya secara perlahan pohon inang mati dan membusuk, meningalkan si “ara pencekik” yang berdiri menggantikan tempatnya.

Dengan cara yang sama, benih kompromi telah merayap di tengah gereja Tuhan yang sisa, dan mulai menggerogoti kehidupan kerohanian dan buah-buahnya.

 

Menetapkan Pendirian

Pendongeng Yunani kuno, Aesop menceritakan dongeng menarik yang menjelaskan mengapa kelelawar kini hidup dalam kegelapan. Alkisah, dulu terjadi perang antara hewan darat dan burung. Ketika para burung sedang memenangkan perang, maka kelelawar akan terbang dan berkata “Aku adalah burung. Lihatlah aku bisa terbang! Aku burung.” Tapi kemudian, hewan darat akan mulai menang, jadi kelelawar akan menjatuhkan dirinya ke tanah dan merayap seraya berkata,”Aku hewan darat. Lihatlah aku merayap. Aku hewan darat.” Tak lama kemudian, baik burung maupun hewan darat mulai merasa muak terhadap kelelawar yang berupaya menyatu dengan kedua belah pihak yang sedang berperang. Sehingga bersama-sama, mereka mengusir kelelawar dan kaumnya untuk hidup di gua dan hanya boleh keluar jika hari sudah gelap. Dalam usahanya untuk menyenangkan semua pihak, akhirnya kelelawar membuat semua pihak menjadi marah.

Semua orang, sebagaimana si kelelawar, rindu untuk diterima. Tapi bagi seorang Kristen yang berdedikasi, adalah mustahil untuk mendapat penerimaan dunia sekaligus perkenanan dari Bapa surgawi kita. Yesus berkata,”Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan.”(Lukas 16:13). Dan Yakobus mengatakan,”Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.”(Yakobus 4:4). Menurut Firman Tuhan, adalah mustahil bagi seorang Kristen untuk menikmati penerimaan dunia dan juga jaminan yang datang dari hubungan yang menyelamatkan dengan Yesus. “Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji?”(Amos 3:3).

Tetapi kenyataan menyedihkannya, jutaan orang Kristen di seluruh dunia mencari cara untuk mendapatkan kompromi nyaman antara keyakinan mereka dan dunia jahat dimana kita tinggal. Saya merasa antusias mengenai persoalan ini karena saya juga bergumul dengan pengaruh kompromi dan penyesuaian berbahaya yang bertahap ini dalam perjalanan saya bersama Tuhan. Kita berada di bawah tekanan tak berujung untuk menyesuaikan diri dengan dunia. Setan selalu menawarkan untuk merundingkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang kita pegang. Jarang ia melakukan serangan secara frontal, setan menggunakan pengikisan nilai sedikit demi sedikit, dimana kita ditekan untuk menyesuaikan sedikit dari kepercayaan kita.

Berkompromi dengan setan adalah mematikan bagi roh dan selalu gagal untuk membawa kepuasan sejati. Tuhan kita dengan jelas mengatakan bahwa kita tidak bisa berdiri di tengah-tengah. “Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku.” (Matius 12:30). Dan pepatah Cina berkata,”Anda tidak dapat menyeberangi sungai dengan kedua kaki berada di dua perahu berbeda.” Kenyataannya, mustahil untuk benar-benar berkompromi dengan setan, karena semua usaha untuk berkompromi dengan setan akan membuat penyerahan total kepadanya. Hanya dengan ketergantungan penuh kepada Tuhan dan kewaspadaan pribadi saja kita dapat lepas dari jerat-jerat iblis.

 

Kompromi yang Baik dan Buruk

Kompromi sebenarnya bukan kata yang kotor. Dalam banyak kesempatan, kompromi dapat menjadi prinsip indah yang menolong mendirikan dan mempertahankan kedamaian dan kesatuan dalam hubungan. Kompromi dalam pernikahan. Pada hari yang sangat dingin di musim salju, saya suka mengatur termostat pada suhu 24 derajat celcius, tetapi istri saya Karen lebih suka suhu yang lebih ekonomis, 20 derajat. Jadi kami sepakat untuk mengatur suhu di 22 derajat dan semuanya berjalan baik. Ini adalah contoh kompromi pada persoalan biasa yang menunjukkan roh yang lemah lembut dan rendah hati.

Tetapi ketika orang Kristen mulai mengkompromikan bagian-bagian dari kebenaran, dengan mengorbankan prinsip moral alkitabiah, demi mencapai kedamaian, maka akibatnya bisa fatal. Martin Luther mengatakan; “Perdamaian jika mungkin, tapi kebenaran harga mati.”

Tujuan utama setan bagi orang percaya adalah, untuk sedikit demi sedikit menggoyahkan ketetapan hati Anda, membuat Anda menyerah sedikit di sini dan sedikit di sana, hingga sebelum Anda menyadari apa yang terjadi, keyakinan Anda telah digantikan dengan etika setan dan Anda pun kalah.

Bahkan di buku singkat seperti ini, saya sangat ingin membahas lebih dalam tentang hal-hal yang sudah dikompromikan oleh gereja. Saya dapat membuat daftar panjang standar Kekristenan yang sudah dikorbankan di mezbah kompromi demi mendapat penerimaan dunia. Saya dapat menulis tentang musik dunia yang berbahaya dan gaya penyembahan “kontemporer”, belum termasuk materialisme dan hutang untuk memenuhi gaya hidup, menu makanan dan praktek kesehatan Babel, gaya berpakaian dan perhiasan yang mengundang dan tidak pantas, dan banjir hiburan populer yang melumpuhkan pikiran dari orang percaya. Saya bahkan dapat membahas jenis kompromi yang paling berbahaya: teologi yang ramai dianut banyak orang bahwa orang percaya tidak pernah dipanggil untuk menyangkal diri dan memikul salib. Setiap jenis kompromi telah menetralkan kedamaian di hati orang percaya dan melemahkan potensi injil, serta menghambat pertumbuhan gereja.

Sayangnya, ruang yang terbatas tidak mengijinkan saya untuk membahas isu-isu di atas secara detail. Jadi saya akan membawa perhatian Anda ke prinsip umum yang menuntun seseorang pada kompromi dan penyesuaian dengan dunia serta bagaimana caranya untuk melawan pencobaan dan tidak jatuh dalam kegelapan.

 

Satu Ukuran untuk Semua

Baru-baru ini saja membeli topi baseball di sebuah toko di bandara. Toko itu bukanlah tempat termurah untuk berbelanja, tetapi saya lupa untuk membawa topi. (Topi baseball adalah keharusan untuk kepala botak saya di pesawat!) Semua topi baseball tergantung di satu rak yang menggantung tulisan, “Satu ukuran pas untuk semua.” Saya ragu apakah sistem umum ini dapat pas dengan kepala saya yang besar. Dan saya terkejut ketika ternyata topi itu memang pas! Topi itu dirancang untuk pas dengan kepala semua orang.

Saya menemukan bahwa kebanyakan orang Kristen menginginkan teologi yang dengan nyaman dapat mengakomodasi semua dosa dalam hidup mereka. Tetapi kehidupan berdosa manusia yang jatuh bukanlah hubungan “satu ukuran untuk semua” dengan Tuhan. Apakah Tuhan yang harus menyesuaikan kehendakNya agar pas dengan keinginan kita, ataukah injil yang harus mengubah hidup kita agar sesuai dengan kehendak Tuhan? Paulus memberikan jawabannya,”Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”(Roma 12:1,2). Kita tidak boleh menjadi serupa dengan dunia; kita harus diubahkan.

 

Jangan Berkompromi dengan Dosa

Kisah Yusuf memberikan contoh yang menginspirasi tentang bagaimana supaya kita dapat berhasil menghindari kompromi dengan keyakinan kita. Sementara Potifar, pegawai istana Firaun sedang pergi, istrinya selalu berusaha merayu Yusuf, hamba kepercayaan Potifar. Yusuf mungkin saja tergoda mempertimbangkan keuntungan dari hubungan terlarang itu—mungkin ia bisa mendapatkan upah lebih tinggi dengan lebih sedikit beban kerja dan menikmati gengsi yang didapat di rumah itu dengan kekasih tuannya di sisinya. Paling tidak, ia dapat menghindari dipenjara karena menolak rayuan istri Potifar.

Jadi, itu pasti merupakan godaan kuat untuk seorang pria muda yang belum menikah dan sehat untuk mengkompromikan prinsip-prinsipnya demi kekuasaan dan kesenangan. Namun di tengah bisikan setan, Yusuf tahu bahwa hal itu salah dan ia menolak bahkan hanya untuk mempertimbangkannya.

“Walaupun dari hari ke hari perempuan itu membujuk Yusuf, Yusuf tidak mendengarkan bujukannya itu untuk tidur di sisinya dan bersetubuh dengan dia.”(Kejadian 39:10). Apakah Anda memperhatikan, bukan hanya Yusuf menolak melakukan perzinahan, ia juga menjauhkan diri dari pencobaan.

Ketika mesin pesawat jet mulai dinyalakan di gerbang, kru darat tahu bahwa mereka harus menjauh sejauh mungkin dari pipa masuk turbin yang kuat itu. Beberapa pegawai yang penasaran namun ceroboh tetap berdiri dekat lambung  mesin raksasa itu dan mereka benar-benar tersedot dari aspal dan menguap. Sama halnya ketika Anda berkompromi di dekat batas yang terlarang, pusaran dosa yang mematikan akan menghisap Anda bagaikan angin topan yang sangat kencang.

Ketika Anda tergoda oleh seseorang atau sesuatu untuk mengkompromikan keyakinan Anda, menjauhlah sejauh mungkin dari tepian jahat itu. Jangan biarkan dosa melakukan pekerjaannya kepada Anda, dan mengerat ketetapan hati Anda. Hawa berjalan-jalan terlalu dekat dengan pohon terlarang dan ia tetap di situ untuk mendengarkan rasionalisasi dari Setan. Begitu ia melihat pohon itu dan mendengar ular mempertanyakan kebenaran dari Tuhan, ia seharusnya berlari mencari perlindungan. Firman Tuhan memerintahkan kita untuk menjauhi semua pencobaan (1 Timotius 6:11).

 

Hanya Sedikit Saja

Sangat tidak populer dewasa ini untuk berbicara menentang dosa, terutama dosa-dosa yang sudah diterima gereja secara umum. Mereka yang berani berbicara akan disebut sebagai seorang yang legalis dan tidak mau berunding. Saya tahu itu karena sudah mengalaminya berkali-kali. Sebagai satu contoh kecil, suatu kali saya menghadiri resepsi pernikahan Kristen dimana seseorang menuangkan sampanye di gelas saya ketika saya sedang duduk meskipun saya tidak memintanya. Sedikit terkejut, dengan sopan saya protes dengan mengatakan, “Tidak, terima kasih. Saya tidak minum.”

Tuan rumah mencoba meyakinkan saya,”Sampanye ini hanya mengandung 8 persen alkohol. Ini tidak akan membuatmu mabuk.”

“Tapi saya tidak minum alkohol,” saya kembali menegaskan. Jelas merasa kesal, tuan rumah menyahut, “Kita hanya merayakan tradisi pernikahan. Tidakkah kamu ingin memberikan ucapan bahagia untuk pengantin pria dan wanita?” Ia bahkan menyarankan saya untuk meletakkan gelas di bibir dan pura-pura meminumnya. Itu sama saja jahatnya seperti mengatakan, “Lagi pula, semua orang melakukannya.”

“Apakah kamu tidak peduli kepada mereka?” “Lakukan sekali ini saja.” “Jangan fanatik.” Rasionalisasi yang akrab ini seringkali mendahului sebuah kompromi. Tapi kita harus berkata tidak. “Janganlah kalian menuruti keinginan manusia yang berdosa untuk memuaskan keinginan hati kalian.” (Roma 13:14 BSD). Karena ingin menjauhi segala jenis kejahatan, saya bahkan menolak untuk sekedar memegang gelas berisi alkohol (1 Tesalonika 5:22).

Mantra lain yang akrab didengar dari mereka yang mendukung kompromi duniawi adalah “keseimbangan”. Sudah tidak terhitung berapa kali saya didekati dan diberitahu bahwa saya memerlukan “lebih banyak keseimbangan”. Namun begitu dievaluasi lebih hati-hati, pengertian mereka untuk keseimbangan biasanya adalah mengkompromikan standar Kristen dengan nilai-nilai duniawi. Contohnya seperti ini: “Tidak apa-apa untuk membawa keluargamu ke pertandingan bola di hari Sabat sekali-sekali. Kamu memerlukan keseimbangan.” Dengan kata lain, mereka merekomendasikan agar kita menyeimbangkan antara kekudusan dengan sedikit dosa. Bagi mereka, kelihatannya menjadi serupa dengan Kristus itu berarti jauh dari keseimbangan.

 

Kompromi yang Berbelas Kasihan?

Rasionalisasi populer lainnya yang digunakan untuk mengkompromikan standar-standar Kristen dilakukan untuk membuat Kekristenan tampil lebih menarik bagi dunia. Pendekatan ini dilakukan oleh beberapa pemimpin gereja pada zaman Konstantin.

Orang Roma dan Yunani kafir mencintai berhala mereka. Hukum kedua mengenai penyembahan berhala merupakan batu sandungan yang menghalangi banyak orang kafir untuk menjadi orang Kristen. Pemikiran untuk menghancurkan atau merusak berhala-berhala mereka yang berharga menjadi pergumulan luar biasa bagi orang-orang kafir yang setia kepada kepercayaan mereka itu.

Jadi atas nama penginjilan, beberapa pemimpin gereja mengusulkan, “Mengapa kita tidak membiarkan saja mereka memberi nama berhala mereka menurut nama pahlawan dan orang kudus Kristen? Kemudian mereka akan datang ke gereja, dan sedikit demi sedikit kita akan mendidik mereka untuk meninggalkan berhala mereka.” Tapi Anda tahu sisa ceritanya—alih-alih gereja menobatkan kekafiran, kekafiran malah mengubahkan seluruh gereja. Begitulah bagaimana hal-hal seperti ini biasanya terjadi. Kapanpun gereja berusaha untuk mengkompromikan sebuah standar Kristen untuk membuat pertobatan menjadi lebih mudah, dunia malah mengubah gereja dengan membuat dosa tampak jauh lebih menarik.

 

Kompromi atau Pertarungan

Pada zaman Ezra dan Nehemia, orang Yahudi mulai membangun kembali bait suci yang telah dihancurkan oleh Nebukadnezar. Dalam Ezra 4, alkitab mencatat ,”Ketika lawan orang Yehuda dan Benyamin mendengar, bahwa orang-orang yang pulang dari pembuangan itu sedang membangun Bait Suci…maka mereka mendekati Zerubabel serta para kepala kaum keluarga dan berkata kepada mereka: ”Biarlah kami turut membangun bersama-sama dengan kamu, karena kami pun berbakti kepada Allahmu sama seperti kamu; lagipula kami selalu mempersembahkan korban kepada-Nya…”” Akan tetapi orang Yahudi mengetahui bangsa tetangganya itu mencampurkan penyembahan kepada Tuhan yang benar dengan dewa kafir bangsa Asyur.

Bagaimana bangsa Israel menanggapi permintaan tersebut? Mereka berkata,“Bukanlah urusan kita bersama, sehingga kamu dan kami membangun rumah bagi Allah kami, karena kami sendirilah yang hendak membangun bagi TUHAN…” Mereka membuat pilihan yang tepat dengan menolak orang kafir yang belum bertobat untuk turut serta membangun Bait Suci Tuhan. Dan bacalah kelanjutan ceritanya: “Maka penduduk negeri itu,” yaitu mereka yang baru saja menawarkan bantuan, “membuat mereka takut membangun.” Mendadak, tetangga yang menawarkan damai menunjukkan wajah mereka yang sebenarnya dan menjadi musuh yang menyusahkan.

Jangan lewatkan kenyataan penting ini. Jika Anda berdiri untuk apa yang benar dan menolak terlibat dengan sekutu yang murtad, Anda akan dianiaya. Pertama, pendekatan setan akan tampak seperti ini, “Mari kita bekerja sama. Mari kita saling mengasihi satu sama lain. Kompromikanlah sedikit dari keyakinanmu, dan kami pun akan mengkompromikan sedikit keyakinan kami, dan kita semua akan bersatu. Lagipula, persatuan itu sangat penting!” Jika Anda tidak jatuh di perangkap itu dan berdiri untuk kebenaran, pada akhirnya mereka akan menjadi musuh yang terburuk, dan akan memberi tahu Anda bagaimana hati mereka yang sesungguhnya.

Ini adalah pelajaran yang sangat penting menjelang hari-hari terakhir, karena akhirnya seluruh agama di dunia akan membuat persetujuan dan membentuk satu agama yang ujungnya mengarahkan penyembahan kepada kuasa binatang. Jika kita sekarang membentuk pola yang mengorbankan keyakinan kita untuk sebuah ilusi kedamaian, maka kita sedang meniti langkah persiapan untuk menyembah binatang. “Mereka yang telah menyerah sedikit demi sedikit kepada tuntutan dunia, dan menyesuaikan diri dengan kebiasaan-kebiasaan dunia, nantinya akan menyerah terhadap kekuatan setan, daripada membiarkan diri mereka menjadi bahan ejekan, hinaan, terancam dipenjara dan dihukum mati.” (Prophets and Kings hlm 188).

 

Takut Menyinggung

Apakah Anda pernah mendengar tentang seorang pendeta yang tidak ingin menyinggung jemaatnya yang kaya? Ia berkata,”Saudara yang terkasih, kecuali Anda cukup bertobat dan sedikit berubah, Anda mungkin–saya menyesal untuk mengatakannya–akan mendapatkan hukuman hingga titik tertentu.”

Dalam kenyataan, sejumlah besar kompromi dan penyesuaian merayap masuk dalam kehidupan kita dan gereja karena tidak ada yang ingin menyinggung siapapun. Sejak kecil kita dilatih untuk sopan dan bertenggang rasa—untuk menuruti permintaan orang lain dan berusaha sebisa mungkin agar tidak membuat marah orang lain. Tetapi Yesus mengajarkan bahwa tidak mungkin memberitakan injil tanpa menyinggung siapapun (Galatia 5:11).

Bayangkan di kulit Anda mendadak muncul satu noda yang ternyata adalah awal dari kanker kulit yang membahayakan. Tetapi dokter kulit, karena tidak ingin membuat Anda merasa terganggu, mengatakan kepada Anda bahwa itu hanyalah akibat dari tanaman beracun. Apakah dokter ini akan menjadi teman Anda? Demikian juga halnya intisari Injil akan memunculkan sinar terang dalam hati kita untuk mengupas lapisan-lapisan kemunafikan dan memperlihatkan motif kita yang egois dan pikiran-pikiran kita yang tidak suci.

Suatu hari John Wesley sedang berkendara dengan kudanya ketika ia menyadari bahwa tiga hari terakhir ini ia tidak mengalami sedikitpun aniaya. Tidak ada satu pun batu, telur atau penghinaan yang dilemparkan kepadanya selama tiga hari penuh. Merasa khawatir, ia menghentikan kudanya dan berkata, “Mungkinkah itu karena saya telah berdosa dan melakukan kesalahan?”

Ia turun dari kudanya, dan berlutut dan mulai berdoa agar Tuhan menunjukkan kepadanya jika ia telah melakukan suatu kesalahan. Saat itu juga, seorang laki-laki yang kasar di pagar sebelah, mendengar doanya, dan melihat ke seberang dan mengenali pendeta yang tidak biasa itu. Ia berkata,“Aku akan menyadarkan pendeta itu.” Kemudian ia mengambil batu dan melemparnya ke seberang pagar. Meskipun batu itu tidak mengenai sasarannya dan jatuh di sebelah Wesley, pendeta itu melompat senang dan dengan sukacita berkata, “Terima kasih, Tuhan. Semuanya baik-baik saja. Saya masih memiliki hadiratNya.”

Semua Rasul dibunuh atau dipenjara karena iman mereka, karena pesan yang mereka berikan menyinggung seseorang. “Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya.”(2 Timotius 3:12). Saya percaya salah satu alasan mengapa kita tidak pernah lagi melihat penganiayaan berat kepada orang Kristen di Amerika Utara saat ini adalah karena kita telah begitu banyak berkompromi dengan dunia sehingga pengaruh injil menjadi sangat lemah.

 

Jalan yang Lurus

Sungai Cache adalah salah satu sungai yang paling berliku-liku di seluruh dunia. Tidak ada gunanya mengarungi sungai itu dengan kapal karena liku-liku sungai itu panjangnya 180 mil, padahal jika ditarik garis lurus, sungai itu hanya berjarak 35 mil. Sebanyak 140 mil jarak terbuang di belokan dan tikungan. Alasan mengapa sungai itu menjadi sangat berliku adalah karena ia mengikuti jalan yang paling rendah tekanannya. Alasan yang sama yang membuat seorang Kristen menjadi berliku-liku. Jalan seorang Kristen seharusnya seperti tali yang ketat daripada jalan yang berliku-liku.

Sebelum wafat, Musa memberi tahu bangsa Israel,”Maka lakukanlah semuanya itu dengan setia, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri. Segenap jalan, yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, haruslah kamu jalani, supaya kamu hidup, dan baik keadaanmu serta lanjut umurmu di negeri yang akan kamu duduki.”(Ulangan 5:32,33).

Lukas 4 mencatat usaha mengerikan setan untuk membuat Kristus berkompromi. “Kemudian ia membawa Yesus ke suatu tempat yang tinggi dan dalam sekejap mata ia memperlihatkkan kepada-Nya semua kerajaan dunia… ‘Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu,…Jadi jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu.’” (Lukas 4:5-7). Setan ingin membuat satu kesepakatan. Ia menginginkan Kristus untuk mempertimbangkan satu pilihan, untuk menegoisasikan perjanjian yang akan mengakhiri pertentangan besar antara yang baik dan jahat. Setan mengimplikasikan bahwa Yesus dapat menghindari salib dan memimpin dunia jika Ia menyembah Setan. Dengan demikian semua pihak bisa hidup bahagia selamanya.

Tapi apa jawab Yesus? “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti.” (ayat 8). Yesus bahkan tidak mempertimbangkan tawaran setan. Ini merupakan jawaban sama yang diberikan Kristus kepada Petrus ketika muridNya itu menyarankan agar Yesus tidak perlu memberikan diri disalibkan. Terkadang setan bekerja melalui orang-orang terdekat kita, tetapi ketika kita tergoda untuk mengkompromikan prinsip-prinsip dan keyakinan Kekristenan, maka kita perlu belajar untuk berkata,”Enyahlah setan, saya tidak akan melakukannya.”

 

Kompromi Membunuh Kristus

Dalam peristiwa-peristiwa seputar pengadilan Kristus, kita dapat melihat bahwa kompromi lah yang akhirnya menyalibkan Tuhan. Dalam Yohanes 18, ketika sedang diperiksa oleh Pontius Pilatus, Yesus berkata, “Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.”(ayat 37). Pilatus menyahut, “Apakah kebenaran itu?”. Ini adalah indikator yang menunjukkan sikap sinis penguasa yang bimbang itu terhadap kebenaran mutlak.

Di Kerajaan Roma, semua orang memperdebatkan segala sesuatu. (Tidak jauh berbeda dengan kondisi Amerika saat ini bukan?) Seorang ahli filsafat di Roma mendorong agar setiap orang mendebat setiap sisi dari setiap persoalan dengan harapan memperluas pikiran masyarakat. Tetapi Augustus akhirnya mengusir orang itu karena yang terjadi orang-orang menjadi beranggapan bahwa kebenaran adalah sesuatu yang berubah-ubah dan relatif—tidak ada yang mau berdiri untuk kebenaran yang jelas. Tidak ada yang mau mengambil pendirian, karena semua posisi memiliki argumen rasional yang menentangnya.

Dalam kasus ini, kebenaran itu sangatlah jelas hingga Pilatus secara terbuka menyatakan bahwa Yesus tidak bersalah. “Keluarlah Pilatus lagi mendapatkan orang-orang Yahudi dan berkata kepada mereka:’Aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada-Nya.’” (Ayat 38). Namun alih-alih menetapkan pendirian pada kebenaran dan melepaskan Yesus sebagai seorang yang tidak bersalah, Pilatus berusaha mengkompromikan keyakinannya akan kebenaran demi memenangkan hati orang banyak, sebuah perilaku yang sering digunakan oleh para politisi.

Ingin menyenangkan mayoritas orang, Pilatus menjelaskan bahwa ia akan menghajar Yesus dan kemudian melepaskannya. Namun jika Yesus tidak bersalah, mengapa Ia harus dihajar? Jawabannya adalah begitu Anda mulai berjalan di jalan kompromi, tidak peduli di mana saja Anda berhenti, setan akan menjemput Anda dan menyelesaikan perjalanan untuk Anda. Anda telah menunjukkan kelemahan Anda kepadanya dengan menunjukkan kerelaan untuk menegoisasikan hal yang salah jika imbalannya bagus. Sejak itu, rasanya seperti memanjat tiang bendera yang terbuat dari es. Sekali Anda mulai mengkompromikan keyakinan Anda, sangat mudah untuk meluncur turun menuju kehancuran.

Mengendus kelemahan Pilatus, Setan menggunakan kerumunan orang banyak untuk menekan penguasa yang bimbang ini untuk menyalibkan Yesus. Pilatus telah berjalan di jalan negoisasi dengan setan, dan di situlah setan ingin ia berada. Itulah mengapa begitu Pilatus berusaha mengalahkan setan, yang terjadi adalah senjata makan tuan. Ia menawarkan Barabbas kepada mereka sebagai kompromi gantinya Yesus. Pilatus memperagakan pembunuh berdarah dingin itu di hadapan massa sebagai contoh orang jahat yang sebenarnya yang sangat kontras dengan Yesus yang tak berdosa. Pilatus pasti berpikir dalam hati, “Mereka hanya ingin melihat penyaliban, jadi aku akan menawarkan kompromi kepada mereka, dan pastilah mereka akan memilih Yesus untuk dibebaskan.” Ia tidak pernah menyangka bahwa mereka akan memilih melepaskan Barabbas, tapi itulah yang mereka lakukan.

Akhirnya, sedikit kelonggaran Pilatus untuk berkompromi membuat ia berada dalam situasi yang di luar kuasanya. “Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: “Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!”” (Matius 27:24). Akan tetapi apakah Pilatus benar-benar bersih? Ia telah menyatakan bahwa sang Juruselamat adalah benar, tetapi ia menjatuhkan hukuman oleh karena tekanan dari orang banyak.

Demikian juga, ketika kita mulai mengkompromikan kebenaran, dan tindakan kita akhirnya berada di luar kendali dan akibatnya sangat sukar dan penuh, kita juga tidak dapat mengaku tidak bersalah. Begitu Anda mulai berpikir untuk menempuh jalan kompromi, ingatlah Pilatus. Ingatlah bahwa Yesus wafat karena seseorang berpikir bahwa ia dapat mengkompromikan kebenaran.

 

Jadilah Berani!

Ketika saya menghadiri akademi militer New York, para murid akan melafalkan Doa Calon Perwira di kapel yang bunyinya seperti ini: “Tolong kami untuk memilih kebenaran yang sulit di atas kesalahan yang mudah dijalani , dan jangan biarkan kami puas dengan setengah kebenaran ketika kami bisa mendapatkan kebenaran sepenuhnya. Berikan kami keberanian yang lahir dari kesetiaan kepada hal-hal yang mulia dan berharga, dan menolak untuk berkompromi dengan kejahatan dan ketidakadilan dan tidak mengenal takut ketika kebenaran sedang dalam bahaya.” Ketetapan hati yang mulia seperti ini sudah jarang kita dengar di mana-mana. Orang banyak percaya bahwa adalah baik untuk mengkompromikan kebenaran atas nama persatuan, meskipun tidak sesuai dengan alkitab.

Untuk dapat menolak menyerah pada tekanan kompromi membutuhkan keberanian ilahi. Tuhan memberitahu Yosua,”Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke mana pun engkau pergi.”(Yosua 1:7)

Kita tidak perlu khawatir bahwa Tuhan tidak akan mengampuni kita jika kita dengan tulus bertobat dari dosa kompromi dan berbalik kepadaNya. Tetapi ketika kita jatuh dalam dosa, ketika kita tersandung kesalahan, kita sedang melatih diri kita untuk pergi ke jalan itu lagi. Tuhan dapat memberikan Anda hati yang baru, tapi jangan pikir bahwa Anda dapat terus berkompromi tanpa menuai konsekuensinya. Terus berkompromi akan melumpuhkan kesadaran Anda, hingga buah serupa dengan dunia menjadi matang.

 

Tutup Pikiran Anda untuk Menyelaraskan Diri Dengan Dunia

Ketika berkaitan dengan mengkompromikan Firman Tuhan, jangan memiliki pikiran yang terbuka. Anda akan disebut seorang yang ekstrim dan konservatif karena tidak menerima standar dunia. Tapi jangan terintimidasi ketika Anda dituduh sebagai seseorang yang “berpikiran sempit”. Adalah baik untuk berpikiran sempit mengenai hukum Tuhan. Saya telah membuat suatu perjanjian dengan seorang istri –saya tidak berpikiran terbuka tentang segala sesuatu yang akan menghancurkan janji itu.

Setan sedang bekerja dalam gereja pada hari-hari terakhir ini dengan mengkhotbahkan pesan persatuan lewat kompromi. Sedikit demi sedikit, ia sedang melunakkan ketetapan hati kita, mendorong kita untuk membuat sedikit kesepakatan dan kompromi sehingga ketika ujian yang besar itu datang, ia memiliki kita di tempat dimana ia ingin kita berada.

Bacalah Daniel 3 dan perhatikanlah parafrase yang saya buat berikut ini. Nebukadnezar berkata kepada Sadrakh, Mesakh dan Abednego, “Jadi kalian tidak sujud menyembah? Baiklah saya katakan sejujurnya: Saya tidak ingin kehilangan kalian; kalian adalah pegawai yang baik. Saya akan memberikan kalian kesempatan lagi dan band akan memainkan musik sekali lagi. Mungkin kalian menginginkan musik yang sedikit berbeda? Tetapi begitu kalian mendengar bunyi-bunyian itu, kalian harus sujud menyembah.”

Tetapi tiga orang muda Ibrani ini dengan teguh mengatakan kepada raja bahwa ia tidak perlu membuang waktunya. “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu. ”(Daniel 3:16-19). Mereka tidak berunding, bahkan ketika iblis berusaha untuk mempengaruhi mereka. Setan menginginkan Anda mati setelah Anda tidak taat dan bukannya mati sebagai martir dan menjadi teladan yang berkemenangan. Tapi jika Anda meninggal di dunia dengan memegang Firman Tuhan, Anda akan hidup di kehidupan selanjutnya. Jadi saat ini kita perlu menjadi setia dalam hal-hal kecil. Mungkin kita tidak berpikir bahwa ujian-ujian kecil yang kita hadapi saat ini adalah persoalan hidup dan mati, tapi jika kita tidak bisa belajar matematika dengan uang kecil, kita tidak akan bisa mengertinya dengan uang besar. Jika kita berkompromi dan menyesuaikan diri dalam hal-hal kecil yang tidak memiliki ancaman kematian, apakah yang cenderung akan kita perbuat ketika kita diancam dengan penjara atau kematian?

 

Berdiri!

Ketika bangsa Israel mencapai perbatasan Laut Teberau dan Firaun serta pasukannya mengejar mereka untuk menangkap dan memperbudak kembali mereka, situasi tampaknya menjadi suram. Akan tetapi Musa memberitahu bangsa Israel, “Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu”(Keluaran 14:13).

Begitu kita mengetahui bahwa suatu hal adalah benar menurut Firman Tuhan, maka tugas kita adalah mengambil pendirian. Tuhan akan melakukan hal-hal besar bagi mereka yang berdiri bagiNya. Ia sedang mencari perwakilan yang mau mempercayaiNya. “Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia.”(2 Tawarikh 16:9).

Ketika Anda berdiri teguh untuk kebenaran, hidup Anda akan menjadi saksi yang menyelamatkan bagi keluarga Anda, teman-teman Anda, tetangga Anda, dan bahkan bagi penghuni surga. Tuhan akan melihat ke bawah dari surga dan berkata, “Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku, tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.”(Lihat Ayub 1:8).

Tapi Kristus tidak meninggalkan kita untuk berjuang sendirian. Ia menyediakan perlengkapan senjata untuk melindungi kita. “Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis. …Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.”(Efesus 6:11,13). Ingatlah bahwa postur tubuh yang benar bagi mereka yang mengenakan perlengkapan senjata Allah adalah berdiri!

William Jennings Bryan mengatakan, “Jangan pernah takut untuk berdiri bersama kaum minoritas yang benar, karena minoritas yang benar suatu hari nanti akan menjadi kaum mayoritas. Takutlah untuk berdiri dengan kaum mayoritas yang salah karena suatu hari kelak mereka akan menjadi minoritas.” Ellen White, salah satu penulis favorit saya mengatakannya seperti ini: “Kebutuhan terbesar dunia ialah kebutuhan akan manusia yang tidak dapat diperjualbelikan, manusia yang di dalam hati sanubarinya adalah setia dan jujur, manusia yang tidak takut menyebut dosa sebagai dosa, manusia yang kata hatinya setia kepada tugas seperti jarum kompas yang selalu menunjuk ke kutub, manusia yang mau berdiri untuk kebenaran walaupun langit runtuh.” Education pg 57.

Bersama Tuhan tidak ada yang mustahil, termasuk menghidupkan hidup tanpa kompromi dan keserupaan dengan dunia. Putuskan sekarang dengan kasih karuniaNya untuk berdiri di atas Batu Karang dan tolaklah gelombang kompromi yang menyapu anak-anak Tuhan dari keselamatan. Dan ingatlah selalu bahwa ketika Anda mengambil pendirian, Anda tidak berdiri sendiri. Yesus berdiri bersama Anda.

2 thoughts on “Kompromi Penyesuaian Diri dan Keberanian

  1. Banyak gereja yang berisi orang-orang yang berkompromi, mungkin termasuk juga saya. Semoga Tuhan berbelas kasihan terhadap kami dan membawa kami ke jalan yang benar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *