renungan berkat

REKREASI MENYEGARKAN DAN MENGUATKAN

Renungan Harian
Rekreasi dan Hiburan
Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa. Mazmur 16:11

Tugas dan tanggung jawab orang Kristenlah mengusahakan penyegaran jiwa mereka dan menguatkan tubuh mereka melalui rekreasi yang tidak merusak, dengan maksud menggunakan kuasa tubuh dan pikiran untuk memuliakan Allah. Rekreasi kita janganlah sekali-kali menjadi suasana gembira yang tidak ada artinya, mengambil bentuk yang tidak penting. Kita dapat menjalankannya sedemikian rupa sehingga akan menguntungkan dan meninggikan mereka, yang sepergaulan dengan kita, serta membuat kita dan mereka lebih mantap untuk melakukan tugas yang diserahkan kepada kita selaku orang Kristen. . . . Pengaruh agama Kristus menggembirakan dan meluhurkan hati. Agama itu melebihi segala sesuatu senda-gurau dan lelucon yang bodoh, obrolan yang dangkal dan sia-sia. Dalam setiap kesempatan kita mengadakan rekreasi, kita dapat mengumpulkan kekuatan hati yang segar dan kuasa dari Sumber Ilahi, agar kita lebih berhasil meluhurkan dan memurnikan hidup kita kepada kebaikan yang sejati, dan suci.”

Ada orang yang mempunyai hati nurani yang sudah sakit, baginya agama itu adalah satu penguasa lalim, yang memerintah mereka dengan tangan besi. Orang yang demikian senantiasa meratapi kerusakan akhlak mereka serta kejahatan yang disangka benar. Kasih tidak terdapat dalam hati mereka; wajah mereka tetap masam. Mereka tawar hati mendengar tawa yang sebenarnya tidak menyinggung dari orang lain atau orang muda. Mereka menganggap segala bentuk rekreasi dan hiburan itu dosa, dan beranggapan bahwa pikiran haruslah selalu digunakan hanya untuk hal-hal yang hebat dan berat. Hal ini suatu yang berlebih-lebihan. Yang lain lagi beranggapan bahwa pikiran haruslah terus-menerus mencari hiburan dan kesenangan yang baru agar mendapat kesehatan. Mereka belajar bergantung pada kegembiraan dan merasa gelisah tanpa itu. Orang yang demikian bukanlah orang Kristen yang sejati. Mereka mengarah pada sikap ekstrim yang lain. Prinsip Kekristenan sejati membuka suatu sumber kebahagiaan di hadapan semua orang, tinggi dan dalamnya, panjang dan lebarnya yang tak terukur.

Hidupku Kini, hal. 213

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *