ALLAH KITA YANG TIDAK TANGGUNG-TANGGUNG

Renungan Harian
Mari bagikan artikel ini

“Ia yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia” Roma 8:32.

Allah yang Alkitabiah tidak pernah berhenti pada ukuran-ukuran yang setengah-setengah. Dia tidak tanggung-tanggung dalam hal perilaku dan tindakan-Nya. Di atas segalanya Dia juga tidak tanggung-tanggung dalam memberikan diri-Nya sendiri. Dia tidak tanggung-tanggung terhadap dosa. Kesucian yang tidak terbatas dan kemurnian Allah tidak melakukan kompromi, tidak ada kelonggaran terhadap kejahatan. Dia menciptakan alam semesta dengan sempurna, namun juga memberikan kekuasaan untuk memilih bagi semuanya karena Dia ingin, dan masih tetap menginginkan tanggapan yang bebas dari hati yang penuh cinta terhadap cinta-Nya. Dengan kebebasan semacam itu, memang ada kemungkinan untuk mengatakan tidak kepada Allah. Dan kalau hal itu terjadi, kalau muncul dosa, Allah itu tidak tanggung-tanggung.

“Sebab jikalau Allah tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang berbuat dosa tetapi melemparkan mereka ke dalam neraka dan dengan demikian menyerahkannya ke dalam gua-gua yang gelap untuk menyimpan mereka sampai hari penghakiman” (2 Petrus 2:4). Suatu kali, seorang malaikat yang sempurna yang berjalan dengan kehendaknya sendiri harus disingkirkan. Allah kita yang tidak tanggung-tanggung, walau Dia menyayangi mereka, tetap harus menyingkirkan mereka.

Allah juga tidak menyayangkan dosa di atas bumi. Dia “tidak menyayangkan dunia purba, tetapi hanya menyelamatkan Nuh, pemberita kebenaran itu, dengan tujuh orang lain, ketika Ia mendatangkan air bah atas dunia orang-orang fasik” (ayat 5). Bangsa manusia sebelum air bah adalah bangsa yang hidup dengan umur panjang dan intelektual yang menonjol. Namun mereka telah mengubah kekuatan-kekuatan kreativitas dan energi tinggi mereka untuk mengejar kejahatan, hingga “segala kecenderungan hatinya” membuahkan kejahatan semata-mata, dan “bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan” (Kejadian 6:5, 11). Dan Dia yang panjang sabar melangkah masuk sebagai yang tidak tanggung-tanggung, membinasakan bumi dengan air bah yang dahsyat.

Selanjutanya, Allah tidak menyayangkan kota Sodom dan Gomora, tetapi mengubah kedua kota itu menjadi abu, “menjadikannya suatu peringatan untuk mereka yang hidup fasik di masa-masa kemudian” (2 Petrus 2:6). Kelakuan yang menjijikkan dari penduduk kedua kota itu, tersesat dalam kemurtadan, memberlakukan penghakiman dari Allah yang tidak tanggung-tanggung.

Namun itu belum semuanya! Allah yang tidak menahan kemurkaan karena dosa, justru memikul kemurkaan itu atas diri-Nya sendiri. Dia begitu mencintai kita sehingga Dia menyerahkan Anak-Nya yang tunggal, Putra-Nya yang paling dikasihi-Nya.

Dengan pemberian semacam ini, pemberian yang paling utama, “bagaimanakah mungkin Dia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” Segala—segala sesuatu—sekarang dan selamanya.

Allah yang luar biasa!

Ps. William G. Johnsson – Hati yang Berlimpah Kasih Karunia, hlm. 125

Mari bagikan artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.