anak-anak

ORANG TUA MEWAKILI TUHAN BAGI ANAK-ANAK MEREKA

Rumah Tangga
Mari bagikan artikel ini

“Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.”  Mazmur 103:13.

“Berbahagialah anak yang mendengar kata-kata yang membangkitkan cinta dan rasa syukur dan kepercayaan, bagi anak yang kelemahlembutan dan keadilan dan kesabaran dari bapa dan ibu dan guru menafsirkan cinta, keadilan dan kesabaran Allah; anak yang oleh percaya dan penyerahan diri dan penghormatan kepada pelindungnya belajar untuk mempercayai dan menurut dan menghormati Aliahnya. Dia yang memberikan kepada anak atau siswa karunia yang sedemikian yang telah mengaruniainya dengan harta yang lebih berharga dari kekayaan sepanjang zaman—harta yang bertahan sampai selama-lamanya.” (Education, hal. 245).

Berdasarkan rancangan Tuhan, orang tua berperan mewakili Tuhan bagi anak-anak mereka yang masih kecil. Orang tua pertama-tama berperan sebagai pencipta yang penuh kasih. Sebagaimana Bapa, Anak, dan Roh Kudus bersatu dalam kasih untuk menciptakan manusia menurut gambar mereka (Kejadian 1:26, 27), demikian juga manusia dirancang oleh Allah untuk bersatu dalam persatuan kasih pernikahan dan menciptakan makhluk-makhluk kecil menurut gambar mereka.

Sebagaimana Adam dan Hawa masuk ke dalam peristirahatan Sabat dalam hubungan yang penuh kasih dengan Allah segera setelah penciptaan mereka, demikian juga bayi-bayi yang baru lahir langsung masuk ke dalam pelukan orang tua mereka yang penuh kasih, beristirahat di dalam kasih sayang, pengasuhan yang penuh pengorbanan, dan perlindungan yang terus-menerus.

Sama seperti Allah menyediakan sebuah taman bagi Adam dan Hawa sebagai tempat untuk menemukan, belajar, dan mendapatkan wawasan, demikian juga orang tua yang saleh menyediakan rumah yang diperkaya dengan sumber daya untuk mengasuh, menginspirasi, menghibur, mengajak, membangkitkan minat, mendidik, dan mengembangkan anak-anak mereka dengan cara yang seimbang dan harmonis.

Sama seperti Allah memenuhi taman dengan makanan yang dirancang dengan sempurna untuk kesehatan manusia, demikian juga orang tua yang penuh kasih memberikan nutrisi yang dirancang untuk kesehatan dan kesejahteraan anak mereka.

Sama seperti Allah membawa binatang-binatang untuk dinamai Adam, demikian juga orang tua memberikan kesempatan kepada anak-anak mereka untuk menerapkan diri mereka sendiri; meskipun orang tua dapat melakukan aktivitas dengan lebih baik, kasih orang tua, seperti kasih Allah kepada Adam, bersukacita melihat anak mereka bertumbuh, menerapkan diri mereka, dan berkembang; dan mereka berbagi kegembiraan, senyuman, tawa, dan sukacita atas penemuan-penemuan baru dan setiap keberhasilan anak mereka.

Sama seperti Tuhan menyediakan pekerjaan yang berguna bagi orang tua pertama kita untuk mengembangkan dan memajukan keterampilan, kemampuan, bakat, dan kebijaksanaan mereka, demikian juga orang tua yang saleh menyediakan pekerjaan yang sesuai dengan usia dan berguna bagi anak-anak mereka, karena orang tua yang mengasihi tahu bahwa tanpa penerapan, tanpa pengerahan tenaga, tanpa investasi waktu dan energi, tidak akan ada perkembangan.

Sama seperti Allah menyediakan Pohon Pengetahuan tentang yang Baik dan yang Jahat agar Adam dan Hawa dapat memilih sendiri apa yang akan mereka ketahui-bukan secara kognitif tetapi melalui pengalaman; misalnya, apakah mereka akan mengetahui/mengalami kasih, kesetiaan, pengabdian, kepercayaan, kesetiaan, kedewasaan, keandalan, atau apakah mereka akan mengetahui/mengalami rasa takut, keegoisan, pemberontakan, rasa bersalah, rasa malu, dan ketakutan? Demikian juga orang tua yang saleh dan penuh kasih tahu bahwa kasih yang sejati membutuhkan kebebasan dan melatih anak-anak mereka untuk mengasihi dan mempercayai, tetapi mereka juga tahu bahwa ketika sudah cukup umur, anak-anak mereka harus dibebaskan untuk memilih sendiri apa yang akan mereka ketahui di dalam hati, pikiran, dan karakter mereka. Apakah mereka akan mengenal kebaikan? Apakah mereka akan mengenal Yesus dan menjadikan Dia sebagai keinginan pertama dalam hati mereka? Akankah mereka memilih untuk mengenal cara-cara Tuhan, atau akankah mereka mengenal kejahatan; akankah mereka memilih keegoisan dan mengenal pemberontakan serta pelanggaran hukum, dengan segala rasa sakit, penderitaan, rasa bersalah, rasa malu, dan kekacauan?

Sama seperti “TUHAN menghajar orang yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah terhadap anak yang dikasihi-Nya” (Amsal 3:12 BIS), demikian juga orang tua yang penuh kasih mendisiplinkan anak-anaknya, mengajarkan mereka yang benar dan yang salah, yang sehat dan yang tidak sehat, dan yang baik dan yang jahat. Namun, sama seperti disiplin Allah yang selalu ada dalam kasih, tidak pernah kehilangan kendali diri atau karena frustrasi dan ketidaksabaran, dan tidak pernah kasar, demikian juga orang tua yang saleh akan mendisiplin dalam kasih, dengan sabar dan penuh perhatian, dengan disiplin yang dirancang khusus untuk menebus anak-anak mereka, menuntun anak-anak mereka pada pertobatan yang rendah hati dan pengembangan kepribadian ilahi mereka, mendewasakan mereka agar kelak menjadi pribadi-pribadi yang dapat mengatur diri sendiri dan membawa gambar Bapa surgawi dalam segala hal yang mereka lakukan.

Dan sama seperti Tuhan berkata, “Marilah, marilah kita berunding bersama,” (Yesaya 1:18 KJV) dan menginginkan anak-anak-Nya untuk mengembangkan kepribadian mereka, kemampuan mereka untuk berunding, berpikir, menimbang bukti-bukti, dan “yang dengan terus menerus membiasakan diri [melatih] diri mereka untuk membedakan yang baik dari yang jahat” (Ibrani 5:14 AYT), demikian juga orang tua yang saleh mengajarkan anak-anak mereka bagaimana menggunakan kemampuan yang telah diberikan Tuhan untuk berpikir, menimbang bukti-bukti, mengambil keputusan, dan membedakan yang benar dan yang salah.

Dan sama seperti Yesus mengundang murid-murid-Nya untuk memahami persahabatan (Yohanes 15:15), demikian juga orang tua yang penuh kasih melakukan semua ini agar kelak anak-anak mereka bertumbuh menjadi sahabat-sahabat Allah yang penuh pengertian, dewasa, dan dapat dipercaya, dan dengan demikian menjadi pribadi-pribadi yang tidak perlu lagi diasuh, karena mereka memiliki pikiran Kristus (1 Korintus 2:16) dan dapat mengendalikan diri (Galatia 5:23).

Ya, orang tua berperan sebagai Tuhan bagi anak-anak mereka-sungguh suatu keistimewaan dan tanggung jawab yang luar biasa, yang dapat kita lakukan secara efektif hanya jika kita mengenal Tuhan bagi diri kita sendiri, berserah di dalam hati dan pikiran kita kepada-Nya, dengan rendah hati mencari hikmat-Nya, dan menerima kehadiran, kuasa, dan damai sejahtera-Nya yang tinggal di dalam diri kita.

Jika Anda adalah orang tua atau kakek-nenek, pertimbangkanlah dengan cermat tindakan, sikap, dan pilihan Anda ketika berhadapan dengan anak-anak dan cucu-cucu Anda, karena Anda berdiri menggantikan Tuhan dalam kehidupan mereka yang masih muda.


Mari bagikan artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *