Amazingfacts.id: Langhorne Clemens menggunakan nama samaran Mark Twain dan Sieur Louis de Conte untuk karya-karyanya yang berbeda. Benjamin Franklin menggunakan nama pena Mrs. Silence Dogood, dan C.S. Lewis menulis dengan nama Clive Hamilton.
Ada berbagai alasan mengapa penulis menggunakan nama pena. Terkadang seorang penulis ingin menggunakan nama yang lebih unik atau bahkan menyembunyikan jenis kelaminnya. Dalam beberapa kasus, penulis menggunakan nama samaran untuk melindungi diri dari balasan atas tulisan mereka.
Dalam hal keaslian Alkitab, para penulis Kitab Suci tidak berusaha menyembunyikan atau mengangkat diri mereka sendiri. Para penulis Alkitab juga tidak mengklaim bahwa isi pesan mereka adalah buatan mereka sendiri. Mereka mengakui Allah sebagai sumber ilahi mereka. Yesaya mengaitkan bukunya dengan penglihatan dari Tuhan (1:1), begitu pula banyak penulis lain, termasuk Amos, Mikha, dan Habakuk.
Lebih spesifik lagi, para penulis sering mengidentifikasi karya Allah melalui Roh Kudus dalam memberikan pesan-pesan kepada mereka. Yehezkiel berkata, “Sementara Ia berbicara dengan aku, kembalilah rohku ke dalam aku dan ditegakkannyalah aku. Kemudian aku mendengar Dia yang berbicara dengan aku.” (Yehezkiel 2:2). Dalam Perjanjian Baru, Paulus menjelaskan, “Tepatlah firman yang disampaikan Roh Kudus kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi Yesaya”. (Kisah Para Rasul 28:25).
Allah telah memperkenalkan diri-Nya dalam Alkitab melalui Roh Kudus. Melalui tangan sekitar empat puluh penulis manusia, Tuhan telah menyampaikan kebenaran surgawi selama periode sekitar 1.500 tahun. Karena sumber sejati Kitab Suci berasal dari ilham Roh Kudus, kita dapat mengetahui bahwa penulis sejati Alkitab adalah Allah.
Terapkan: Bacalah dengan seksama (atau nyanyikan) lirik lagu pujian “Give Me the Bible” dan bawalah pesannya sepanjang hari.
Pelajari Lebih Dalam: Nehemia 9:30; Mikha 3:8; Roma 1:1, 2.
Roh Tuhan berbicara dengan perantaraanku, firman-Nya ada di lidahku. (2 Samuel 23:2).
– Doug Batchelor –






