Darah Di Balik Tirai

Darah di Balik Tirai

Bank Pustaka

BK-BBVOleh : Joe Crews

Pendahuluan

Meskipun buku Ibrani sangat diabaikan oleh para pelajar Kristen dan juga orang Kristen awam, buku ini berisi beberapa doktrin dasar Alkitab yang paling penting. Hal-hal rohani yang hampir tidak disebutkan oleh penulis lain telah dijelaskan dengan sangat jelas oleh penulis buku Ibrani.

Mungkin ada dua alasan mengapa buku ini sering diabaikan. Pertama, karena banyak mengacu pada gambar dan tipologi dari Perjanjian Lama. Banyak umat Kristen modern yang merasa bahwa buku ini tidak sesuai dengan injil kebebasan yang ditulis pada buku Paulus lainnya.

Kedua, buku ini mungkin diabaikan karena berisi pernyataan-pernyataan yang sangat jelas yang sepertinya bertentangan dengan pendapat yang diyakini oleh mayoritas Kristen Prostestan. Tiga pendapat yang bertentangan dibahas di sepanjang buku Ibrani. Meskipun bila dilihat secara sekilas pada awalnya, pendapat tersebut sepertinya tidak berhubungan satu dengan yang lain, tetapi ketiga pendapat ini betul-betul saling berkaitan. Kemanusiaan Kristus, tugas imam besar Yesus di bait suci surga, dan pendapat mengenai kesempurnaan adalah tema kebenaran yang saling berhubungan yang ada dalam buku Ibrani.

Dua pasal pertama khusus membahas posisi dan entitas Kristus sebelum dan setelah Ia turun ke bumi menjadi manusia. Pasal tiga mulai membahas peran Yesus sebagai Imam Besar yang sejati dibandingkan dengan pelayanan imam manusia di bumi. Tema tersebut dibahas sepanjang 10 pasal berikutnya, dan dalam pasal-pasal tersebut istilah “sempurna”, atau kata yang memiliki makna sama, digunakan sebanyak sembilan kali.

Sekarang mari kita coba gali bagaimana tiga doktrin utama tersebut–kemanusiaan Yesus, Yesus sebagai imam besar, dan kesempurnaan umat-umat Allah—merupakan bagian sebenarnya dari kebenaran agung yang sama.

Banyak sarjana Alkitab yang bingung terhadap penjelasan Paulus yang panjang pada pasal dua mengenai kemanusiaan Yesus sepenuhnya. Dia membuat pernyataan tegas mengenai kemanusiaan Yesus yang jauh melebihi penjelasan Alkitab lainnya. Ayat 11 memberitahukan kita bahwa “Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu; itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara.” Dengan kata lain, Yesus memiliki tubuh yang sama seperti yang dimiliki saudaraNya umat manusia. Yang Menguduskan (Kristus Yesus) dan yang dikuduskan (manusia) sama-sama memiliki fisik manusia, dan betul-betul dapat disebut saudara. Topik ini diperjelas lagi pada ayat selanjutnya, “Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka.” Ayat 14. Kemudian tibalah pernyataan yang paling tegas yang hanya dapat diungkapkan oleh seseorang di bawah inspirasi langsung Allah, “Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah.” Ayat 17.

Paulus dengan lantang menyatakan bahwa hampir merupakan suatu kewajiban bagi Yesus untuk menjadi, melalui kelahiranNya secara fisik, seperti keluarga manusia yang mana karena mereka Ia harus datang untuk menyelamatkan. Keberanian tersebut tidak salah lagi berakar dalam kepastiannya bahwa dia melihat apa yang dipikirkan oleh Allah.

Mohon diperhatikan bagaimana fondasi tersebut dipaparkan untuk pasal-pasal selanjutnya. Disini kita mendapati dasar teologi Kristus sebagai Imam Besar di bait suci surga. Ia harus menjadi seorang manusia agar dapat menjadi “Imam Besar yang penuh kemurahan dan kasih setia.” Dia harus melalui pengalaman kita supaya dapat mewakili kita di hadapan Bapa. “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Ibrani 4:15.

Beberapa orang menyangkal bahwa kesucian Yesus tidak pernah dapat dicobai oleh godaan atau bujukan apapun di dunia ini. Biarlah mereka diingatkan bahwa Yesus mengosongkan diriNya dari keilahianNya ketika Ia datang diantara manusia. KetidakberdosaanNya yang sempurna tidak perlu dipertanyakan, tetapi ia mengambil rupa atas DiriNya bukan “malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani.” Ibrani 2:16.

Apakah kemanusiaan tersebut bisa dicobai? Tentu saja bisa. Kita mengetahuinya karena kita juga manusia. Kita tidak dapat dan tidak berani untuk menyelidiki misteri yang tidak dinyatakan, tetapi kita bisa meyakini hal-hal yang dinyatakan. Ia dicobai sebagaimana kita bergumul melawan Si Jahat.

Sebagai seorang manusia, Ia tidak asing terhadap penderitaan, ujian, dan kekecewaan yang biasanya menimpa kehidupan kita. Ia tidak sedikitpun menggunakan kuasa ilahiNya untuk menghindar dari kelemahan sifat alami manusia. Tetapi, Ia tidak berdosa bahkan dalam pikiranNya sekalipun.

Apakah pengalamanNya yang tidak berdosa memisahkan kita jauh dariNya sehingga kita tidak dapat mengharapkan kemenangan yang sama atas dosa? Tidak. Ada beberapa janji dalam Alkitab bahwa kita dapat mengalahkan sebagaimana Ia telah mengalahkan dosa. Kita dapat memiliki “pikiran Kristus” (Filipi 2:5), dipenuhi dengan “seluruh kepenuhan Allah” (Efesus 3:19), dan boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi (2 Petrus 1:4).

Kebencian yang murni dan suci terhadap dosa yang dialami Tuhan kita dari sejak Ia lahir dapat menjadi pengalaman setiap umat Kristen yang diubahkan dan dipenuhi oleh Roh Kudus melalui iman di dalam Allah. Yesus berulang-ulang menyadari bahwa Ia bergantung sepenuhnya kepada Bapa untuk semua yang Ia katakan dan lakukan. Ia dengan hati-hati membatasi diriNya untuk pekerjaan yang dapat diselesaikan oleh doa, iman, dan penyerahan—kesempatan yang terbuka kepada masing-masing kita.

Yesus—Imam Besar Sejati

Keseluruhan rencana kemenangan atas dosa merupakan bagian utuh dari pelayanan keimamatan Yesus yang indah yang akan mulai dijelaskan sekarang oleh Paulus. Karena dia berhubungan dengan orang-orang Kristen Yahudi yang percaya seutuhnya pada ritual keselamatan yang terdapat Pada Perjanjian Lama, Paulus sekarang memilih untuk menggunakan upacara-upacara yang sangat dikenal tersebut untuk membuktikan keselamatan “yang baru dan hidup” melalui Kristus.

Dengan sabar, dia memaparkan kembali persyaratan untuk menetapkan dan menahbiskan seseorang untuk keimamatan Lewi. Dengan cukup detail, dia menggambarkan pelayanan bait suci yang mana darah hewan dipercikkan di bilik kudus sebagai catatan dosa. Bahkan perlengkapan-perlengkapan di kedua bilik bait suci bumi dia jelaskan (Ibrani 9:1-5). Paulus mengingatkan pembacanya bahwa Musa mendirikan bait suci di bumi berdasarkan gambaran yang ditunjukkan kepadanya di gunung. (Ibrani 8:5).

Sekarang kita tiba di Ibrani 9 dan 10 dimana hubungan yang sangat dekat digambarkan antara tipe dan antitipe. Di sini kita dapat melihat dengan jelas alasan Paulus membahas dengan detail kemah suci di padang gurun. Segala sesuatu yang dilakukan oleh imam di bilik kudus dan maha kudus dari bait suci bumi hanyalah sebuah bayangan yang menunjuk kepada apa yang Kristus akan lakukan sebagai Imam Besar di bait suci surga. Paulus berkata, “Kita mempunyai Imam Besar yang demikian, yang duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di sorga, dan yang melayani ibadah di tempat kudus, yaitu di dalam kemah sejati, yang didirikan oleh Tuhan dan bukan oleh manusia.”
Ibrani 8:1, 2.

Kemudian 10 ayat pertama dari Ibrani pasal 9 mengulas pelayanan harian yang dilakukan di kemah pertama oleh para imam, dan tugas imam besar yang khusus dan luar biasa pada hari Pendamaian di kemah yang kedua.

Dari bilik kedua ini, Paulus berfokus kepada beberapa hal khusus. “Tetapi ke dalam kemah yang kedua hanya Imam Besar saja yang masuk sekali setahun, dan harus dengan darah yang ia persembahkan karena dirinya sendiri dan karena pelanggaran-pelanggaran, yang dibuat oleh umatnya dengan tidak sadar. Dengan ini Roh Kudus menyatakan, bahwa jalan ke tempat yang kudus itu belum terbuka, selama kemah yang pertama itu masih ada.” Ibrani 9:7, 8.

Disinilah dinyatakan hal yang sangat penting. Roh Kudus dinyatakan menggunakan ketetapan dari bait suci bumi untuk mengajarkan bait suci di surga. Roh Kudus juga menyaksikan bahwa jalan menuju bait suci surga hanya akan terbuka setelah bait suci di bumi selesai dengan misinya yang telah ditetapkan.

Pertimbangkan pertanyaan berikut: Mengapa penulis menghabiskan banyak waktu untuk menjelaskan tugas tertentu dari para imam di kedua bilik bait suci bumi? Dan mengapa dia menegaskan dengan sungguh-sungguh bahwa Roh Kudus mengajarkan hal khusus melalui kedua pelayanan tersebut? Karena segera setelah itu Paulus mulai menjelaskan tugas yang betul-betul sama di kedua bilik yang Yesus akan lakukan di bait suci surga. “Bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal.” Ibrani 9:12.

Istilah “bilik kudus” diterjemahkan dari kata Yunani “ta hagia” yang merupakan bentuk jamak yang artinya adalah “tempat-tempat kudus”. Karena itu, Paulus secara literal menyatakan bahwa Yesus akan mengambil darahNya sendiri dan masuk ke dalam kedua bilik (bilik kudus dan maha kudus) dari bait suci sebenarnya di surga untuk memulai pelayananNya karena kita. Bentuk jamak yang sama digunakan dalam Ibrani 9:24, “Sebab Kristus bukan masuk ke dalam tempat kudus buatan tangan manusia yang hanya merupakan gambaran saja dari yang sebenarnya, tetapi ke dalam sorga sendiri untuk menghadap hadirat Allah guna kepentingan kita.”

Dua Bilik di Surga

Beberapa orang meyakini bahwa sepertinya bait suci sesungguhnya yang berada di surga tidak memiliki dua bilik terpisah seperti yang digambarkan pada bait suci bayangan yang dibuat oleh Musa. Jika memang benar demikian, maka Musa tidak menuruti perintah spesifik Allah yang ditulis dengan jelas dalam Ibrani 8:5. “”Ingatlah,” demikian firman-Nya, “bahwa engkau membuat semuanya itu menurut contoh yang telah ditunjukkan kepadamu di atas gunung itu.” Jika Musa menambahkan sesuatu pada apa yang telah ditunjukkan di gunung, maka dia tidak betul-betul membuat segala sesuatu menurut contoh yang diberikan.

Lebih jauh lagi, Paulus telah menyesatkan para pembacanya dengan terus menerus menegaskan bahwa Yesus adalah Imam yang melayani di tempat-tempat kudus surga bukannya satu tempat kudus.

Dia menyatakan Kristus sebagai “yang melayani ibadah di tempat kudus, yaitu di dalam kemah sejati, yang didirikan oleh Tuhan dan bukan oleh manusia.” Ibrani 8:2. Kata “bait suci” dalam teks ini adalah bentuk jamak yang sama, ta hagia, yang artinya tempat-tempat kudus. Ini membuktikan bahwa ada bilik kudus dan bilik maha kudus di bait suci di surga.

Jika pelayanan Kristus tidak mencakup kedua bilik, mengapa Paulus perlu menjelaskan pelayanan dan perlengkapan dari kedua bilik sebelum dia membuat aplikasi mereka terhadap tugas Yesus di bait suci surga? Tidak ada yang menyangkal bahwa keimamatan di bumi melambangkan Yesus dan dua bilik di bait suci bumi adalah gambaran dari bait suci surga. Dimana ada bayangan, pasti ada yang asli.

Sebagai bukti akhir bahwa bait suci surga memiliki sekat pemisah antara bilik sebagaimana yang di bumi, bacalah deskripsi Yohanes mengenai Yesus “di tengah-tengah kaki dian”. Wahyu 1:13. Deskripsi tersebut mengkonfirmasi deskripsi Paulus dalam Ibrani 9:2, “Sebab ada dipersiapkan suatu kemah, yaitu bagian yang paling depan dan di situ terdapat kaki dian dan meja dengan roti sajian.” Yohanes melihat Anak Manusia di bilik pertama dari bait suci surga, dimana kaki dian selalu diletakkan.

Yohanes juga menggambarkan “tujuh obor menyala-nyala di hadapan takhta itu” dalam Wahyu 4:5. Kemudian beberapa ayat selanjutnya dia melihat “Anak Domba seperti telah disembelih,” “di tengah-tengah takhta.” Wahyu 5:6. Kembali Yesus berada di bilik pertama dari bait suci surga dimana terdapat sebuah takhta. Informasi tambahan terdapat dalam Wahyu 8:3 dimana seorang malaikat dilihat sedang berdiri dekat “mezbah emas di hadapan takhta itu” mempersembahkan kemenyan dengan sebuah pedupaan emas. Gambaran tersebut adalah perlengkapan terakhir yang berada di dalam bilik pertama, bilik kudus.

Untuk bilik maha kudus di surga, baca tulisan Yohanes dalam Wahyu 11:19, “Maka terbukalah Bait Suci Allah yang di sorga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu.” Tentunya, ini menjadi bukti akhir bahwa gambaran untuk bait suci bumi juga memiliki dua bilik. Bilik maha kudus adalah tempat diletakkannya tabut perjanjian. (Ibrani 9:4).

Bait Suci Surga Memerlukan Pembersihan

Sekarang kita dihadapkan pada salah satu hal yang paling menakjubkan dari keimamatan Kristus di surga. Kita diberitahukan mengapa Ia perlu membawa darahNya ke hadapan Bapa demi kita. “Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan. Jadi segala sesuatu yang melambangkan apa yang ada di sorga haruslah ditahirkan secara demikian, tetapi benda-benda sorgawi sendiri oleh persembahan-persembahan yang lebih baik dari pada itu. Sebab Kristus bukan masuk ke dalam tempat kudus buatan tangan manusia yang hanya merupakan gambaran saja dari yang sebenarnya, tetapi ke dalam sorga sendiri untuk menghadap hadirat Allah guna kepentingan kita.” Ibrani 9:22-24.

Dari ayat tersebut kita diyakinkan bahwa sama seperti bait suci di bumi perlu ditahirkan, maka sama halnya dengan yang di surga membutuhkan pembersihan atau pentahiran. Paulus membuat pernyataan yang menakjubkan “haruslah…secara demikian” untuk gambaran yang ada di surga untuk dibersihkan. Penjelasan dari Kristus mempersembahkan darahNya sendiri untuk mentahirkan bait suci surga dapat dipahami ketika kita mengetahui apa yang menyebabkan bait suci menjadi najis. Karena sangat aneh bahwa ada faktor najis di tempat yang tidak berdosa di surga. Tapi tulisan tersebut menyatakan demikian dan kita tidak dapat mengabaikannya. Ada yang perlu dibersihkan di surga, dan darah Yesus yang akan melakukannya ketika Ia melayani di bilik maha kudus. Kita mengetahui bahwa pelayanan ini dilakukan di bilik kedua karena penjelasan ayat berikut, “Dan Ia bukan masuk untuk berulang-ulang mempersembahkan diri-Nya sendiri, sebagaimana Imam Besar setiap tahun masuk ke dalam tempat kudus dengan darah yang bukan darahnya sendiri. Sebab jika demikian Ia harus berulang-ulang menderita sejak dunia ini dijadikan. Tetapi sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya, pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh korban-Nya.” Ibrani 9:25, 26.

Perkataan tersebut menyatakan bahwa Kristus sedang menggenapi bayangan dahulu yang terjadi setiap tahun pada Hari Pendamaian di Israel. Upacara khidmat tersebut disebut “pembersihan bait suci.” Upacara tersebut mencakup salah satu pelayanan yang paling penting yang pernah dilakukan di bait suci. Seperti yang tertera dalam buku Ibrani, upacara harus dilakukan setiap tahun oleh imam besar. Itulah satu-satunya hari dalam satu tahun yang mana seseorang dapat masuk melalui tabir yang memisahkan bilik kudus dan maha kudus, dan hanya seseorang yang dapat melakukannya—imam besar. Paulus menyatakan bahwa Yesus tidak perlu masuk melalui tirai setiap tahun seperti yang dilakukan imam besar di bumi. Tetapi Ia hanya melakukannya “satu kali saja pada zaman akhir”. Ia tidak memerlukan darah hewan, tetapi darahNya sendiri, untuk menyelesaikan pembersihan yang diperlukan.

Apa yang Menyebabkan Kenajisan?

Untuk memahami bagaimana bait suci di bumi dan di surga menjadi najis, kita harus kembali kepada peristiwa penting yang menuntun kita kepada Hari Pendamaian.

Setelah Musa kembali dari gunung dimana telah ditunjukkan kepadanya gambaran dari tempat kudus di surga, dia memanggil semua orang Israel yang memiliki keahlian untuk membangun kemah suci di padang gurun berdasarkan gambaran ilahi. Kemah suci terdiri dari dua bilik yang dipisahkan oleh tirai yang berat, kira-kira berukuran lima belas kali empat puluh lima kaki. Kemah suci dikelilingi oleh pelataran dimana mezbah korban bakaran dan bejana pembasuhan diletakkan.

Di bilik pertama, atau bilik kudus terdapat meja roti sajian, kandil emas, dan mezbah pembakaran ukupan. Di balik tirai merupakan bilik kedua yang disebut bilik maha kudus, yang hanya berisi satu perlengkapan, Tabut Perjanjian. Di kedua ujung tabut terdapat penutup kerubium yang dipahat dari emas, yang menudungi tutup pendamaian di tengah-tengahnya, yang menggambarkan hadirat Tuhan.

Karena ringan, kemah suci dapat dibawa di padang gurun dan didirikan di tempat mereka tinggal untuk sementara waktu, bangsa Israel akan membawa persembahan yang telah ditentukan untuk mendapatkan pengampunan atas dosa-dosa mereka. Setiap hari mereka yang berdosa akan datang ke halaman pelataran, menaruh anak domba yang tidak bercela di mezbah, mengaku dosa mereka di atasnya, dan menyembelih domba dengan tangan mereka sendiri. Kemudian, tergantung dari dosa yang dilakukan, imam akan memercikkan darah di bilik kudus, atau memakan sebagian kecil daging domba. Baik dengan memercik atau memakan daging, imam yang menanggung dosa bangsa Israel, dan akhirnya dosa dipindahkan dari imam ke bait suci dimana catatan dosa dibuat dengan percikan darah.

Tentunya kita dapat melihat dengan jelas simbol-simbol yang ada. Domba melambangkan Yesus. Dosa melambangkan kematian, dan dosa yang diakui dipindahkan kepada domba yang tidak berdosa. Kemudian, melalui darahnya, dosa mereka dipindahkan ke bait suci.

Karena catatan dosa yang bertumpuk di bait suci, Tuhan memerintahkan bangsa Israel untuk menetapkan pelayanan khidmat yang khusus sekali setahun yang disebut dengan Hari Pendamaian. Pada waktu itu, bait suci dibersihkan dari kenajisannya. Itulah waktu dimana pendamaian terakhir dibuat untuk dosa yang telah diakui sepanjang hari dalam satu tahun. Sebenarnya, hari tersebut terlihat seperti Hari Penghakiman, dan bahkan orang Yahudi modern menimbang Yom Kippur sebagai hari yang paling penting dalam setahun. Jika pengakuan tidak dilakukan di penghujung hari tersebut, orang tersebut akan dibinasakan dari tengah-tengah Israel dan mati tanpa pengharapan.

Maka tidak heran apabila orang-orang berdoa dan berpuasa menjelang dekatnya Hari Penghakiman setiap bulan ketujuh dalam satu tahun. Sementara mereka menunggu dengan menyelidiki hati secara tulus, imam besar membuang undi untuk dua kambing di pelataran luar. Setelah mengambil perbaraan berisi penuh bara api dan ukupan melalui tirai menuju bilik yang maha kudus, dia kembali untuk mengambil darah lembu jantan untuk dosanya dan memercikkannya tujuh kali di depan tutup pendamaian (Imamat 16:14). Kemudian dia menyembelih kambing yang mana undian jatuh atasnya (kambing kepunyaan Tuhan) dan memercikkan darahnya di bilik yang maha kudus di depan tutup pendamaian. Dengan demikian, pendamaian untuk bait suci yang telah najis telah selesai, begitu juga pendamaian untuk mereka yang telah mengakui dosa-dosanya.

Setelah memercikkan darah ke semua tempat dimana darah untuk menanggung dosa telah dipercikkan dari hari ke hari, imam besar keluar dari bait suci dan menaruh tangannya di atas kepala kambing kedua, bagi Azazel. (Imamat 16:20-22).

Apa yang diselesaikan dengan pelayanan ritual dramatis ini? Alkitab berkata, “Karena pada hari itu harus diadakan pendamaian bagimu untuk mentahirkan kamu. Kamu akan ditahirkan dari segala dosamu di hadapan TUHAN.” Imamat 16:30. Penting untuk memahami bahwa ada pekerjaan pembersihan, pentahiran yang dilakukan untuk orang-orang dan juga penghapusan catatan dosa mereka.

Semua simbol cukup menggambarkan dirinya sendiri kecuali kambing Azazel. Apa yang dilambangkan? Perhatikan bahwa upacara ini menggambarkan apa yang terjadi atas semua dosaa yang telah dilakukan sepanjang tahun. Mereka yang mengaku dosa dengan membawa seekor anak domba sekarang telah ditahirkan.

Mereka yang tidak datang di penghujung hari harus menanggung dosa mereka dan dibinasakan dari Israel. Kambing Azazel tidak mungkin melambangkan Yesus, karena tidak ada pencurahan darah darinya. Siapa lagi yang seharusnya memikul tanggung jawab dosa semua manusia? Hanya satu. Setan, sumber segala dosa, pada akhirnya akan menanggung atas dirinya semua dosa yang telah ia rancangkan.

Inilah yang dilambangkan oleh kambing Azazel. Dia tidak mendapat bagian apapun dalam pendamaian. Alkitab menyatakan dengan jelas bahwa imam besar telah selesai membuat pendamaian untuk semua orang. Pendamaian telah diselesaikan dan semua kesalahan yang telah diakui semua orang telah dihapuskan. Hukuman terhadap Setan untuk semua dosa yang mana merupakan tanggung jawab utamanya bukanlah sebagai hukuman untuk menggantikan atau mendamaikan, kecuali dalam konteks seorang pembunuh yang membawa atas dirinya sendiri hukuman atas dosanya.

Sebagaimana kambing Azazel dibawa untuk mati secara hina di padang gurun, penghapusan akhir dari semua dosa di alam semesta digambarkan dengan jelas. Dengan kematian si jahat, yang merupakan akar dan cabang kejahatan, jejak akhir dari konsekuensi menyeramkan dosa akan benar-benar musnah.

Karena itu, Hari Pendamaian adalah gambaran dari lenyapnya dosa dari alam semesta. Tanggung jawab akhir untuk semua dosa akan diusut dengan tuntas atas mereka yang bersalah, dan seseorang harus membayar penalti untuk setiap dosa. Kematian anak domba menjadi penalti untuk semua yang beriman kepada Juru Selamat, tetapi yang lain akan menanggung penaltinya sendiri. Setiap orang berdosa yang tidak menjadikan Kristus sebagai penanggung dosanya akan menanggung dosanya sendiri. Kristus menjadi wakil yang menanggung dosa berjuta-juta orang dan mati sebagai pengganti mereka, meskipun dia tidak pernah berdosa sekalipun. Setan juga akan menanggung dosa berjuta-juta orang, tetapi dia akan mati untuk dosa-dosa tersebut karena dia sendiri bersalah dengan membuat mereka berdosa. Jadi kedua kambing melambangkan dua cara bagaimana akhirnya dosa diakhiri—pendamaian melalui kematian yang menanggung dosa, atau hukuman melalui kematian si pendosa.

Sekarang kita lebih dipersiapkan untuk memahami apa yang Yesus lakukan sekarang di bait suci surga. Buku Ibrani dengan jelas menyatakan bahwa Kristus membawa darahNya demi kita ke bilik maha kudus. Paulus menyatakan bahwa Ia tidak perlu masuk setiap tahun, tapi hanya “satu kali pada zaman akhir”. Jadi jelas bahwa pekerjaan pengantara yang sama harus dilakukan di bait suci surga seperti yang dilakukan di bait suci bumi pada hari Pendamaian. Dengan demikian tidak perlu dipertanyakan lagi bahwa bait suci surga ditahirkan ketika Yesus masuk satu kali ke bilik yang maha kudus. Dengan demikian sangat menyetujui pendapat Paulus bahwa “Jadi segala sesuatu yang melambangkan apa yang ada di sorga haruslah ditahirkan …, tetapi … oleh persembahan-persembahan yang lebih baik dari pada itu. Ibrani 9:23.

Sekarang kita harus menjawab pertanyaan mengapa bait suci surga harus dibersihkan. Pada bayangan bait suci bumi, pembersihan diperlukan karena catatan dosa yang dilambangkan oleh percikan dosa. Catatan dosa tersebut harus dilenyapkan.

Apakah ada juga catatan dosa di bait suci surga? Jika iya, bagaimana dan di mana catatan tersebut disimpan? Berdasarkan Alkitab, catatan tersebut ada dalam bentuk buku. Yohanes menuliskan, “Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu.” Wahyu 20:12.

Tidak ada yang dapat menyangkal bahwa ada catatan dosa di surga. Semua dicatat di dalam buku, dan pekerjaan penghakiman terjadi berdasarkan buku catatan dosa. Daniel menggambarkan peristiwa penghakiman dalam pernyataan berikut, “Lalu duduklah Majelis Pengadilan dan dibukalah Kitab-kitab.” Daniel 7:10.

Pendamaian di Balik Tirai

Sekarang pelayanan Kristus di bait suci mulai kita fokuskan. Pentahiran bait suci surga merupakan penghapusan dosa melalui pendamaian darah yang Yesus lakukan untuk mewakili mereka yang percaya. Anda mungkin bertanya, “Bagaimana mungkin bisa terjadi? Bukankah pendamaian berakhir ketika Yesus mati di kayu salib?” Memang betul bahwa Yesus menyelesaikan pengorbanan yang mempersiapkan pendamaian akhir untuk setiap jiwa yang memohon pentahiran dan pengampunan. Tetapi, sebagaimana penyembelihan anak domba di pelataran tidak membersihkan catatan dosa sampai darah dipercikkan di bait suci, demikian juga dengan kematian Kristus tidak dapat mentahirkan kita kecuali pentahiran diberikan kepada setiap mereka yang mencarinya melalui Imam Besar di bait suci surga.

Semenjak Yesus masuk ke bilik maha kudus melalui tirai, Ia telah memulai pekerjaan penghakiman, membersihkan catatan dosa dengan memohon kepada Bapa dengan darahNya. Penulis Ibrani dengan jelas menghubungkan pekerjaan Yesus di bilik maha kudus dengan penghakiman. Ia menuliskan, “Sebab Kristus bukan masuk ke dalam tempat kudus buatan tangan manusia yang hanya merupakan gambaran saja dari yang sebenarnya, tetapi ke dalam sorga sendiri untuk menghadap hadirat Allah guna kepentingan kita. Dan Ia bukan masuk untuk berulang-ulang mempersembahkan diri-Nya sendiri, sebagaimana Imam Besar setiap tahun masuk ke dalam tempat kudus dengan darah yang bukan darahnya sendiri. Sebab jika demikian Ia harus berulang-ulang menderita sejak dunia ini dijadikan. Tetapi sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya, pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh korban-Nya. Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi.” Ibrani 9:24-27.

Pada ayat tersebut, rasul Paulus menghubungkan penghakiman dengan pekerjaan Yesus di bilik maha kudus. Pentahiran tersebut selalu dipertimbangkan sebagai Hari Penghakiman, karena berhubungan dengan “penghapusan” dosa dan bagian akhir dosa—baik melalui imam yang menanggung dosa atau pemusnahan mereka yang tidak bertobat.

Kemudian pada ayat selanjutnya Paulus menjelaskan akhir dari penghakiman dan kedatangan Yesus untuk membebaskan mereka yang dipertimbangkan layak atas keselamatan. “Demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.” Ibrani 9:28.

Beberapa kebenaran luar biasa diungkapkan dalam ayat tersebut. Kristus telah menyelesaikan pekerjaanNya sebagai penanggung dosa dan imam. Sekarang Ia digambarkan menyatakan diri “tanpa dosa”. Hal ini bukan berarti bahwa Ia memiliki kecenderungan untuk tidak berdosa—hal ini sudah jelas. Tetapi Ia tidak lagi menanggung dosa-dosa umatNya di hadapan Bapa. Ia tidak lagi melakukan pendamaian untuk mereka di bait suci surga. Ia telah selesai menjadi perantara. Pekerjaan penyelidikan penghakiman atas kitab-kitab di surga telah selesai. Sekarang Ia kembali tanpa dosa—tidak lagi menanggung dosa-dosa manusia—untuk menjatuhkan penghakiman yang telah diputuskan berdasarkan kitab-kitab.

Yohanes menuliskan peristiwa tersebut dalam pernyataan berikut:

“Barangsiapa yang berbuat jahat, biarlah ia terus berbuat jahat; barangsiapa yang cemar, biarlah ia terus cemar; dan barangsiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran; barangsiapa yang kudus, biarlah ia terus menguduskan dirinya!” “Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya.” Wahyu 22:11, 12.

Ketika Kristus melepaskan jubah imamNya dan memakai jubah rajaNya, masa percobaan setiap orang telah ditetapkan dan ditentukan untuk kekekalan. Setiap nama telah diterima atau ditolak berdasarkan catatan kitab. Sebuah ketetapan besar dikeluarkan dari takhta dan menyatakan bahwa semua orang harus sebagaimana mereka ada, dan mengumumkan kembalinya Yesus dengan segera untuk melaksanakan penghakiman yang telah ditetapkan. “Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu.” Revelation 20:15.

Mohon diingat bahwa faktor akhir yang menentukan adalah buku kehidupan. Setelah penghakiman berlangsung yang melibatkan buku kehidupan, beberapa nama akan ditemukan di dalamnya; beberapa nama tidak akan ditemukan, karena mereka mereka telah dihapuskan ketika penghakiman. “Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu. Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu.” Wahyu 20:12, 15.

Daniel membahas peristiwa yang sama dalam ayat berikut: “Tetapi pada waktu itu bangsamu akan terluput, yakni barangsiapa yang didapati namanya tertulis dalam Kitab itu. Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal.” Daniel 12:1, 2.

Kembali, urutan peristiwanya betul-betul sama. Keputusan telah dibuat berdasarkan kitab-kitab, dan eksekusi penghakiman dilakukan setelahnya. Hanya nama mereka yang tertulis dalam buku kehidupan yang bertahan dari pemeriksaan teliti dari penghakiman investigatif yang akan diperhitungkan layak untuk kehidupan kekal.

Dalam pembahasan singkat untuk topik ini, tidak akan sempat untuk mendiskusikan poin awal dari pekerjaan pembersihan di bait suci surga. Cukuplah untuk memberitahukan bahwa ada nubuatan khusus Daniel yang sebenarnya mengacu kepada tahun masuknya Yesus ke bilik maha kudus untuk memulai pekerjaan pendamaian akhir bagi kita. Karena sudah dimulai, dan pada saat ini kita hidup di waktu yang khidmat dari penghakiman, maka lebih baik bagi kita untuk menghabiskan waktu kita untuk memikirkan bagaimana tugas keimamatan Yesus memberi kebaikan bagi kita sekarang ini. Menarik untuk diingat bahwa berdasarkan bayangan dari bait suci bumi, waktu Imam Besar berada di bilik maha kudus lebih singkat dibandingkan dengan pelayananNya di bilik kudus.

Darah Kristus Menyempurnakan

Setelah membandingkan keimamatan di bumi dan di surga pada sembilan pasal pertama, sekarang kita memasuki pasal kesepuluh dimana Paulus menjelaskan keuntungan terbesar dari satunya dibandingkan yang lain. Ia terus menekankan bahwa ritual pengorbanan hewan di Perjanjian Lama tidak dapat membuat manusia berhenti berdosa. Dalam Ibrani 9:9 dia menulis bahwa pengorbanan “tidak dapat menyempurnakan mereka yang mempersembahkannya menurut hati nurani mereka”. Sebaliknya, dia menyatakan bahwa darah Kristus, karena kehidupanNya yang tidak berdosa, dapat “menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.” Ayat 14.

Sekarang pasal sepuluh dibuka dengan catatan yang sama. “Di dalam hukum Taurat hanya terdapat bayangan saja dari keselamatan yang akan datang, dan bukan hakekat dari keselamatan itu sendiri. Karena itu dengan korban yang sama, yang setiap tahun terus-menerus dipersembahkan, hukum Taurat tidak mungkin menyempurnakan mereka yang datang mengambil bagian di dalamnya. Sebab jika hal itu mungkin, pasti orang tidak mempersembahkan korban lagi, sebab mereka yang melakukan ibadah itu tidak sadar lagi akan dosa setelah disucikan sekali untuk selama-lamanya. Tetapi justru oleh korban-korban itu setiap tahun orang diperingatkan akan adanya dosa.” Ibrani 10:1-3.

Di sini Paulus mengungkapkan kelemahan terbesar dari keimamatan Lewi dengan ritual rutin korban penghapus dosa. Tidak pernah ada akhir dari prosesnya, karena manusia tidak pernah diberikan kuasa untuk berhenti berdosa. Setiap Hari Pendamaian bait suci harus dibersihkan, dan “setiap tahun orang diperingatkan akan adanya dosa.” Ayat 3. Jika ada pembersihan dan penyempurnaan yang sejati dari para penyembah, maka korban penghapus dosa akan berakhir. “Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa. Karena itu …” Ibrani 10:4, 5. Kata “karena itu” menunjukkan “dengan alasan ini”.
Apa alasannya? Dengan alasan bahwa korban penghapus dosa tidak dapat menghapuskan dosa dari kehidupan manusia. “Karena itu ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata: “Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki–tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku–.” Ayat 5.

Ayat di atas mencakup pesan yang sangat penting dari buku Ibrani. Dan meyakinkan kita bahwa Yesus datang ke dunia ini karena Ia tidak pernah berdosa. Ia akan melakukan apa yang tidak dapat dilakukan oleh korban hewan. Ia akan “menghapuskan dosa” dengan menghidupkan kehidupan penurutan yang sempurna dalam kedagingan yang dipersiapkan ketika Ia bergabung dengan keluarga manusia. KehidupanNya ditandai dengan penurutan sepenuhnya kepada kehendak Bapa, dan pemazmur menjelaskan bahwa kehendak tersebut adalah hukum Allah yang ditulis di dalam hati. Dengan kehendak (Penurutan kepada hukum) tersebut, Kristus dapat untuk mempersembahkan diriNya sebagai korban penghapus dosa yang sempurna kepada Bapa, sehingga memberikan penyucian kepada kita. “Korban penghapus dosa tidak Engkau kehendaki … meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat–. Dan kemudian kata-Nya: “Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu.” Yang pertama Ia hapuskan, supaya menegakkan yang kedua. Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan.” Ayat 8-10.

Mari kita tanyakan, apakah yang “pertama” yang dihapuskan? Artinya adalah korban yang dipersembahkan “karena (atau berdasarkan) hukum”—hukum upacara dari bayangan atau tipe. Apakah yang “kedua” yang Ia tegakkan? Berdasarkan ayat kita berikut, kehendak Tuhan. “Aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku.” Apakah kehendak yang dimaksud? “Aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku.” Mazmur 40:8. KehendakNya adalah Taurat, yang ada dalam dadaku. Berbeda dengan siklus dosa dan pengakuan dosa yang tidak pernah berakhir, Yesus datang untuk menghapuskan dosa. Dalam tubuhNya sebagai manusia, Ia memiliki penurutan yang sempurna kepada BapaNya, membuka sebuah jalan, melalui selubung kedaginganNya, bagi kita untuk mendapatkan juga kemenangan yang sempurna atas dosa.

Paulus melanjutkan, “Dan karena kehendak-Nya (hukum yang ada di dalam hati) inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus. Selanjutnya setiap imam melakukan tiap-tiap hari pelayanannya dan berulang-ulang mempersembahkan korban yang sama, yang sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa. Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah, … Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan.” Ibrani 10:10-14.

Disinilah kelebihan utama dari Perjanjian Baru ditegaskan dengan dramatis. Dengan kematian penebusan Yesus, hukum Allah ditulis di dalam hati kita, membuat pengudusan yang sempurna dapat dicapai semua orang. Perbedaan terdapat antara korban tahunan yang terus menerus yang tidak dapat menghapus dosa atau membuat penyembah menjadi sempurna, dan “korban” tubuh Yesus “satu kali untuk selama-lamanya” yang dapat menghpus dosa dan menyempurnakan kita. “–sebab hukum Taurat sama sekali tidak membawa kesempurnaan–tetapi sekarang ditimbulkan pengharapan yang lebih baik, yang mendekatkan kita kepada Allah.” Ibrani 7:19. Sehingga “pengharapan yang lebih baik”, tentu saja, merupakan keberhasilan pendamaian dari korban yang lebih baik–darah Yesus. Dan apa atau siapa yang membuatnya menjadi sempurna? “Yang mendekatkan kita kepada Allah.”

Untuk menutup argumentasi mengenai kesempurnaan dijelaskan dalam Ibrani 13:20, 21. “Maka Allah damai sejahtera, yang oleh darah perjanjian yang kekal … kiranya memperlengkapi kamu dengan segala yang baik untuk melakukan kehendak-Nya, dan mengerjakan di dalam kita apa yang berkenan kepada-Nya, oleh Yesus Kristus.” Dan apakah kehendakNya? “Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu.” 1 Tesalonika 4:3.

Beberapa orang takut dengan kata “sempurna”, tetapi Paulus tidak ragu-ragu menyatakan kuasa injil agung yang menyelamatkan sepenuhnya. Tidak ada yang dapat membaca buku Ibrani dengan cermat tanpa membacanya berulang-ulang. Terkadang kedengarannya seperti “menyempurnakan” umat percaya; berikutnya, seperti “membersihkan hati nurani”, atau “menguduskan” umat. Beberapa orang Kristen menolak gagasan bahwa kematian Yesus memberikan pengudusan. Mereka percaya pengudusan merupakan pekerjaan yang sangat berbeda, yang diselesaikan oleh Roh Kudus setelah pembenaran. Namun, penulis Ibrani pastinya tidak memiliki pandangan demikian mengenai pembenaran oleh iman. Dia secara konstan menghubungkan darah pendamaian dengan pekerjaan pengudusan. “Itu jugalah sebabnya Yesus telah menderita di luar pintu gerbang untuk menguduskan umat-Nya dengan darah-Nya sendiri.” Ibrani 13:12. Sekali lagi di dalam Ibrani 10:10, “Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.” Kemudian di dalam Ibrani 10:29 Paulus mengacu kepada “darah perjanjian yang menguduskannya.” Dalam Ibrani 6:1 Ia menuliskan, “Sebab itu marilah kita tinggalkan asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus dan beralih kepada perkembangannya yang penuh. Janganlah kita meletakkan lagi dasar pertobatan dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, dan dasar kepercayaan kepada Allah.”

Jika ada yang menghubungkan doktrin dari kemenangan sempurna atas dosa dengan doktrin “tubuh kudus”, kita harus langsung menambahkan catatan berikut: kekudusan dan kesempurnaan yang diberikan kepada manusia berdosa diterima sebagai karunia dari Allah dan dimungkinkan hanya melalui kehidupan dan kematian Yesus. KehidupanNya yang tidak berdosa dan kematianNya yang mendamaikan diperhitungkan bagi umat percaya untuk membenarkan mereka atas dosa-dosa yang telah dilakukan, tetapi kehidupanNya yang penuh kemenangan juga diberikan kepada umat Kristen untuk menjaga mereka tidak jatuh ke dalam dosa. Pekerjaan Imam Besar agung kita di bait suci surga adalah untuk mengerjakan kedua persyaratan mulia tersebut melalui pekerjaan pengantaraanNya.

Bersama Paulus, kita setuju bahwa “di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik.” Roma 7:18. Tetapi kita juga setuju dengan tulisannya selanjutnya, “Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging, supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh.” Roma 8:3, 4.

Kata “tuntutan” pada ayat di atas merupaka kata Yunani “dikaima” yang artinya “tuntutan adil”. Karena itu, tuntutan hukum hanya dapat dipenuhi oleh umat percaya hanya karena Kristus yang menghidupkan kehidupan sempurna dalam tubuh yang sama. Maksudnya bukan mengacu kepada pembenaran yang diperhitungkan tetapi kepada pemenuhan sebenarnya dari tuntutan hukum. Pastinya ini merupakan pengudusan, atau kebenaran yang diberikan. Penulis kitab Ibrani menegaskan dasar kesempurnaan umat Kristen yang dibutuhkan dengan pernyataan berikut bahwa jika “oleh imamat Lewi telah tercapai kesempurnaan … apakah sebabnya masih perlu seorang lain ditetapkan menjadi imam besar menurut peraturan Melkisedek …? Ibrani 7:11. Masih diperlukan imam yang lain karena sistem dahulu telah gagal untuk menyempurnakan para penyembah, dan jika Kristus tidak menyediakan kesempurnaan, maka tidak ada bedanya dengan korban hewan. Kuasa kemenangan sepenuhnya atas dosa yang membuat keimamatan Kristus lebih berkuasa daripada Harun. Jika penyucian tidak termasuk dalam pengantaraan Yesus, maka akan sama persis dengan apa disediakan oleh bayangan di bumi dan tidak lebih dari itu.

Sekarang kita memiliki tiga alasan mengapa Perjanjian Baru dapat menghapus dosa dan “menyempurnakan mereka yang datang”.

PERTAMA: Kristus tidak datang dengan korban penghapus dosa, tetapi dengan tubuh yang menghidupkan sebuah kehidupan dengan penurutan yang sempurna. Dengan contoh tubuh tersebut, Ia telah menguduskan sebuah jalan bagi kita untuk memiliki kesucian yang sejati. KemenanganNya atas dosa dalam tubuh yang sama seperti kita meyakinkan bahwa kita dapat memiliki kemenangan yang sama di dalam iman. “Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri…. Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat.” Ibrani 10:19-22.

KEDUA: DarahNya memperkuat Perjanjian Baru yang mana hukum ditulis di dalam hati kita. Dengan demikian memberikan semangat bagi umat percaya, memampukan Kristus menghidupkan kehidupan penurutanNya di dalam kita.

KETIGA: Keimamatan Yesus yang tidak berubah menyediakan setiap waktu kebaikan dari darahNya yang menebus untuk pembenaran dan penyucian. Ia menghapus dosa dengan membersihkan catatan dosa dari bait suci melalui pengampunan, dan dengan membersihkan hati umat yang percaya melalui kehadiranNya yang menguduskan. “Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka. Ibrani 7:25.

Paulus berbicara mengenai “keberanian” dan “keyakinan yang teguh” dalam mengikuti Imam Besar kita sampai kepada bilik maha kudus. Siapa yang tidak dapat datang dengan penuh keyakinan ketika efek pembersihan dijelaskan dengan frase seperti berikut: “hati kita telah dibersihkan”, “menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan”, “tidak sadar lagi akan dosa”, “menghapuskan dosa”, “menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia”, dan diselamatkan “dengan sempurna”?

Jika darah Kristus tidak memberikan kekuatan untuk menyucikan hati nurani dan menyempurnakan para penyembah, maka tidak ada gunanya juga menuruti hukum upacara korban. Dan jika Yesus tidak dapat memperlihatkan seorangpun yang dapat mengikuti persyaratan penurutan Allah yang semula, tuduhan Setan terhadap Allah akan menjadi benar. Tetapi jika dapat dibuktikan bahwa penurutan bisa dilakukan melalui kuasa Allah, maka setiap orang berdosa pada akhirnya akan mengakui keadilan Allah ketika meminta penurutan sebagai sebuah ujian kesetiaan dan kasih.

Puji Tuhan bahwa kesanggupan telah disediakan dari dahulu, sekarang, dan selama-lamanya. Kebaikan penebusan dari korban sekali untuk selama-lamanya dari Domba yang sebenarnya masih diberikan kepada mereka yang disucikan dan akan akan terus diberikan hingga Imam Besar kita keluar dari bait suci surga. “Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.” Ibrani 4:16. Sekarang, ketika anda membaca bacaan ini, Yesus sedang memohon darahNya untuk Anda. Dengan iman, ikutilah Dia melalui tirai sehingga Dia dapat menghapus dosa Anda dan membebaskan anda dari kuasa dosa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *