Jaminan - Pembenaran Disederhanakan

Jaminan – Pembenaran Disederhanakan

Bank Pustaka

BK-AJMSKarena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat—Roma 3:28.

Suatu Fakta Menakjubkan: Abraham Lincoln tidak hidup cukup lama untuk menyaksikan akhir resmi dari Perang Saudara, tetapi dia sanggup memberikan Proklamasi Emansipasi yang terkenal – membebaskan setiap budak di Amerika.

Suatu hari, seorang mantan budak di Washington D.C., yang melarikan diri dari Selatan selama perang, mendekati Lincoln. Dia mengambil sedikit uang dari sakunya dan memberikan itu kepada presiden. “Untuk apa ini?” Tanya Lincoln. Budak yang sudah bebas itu berkata bahwa dia hanya ingin membayar Lincoln untuk memastikan kemerdekaannya…

Tetapi presiden mnjawab, “Saya tidak dapat menerima uangmu.” Mantan budak itu memprotes, menerangkan, “Tetapi saya mau memberimu sesuatu. Saya sangat berterima kasih!” Lincoln berpikir sejenak lalu berkata,”Sebelum engkau berusaha menawarkan itu kembali, saya mau memperlihatkan sesuatu kepadamu.” Presiden kemudian berjalan keliling ke lingkungan pemukiman sekitar, sampai akhirnya menunjuk, dan berkata kepada orang yang bersyukur ini, “Engkau melihat rumah di seberang sana? Ada seorang wanita kehilangan tiga orang puteranya karena berperang demi kebebasanmu.” Lalu melanjutkan, ”Lihat rumah di seberang sana? Ada seorang wanita yang kehilangan puteranya, putera tunggalnya, dalam perang ini demi kemerdekaanmu.” Kemudian berkata, “Lihat rumah di sebelah sana? Rumah yang tidak biasa. Di dalam rumah itu seorang wanita kehilangan suaminya dan dua puteranya yang berperang di pihak musuh.” Kemudian presiden berbalik kepada lelaki itu dan berkata, “Jika engkau sudah mempertimbangkan berapa besar biaya untuk kebebasanmu, masih maukah engkau memberiku uang?”

Mantan budak itu berkata sesudah pertemuannya, “Saya menyadari bahwa itu akan menjadi penghinaan untuk menawarkan uang sesudah mereka membayar begitu banyak.”

 

Pertanyaan yang Kontroversial

Saya ingin melihat suatu pokok pikiran yang kontroversial dalam Kekristenan yang kita perlu mengerti untuk memiliki hubungan yang benar dengan Kristus – pembenaran. Itu adalah kata yang membingungkan banyak orang, dan membawa begitu banyak beban, tetapi saya pikir kami dapat menolong mengatasi kebingungan dengan meneliti Alkitab dan bertanya kepada Tuhan apa yang Dia telah katakan tentang segi iman yang sangat penting.

Banyak orang Kristen cemas akan keselamatan mereka. Yang lain berada di sisi keyakinan lain tidak tahu apa sesungguhnya arti dari pembenaran, jika mereka benar-benar memilikinya, dan mereka takut mengambil langkah pertama menuju Kristus. Apabila salah satu dari pihak-pihak ini menggambarkan keadaan Anda, saya memohon agar Anda mengambil sedikit waktu dan membaca terus buku kecil ini. Kebingungan dan ketakutan sesungguhnya tidak perlu, dan saya percaya apa yang Anda temukan dalam pelajaran ini akan menjadi berkat yang sangat besar bagi Anda, memberi Anda keyakinan untuk menghadapi masa depan yang disimpan Tuhan untuk Anda dan menyediakan alasan agar Anda percaya.

Apakah Pembenaran itu?

Karena pelajaran kita berpusat tentang pembenaran, adalah bijak untuk mempunyai suatu definisi yang tepat. Membenarkan berarti “menunjukkan atau membuktikan benar, tidak salah atau valid; menyatakan bebas dari salah; bebas; dibebaskan dari kesalahan dan hukuman yang mengikutinya, dosa yang menyedihkan.” Karena itu pembenaran adalah pengumuman yang legal bahwa tidak bersalah. Apabila Anda dibenarkan, Anda dinyatakan benar.

Menurut Alkitab, setiap manusia (kecuali Yesus) yang pernah hidup sudah berdosa dan bersalah untuk kejahatan yang dapat dihukum mati. Karena itu, dibenarkan oleh Kristus berarti Tuhan menyatakan Anda diampuni, bersih dari kejahatan yang Anda lakukan melawan Dia.

Namun siapa yang mempunyai hak untuk dinyatakan dibenarkan tanpa kasih karunia Tuhan, khususnya jikalau satu dosa saja membatalkan seseorang untuk hidup kekal? Dalam buku Step to Christ, kita diberi tahu bahwa “jika Anda menyerahkan diri Anda kepada Dia sebagai Juruselamat Anda, maka keberdosaan hidupmu,demi Dia Anda telah diperhitungkan benar.” (hal 65). Penulisnya melanjutkan mengatakan bagaimana pembenaran sesungguhnya bekerja: Karakter Kristus berdiri di tempat karakter Anda, dan Anda diterima di hadapan Tuhan sama seperti jika Anda belum berdosa.

“Seorang Penginjil menjelaskan dengan cara ini: Pembenaran (justification) berarti Tuhan memandang Anda sama seperti jika ”just – as – if – ication”. Dia memandang Anda sama seperti anda belum pernah berdosa.” Gantinya melihat kain kotormu, Tuhan melihat kebenaran Anak-Nya di tempat Anda, dan Anda dianggap benar.

Mendapat Pembenaran

Ini kedengaran bagaikan suatu transaksi sangat bagus untuk manusia yang sudah jatuh, teristimewa karena kebanyakan dari mereka terus hidup dalam pemberontakan melawan Tuhan. Tetapi untuk mereka yang masih tertarik, bagaimana kita dapat menerima pembenaran itu? jika Anda bertanya kepada tiap individu dalam gereja, Anda akan menemukan beberapa jawaban – dari iman kepada perbuatan-perbuatan, dan beberapa bahkan mengatakan dua-duanya. Baiklah, itu tidak penting berapa banyak orang yang Anda tanyai. Apa yang penting ialah apa yang dikatakan Alkitab tentang hal itu, sehingga itulah yang menjadi fokus kita.

“Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu! (2 Korintus 9:15). Sesuai ayat ini, keselamatan adalah pemberian. Roma 6:23 menggaris-bawahi ide ini ketika mengatakan, “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Pembenaran rupanya bukanlah sesuatu yang untuknya kita bekerja.

Bayangkan Anda pergi ke kantor pada hari Jumat dan pimpinan Anda memberi Anda sebuah amplop. Dia tersenyum cerah dan berkata, “Ini adalah pemberian untukmu!” Itu sangat menggembirakan Anda, lalu anda berjalan keluar, masuk ke mobil (karena anda tidak mau kelihatan begitu ingin), dan membuka amplop itu. Anda berdebar-debar, namun apa yang Anda temukan adalah bayaran Anda yang biasa yang jumlahnya sesuai jam kerja Anda yang biasa. Kebanyakan orang akan seperti anda tersinggung atau marah karena bos Anda menyebut itu suatu pemberian. Mengapa? Karena itu adalah upah Anda.

Jadi, keselamatan adalah sebuah pemberian, dan karenanya sesuai definisi Anda tidak mendapatnya sebagai upah. Apakah Anda pernah menerima pemberian yang Anda usahakan? Jika demikian, itu bukan pemberian, karena apapun itu tidak bisa disebut pemberian ketika Anda perlu melakukan sesuatu untuk mendapatkannya. Jika sesuatu hanya bisa Anda dapatkan dengan suatu pembayaran—entah itu uang, dagang, ataupun jasa, pada kenyataannya itu bukanlah benar-benar pemberian.

Roman 5:17, 18 mengatakan, “Sebab, jika oleh dosa satu orang (Adam), maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus. Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran (Yesus) semua orang beroleh pembenaran untuk hidup” (penekanan ditambahkan). Pemberian Cuma-cuma ini menghasilkan pembenaran.

Menurut Alkitab, apakah kita dibenarkan oleh perbuatan-perbuatan atau oleh satu pemberian sebagai respons terhadap iman? Jawabannya kelihatan jelas dengan apa yang kita sudah baca dari Kitab Suci, tetapi mari kita mendapatkan informasi tambahan dari Yesus.

Yesus Menjelaskan Tentang Pembenaran

Lukas adalah seorang kafir yang sangat mengerti ajaran Yesus, khususnya jika itu berhubungan pembenaran melalui iman sebagai suatu pemberian. Jika Anda ingin mengerti ilmu tentang pembenaran, perumpamaan yang ditemukan dalam Lukas 18 adalah satu cara terbaik untuk mempelajarinya. Saya ingin mengutip seluruh ayat di sini dan kemudian kita akan melihatnya dengan lebih teliti:

“Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Lukas 18:9-14)

Salah satu diantara masalah-masalah pada zaman Yesus adalah banyak pemimpin-pemimpin agama percaya mereka dijadikan benar oleh perbuatan baik mereka. Mereka percaya akan kebenaran mereka sendiri sementara memandang hina orang lain sebagai orang berdosa yang tidak berharga.

Dua orang dalam perumpamaan Yesus memberikan dua figur yang sangat kontras. Orang Farisi adalah satu bagian dari sekte Yudaisme yang dikenal sangat ketat pendiriannya tentang penurutan kepada hukum, sementara pemungut pajak (pemungut cukai) dikaitkan dengan gaya hidup yang sangat bebas dan penuh skandal. Ke-Farisi-an telah dianggap pilihan yang jelas untuk hidup kekal oleh banyak orang pada zaman Yesus, tetapi Yesus memiliki pemikiran yang berbeda. Perhatikan bahwa orang Farisi dikatakan berdoa “demikian lah dirinya.” Dengan perkata lain, dia sedang berdoa kepada dirinya sendiri dan tidak banyak kepada Tuhan. Dia terus bersyukur kepada Tuhan bahwa dia tidak seperti orang yang paling berdosa di dunia, dan lebih dari itu, dia mengingatkan Tuhan bahwa dia memberi persepuluhan dan berpuasa secara berkala. Itu mungkin sesuatu yang jujur, dan secara teknis adalah sesuatu yang baik. “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” (Matius 5:20). Tetapi gantinya bersyukur kepada Tuhan untuk kebaikan-Nya dalam kerendahan hati, dia bersyukur kepada Tuhan untuk kebaikan-kebaikannya sebagai suatu kesombongan.

Pemungut pajak , bagaimanapun, tidak juga merasa layak mendekati bagian depan Bait Suci; gantinya, dia berdiri di belakang dan gemetar ketakutan di depan mezbah. Perasaan bersalah dan rasa malu membuat dia menundukkan kepalanya dan memukul dadanya, suatu tanda pertobatan – suatu pertunjukan yang sejati dari dukacita karena dosa. Dia memohon kepada Tuhan agar berkemurahan kepadanya, orang berdosa yang hina. Di mana Orang Farisi punya begitu banyak untuk diberikan kepada Tuhan, pemungut cukai tidak punya sesuatu yang baik untuk diberi. Dengan demikian, tidak seperti orang Farisi, dia sedang memohon kemurahan Tuhan semata-mata.

Inilah intinya: Menurut Kristus, yang pulang ke rumah dibenarkan hari itu ialah pemungut cukai yang dicerca, yang berarti si Farisi yang dihormati tidak, walaupun dia membayar persepuluhan, berpuasa dua kali seminggu, dan menghidupkan banyak ketaatan keagamaan yang patut dicontoh.

Itu Tidaklah Rumit

Perumpamaan Lukas sangatlah penting, dan besar. Bagaimana pemungut cukai mendapatkan pembenaran? Oleh pengakuannya sendiri, kita tahu dia tidak mendapatkannya. Dia juga tidak mengatakan, “Tuhan, saya orang berdosa, tetapi lihatlah perbuatan-perbuatan baik yang saya sudah lakukan.” Tidak, dia hanya memohon kemurahan. Tidak juga membuat tuntutan seperti, “Tuhan, saya orang berdosa, sekarang beri saya kemurahan.” Dibutuhkan iman untuk memohon kemurahan Tuhan, karena dia tidak punya bukti yang kelihatan bahwa dia akan mendapatnya. Kasih karunia harus diminta dan menerimanya dalam iman.

Pada akhir perumpamaan ini, Kristus berjanji bahwa “bagi setiap orang yang meninggikan dirinya akan direndahkan; dan dia yang merendahkan dirinya akan ditinggikan.” Pemungut cukai memukul dadanya, bertobat, juga dengan rendah hati menundukkan matanya karena dia terlalu malu untuk memandang ke surga. Jadi, menurut Yesus, jika kita datang kepada Tuhan merendahkan diri kita, bertobat benar-benar dari perbuatan-perbuatan berdosa – mengakui keberdosaan kita – dan memohon kemurahan-Nya, kita akan pulang dari rumah Tuhan dengan dibenarkan.

Itulah kabar baik. Itu berarti jika Anda, siapapun Anda dan dosa apapun yang Anda pikul hari ini, lakukan apa yang dibuat oleh pemungut cukai, Anda akan meletakkan keyakinan itu di hadapan Tuhan, tabiat Kristus diperhitungkan kepada Anda. Anda diampuni; Anda telah diberi pemberian itu.

Apakah itu rumit?

 

Ketidakberdayaan Uang

Kisah 8:18-20 mengisahkan cerita yang sangat menarik yang mempunyai banyak wawasan berkenaan dengan pembenaran:

Ketika Simon melihat, bahwa pemberian Roh Kudus terjadi oleh karena rasul-rasul itu menumpangkan tangannya, ia menawarkan uang kepada mereka, serta berkata: “Berikanlah juga kepadaku kuasa itu, supaya jika aku menumpangkan tanganku di atas seseorang, ia boleh menerima Roh Kudus.” Tetapi Petrus berkata kepadanya: “Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang.”

Petrus sedang berbicara kepada seorang yang bernama Simon yang rupanya seorang tukang sihir bayaran. Dia menyaksikan Petrus dan Filipus menumpangkan tangan atas orang-orang Samaria. Sementara Roh Kudus turun ke atas Rasul-Rasul dan mujizat terjadi, Simon pikir, Hebat! Memikirkan bagaimana bisnis saya akan menguntungkan jika saya memiliki kuasa itu! jadi Simon menawarkan uang, berharap bahwa mereka dapat menjual kuasa Roh Kudus kepadanya.

Petrus merespons cepat dan tepat sasaran juga keras. Tanggapannya pada dasarnya marah dengan mengatakan, “Binasalah kiranya engkau dengan permintaanmu! Bagi Petrus, adalah penghinaan berpikir bahwa karunia-karunia Tuhan dapat dibeli dengan uang.

Masih banyak orang yang percaya dan bersikeras bahwa keselamatan dapat diperoleh dengan cara yang sama – dengan membeli. Teologi ini tidak berbeda dari apa yang Simon coba lakukan, walaupun Alkitab mempunyai tanggapan demikian keras kepada mereka yang mengatakan dapat membayar apa yang Tuhan beri.

Mengapa Tuhan bereaksi demikian keras kepada gagasan bahwa karunia-Nya dapat dibeli? “Tidak ada bagian atau hakmu dalam perkara ini, sebab hatimu tidak lurus di hadapan Allah. Jadi bertobatlah dari kejahatanmu ini dan berdoalah kepada Tuhan, supaya Ia mengampuni niat hatimu ini” (Kisah 8:21,22).

Kembalilah ke awal buku ini dan baca fakta menakjubkan tentang mantan budak. Dia ingin memberi uang kepada Lincoln sebagai pembayaran atas kebebasannya. Tetapi bagi Lincoln harganya sudah dibayar dengan darah, dan menerima uang untuk itu akan menjadi suatu penghinaan.

Apa yang sudah dibayarkan demi kebebasan kita dari perbudakan Setan? Darah Kristus. Apakah Anda pikir memberi uang kepada Tuhan, yang memberikan hidup Putera-Nya, membuat masuk akal sama sekali? Mungkinkah itu menjadi penghinaan bagi Tuhan dibayar untuk karunia-Nya yang Dia berikan secara gratis kepada Anda?

Ada sebutan bahwa “kebebasan itu bukan gratis.” Kristus membayar hutang Anda karena anda tidak dapat membayarnya. Betapa bodohnya kemudian mau memberi uang kepada Tuhan, atau perbuatan, untuk mendapatkan keselamatan Anda dalammeringankan perbuatan Kristus yang sudah dilakukannya demi Anda? Efesus 2:8 meneguhkan, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah.”

 

Satu Contoh Bagus Yang Lain

Sekarang saya mau ke kisah yang terdapat dalam Lukas 23. Kisah tentang dua orang pencuri yang disalib di samping Yesus memberi gambaran yang menggembirakan tentang ekstrimnya ke mana pembenaran dapat menjangkau.

“Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!” Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.” Lalu ia berkata: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” (ayat 39-43)

Di dalam Injil yang lain, kita juga pelajari bahwa dua penjahat ini, satu tergantung pada sisi kanan Yesus dan satunya di sisi kiri-Nya, bersalah karena dosa yang sama. Keduanya bersalah menghasut melawan pemerintah mereka, mungkin juga membunuh, dan untuk mendukung kegiatan mereka, mencuri.

Hal yang menarik ialah bahwa walaupun mereka memiliki catatan identitas sebagai orang berdosa, seorang diselamatkan dan yang lain binasa pada akhir kisah itu. Mereka juga menemukan diri mereka berada dalam keadaan yang sama tak berdaya, tak mampu melakukan sesuatu untuk menyelamatkan diri mereka dari penderitaan dan kematian. Juga tidak seorangpun yang memiliki sesuatu untuk diberikan untuk menebus pembebasan mereka dari salib di mana mereka sedang tergantung.

Kita juga membaca dalam Matius 27:39-44 bahwa keduanya mengejek Kristus pada satu saat. Namun sementara waktu berjalan terus, kelihatannya satu di antara mereka mulai memperhatikan perilaku Kristus dan mulai memikirkan kembali sikapnya. Tentu, mereka berdua adalah saksi tentang penderitaan Kristus, namun hanya satu dari mereka memiliki hati yang berubah. Kita tidak mengerti sesungguhnya bagaimana Roh Kudus menerangi hatinya. Saya menduga dia mendengar seseorang membaca dari Yesaya 53 atau Mazmur tentang penderitaan Mesias. Dia kemudian dapat melihat tentara-tentara mengundi jubah-Nya di kaki salib, dan mendengar Kristus berteriak: “Tuhanku, Tuhanku mengapa Engkau meninggalkan Aku?”

Kemudian pencuri yang satu, tidak berubah dari keadaan di mana dia berada, memutuskan untuk mengangkat suaranya melawan Yesus kembali. “Jika engkau adalah Kristus, selamatkanlah dirimu dan kami.” Pencuri ini kurang iman sudah terlihat dalam suaranya dari kata-kata:”jika.” Anda memerlukan iman agar diselamatkan. Tetapi pencuri lainnya melangkah untuk menegurnya. “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.” Dengan kata lain, “Sampai saat ini, tidak takutkah engkau kepada Tuhan? Jangan menyusahkan Yesus, karena kita mati untuk hal yang sama. Tetapi bedanya ialah kita pantas untuk apa yang kita terima.”

Tahukah Anda ini apa namanya. Pertobatan. Dia sedang mengakui kesalahannya. Dia mengakui bahwa apa yang didapatnya sekarang hanyalah ganjaran dari perbuatan-perbuatannya. Dijauhkan Tuhan kita harus mendapatkan ganjaran yang patut untuk perbuatan-perbuatan melawan Tuhan dan sesama kita. Itu membuat saya gemetar walau hanya sekedar memikirkannya. Saya tidak menginginkan ganjaranku, saya mau ganjaran Yesus.

Pencuri itu kemudian memohon doa pendek kepada Yesus, ”Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Itu seperti pemungut cukai di bait suci yang berkata,”Tuhan kasihanilah aku seorang berdosa.” Demikian juga sama dengan teriakan Petrus,“Tuhan, selamatkan saya.” Itu singkat saja karena hanya itulah waktu yang sisa baginya di dunia ini. Namun itu sangat efektif.

Menakjubkan, di tengah segenap kesengsaraan-Nya, pengkhianatan Yudas, tekanan beban dosa seluruh dunia ke atas jiwa-Nya, murid-murid yang meninggalkan-Nya, keterpisahan dari Bapa, dan semua kesakitan jasmaniah yang Ia sedang rasakan, Yesus tidak berkata, “Lihat, jangan ganggu Aku sekarang. Tidakkah engkau melihat saya berada dalam kesukaran?”

Tidak. Ia katakan kepada pencuri itu, “Pasti Aku katakan kepadamu pada hari ini engkau akan bersama Aku di Firdaus.” Apakah Ia mengatakan “Mungkin, itu adalah satu kemungkinan”? Tidak sama sekali. Tepat saat itu dan di sana, Kristus memberinya jaminan keselamatan. Kita tahu bahwa pencuri itu akan berada pada kebangkitan pertama, kebangkitan untuk semua umat kudus. Dia dibenarkan oleh iman.

Kita tidak mendengar lagi tentang pencuri itu, jadi kita dapat beranggapan bahwa dia telah menggantungkan imannya dan dia diampuni semata atas perkataan Kristus. Tetapi itu telah memberi penghiburan besar baginya sementara dia masuk kedalam kegelapan maut.

Anda juga dapat memiliki penghiburan yang sama saat ini. Yesus berkata, “Pasti”.

 

Apa Yang Mungkin Dibeli Oleh Karunia Gratis?

Amsal 18:16 mengajarkan, ”Hadiah memberi keluasan kepada orang, membawa dia menghadap orang-orang besar.” Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana satu pemberian dapat mengubah sikap? Adalah cukup sulit menjadi tidak ramah kepada seseorang yang baru saja memberi Anda satu hadiah.

Para Pelobi yang ingin mendapatkan perhatian dari politisi secara tetap mengirimi mereka hadiah-hadiah, dan kalau hadiah-hadiah itu diterima itu berarti pembuat hukum itu perlu memberi perhatian khusus pada gilirannya. Bagaimanapun, jika seseorang memberi Anda hadiah liburan yang biayanya sudah dibayar semuanya, dan Anda tidak mau menerima walau hanya panggilan telpon mereka…..itu akan menjadi sungguh tidak sopan!

Prinsip ini walau jauh lebih sederhana dari pada politik, tetap benar bilamana Tuhan memberi kita hadiah pembenaran yang luar biasa. Inilah hal di mana pertentangan antara perbuatan dan iman timbul. Itu tidak perlu membingungkan atau dipertentangkan sekalipun. Itu sangat sederhana: kita dibenarkan oleh iman. Itu adalah pemberian gratis, dan Anda dapat mencantumkannya di buku. Kasus ditutup.

 

Bagaimana dengan Yakobus?

Tetapi bukankah perbuatan-perbuatan berkaitan dengan pembenaran? Mutlak. Tetapi kata yang berlaku ialah “berkaitan.” Pembenaran tidak tergantung atas perbuatan-perbuatan. Tidak. Tidak pernah. Ini sangat, sangat penting untuk dimengerti, jadi saya ingin memberi Anda satu ilustrasi yang membuatnya lebih jelas.

“Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? (Yakobus 2:21). Tunggu Sejenak. Apakah Yakobus bertentangan dengan pekabaran Paulus dalam Roma 3:26: “Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan jugam embenarkan orang yang percaya kepada Yesus.” Apakah Alkitab saling bertentangan sendiri?

Dalam pelajaran kita tentang pembenaran, kita sudah membuat satu alasan yang kuat bahwa kita diselamatkan oleh kasih karunia melalui iman. Kemudian bagaimana kita menghadapi Yakobus? Kalau saat ini Anda bingung, tidak mengapa. Para Rasul dan pemimpin gereja mula-mula juga bingung. Tetapi kita punya jawaban yang jelas dari Alkitab. Kita tahu bahwa Roh Kudus yang mengilhami kedua penulis, dan dua ayat-ayat ini adalah Kitab Suci. Apakah Alkitab masih dapat dipercaya? Ya, tentu.

Kita perlu pergi ke satu ayat lagi dalam Yakobus untuk mengerti bagian yang membingungkan ini. “Apakah Kamu lihat, bahwa iman sedang bekerjasama dengan perbuatan-perbuatannya, dan oleh perbuatan-perbuatan iman menjadi sempurna? (NKJV). Iman, kemudian, bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan. Bagaimana? Ketika kita membaca kata “sempurna” dalam kalimat ini, itu berarti lengkap. Bila digunakan dalam kalimat, itu berarti perbuatan-perbuatan Abraham oleh iman menjadi petunjuk bahwa itu memberi bukti imannya. Dengan perkataan lain, perbuatannya membuktikan dia dibenarkan.

Masalah muncul dari fakta bahwa Paulus dan Yakobus sedang berbicara kepada dua kelompok orang percaya yang berbeda. Itu terjadi sepanjang waktu: Beberapa orang Kristen membutuhkan pekabaran yang berbeda dari pada yang lain untuk menarik mereka dekat kepada kehendak Tuhan. Ijinkan saya menjelaskan: Bilamana saya berada dalam ruangan yang penuh dengan orang-orang legalis, saya akan berbicara tentang kasih karunia. Bilamana saya berada dalam ruangan yang dipenuhi orang-orang yang percaya kebenaran (righteousness) oleh kesombongan, saya akan berbicara tentang penyerahan dan penurutan. Itu bukanlah suatu pertentangan melainkan pengajaran yang saling melengkapi untuk membentuk gambar yang lengkap mengenai pembenaran.

Di dalam Alkitab, Paulus sedang berhadapan dengan orang-orang percaya Yahudi yang mencoba memaksa orang-orang kafir yang bertobat untuk memelihara semua hukum Musa agar supaya dibenarkan. Paulus menanggapi hal ini dengan mengatakan bahwa orang tidak dapat memperoleh keselamatan; gantinya, itu datang sebagai karunia gratis dari Tuhan. Namun, Yakobus berhadapan dengan orang-orang percaya baru yang sudah masuk ke gereja mempercayai bahwa karena mereka sudah dibenarkan oleh iman, penurutan bukanlah masalah.

Marilah kita kembali ke perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai sekali lagi. Ketika pemungut cukai bertobat dan memohon kemurahan Tuhan, Yesus berkata dia pulang dibenarkan. Ada beberapa pertanyaan yang baik untuk diri kita: Apakah pemungut cukai tahu bahwa dia sudah dibenarkan saat pulang ke rumah? Demikian juga akankah seseorang tahu bilamana dia sudah dibenarkan?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, saya mau menanyakan beberapa pertanyaan lain: Jika kita diselamatkan oleh iman, akankah kita tahu itu? Apakah pemungut cukai yang sudah memohon kemurahan tidak berharap menerimanya? Kita harus siap mengakui bahwa Roh Kudus berbicara ke hati kita memberi kita damai bahwa Tuhan sudah mendengar doa-doa kita. Saya sudah pernah mendoakan masalah-masalah tertentu, menderita karena hal-hal itu, tetapi kemudian merasakan suatu damai yang tiba-tiba membanjiri jiwaku. Itulah perasaan bahwa doa Anda melintas kepada Tuhan, dan itu semuanya berada dalam tangan-Nya yang sangat mampu.

Saya yakin bahwa pemungut pajak itu pulang ke rumah tahu dia sudah dibenarkan dalam pandangan Tuhannya.

 

Ada Gesekan

Tuhan berkata, “Engkau sudah diampuni” kepada pemungut cukai. Apakah karena itu dia menjadi seorang yang berbeda? Dalam satu hal, ya tentu. Dia datang sebagai orang berdosa berdiri di hadapan Tuhan, dan sekarang dia pulang dibungkus oleh kebenaran Kristus. Tetapi pertanyaan yang lebih besar adalah akankah dia berperilaku berbeda sekarang karena tahu dia sudah dibenarkan?

Saya sangat yakin jika Anda benar-benar sudah dibenarkan Anda akan menunjukkan suatu perubahan perilaku yang pasti. Buah Roh akan termanifestasi di dalam Anda.

Jadi coba bayangkan untuk sesuatu alasan, Pilatus berkata kepada prajurit-prajuritnya, “Saya mau membebaskan salah satu dari pencuri itu.” Jadi prajuritnya memilih orang yang Yesus jamin masuk ke surga pada hari kebangkitan, lalu mereka cabut paku-paku di tangan dan di kakinya agar dia dapat sembuh. Dia berbekas paku seumur hidup, tentu, tetapi dia hidup.

Apakah Anda pikir dia sudah berbeda? Akankah dia kembali kepada dosa-dosa yang membawa dia kepada perbudakan sebelum saat Kristus memberi pengampunan-Nya secara gratis? Jika dia secara sukarela kembali kepada dosa-dosa masa lalunya, apakah Anda pikir dia adalah seorang yang sungguh-sungguh percaya di salib? Saya bertanya karena, bagi saya, pembenaran yang sejati dapat disaksikan melalui sikap dan perilaku dari seorang yang sudah diselamatkan.

Jangan jatuh karena kebohongan bahwa orang Kristen jangan berbicara tentang perbuatan baik karena itu membuat mereka legalis. Alkitab penuh dengan rasul-rasul dan nabi-nabi yang berbicara betapa pentingnya perbuatan baik ada dalam dunia ini. Bukanlah suatu dosa untuk berbuat baik – itu tidak salah untuk berhenti berdosa. “Demikianpun perbuatan baik itu segera nyata dan kalau tidak demikian, ia tidak dapat terus tinggal tersembunyi” (1 Timotius 5:25). Bagian ini menunjukkan bahwa perbuatan-perbuatan dari orang yang sudah diselamatkan terbukti karena mereka baik. Anda akan kenal orang yang diselamatkan dari buah mereka! 1Timotius 6:18 mengulangi, “Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi.”

 

Menggerakkan Kereta

Adalah suatu ilustrasi primitif dan tidak sempurna, namun saya pikir itu akan membantu memberi pengertian tentang semuanya ini. Anda punya kereta disebut perbuatan, dan punya kuda yang disebut kasih karunia – suatu pemberian gratis dari Tuhan. Anda ingn memindahkan kereta ini keluar dari parit, dan Anda punya beberap pilihan. Anda punya kuda, dapat mendorongnya, atau Anda dapat meninggalkan saja kereta itu dalam parit, yang melambangkan kutukan kekal.

Bayangkan Anda sendiri mendorong kereta sementara kuda terikat di belakang kereta. Apakah itu masuk akal? Mengapa menyangkalpemberian gratis itu ada dan berusaha keluar dari parit dengan usaha sendiri? Bagaimanapun, tidaklah mungkin mendorong kereta itu keluar dari parit oleh usahamu sendiri. Sekarang bayangkan bahwa Anda baru saja melepas kereta itu dan berkata, “saya akan berangkat ke Negeri Perjanjian tanpa kereta.” Bagi saya itu kelihatannya bahwa dimana saja Anda mengakhirinya, Anda tidak akan mendapatkan sesuatu apapun.

Memiliki kuda tentu membuat perbedaan yang besar, teristimewa apabila anda menempatkannya di depan kereta. Kuda, pembenaran, harus terjadi lebih dahulu. Apabila Anda melakukan itu, kereta, perbuatan baik, memastikan Anda memiliki sesuatu untuk ditunjukkan pada akhir perjalanan.

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (Efesus 2:10). Penulis ayat dalam Alkitab ini adalah orang yang sama yang menulis bahwa kita diselamatkan oleh iman dalam buku Roma. Adalah orang yang sama yang mengatakan kebenaran diterima sebagai karunia.

Tetapi di Efesus ini, Paulus mengatakan bahwa kita harus memelihara perbuatan-perbuatan, sehingga perbuatan-perbuatan itu membuat perbedaan pada akhirnya. Dia mengatakan bahwa jika kita dibenarkan, kita telah diciptakan kembali untuk melakukan pekerjaan baik. “dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu” (Titus 2:7)

Orang Kristen tidak harus memperlakukan istilah “perbuatan baik” seperti kata-kata kotor. Mengherankan bagi saya mengapa orang menjadi terganggu pada saat kami berbicara tentang buah perbuatan baik. Bagaimana penghuni semesta alam dan manusia di bumi tahu bahwa Anda sunguh-sungguh milik Kristus kecuali Anda memiliki sesuatu untuk ditunjukkan?

 

Pekerjaan Sejati Setiap Orang Beriman

Bilamana Anda diselamatkan di dalam Kristus, suatu kuasa yang baru diberikan kepada Anda untuk menghidupkan kehidupan baru. Inilahyang dikataka Yakobus ketika dia berkata, “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Karena itu Abraham disebut: “Sahabat Allah.”Dia cukup beriman untuk mempersembahkan anaknya.

Yesus mendukung interpretasi ini. Yohanes 6:28,29 adalah ayat yang sangat penting tentang perbuatan dan iman. “Lalu kata mereka kepada-Nya: “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.”

Apakah kita diselamatkan oleh perbuatan? Pekerjaan-pekerjaan apakah itu? Percaya! Baca ayat ini kembali. “Inilah pekerjaan …. hendaklah kamu percaya.” Apakah perlu usaha untuk percaya? Ya. Sering Anda tidak merasa seperti percaya, dan Anda perlu berdoa supaya Tuhan memberimu keberanian dan kekuatan untuk percaya Firman-Nya.

Ada usaha yang terlibat dalam mempercayai Tuhan, karena sifat alamiah kita sepenuhnya telah terdorong untuk mempercayai kebohongan iblis. Ia membuat kita ragu dengan memutarbalikkan bukti, dan kita meragukan hal-hal yang tidak dapat kita lihat. Jadi Tuhan tahu itu perlu usaha untuk percaya, bahwa kita harus memilih. Tetapi jika Anda berdoa, Dia akan menolong Anda dengan senang hati untuk percaya.

Inilah kutipan yang ditulis oleh seorang penulis brilian yang membuat pengertian yang lebih jelas tentang perbuatan (pekerjaan) dan iman.

“Oleh penurutan-Nya yang sempurna Dia mentaati hukum dengan sempurna untukku. Oleh iman pada jasa-jasa-Nya saya bebas dari kutuk hukum. Dia memakaikan kebenaran-Nya yang memenuhi semua tuntutan hukum. Saya lengkap di dalam Dia yang memberi kebenaran yang kekal. Ia menghadapkan saya kepada Tuhan di dalam jubah yang tak bernoda yang ditenun tanpa sehelai benang buatan manusia. Semua dari Kristus dan semua kemuliaan, hormat dan keagungan diberikan kepada Anak Domba Tuhan yang mengangkut dosa dunia” (1 Selected Messages, 369).

Mempercayai sering adalah suatu tantangan karena itu begitu sukar tidak memberi pujian pada diri kita dan berkata, “Tuhan, saya akan menolong Engkau menjadikan saya orang yang baik.” Atau “Tuhan, terima kasih bahwa saya tidak seperti orang berdosa lain, dan inilah daftar kebaikan yang sudah saya lakukan untuk-Mu.” Dapat menjadi sukar untuk mengesampingkan semua pakaian kotor kita yang terselubung sebagai kebenaran, membiarkan kesombongan pergi, dan mengakui bahwa Dia mendapatkan semua kemuliaan untuk kebenaran kita. Kita dibenarkan sebagai pemberian, tanpa tindakan dari kita kecuali mempercayai pemberian itu. Alkitab berkata jika kita mau merendahkan hati kita kepada kebenaran ini, Tuhan akan mengangkat kita. Jangan biarkan kesombongan menghalangi; gantinya, biarkan Tuhan meninggikan Anda sebagai hambanya yang baik dan setia oleh mempercayai Injil-Nya.

Dan kabar baik adalah suatu kebenaran yang sederhana. Bersyukurlah kepada Tuhan untuk itu dan katakan, “Tuhan, kasihanilah saya, seorang berdosa.” Kita dapat berdoa, “Tuhan, ingatlah aku saat Engkau datang dalam kemuliaan-Mu.” Kita dapat memohon, “Tuhan, pandanglah jubah kebenaran Yesus dan bukan pakaian kotorku.” Juga kita dapat katakan, “Tuhan, tolong saya menunjukkan kepada orang lain kasih karunia-Mu dalam hidupku.” Kita dapat berdoa, “Tuhan, gunakan saya sebagai alat-Mu dalam perbuatan baik. Kita dapat berkata, “Saya percaya, dan saya mau taat jika Engkau menolong saya, Tuhan.”

Dan untuk setiap doa yang dimohonkan, Yesus akan menjawab, “Pasti.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *