Orang Kaya Dan Lazarus

Orang Kaya dan Lazarus

Bank Pustaka


BK-RMALOleh: Dennis Crews

Banyak perbedaan pendapat yang ada berkaitan perkataan Yesus dalam Lukas 16:19-31 apakah perikop tersebut dimaksudkan untuk dimengerti secara harfiah atau sebagai sebuah perumpamaan. Beberapa umat Kristen merasa bahwa dalam cerita ini Yesus menyajikan kepada para pendengar-Nya sebuah cuplikan tentang seperti apa keadaan setelah kematian. Yang lain, mengutip banyak bagian dari Alkitab yang kelihatannya bertolak belakang dengan gambaran surga dan neraka yang ada pada perikop ini, merasa bahwa Yesus sedang mengajarkan jenis pelajaran yang sama sekali berbeda. Sayangnya, banyak guru-guru agama modern telah mengaburkan kisah ini dari konteks aslinya dan menggunakannya sebagai sebuah alat untuk menakuti orang-orang. “Pertobatan-pertobatan” keagaamaan sebagai hasil dari ketakutan akan neraka sebagaimana yang dilukiskan dalam perikop ini memang sudah terjadi, namun pertobatan yang benar didasarkan atas sebuah dasar akan kebutuhan yang sangat akan kekuatan yang hanya datang dari penghargaan yang sungguh-sungguh akan karakter Tuhan dan pemahaman yang tepat akan Kitab Suci. Untuk memulai pembelajaran ini, kita akan melihat lebih dekat tentang apa perumpamaan itu sebenarnya, lalu melihat situasi saat Yesus menceritakan kisah ini. Mungkin nanti kita akan mengerti dengan lebih baik pelajaran apa yang ada bagi kita dalam kisah orang kaya dan Lazarus.

Kamus The Random House College  menjelaskan sebuah perumpamaan sebagai “cerita yang pendek, bersifat kiasan, dirancang untuk menyampaikan kebenaran atau pelajaran moral.” Konkordans lengkap Cruden lebih jauh mengembangkan konsep ini, menyatakan bahwa perumpamaan di Alkitab digunakan “lebih umum dibandingkan di tempat lain..” Kita tahu bahwa penulis-penulis Alkitab menggunakan keadaan-keadaan baik yang imajiner – seperti dalam kisah pohon-pohon meminta semak duri untuk menjadi raja atas mereka (Hakim-hakim 9:8-15)- dan realistis dalam perumpamaan. Apapun bentuk dari perumpamaan tersebut, itu hanyalah sebuah sarana untuk mengajarkan pelajaran moral.

Yesus mengetahui nilai dari perumpamaan dalam mengajar orang-orang. Dia ingin menggugah pemikiran dan perenungan terdalam mereka, dan Dia tahu bahwa jika Dia berbicara terlalu harfiah, tentu pendengar-Nya akan dengan cepat melupakan perkataan-Nya. Bukan hanya itu, bagi yang lain, yang kepada mereka perumpamaan-perumpamaan-Nya mengandung teguran yang keras, tentu akan menjadi sangat marah oleh perkataan-Nya yang terus terang akan berusaha untuk mendiamkan-Nya dengan kekerasan. Cerdik seperti ular tapi tulus seperti merpati, Yesus mengulang kembali firman dalam Yesaya 6:9 dan mengatakan kepada murid-murid-Nya : “”Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti.” Lukas 8:10. Konkordans Cruden menjelaskan: “Juruselamat kita didalam Kitab-kitab Injil seringkali berbicara kepada orang-orang dalam perumpamaan. Dia menggunakannya untuk menudungi kebenaran dari mereka yang tidak bersedia untuk melihatnya. Mereka yang benar-benar rindu untuk mengerti tidak akan beristirahat sampai mereka sudah menemukan maknanya.”

Adalah tepat disini untuk bertanya kepada siapakah Yesus berbicara dalam Lukas 16:19-31. Golongan orang manakah yang Dia hadapi? Ayat terakhir sebelum Yesus mulai berbicara mengenai bagian ini akan memberitahu kita. Ayat 14 mengatakan, “Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia.” Yesus sedang berbicara kepada orang-orang Farisi, segolongan orang terkenal sepanjang kitab Injil akan penolakan mereka untuk berhubungan dengan terus terang dengan Yesus dan kebenaran-kebenaran yang diajarkan-Nya.
Kita dapat yakin bahwa dari semua orang yang diajar oleh Yesus, tidak ada yang ditangani dengan lebih hati-hati dibandingkan orang-orang Farisi yang cerdas. Mereka bersikap dengan penipuan dan dalih, tetapi Yesus bersikap pada mereka dengan bijak dan sungguh-sungguh. Cara paling aman bagi-Nya untuk melakukan ini adalah dengan perumpamaan dan kiasan. Bukti bahwa mereka tidak mengerti banyak dari pengajarran-pengajaran-Nya dapat dilihat dalam doa Yesus di Lukas 10:21 “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. ” Markus 4:33, 34 dengan jelas menunjukkan bahwa pelajaran-pelajaran dari Yesus hampir tak terkecuali dinyatakan dalam perumpamaan: “Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan pengertian mereka, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri. “

Sekarang kita siap untuk menguji kisah orang kaya dan Lazarus itu sendiri, dan mencoba untuk memastikan pesan sebenarnya yang Yesus coba sampaikan melalui kisah ini.

“Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. ” Lukas 16:19-21

Siapakah yang dilambangkan sebagai orang kaya? Orang Yahudi diberkati dengan luar biasa oleh pengetahuan akan Tuhan dan rencana keselamatan oleh-Nya bagi semua umat manusia. Mereka telah “diangkat menjadi anak, dan mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji. ” Roma 9:4. Hanya orang Yahudi yang akan berdoa kepada “Bapak Abraham”, seperti yang akan akan kita temukan dilakukan oleh orang kaya ini nanti dalam cerita. Bangsa Yahudi dengan jelas diwakili oleh karakter ini.

Sebaliknya, Lazarus melambangkan semua orang dalam kemiskinan rohani –orang-orang bukan Yahudi- yang kepada merekalah orang Israel diharapkan untuk membagikan pusaka mereka. Perkataan Yesaya dikenal baik oleh orang Yahudi. “Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.” Yesaya 49:6.

Sayangnya, orang Yahudi tidak membagikan kekayaan rohani mereka sama sekali dengan orang bukan Yahudi. Malahan, orang Yahudi menganggap mereka sebagai `anjing-anjing` yang hanya bisa puas dengan remah-remah rohani yang jatuh dari meja tuannya. Metafora ini sudah terkenal. Yesus telah menggunakannya sebelumnya saat menguji iman perempuan Kanaan. “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Kata perempuan itu: “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Matius 15:26,27

Orang Yahudi yang kaya telah menimbun kebenaran, dan dengan melakukan ini mereka telah merusak diri mereka sendiri. Sesaat sebelum menyampaikan perumpamaan ini, Yesus telah menegur orang Farisi akan kesombongan rohani mereka. “Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah.” Lukas 16:15.  Apa hasil dari kesombongan yang buruk ini?

“Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang. ” Lukas 16:22-26

Orang Yahudi telah menikmati `kehidupan yang baik` selama di bumi tapi tidak melakukan apa-apa untuk memberkati atau memperkaya tetangga mereka.

Sebaliknya, orang yang miskin rohani, dilambangkan oleh Lazarus, akan mewarisi kerajaan surga. Orang-orang bukan Yahudi yang lapar dan haus akan kebenaran akan dipuaskan. “Anjing-anjing” dan orang berdosa yang dipandang hina oleh orang Farisi yang merasa diri benar, akan memasuki surga mendahului mereka. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Matius 21:31

Perumpamaan ini diakhiri dengan si orang kaya ini memohon agar saudara-saudaranya diamarkan supaya tidak bernasib sama dengan dirinya. Dia memohon Abraham untuk mengirim Lazarus untuk misi ini, dia menduga “jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat.” Lukas 16:30. Abraham menjawab, “Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.” Ayat 31.

Yesus menegur orang-orang Farisi atas sikap mereka yang tidak mempedulikan Kitab Suci, dan melihat bahwa bahkan sebuah peristiwa supernatural tidak akan mengubah hati mereka yang bersikeras menolak pengajaran “Musa dan para Nabi:” Mukjizat kebangkitan Lazarus didunia nyata dari kematian segera setelah itu meneguhkan ketepatan dari kesimpulan Yesus. Seorang telah bangkit dari kematian, namun saudara-saudara “orang kaya` itu tidak bertobat. Nyatanya, orang-orang Farisi bahkan merencanakan untuk membunuh Lazarus setelah kebangkitannya. Hidupnya adalah amaran bagi mereka akan kemunafikan mereka.

Sekarang, banyak umat Kristen meyakini bahwa kisah orang kaya dan Lazarus adalah catatan sejarah dari pengalaman sebenarnya dari dua individu setelah kematian. Didasarkan atas keyakinan ini, sebagian orang mengajarkan bahwa mereka yang diserahkan pada siksaan nereka yang berapi-api tidak akan berhenti dibakar sepanjang kekekalan. Seperti pada perumpamaan pohon dan semak duri (Hakim-hakim 9;8-15), bagaimanapun juga, masalah serius akan muncul oleh penafsiran unsur-unsur cerita ini secara harfiah.

Dapatkah kita meyakini bahwa semua orang kudus sekarang berkumpul sedang di pangkuan Abraham? Jika demikianlah adanya, di pangkuan siapakah Abraham beristirahat? Dan jika memang ada sebuah jurang pemisah yang ditetapkan antara surga dan neraka, bagaimanakah orang kaya tersebut dapat didengar oleh Abraham? Mungkin yang lebih mengganggu, bagaimanakah orang-orang kudus dapt menikmati kenyamanan surga sementara bertahan dengan teriakan orang-orang jahat yang disiksa?

Dilema lain yang muncul dari penafsiran cerita ini secara harfiah disebut “misteri kubur yang kosong.” Jika ini diambil secara harfiah, maka kedua tokoh tidak akan menghabiskan waktu yang sangat panjang dalam kubur- keduanya akan tersapu dengan segera ke tempat mereka masing-masing untuk menerima upahnya. Tubuh mereka dengan jelas akan ikut pergi, karena kita menemukan si orang kaya mengangkat matanya, dan menginginkan lidahnya disegarkan oleh setetes air dari jari Lazarus yang sedang beristirahat, seperti yang kita lihat, di pangkuan Abraham. Banyak kuburan yang digali akhir-akhir ini untuk memberitahu kita bahwa tubuh orang yang meninggal tidak dibawa pergi ke surga atau neraka setelah penguburan. Mereka akhirnya akan menjadi debu dan menanti kebangkitan.

Dari beberapa contoh ini, kita mulai melihat bahwa dalam perumpamaan ini, Yesus tidak mencoba untuk menjelaskan kenyataan fisik setelah kematian. Malahan, Dia menunjukkan ketidaksetian orang Yahudi akan tanggungjawab yang telah ditugaskan kepada mereka. Sebagai penanggungjawab dari pekabaran kebenaran yang khusus, mereka sepenuhnya gagal untuk membagikan pekabaran itu dengan orang bukan Yahudi, yang ingin sekali mendengarnya. Nyatanya, seluruh pasal Lukas 16 dikhususkan pada subyek penatalayanan.

Dimulai di ayat pertama, Kristus memberi perumpamaan lain tentang penatalayanan uang atau hak milik. “”Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. “Setelah berhubungan pada prinsip dipercayakan benda-benda materi, Yesus membuka masalah dengan dipercayakan akan kebenaran. Dengan perumpamaan tentang orang kaya yang lain, Dia dengan nyata mengilustrasikan betapa mereka terbukti tidak setia dengan kekayaan rohani seperti bendahara yang tidak setia dengan kekayaan fisik.”

Mencoba untuk melebarkan perumpamaan orang kaya dan Lazarus untuk melingkupi doktrin mengenai api neraka akan menghilangkan pokok yang Yesus ingin sampaikan. Alkitab berbicara dengan kejelasan yang tidak dapat diragukan tentang neraka di banyak tempat lain. Tidak ada dimanapun dalam Alkitab yang mengajarkan bahwa orang berdosa akan terus menerus menderita di api neraka selama kekekalan yang tidak berakhir. Malahan, mereka akan sepenuhnya dibinasakan. Yesus tidak akan pernah mengkompromikan integritas Kitab Suci dengan mengajarkan doktrin yang berlawanan dengan kesaksiannya sendiri yang berlimpah pada subyek ini.

Kebenaran tentang neraka dapat dipastikan dengan memeriksa hanya sedikit dari banyak ayat Alkitab yang berbicara dengan jelas tentang pokok ini. Sebelum memeriksa ayat-ayat ini, kita harus ingat bahwa “upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal. ” Roma 6:23. Ada dua pilihan bagi setiap jiwa. Mereka yang menerima Yesus Kristus dan Pengorbanan-Nya yang menebus akan hidup selamanya; mereka yang tidak menerima Yesus akan mati. Jika orang yang jahat menderita tanpa akhir, hidup yang kekal –bagaimanapun sakitnya- akan juga menjadi bagian mereka. Tetapi kita tahu bahwa kehidupan kekal hanya tersedia bagi mereka yang menerima Yesus.

Pertimbangkan ayat Alkitab yang berbicara dengan jelas tentang upah orang yang jahat: “Sesungguhnya, orang-orang fasik akan binasa; musuh TUHAN seperti keindahan padang rumput: mereka habis lenyap, habis lenyap bagaikan asap. ” Mazmur 37:20.

“Bahwa sesungguhnya hari itu datang, menyala seperti perapian, maka semua orang gegabah dan setiap orang yang berbuat fasik menjadi seperti jerami dan akan terbakar oleh hari yang datang itu, firman TUHAN semesta alam, sampai tidak ditinggalkannya akar dan cabang mereka. ” Maleakhi 4:1

“Kamu akan menginjak-injak orang-orang fasik, sebab mereka akan menjadi abu di bawah telapak kakimu, pada hari yang Kusiapkan itu, firman TUHAN semesta alam. ” Maleakhi 4:3

“Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. ” Matius 10:28

“Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. ” 2 Petrus 3:10

“Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua.” Wahyu 21:8

Banyak lagi ayat lain yang bisa dikutip, namun ayat-ayat ini dengan jelas menggambarkan nasib akhir dari orang jahat ialah kematian. Perhatikan bahwa Kitab Suci memilih kata paling kuat yang mungkin untuk menjelaskan kebinasaan sempurna dari orang jahat. Tidak ada cara bagi kata-kata ini untuk disalah mengerti oleh mereka yang dengan tulus ingin mengetahui kebenaran. Ada api yang disiapkan bagi orang jahat, namun api ini sangat panas dan akan menghancurkan sepenuhnya semua yang tertelan olehnya. Ketika api itu sudah menyelesaikan tugasnya, ia akan padam. Api yang membakar dengan kekal tidak diajarkan dimanapun dalam Alkitab – bahkan tidak dalam cerita orang kaya dan Lazarus. (Sebagian orang heran apa maksud dari pernyataan “selama-lamanya” dalam Wahyu 20;10. Bagian lain yang mirip menunjukkan bahwa ini semata-mata berarti sepanjang seseorang hidup. Lihat Keluaran 21:6, 1Samuel 1:22, Yunus 2:6, dll. Pernyataan “api kekal” juga dapat dimengerti untuk menunjukkan konsekuensi dibandingkan durasi, sebagai contoh ialah Sodom dan Gomora dalam Yudas 7).

Adalah tragis untuk menghilangkan maksud sebenarnya dari perumpamaan ini dengan menghilangkan situasi saat Yesus menceritakannya. Mari kita terima pelajaran yang Dia coba sampaikan dan kita aplikasikan dalam hidup kita masing-masing. Apakah kita melakukan semua yang bias kita lakukan untuk menyebarkan pekabaran keselamatan bagi orang lain? Apakah kita memiiliki kasih yang sejati bagi mereka yang ada di sekeliling kita, dan sudahkah kita mengundang mereka untuk menerima warisan rohani kita? Jika kita menimbun kekayaan kita, seperti orang Yahudi di masa lalu kita akan merasa diri kita sendiri benar, dan rusak. Sebaliknya, dalam pelayanan yang aktif dan penuh kasih, hubungan kita dengan Kristus dan juga orang lain akan menjadi lebih kuat dan berarti.

Janganlah kita membuat kisah mengerikan menjadi dasar pengalaman Kekristenan kita. Sebaliknya, marilah kita mengerti bahwa “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. ” Yohanes 3:16

Beberapa Ayat yang Sulit Dijelaskan

1 Samuel 28:14 “Kemudian bertanyalah ia kepada perempuan itu: “Bagaimana rupanya?” Jawabnya: “Ada seorang tua muncul, berselubungkan jubah.” Maka tahulah Saul, bahwa itulah Samuel, lalu berlututlah ia dengan mukanya sampai ke tanah dan sujud menyembah.”

Peristiwa kontak dengan `orang mati` ini dikutip sebagai bukti adanya kehidupan setelah kematian. Tetapi, disini ada pokok-pokok yang berlawanan dengan itu:
Tukang sihir ditentukan untuk dihukum mati dan dilarang di negeri itu. (Ayat 3; Imamat 20:27)
Tuhan sudah meninggalkan Saul dan tidak akan berkomunikasi dengan dia (Ayat 15).
Samuel diduga `dibangkitkan`. Dengan kata lain: “keluar dari dalam bumi” “muncul ” dan “bangkit”.  Apakah disini tempat orang benar yang mati berada – dibawah bumi? Bukan demikian menurut mereka yang meyakini keabadiaan jiwa.
Samuel dijelaskan sebagai “seorang tua berselubungkan jubah.” Apakah begini cara jiwa yang abadi menampakkan diri? Dan dari manakah jiwa tersebut mendapatkan tubuh?  Mereka haruslah membunuh untuk mendapatkan tubuh.. Apakah ada kebangkitan disana? Apakah Tuhan  menuruti isyarat dan panggilan dari si penyihir dan membangkitkan Smauel? Jika tidak, dapatkah setan membangkitkan orang mati?.
Penampakan Samuel berkata kepada Saul, “besok engkau serta anak-anakmu sudah ada bersama-sama dengan daku.” Saul bunuh diri di medan peperangan keesokan harinya. Dimanakah Samuel diam, jika Saul yang jahat pergi ke tempat yang sama?
Catatan ini tidak pernah berkata bahwa Saul melihat Samuel. Dia menerima informasi sebagai pihak kedua dari tukang sihir tersebut, dan hanya menyimpulkan bahwa Samuel yang menampakkan diri dari deskripsinya. Kebenarannya ialah, setan menipu wanita tua yang risau ini, dan dia menipu Saul. Ini tidaklah lebih dari kontak `orang mati` yang dibuat setan.
Besarnya dosa Saul dinyatakan dalam perkataan ini,  “karena ia telah meminta petunjuk dari arwah, dan tidak meminta petunjuk TUHAN. Sebab itu TUHAN membunuh dia” 1 Tawarikh 10:13,14

 “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. ” Matius 10:28

Yesus dengan jelas mengajarkan di ayat ini bahwa jiwa tidak abadi dengan alami. Jiwa bisadan akan dibinasakan di neraka. Tetapi apa yang Dia maksudkan dengan membunuh tubuh, tetapi tidak berkuasa membunuh jiwa? Sebagian mengatakan demikianlah adanya, namun Alkitab menunjukkan sebaliknya.

Kata Ibrani `psuche` diterjemahkan menjadi `jiwa` dalam ayat ini, tetapi di empatpuluh ayat lainnya itu diterjemahkan menjadi `kehidupan`. Contohnya, Yesus berkata, “tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. ” Matius 16:25. Dengan nyata, `psuche` tidak berarti jiwa dalam contoh ini, atau dapat dikatakan bahwa orang kehilangan jiwa mereka demi Kristus. Itu diterjemahkan dengan baik menjadi `hidup`.

Tetapi bagaimana dengan Matius 10:28? Gantilah kata `jiwa` dengan `hidup` dan ayat ini memberi pengertian yang sempurna dala  konsistensinya dengan seluruh Alkitab. Perbandingannya ialah antara dia yang bias mengambil kehidupan fisik, dan Tuhan yang bias mengambil hidup yang kekal. Inilah bukti dalam sabda Yesus: “Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia! ” Lukas 12:4,5

Dalam kata lain, kata “jiwa” disini bukan hanya berarti kehidupan, lebih dari itu hidup yang kekal. Perhatikan bahwa Lukas mengatakan semuanya seperti Matius, terkecuali dia tidak mengatakan “membinasakan jiwa”. Malahan, dia berkata “melempar ke neraka.” Mereka mengartikan hal yang sama. Manusia hanya dapat membunuh tubuh dan menghilangkan kehidupan fisik. Tuhan akan melempar ke neraka dan mengambil hidup yang kekal. Bukan hanya tubuh mereka yang dibinasakan dalam api tersebut, namun juga kehidupan mereka akan dihabisi sepanjang kekekalan.

Matius 25:46 “Dan mereka ini akan masuk ke dalam hukuman yang kekal: tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.”  (KJV yang diterjemahkan).

Sungguh baik untuk memperhatikan bahwa Yesus tidak mengatakan bahwa orang jahat akan menderita  “penghukuman yang kekal.” Dia mengatakan “hukuman yang kekal” (dalam KJV). Apakah hukuman bagi dosa? Hukumannya ialah kebunasaan, dan dalam waktu yang kekal (2 Tesalonika 1:9). Dengan kata lain, kebinasaan tersebut tidak akan berakhir, sebab tidak aka nada kebangkitan dari kebinasaan tersebut.

Paulus mengatakan “upah dosa ialah maut.” Roma 6:23. Yohanes menjelaskan maut tersebut sebagai “kematian yang kedua” dalam Wahyu 21:8. Kematian atau kebinasaan tersebut akan kekal.

Markus 9:43,44 “Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan;  (di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.) “

Dalam ayat ini, kata `neraka` diterjemahkan dari kata dalam bahasa Yunani `Gehenna,` yang adalah nama lain dari Lembah Hinom yang berada diluar tembok Yerusalem. Disana sampah dan bangkai binatang dibuang dalam api yang bernyala-nyala untuk dihanguskan. Belatung yang makan dari bangkai terus menerus menghancurkan hal-hal yang lepas dari kobaran api. Gehenna melambangkan tempat dari pembinasaan menyeluruh
.
Yesus mengajarkan dalam ayat ini bahwa api neraka tidak dapat dipadamkan oleh siapapun. Yesaya berkata, “mereka tidak dapat melepaskan nyawanya dari kuasa nyala api” Yesaya 47:14. Lalu, dia segera berkata dalam ayat yang sama, “api itu bukan bara api untuk memanaskan diri, bukan api untuk berdiang!” Jadi, api yang tak terpadamkan akan lenyap setelah menyelesaikan tugasnya. Yerusalem dibakar dengan api yang tak terpadamkan (Yeremia 17:27)  dan kota tersebut benar-benar dibinasakan (2 Hakim-hakim 36:19-21).

Kobaran dan ulat-ulat Gehenna mewakili pembinasaan dan pemusnahan dosa dan orang berdosa. Dengan api Gehenna yang menyala dihadapan mereka, Yesus tidak dapat berkata dengan lebih jelas kepada orang Farisi untuk menjelaskan kebinasaan akhir yang menyeluruh dari orang berdosa.

Mereka yang mengutip ayat ini untuk menyokong doktrin kekekalan jiwa secara alami terlempar pada dilemma yang nyata. Mengapa? Karena api dan ulat-ulat bekerja, bukan pada jiwa yang dibunuh, namun pada tubuh! Dalam Matius 5:30 kristus berkata, “seluruh tubuh” akan dilemparkan ke neraka. .

Dalam Yesaya 66:24 gambaran neraka Gehenna yang sama disajikan dengan api yang tak terpadamkan dan ulat-ulat yang menghancurkan. Tetapi dalam kasus ini kata `bangkai` digunakan mengungkapkan fakta bahwa api menghabiskan tubuh yang mati, bukan jiwa yang dibunuh.

Lukas 23:43: “Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”

Sebagian orang berasumsi dari ayat ini bahwa jiwa-jiwa menerima upah mereka sesaat setelah kematian, bertentangan dengan puluhan ayat Alkitab lainnya. Namun perhatikan dua hal yang salah dengan asumsi ini. Pertama, meskipun Yesus mengatakan kepada si pencuri, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus,” tiga hari kemudia Dia berkata kepada Maria bahwa Dia belum naik kepada Bapa-Nya. Inilah bukti bahwa Bapa-Nya ada di Firdaus: Wahyu 2:7 mengatakan bahwa pohon kehidupan ada ditengah-tengah “Taman Firdaus Allah,” dan Wahyu 22:1,2 menjelaskan bahwa pohon kehidupan ada di sisi-sisi sungai kehidupan yang mengalir keluar dari Takhta Tuhan. Jadi tidak ada pertanyaan mengapa Firdaus berada dimana Takhta Bapa berada. Pertanyaannya ialah: bagaimana Yesus dapat mengatakan kepada si pencuri bahwa dia akan bersama-Nya di Firdaus hari itu, ketika Dia bahkan belum pergi kesana tiga hari kemudian?

Yang kedua, Yesus dan pencuri bahkan tidak mati di hari yang sama. Ketika para tentara datang sesaat sebelum matahari terbenar untuk mengambil jasad-jasad dari salib, Yesus sudah mati (Yohanes 19:32-34). Para pencuri sungguh masih hidup, dan kaki mereka dipathakan untuk mempercepat kematian dan mencegah mereka dari kabur. Tidak diragukan mereka masih hidup setelah matahari terbenam dan pada jam-jam hari Sabat dan bisa jadi lebih lama. Jadi bagaimana Yesus bisa memastikan si pencuri ada bersama-sama-Nya di Firdaus hari itu bila mereka bahkan tidak sama-sama mati di `hari itu`?
Kontradiksi yang kelihatan ini dijelaskan ketika kita mempertimbangkan pemberian tanda baca pada Lukas 23:43 adalah ditambahkan oleh orang-orang yang tidak diilhamkan ketika Alkitab bahasa Indonesia kita diterjemahkan. Mereka menempatkan koma sebelum kata `hari ini`, ketika nyatanya itu haruslah ditempatkan setelah kata `hari ini`. Kemudian ayat ini akan dibaca dengan benar, “Aku berkata kepadamu sesungguhnya hari ini juga, engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”  Dengan kata lain Yesus mengucapkan, ” Aku memberimu jaminan hari ini, ketika nampaknya Aku tidak dapat menyelamatkan siapapun, hari ini ketika murid-murid-Ku sendiri meninggalkan-Ku dan Aku sekarat bagaikan matinya seorang penjahat – masihlah Aku menjaminkanmu keselamatan sekarang.”

Tolong perhatikan bahwa si pencuri tidak meminta untuk dibawa ke Firdaus waktu itu. Dia memohon, “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.”  Saat itulah tepatnya dia akan diingat dan dibawa masuk dalan Kerajaan itu. 2 Korintus 5:6,8: “Maka oleh karena itu hati kami senantiasa tabah, meskipun kami sadar, bahwa selama kami mendiami tubuh ini, kami masih jauh dari Tuhan, tetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan.”

Pada ayat 1-8, Paulus membedakan keadaan sekarang yang fana dengan kehidupan abadi di surga. Perhatikan pernyataan yang dia gunakan untuk dua kondisi ini:

Fana    Abadi
Kediaman di bumi    kediaman di surge
kemah    kediaman yang tidak dibuat dengan tangan manusia
fana    kediaman surgawi
mendiami tubuh    beralih dari tubuh
jauh dari Tuhan    menetap pada Tuhan

Dia juga berbicara tentang mengenakan “tempat kediaman sorgawi” (ayat 2) dan lahi, dia merindukan supaya ” yang fana itu ditelan oleh hidup. ” Ayat 4. Tetapi kunci dari seluruh tulusan ini terletak pada penjelasan dari kondisi ketiga. Setelah merindukan untuk mengenakan keabadian, Paulus menyatakan “sebab dengan demikian kita berpakaian dan tidak kedapatan telanjang.” Ayat 3. Menyatakannya dalam cara yang lain, dia berkata “tanpa menanggalkan yang lama.” Ayat 4.

Dengan nyata, keadaan telanjang atau tidak berpakaian bukanlah mengenai kefanaan atau keabadian, namun kematian dan kubur. Paulus menyadari bahwa seseorang tidak akan lewat dengan segera dari mengenakan kemah ini menjadi mengenakan kediaman sorgawi. Kematian dan kubur ada diantaranya, dan dia menunjuk hal tersebut sebagai keadaan tidak berpakaian dan telanjang.
Di ayat lain, Paulus menyatakan dengan tepat kapan perubahan dari keadaan fana akan terjadi. Dalam 1 Korintus 15:52,53 dia menulis, “Sebab nafiri akan berbunyi dan yang mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati.” Itu akan terjadi saat Yesus datang.
1 Petrus 3:18-20 “Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh,  dan di dalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara, yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu. “

Ada kesalahpahaman yang sungguh-sungguh terhadap ayat-ayat Alkitab ini. Telah diajarkan bahwa Kristus betul-betul turun ke daerah bumi yang lebih rendah dan berkhotbah kepada jiwa-jiwa yang dilang yang dipenjarakan di api penyucian atau tempat buangan.
Ini sangat jauh dari apa yang sebenarnya ayat ini ungkapkan. Marilah lihat lebih dekat sekarang dan peroleh pekabaran yang sebenarnya dari ayat-ayat ini. Ayat-ayat ini mengatakan bahwa Kristus menderita sekali untuk dosa dan oleh kematian daging, Dia dapat membawa kita kepada Tuhan .  Tetapi Dia dipercepat oleh Roh yang olehnya juga DIa pergi dan berkhotbah.

Pertama-tama, perhatikan bagaimana Kristus berkhotbah kepada roh-roh dalam penjara. Dia melakukannya oleh Roh, dan kata itu dikapitalkan dalam Alkitab Anda. Itu betul-betul merujuk kepada Roh Kudus. Jadi, apapun yang Yesus khotbahkan pada masa itu, Dia melakukannya melalui atau oleh Roh Kudus.

Dalam sudut pandang ini, mari kita bertanya: Kapankah khotbah itu disampaikan? Jawabannya diberikan dengan jelas dalam ayat 20, “Ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya.” Jadi, khotbah tersebut betul-betul telah disampaikan selama bahtera disiapkan – selama Nuh berkhotbah kepada dunia kuno. Sekarang, satu pertanyaan lagi: kepada siapakah khotbah tersebut disampaikan? Ayat ini berkata “kepada roh-roh yang di dalam penjara.” Sepanjang Alkitab, kita menemukan istilah ini digunakan untuk menggambarkan mereka yang terikat dalam penjara dosa. Daud berdoa, “Keluarkanlah aku dari dalam penjara.” Mazmur 142:7. Paulus membicarakan pengalamannya melalui perkataan ini: “membuat aku menjadi tawanan hukum dosa.” Roma 7:23.

Hal yang ingin Petrus sampaikan disini sederhananya ialah bahwa Kristus melalui Roh Kudus hadir selama Nuh berkhotbah; Kristus ada disana melalui Roh Kudus untuk meyakinkan kepada mereka dan menyerukan kepada mereka untuk datang ke dalam bahtera. Tentu saja tidak ada disini yang menunjukkan bahwa yesus keluar dari dalam jasad saat Dia meninggal untuk pergi ke sebuah tempat di bawah tanah untuk melayani roh orang yang jahat. Ketiga pertanyaan dengan jelas dijawab dalam ayat itu sendiri, bahwa Dia berkhotbah melalui Roh Kudus, Dia melakukannya ketika bahtera dipersiapkan, dan Dia melakukannya juga kepada roh-roh dalam penjara atau orang-orang yang memiliki kehidupan penuh dosa dan terikat dalam penjara dosa.

Wahyu 14:10,11 “maka ia akan minum dari anggur murka Allah, yang disediakan tanpa campuran dalam cawan murka-Nya; dan ia akan disiksa dengan api dan belerang di depan mata malaikat-malaikat kudus dan di depan mata Anak Domba. Maka asap api yang menyiksa mereka itu naik ke atas sampai selama-lamanya, dan siang malam mereka tidak henti-hentinya disiksa, yaitu mereka yang menyembah binatang serta patungnya itu, dan barangsiapa yang telah menerima tanda namanya.” Kata “selama-lamanya”  bukan berarti “tidak berakhir”. Nyatanya, Alkitab menggunakan kata tersebut 56 kali (kata “selama-lamanya” dapat ditemukan dalam konkordans Anda) berhubungan dengan hal-hal yang sudah berakhir. Dalam Keluaran 21;1-6  budak Ibrani bekerja pada tuannya “selama-lamanya” (dalam KJV), tetapi itu jelas bahwa dia hanya bekerja selama ia masih hidup.  Hana membawa puteranya Samuel ke Rumah Tuhan untuk tinggal disana “selama-lamanya” tetapi dia dengan nyata membatasi waktu itu pada “seumur hidup.” 1 Samuel 1:22,28.

Istilah ini sangat jelas ditegaskan dalam Mazmur 48:14, “Sesungguhnya inilah Allah, Allah kitalah Dia seterusnya dan untuk selamanya!” Penghancuran Edom berlanjut “selama-lamnya.” Yesaya 34:10. Kristus disebut “imam untuk selama-lamanya” (Ibrani 5:6), namun setelah dosa dihapuskan pekerjaan Kristus sebagai Imam akan berakhir. Alkitab menyatakan “orang-orang fasik…. dipunahkan untuk selama-lamanya. ” Mazmur 92:7.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *