BAHASA ROH. APA YANG SEBENARNYA TERJADI DI KORINTUS?

Featured Pendalaman Alkitab
Mari bagikan artikel ini

Jika kutipan dari Kisah merupakan satu-satunya referensi di Alkitab yang membahas tentang karunia bahasa roh, maka tidak akan ba-nyak dasar untuk terjadi perdebatan dan juga tidak akan banyak alasan bagi para ahli glossolalia untuk berbicara dengan bunyi yang tidak dimengerti. Itu berarti bahwa praktek yang mereka tunjukkan sekarang ini sudah jelas tidak serasi dengan garis besar Alkitabiah. Tetapi surat Paulus kepada jemaat Korintus mengandung kutipan yang dapat menyebabkan terjadinya salah pengertian yang serius.

 Apa yang sebenarnya terjadi di Korintus?

Mari kita kembali ke abad pertama dan melihat latar belakang gereja yang menyebabkan adanya pertentangan ini.

Korintus merupakan suatu kota perdagangan kuno yang kembali diperkenalkan oleh Julius Caesar pada koloni Romawi di tahun 46 Sebelum Masehi. Terletak antara Ionian dan Laut Aegean pada penyempitan yang menghubungkan Yunani dengan Pelopon-nesus, dan didukung oleh pelabuhan Lechaeumnya yang terkenal di sebelah barat dan Cenchreae di sebelah timur, maka Korintus dengan pesat menjadi jalan lalu lalangnya perdagangan Mediterania. Dapat dimengerti mengapa raja memilih Korintus menjadi ibu-kota Roma di propinsi Achaia, membuatnya menjadi markas kedu-taan Romawi.

Sebagai daerah jajahan Roma, warganya juga adalah orang-orang Romawi, tetapi disana juga terdiri dari bangsa lain yang sa-ma-sama diakui, perhatikan fakta bahwa dewa-dewa asing lainnya seperti Isis dan Serapis juga sangat dijunjung disana, disertai kuil-kuil yang sama megahnya dengan yang didirikan untuk Apollo dan Aphrodite. Pemuja setan dan pemanjaan kebejatan seksual me-rajalela di mana-mana sehingga di kuil Aphrodite saja terdapat lebih dari 1000 hamba wanita yang bekerja untuk memuaskan nafsu pengikut dewi Aphrodite ini.

Melihat kejadian ini, usaha Paulus untuk menginjil di Korintus tentu saja bukanlah merupakan suatu tugas yang mudah.

Saat tiba di Korintus, pertama-tama Paulus tinggal bersama Akwilla dan Priskila. Kis.18:2. Dari situ dia mulai mengajar baik orang Yahudi maupun orang kafir. Menanggapi perselisihan yang terjadi diantara dua pengunjung Makedonia, yaitu Silas dan Timotius, Paulus kemudian pindah ke Justus. Justus adalah seorang pria Yahudi yang rumahnya terletak di samping rumah ibadah.  Ayat 4-7. Persahabatannya dengan Krispus, yang adalah pemimpin besar si-nagog, menghasilkan pertobatan banyak orang Korintus dan juga  seluruh anggota keluarga Krispus.

“Pada suatu malam berfirmanlah Tuhan kepada Paulus di dalam suatu penglihatan: “Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorang pun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umat-Ku di kota ini.” Maka tinggallah Paulus di situ selama satu tahun enam bulan dan ia mengajarkan firman Allah di tengah-tengah mereka.” Kis.18:9-11.

Selama delapan belas bulan yang sulit, Paulus bekerja di kota itu; kemudian ia pergi ke Syria, meninggalkan di kota itu satu  gereja Kristen sebagai pusat yang diharapkan akan meneruskan pekerjaan misionarisnya kepada semua bangsa yang ada di kota itu.

Sementara berada di Filipi, Paulus mendapat berita pertama dan mempunyai firasat adanya masalah diantara anggota jemaat barunya di Korintus.

Kloe merupakan orang pertama yang mengirim berita tentang masalah ini pada Paulus. I Kor.1:11. Tidak lama setelah itu, Paulus juga mendapat surat yang melaporkan padanya masalah yang sama. I Kor.7:1.  Kemudian ada kunjungan orang-orang yang membawa lebih banyak lagi berita buruk. Stefanus, Fortunatus dan Akhaikus tidak diragukan lagi mereka merasa bahwa Paulus tidak segera memberikan reaksi atau bahwa informasi yang diberikan padanya belum cukup. Apa pun alasannya, mereka merasa perlu untuk datang sendiri memberikan pernyataan mereka menambahkan berita yang buruk itu. I Kor.16:17.

Setelah mendengarkan mereka, Paulus yakin bahwa gereja yang dibentuk selama perjalanan penginjilan keduanya dan yang pada umumnya terdiri dari orang-orang kafir yang bertobat, telah jatuh dalam kerusakan rohani yang sangat bobrok. Laporan kebobrokan gaya hidup Kristen secara terang-terangan yang diberitahu-kan kepadanya tentu saja sangat mengerikan, bukan saja dalam hal jumlah, tetapi lebih dalam derajat kebobrokannya.

Paulus pastilah sangat kaget saat mendengarkan laporan ini.

Contohnya saja, di sana terjadi perpecahan yang besar antara orang-orang Kristen; iri hati; perselisihan (I Kor.3:3); percabulan, perzinahan antara anggota keluarga (incest) (I Kor.6); penipuan (ay.8); mabuk-mabukan, pemerasan, dan penyembahan berhala (I Kor.5:11); kemurtadan (I Kor.11:19); hadir dalam gereja dalam keadaan mabuk (ay.18:21); masa bodoh terhadap karunia alami maupun karunia rohani (I Kor.12:1); pe-nyangkalan terhadap doktrin kebangkitan dari kematian (I Kor. 15:12); dan penyalahgunaan perjamuan suci (I Kor.11:27-30).

Tidak heran mengapa Paulus merinding.

Jemaat yang dikasihinya telah kembali berbaur hampir secara sempurna dengan warga Korintus yang telah membuat kota ini ter-kenal dengan kerusakan akhlaknya. “Menjadi Korintus” (Corinthianize) telah menjadi buah bibir di zaman dahulu. Dan sekarang, bukannya menjadi terang di pusat penuh penyembahan berhala dari Kerajaan Roma, sebaliknya justru gereja Kristen Korintus secara praktis telah kembali bergabung dengan mereka, mengejek kuasa Kekristenan.

Walaupun semua pelanggaran ini telah diberitahukan dan di-tegur dalam surat pertamanya ke Korintus, Paulus memberikan perhatian yang sangat besar terhadap kesalahan dalam penanganan karunia berbahasa roh. Namun, harus ditekankan bahwa tidak ada dalam buku Korintus manapun Paulus menentang karunia berbaha-sa roh ataupun menyatakan bahwa mereka (orang-orang Korintus) sedang terlibat dalam praktek manifestasi yang palsu. Bahkan, Pa-ulus ingin semua umat percaya di Korintus memperoleh karunia bahasa roh (I Kor.14:5), dimana dengan tegas dia menyatakan bahwa dia tidak melarang bahasa roh. Ayat 39. Dia juga mengucap syukur pada Tuhan, menyatakan: “Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dari pada kamu semua.” Ayat 18.

Kombinasi pernyataan Paulus menunjukkan bahwa dia meng-akui bahasa roh di Korintus merupakan manifestasi yang valid dari glossolalia ilahi, dan bukan merupakan sesuatu yang palsu. Jika tidak, apakah dia sendiri, sebagai utusan Tuhan menyatakan kerinduannya bahwa semua berbicara dalam bahasa roh? Apakah dia akan menasehatkan mereka untuk tidak melarang berbahasa roh atau mengakui bahwa dia berbicara “dengan bahasa roh lebih daripada kamu semua?”

Tentunya hal ini tidak akan cocok!

Sebagian dari pasal 12 dan 13 dan keseluruhan pasal 14 dari surat pertamanya kepada Korintus berbicara tentang karunia berbahasa roh dan penggunaan yang benar dari karunia Roh ini. Paulus tidak mengutuk pengalaman dasar ini.

Tetapi suatu penelitian dari fenomena Perjanjian Baru tidak memperlengkapi kita dengan indikasi bahwa karunia bahasa roh telah mengalami suatu modifikasi dan telah diubah atas perintah Tuhan dari manifestasi berbicara dalam bahasa yang dapat dimengerti (seperti dalam Kis.2:1-4) menjadi suatu bunyi yang tidak dapat dimengerti pada saat orang-orang Korintus mempraktekkannya. Sebaliknya, masuk akal untuk berasumsi bahwa walaupun Korintus merupakan suatu kota dengan populasi kosmopolitan maupun poli-tik dan komersial dari propinsi Achaia, namun tidak diragukan bahwa masyarakatnya terdiri dari berbagai bangsa, disertai masuknya pelancong komersil secara terus menerus. Saat Paulus membangun jemaat di Korintus, sangat memungkinkan bahwa anggota-anggotanya menerima karunia berbahasa roh agar supaya mereka dapat menjangkau orang-orang asing dan masyarakat setempat dalam bahasa mereka masing-masing.

Paulus mengakui akan hal ini.

“Sebab di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahu-an, sesuai dengan kesaksian tentang Kristus, yang telah diteguhkan di antara kamu. Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karunia pun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus.” I Kor.1:5-7.

Setelah menuliskan daftar masalah yang telah merasuki gereja Korintus pada sebelas pasal pertama dari suratnya, Paulus akhirnya tiba pada titik masalahnya.

“Sekarang tentang karunia-karunia Roh. Aku mau, saudara-saudara, supaya kamu mengetahui kebenarannya.” I Kor.12:1 “Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh.” Ayat 4.

“Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu.” Ayat 8-10 (tulisan miring dilengkapkan).

Pernyataan ini nampaknya menyatakan bahwa Paulus menemukan bahwa orang-orang Korintus mempunyai pandangan yang tidak sempurna tentang karunia Roh. Dia menyamakannya dengan tidak mengenal kebenaran.Seluruh daftar keluhan yang diterimanya mengindikasikan bahwa gereja telah berubah mengikuti kekafiran, dan kenyataannya bahwa Paulus menghabiskan 3 pasal tentang bahasa roh membuktikan bahwa penggunaan pemberian ilahi ini telah sangat ambruk menjadi penghinaan. Sudah tentu akan menakjubkan bilamana gereja yang telah berbalik mengikuti kekafiran dan tidak mengindahkan tuntunan Tuhan hampir dalam segala sesuatu namun masih dapat mempertahankan karunia bahasa roh ini tetap murni. Kebanyakan dari latar belakang orang-orang Kristen ini berasal dari bangsa kafir, di mana berbahasa roh sangat dijunjung tinggi dan dianggap sebagai tanda pilihan para dewa.

Berkomentar tentang hal ini, Edward Schweizer menulis:

“Di Korintus pengertian tentang Roh Tuhan adalah menonjol dan bercampur baur antara Roh Kudus dengan antusiasme. Bagi orang-orang Korintus, bilamana ucapan yang tidak jelas terlihat lebih gaib, maka berarti lebih ilahi. Sehingga glossolalia merupakan derajat kedewasaan rohani yang paling tinggi, disebabkan hanya karena dia bergantung pada suatu kuasa gaib yang tidak dapat di-identifikasi oleh manusia biasa manapun.”– “The Service of Worship,” Interpretation, October, 1959, hlm. 403.

Kemampuan berbicara dalam bahasa lain telah diberikan Tuhan sebagai cara untuk menginjil kepada dunia, dan penekanan yang diberikan Paulus menunjukkan bahwa karunia bahasa roh telah menjadi bahan pertentangan.

Dua kali dalam suratnya yang berupa teguran kepada Korintus, Paulus memberikan daftar berbagai karunia roh, keduanya diakhiri dengan bahasa roh serta interpretasinya, yang dapat dimengerti pasti merupakan sesuatu yang mengagetkan umat Korintus.

Dalam I Kor.12:8-10, dia menyebutkan 7 karunia, dan kemudian, segera setelah itu sepertinya sebagai tambahan, dia menambahkan tentang karunia bahasa roh dan interpretasinya. Jelas terlihat ini bukanlah suatu kesalahan namun sengaja disinggung bilamana kita membandingkannya dengan daftar kedua pada ayat 28-30. Disini Paulus juga mencatat ketujuh karunia, dan sekali lagi karunia berbahasa roh serta interpretasinya disebutkan paling akhir.  Dalam daftar karunia rohani yang tercatat dalam Roma 13:3-8 dan Efesus 4:7-11, karunia ini sama sekali tidak disebutkan. Oleh sebab itu, ini bukanlah suatu manifestasi untuk mengungkapkan doktrin serta kuasa Tuhan seperti halnya karunia yang lain, tetapi hanyalah sebagai media komunikasi untuk membantu memperjelas apa yang anggota-anggota yang baru dibaptis harus tahu dalam bahasa mereka sendiri. Sifat dari kedua karunia ini semata-mata adalah untuk mengkomunikasikan sesuatu, dan dengan menempatkan karunia-karunia yang lain lebih diatas daripada karunia berbahasa roh dan interpretasinya, pada dasarnya Paulus menyatakan bahwa pengertian tentang dan dari Tuhan yang ditunjukkan melalui kelima karunia yang pertama akan diteruskan kepada yang lain melalui kedua karunia yang terakhir (bahasa roh dan interpretasinya); karena tanpa pengertian dan pengetahuan ilahi untuk mengkomunikasikannya, maka karunia bahasa roh dan interpretasinya tidak akan ada artinya.

Harus juga dicatat bahwa tiga dari empat daftar karunia rohani (I Kor.12:8-10; 28-30; Rom.12:3-8; dan Ef.4:7-11), yaitu karunia bernubuat, yaitu ‘berbicara untuk Tuhan’, terdapat di daftar paling atas.  Referensi karunia Roh dalam Roma dan Efesus bahkan tidak menyebutkan karunia bahasa roh dan interpretasinya.

Dengan itu, saat Paulus bertanya, “Adakah mereka semua ra-sul, atau nabi, atau pengajar? Adakah mereka semua mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, atau untuk menyembuhkan, atau untuk berkata-kata dalam bahasa roh, atau untuk menafsirkan ba-hasa roh?” (I Kor.12:29-30), dengan jelas dia mempunyai alasan untuk mengulangi pernyataan ini.

Pada ayat terakhir dari pasal ini dia memberikan jawaban: “Jadi berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama. Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi.” (I Kor.12:31).

Menurut pendapat Paulus, karunia yang dipuja oleh orang-orang Korintus, yaitu karunia bahasa roh dan interpretasinya tidaklah begitu penting. Dengan sederhana dia menasehatkan mereka untuk mencari karunia yang paling membantu untuk gereja, yaitu karunia bernubuat, “berbicara untuk Tuhan.” Ayat 5 dari pasal 14 membuktikan hal ini: “Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernu-buat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun.”

Sudah jelas bahwa orang-orang Korintus telah salah menekankan karunia bahasa roh. Bukannya mencari karunia yang dapat membangun jemaat, justru mereka mencari manifestasi untuk mem-bangun diri sendiri (I Kor.14:4),dan dengan demikian sedang meng-hancurkan jemaat.

Nampaknya Paulus sudah harus memberikan pendapat yang tegas, dan dia tidak ragu-ragu melakukan hal ini.  Menyadari bahwa karunia berbahasa roh mereka telah menjadi media komunikasi tan-pa inti yang sebenarnya, karena bagaimana mungkin mereka dapat membagikan keindahan injil serta besarnya kasih Kristus bilamana mereka sendiri telah kehilangan konsep arti sebenarnya dan sedang hidup dalam pelanggaran terhadap kasih yang besar itu. Oleh sebab itu Paulus memberikan mereka teguran secara terang-terangan.

“Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai ka-sih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing,” katanya memberikan nasehat kepada mereka dalam I Kor.13:1, dan kemudian dia melanjutkan, “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” I kor.13:4-7. “Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubu-at.”  (I Kor.14:1)

Beberapa penerjemah Alkitab sepanjang tahun telah meng-gantikan kata “cinta” dengan “kasih”, tetapi dalam keadaan apapun, Paulus sedang menasehatkan orang-orang Korintus untuk mencari kualitas yang tidak memungkinkan mereka untuk mentolerir keada-an yang telah mereka masukkan dalam gereja; yaitu ajaran-ajaran yang menyebabkan dia menulis surat ini.

Berlawanan dengan interpretasi yang diajukan oleh karisma-tik, dalam pasal 13:1 Paulus tidak mengakui bahwa dia berbahasa roh bagi manusia maupun malaikat. Dr.Gerhard F.Hasel dari Andrews University mengatakan bahwa, “nampaknya Paulus menggunakan sistem hiperbola saat ia berkata bahwa jika dia dapat berkata-kata dalam semua bahasa, termasuk bahasa malaikat namun dia tidak memiliki kasih, semuanya tidak ada artinya. I Kor.13:1 bukanlah kunci pemikiran Paulus tentang “berbahasa roh.”

Living Bible mengutip I Kor.13:1 sebagai berikut: “Jika saya memiliki karunia untuk dapat berbicara dalam bahasa lain tanpa mempelajarinya, dan dapat berkata-kata dalam semua bahasa baik di bumi maupun di surga, tetapi tidak mengasihi orang lain, saya hanya akan membuat bunyi-bunyian saja.

Pada titik ini kita akan jelas menyadari perubahan yang sa-mar-samar dari penerjemah dalam Alkitab. Sepanjang diskusi Paulus tentang manifestasi bahasa roh dalam pasal 12,13, dan 14, dia telah menggunakan kata bahasa roh sebanyak dua puluh tiga kali. Tetapi bahkan walaupun I Kor.14:2,4,14,19 dan 27 kata sifat “tidak dimengerti” mengiringi kata bahasa roh tidak ditemukan dalam kon-teks aslinya!  Para penerjemah dari King James Version hanya se-kadar menambahkan ayat ini dengan harapan dapat membantu menjelaskan arti sebenarnya. Ini didukung oleh beberapa edisi percetakan dengan menuliskannya dengan huruf miring.

Namun nampaknya mereka justru telah menyebabkan terjadinya salah tafsir dan bukannya lebih menjelaskan arti sesungguhnya!

 Pasal 14 memberikan kebanyakan pernyataan yang digunakan para ahli glossolalia dalam usaha mereka untuk membentuk dasar yang kuat untuk kedudukan mereka, mulai dari ayat pertama hingga sampai ke ayat 40. (Kata-kata yang diberikan oleh penerjemah King James terlihat dalam tanda kurung untuk halaman selanjutnya).

“Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh (yang tidak di-mengerti), tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorang pun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia. Tetapi siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada manusia, ia membangun, menasihati dan menghibur. Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh (yang tidak dimengerti), ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat. Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya ka-mu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh,kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun.” (I Kor. 14:2-5)

Mempertimbangkan berbagai bahasa yang digunakan dalam Korintus yang merupakan kota kosmopolitan, anggota-anggota ter-tentu dari jemaat tanpa ragu-ragu mampu berbicara dengan fasih dalam lebih dari satu “bahasa” karena selalu berhubungan dengan orang asing. Juga, pastinya ada banyak yang menerima “karunia bahasa” secara supernatural.

“Apakah anda mengerti berbahasa asing?” merupakan pertanyaan yang seringkali ditanyakan orang Barat pada orang dari negara lain, bukannya dengan penekanan mempertanyakan kemam-puan mereka untuk berbahasa Inggris, tetapi lebih untuk mempertanyakan apakah mereka dapat berbahasa asing atau memiliki kemampuan berbahasa asing. Saat seseorang bertanya, “Berapa ba-hasa yang anda kuasai?” kemungkinan besar mereka tidak mau tahu apakah orang itu dapat berbahasa Inggris; karena sudah pasti mereka dapat berbahasa Inggris. Mereka ingin tahu berapa bahasa asing yang lain yang mereka kuasai, dan hal yang sama juga terjadi pada orang-orang Korintus.

Saat Paulus menyatakan, “Mereka yang berbahasa roh berbicara bukan pada manusia, tetapi kepada Tuhan,” sebenarnya berarti bahwa jika anda berbahasa roh atau hebat berbahasa asing dalam gereja (maksudnya adalah berkhotbah dalam gereja dalam sisa pasal ini), anda sebenarnya hanya berbicara pada Tuhan, dan bukan pada orang lain manapun. Dengan kata lain, dia berkata, “dalam roh dia berbahasa gaib.”

 Bernubuat!  Berbicara untuk Tuhan! Seru Paulus. Paling tidak inilah yang membangun gereja. Sebaliknya, mereka yang berbahasa roh sering kali membangun dirinya sendiri, yang berarti membuat orang tersebut terlihat penting karena dia merupakan satu-satunya  pendengar dari mereka yang berbicara.

Berusaha untuk memperhalus pendekatannya, namun tetap tegas pada pendiriannya, Paulus menasehatkan, saya harap kalian semua dapat berbicara dalam bahasa-bahasa, tetapi saya lebih cenderung bahwa engkau bernubuat, karena itu lebih baik daripada berbicara dalam bahasa kecuali jika bahasa itu diterjemahkan agar supaya dapat membantu gereja. Lihat I Kor.14:2-5.  Jelas Paulus tidak melarang orang asing untuk menggunakan bahasa mereka da-lam gereja; tetapi dia sangat merindukan agar supaya komentar mereka diterjemahkan untuk kebaikan gereja. Disini secara spesifik Paulus berbicara pada mereka yang menggunakan karunia glossolalia dengan tidak benar dalam gereja dan bukannya menggunakan bahasa ini untuk menginjili orang-orang di Korintus, juga pada mereka yang menggunakan bahasa yang terpelajar dalam gereja agar supaya kelihatannya seperti  telah menerima karunia roh, atau juga kepada mereka yang menggunakan bahasa daerah (asing) mereka dalam kebaktian gereja. Walaupun mereka memiliki bahasa yang sama, nampaknya tidak diperlukan ‘bahasa roh’ di dalam gereja, itulah teguran Paulus.

 Dalam ayat 6 Paulus lebih lanjut mengatakan: “Jadi, saudara-saudara, jika aku datang kepadamu dan berkata-kata dengan bahasa roh, apakah gunanya itu bagimu, jika aku tidak menyampaikan kepadamu penyataan Allah atau pengetahuan atau nubuat atau pengajaran?”

Sungguh nasehat yang sederhana tetapi terus terang! Tidak diragukan Paulus menggunakan berbagai bahasa yang berbeda-beda dalam pelayanan  penginjilannya. Tetapi bagaimana karunia bahasa roh ini menjadi keuntungan bagi gereja jika dia datang pada mereka berbicara dalam bahasa yang tidak dapat dimengerti oleh jemaat setempat? Kemudian Paulus sengaja memberi perbanding-an untuk menghilangkan segala kemungkinan salah pengertian.

“Sama halnya dengan alat-alat yang tidak berjiwa, tetapi yang berbunyi, seperti seruling dan kecapi — bagaimanakah orang dapat mengetahui lagu apakah yang dimainkan seruling atau kecapi, kalau keduanya tidak mengeluarkan bunyi yang berbeda? Atau, jika nafiri tidak mengeluarkan bunyi yang terang, siapakah yang menyiapkan diri untuk berperang? Demikianlah juga kamu yang berkata-kata dengan bahasa roh: jika kamu tidak mempergunakan kata-kata yang jelas, bagaimanakah orang dapat mengerti apa yang kamu ka-takan? Kata-katamu sia-sia saja kamu ucapkan di udara!” (ay.7-9).

Referensinya tentang bunyi nafiri dalam peperangan sangatlah bermakna, karena bahkan sampai saat itu aba-aba militer untuk maju atau mundur diberikan melalui bunyi nafiri atau sangkakala. Hanya jika bunyi ini jelas dan terang maka arti sebenarnya dapat dimengerti oleh pasukan. Bunyi yang tidak jelas akan menyebabkan kehancuran. Sekali lagi Paulus mengingatkan untuk tidak menggunakan bunyi selain yang biasanya didengarkan, “Karena kata-katamu sia-sia saja kamu ucapkan di udara.”

Setelah menunjuk bunyi nafiri sebagai contoh kepada beberapa mantan prajurit yang mungkin telah menerima keKristenan dan yang sekarang sedang mempraktekkan bahasa roh dalam jemaat, Paulus melanjutkannya dengan menghubungkannya dengan contoh yang lain.

 “Ada banyak—entah berapa banyak—macam bahasa di dunia; sekalipun demikian tidak ada satu pun di antaranya yang mem-punyai bunyi yang tidak berarti. Tetapi jika aku tidak mengetahui arti bahasa itu, aku menjadi orang asing bagi dia yang memperguna-kannya dan dia orang asing bagiku.” Ayat 10-11.

Banyak terjemahan Alkitab, yaitu RSV, NASB, TEV, Phillips, Weymouth, Goodspeed, Moffatt, yang menerjemahkan kata asli yang digunakan untuk ‘suara’ dengan ‘bahasa,’ yang merupakan istilah yang digunakan oleh  para ahli Perjanjian Baru. Akibatnya, apa yang dimaksud oleh Paulus adalah bahwa ada berbagai baha-sa di dunia, tetapi tanpa mengerti apa yang dikatakan oleh si pem-bicara, baik pembicara maupun pendengar akan seperti orang asing satu sama lain. Dengan mengatakan ini Paulus ingin menun-jukkan sekali lagi kekonyolan dari tindakan mereka, tetapi kali ini dia menujukan nasehatnya pada mereka di dalam gereja yang mempunyai kemampuan berbicara baik dalam bahasa asing yang mereka pelajari maupun yang mereka peroleh secara supernatural. Selan-jutnya dia berkata, “Karena itu siapa yang berkata-kata dengan ba-hasa roh (yang tidak dimengerti), ia harus berdoa, supaya kepada-nya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya. Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa. Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.” Ayat 13-15

Berbagai arti yang berbeda dapat ditambahkan pada ayat 13.  Kemungkinan maksudnya adalah bahwa seseorang yang berbahasa asing harus berdoa agar orang lain dalam jemaat itu dapat memperoleh kemampuan untuk menginterpretasi baginya, atau bisa juga berarti bahwa dia harus bedoa agar seseorang dapat diberikan kua-sa untuk menjelaskan apa yang  baru saja dia  katakan. Ayat 14 memberikan kesimpulan yang pertama, karena Paulus membandingkannya dengan doa yang diucapkan dalam satu bahasa dan kemudian selanjutnya menyatakan bahwa pada keadaan itu roh yang berdoa, tetapi pikiran tidak menghasilkan sesuatu, tiada buah, sehingga dianggap “tidak berbuah”.

Dalam perbaktian umum, doa bersama dilayangkan pada Tuhan sebagai suatu ekspresi kasih dan kesungguh-sungguhan seluruh jemaat. Namun, jika dikatakan dalam bahasa ‘asing’, maka fungsinya sebagai doa jemaat akan berkurang. Pada ayat 15 Paul-us menghubungkan “roh” dan “pengertian” menjadi satu. Dr.Walter Specht, seorang ahli teologi Perjanjian Baru di Andrews University, Berrien Springs, Michigan memberikan komentar sebagai berikut: “Siapa yang berkhotbah dalam acara khotbah sedang berbicara un-tuk Tuhan kepada jemaatNya. Siapa yang melayangkan doa adalah orang yang berbicara untuk jemaat kepada Tuhan.  Dibutuhkan kemampuan untuk mengolah pemikiran dan juga roh untuk memenuhi tanggung jawab yang suci ini.”

 Baik roh maupun pengertian merupakan suatu keharusan un-tuk komunikasi yang dapat dimengerti dalam berdoa maupun me-nyanyi. Paulus menambahkan bahwa jika seseorang hanya berdoa dalam roh saja diantara anggota yang “tidak berpendidikan” maka mereka tidak akan dapat menyatakan amen mereka, karena mereka tidak dapat mengerti arti dari bunyi yang mereka dengar. Tang-gapan jemaat terhadap suatu doa dari dulu selalu dianggap penting.  Kata “Amen” dalam bahasa Ibrani berati “biarlah demikian,” merupakan suatu standar mengakhiri doa Kristen, dan saat anggota dalam jemaat turut dalam doa syafaat dan menerimanya sebagai doa pribadi, mereka menguatkan hal ini dengan mengucapkan kata ini.  Namun bagaimana mungkin ini dapat dilakukan jika bahasa yang digunakan saat berdoa merupakan bahasa yang tidak dimengerti?

Pernyataan Paulus tentang tipe doa ini, “Sebab sekalipun pengucapan syukurmu itu sangat baik, tetapi orang lain tidak dibangun olehnya.” Ayat 17.

Para ahli glossolalia tanpa ragu-ragu mengutip ayat 18 dari pasal 14 untuk membuktikan bahwa Paulus sendiri berbicara dalam bahasa asing: “Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dari pada kamu semua.” Tetapi Paulus menambahkan di ayat berikut: “Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti (dengan suara saya) untuk mengajar orang lain juga, dari pada beriburibu kata dengan bahasa roh (tidak dimengerti).”  Ayat 19.

Paulus adalah seorang pengembara. Diberkati  khusus de-ngan Roh Kudus, pemimpin dari pergerakan penginjilan dibawah tuntunan Tuhan ini berkelana dari satu negara ke yang lain, berbicara kepada bangsa-bangsa lain dengan bahasa daerah mereka masing-masing. Apakah Tuhan akan membatasi karunia berbahasa roh Paulus hanya untuk satu bahasa asing saja? Mengetahui kerinduan Kristus untuk menyebarkan Injil ke seluruh dunia, tidak dira-gukan Paulus sungguh-sungguh saat berkata bahwa dia memiliki kemampuan untuk berbicara dalam banyak bahasa asing melebihi orang lain. Tuhannya mempercayakan dia dengan suatu perintah yang tiada duanya dan yang sangat penting, dan tentu saja Tuhan tidak akan membatasi tugas yang besar ini hanya dalam satu daerah bahasa asing saja.  Bila menganggap bahwa ayat 18 berarti bahwa Paulus berbicara dalam berbagai bunyi yang tidak dapat di-mengerti, bukankah ini menjauh dari pengertian ayat-ayat sebelumnya?

Lebih lanjut dalam ayat 19 Paulus menjelaskan bahwa (walaupun dia berbicara dalam banyak bahasa) dia lebih condong ber-bicara menggunakan lima kata yang dapat dimengerti daripada sepuluh ribu kata dalam bahasa lain. Kemudian dalam ayat 22, dia memperjelas perbedaan antara peranan bahasa roh dengan nubuatan yang dimainkan dalam gereja.

“Karena itu karunia bahasa roh adalah tanda, bukan untuk orang yang beriman, tetapi untuk orang yang tidak beriman; sedangkan karunia untuk bernubuat adalah tanda, (melayani) bukan untuk orang yang tidak beriman, tetapi untuk orang yang beriman.” Disini Paulus menasehatkan agar tidak menunjukkan kemampuan berbahasa anda kepada umat percaya, tetapi simpanlah itu bagi mereka yang tidak percaya untuk menunjukkan pada mereka bahwa Tuhan telah memberikan anda berkat khusus yang memampukan anda untuk menginjil kepada mereka dalam bahasa mereka sendiri. Jangan membawa bahasa roh dalam gereja, tetapi biarlah anda bernubuat, karena itu diberikan untuk membantu umat per-caya!

Kemudian dia selanjutnya mendiskusikan satu permasalahan yang tidak diragukan merupakan pusat dari pertentangan: “Jadi, kalau seluruh Jemaat berkumpul bersama-sama dan tiap-tiap orang berkata-kata dengan bahasa roh, lalu masuklah orang-orang luar atau orang-orang yang tidak beriman, tidakkah akan mereka katakan, bahwa kamu gila?” Ayat 23.

“Jadi bagaimana sekarang, saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun.” Ayat 26

Bayangkan keributan yang pastinya terjadi dalam gereja Ko-rintus.  Satu kelompok sedang berbicara dalam bahasa asing, ang-gota yang lainnya berusaha mencari perhatian untuk mengajukan doktrin yang baru, yang lain mengaku mendapatkan ilham atau menginterpretasikan bahasa sedangkan mungkin beberapa anggota Kristen yang benar sedang bermeditasi. Tidak diragukan mengapa Paulus bertanya, “Tidakkah mereka katakan bahwa kamu gila?”  Kekacauan rohani seperti ini tidak akan bisa membangun, dan tegurannya, “biarlah semuanya dilakukan untuk membangun” itulah yang lebih penting! Keadaan yang dihadapi oleh Paulus sudah pasti akan membuat orang tidak percaya menjauh dari gereja, dan inilah yang Paulus ingin hindari dengan cara apa pun.

Dengan penuh kekhawatiran, Paulus mengajarkan kembali garis besar bagaimana gereja Korintus diizinkan untuk mempraktekkan karunia roh. Sebenarnya nasehat ini tidak perlu dilakukan, karena orang Kristen yang dewasa tidak secara sengaja akan salah menggunakan karunia Tuhan. Namun, ketidakdewasaan rohani Ko-rintus menyebabkan perlunya diberikan peraturan yang ketat, dan Paulus sudah siap memberikannya.

“Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya. Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan Jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah. Tentang nabi-nabi—baiklah dua atau tiga orang di antaranya berkata-kata dan yang lain menanggapi apa yang mereka katakan. Tetapi jika seorang lain yang duduk di situ mendapat penyataan, maka yang pertama itu harus berdiam diri.  Sebab kamu semua boleh bernubuat seorang demi seorang, sehingga kamu semua dapat belajar dan beroleh kekuatan.”  Ayat 27-31.

Paulus tidak melarang berbicara dalam bahasa roh, dia juga tidak melarang bernubuat. Namun, dia mengharuskan bahwa jika ada yang berbicara dalam bahasa lain, biarlah mereka melakukan-nya satu per satu dan hanya bilamana ada seorang penerjemah. Jika tidak, maka biarlah mereka berbicara sendiri kepada Tuhan, yaitu tanpa melibatkan seluruh jemaat. Dia memberikan peraturan yang pada dasarnya sama untuk para nabi. Bernubuat biarlah dila-kukan satu per satu untuk mengajarkan dan menawarkan kesejahteraan. Kedengarannya masuk akal, bukan? Berbicaralah dalam bahasa asing satu per satu hanya jika ada seorang yang dapat menerjemahkannya; bernubuatlah satu per satu dan biarlah orang lain menilai, yang digunakan untuk mengajar dan memberi rasa tenang pada jemaat. Tidak ada satu ayatpun yang mengatakan bahwa Paulus mendukung agar bahasa roh digunakan dalam gereja ataupun bahwa bernubuat diberikan diluar gereja, dia juga tidak mengindikasikan bahwa bahasa roh yang dijelaskannya telah mengalami perubahan dalam struktur linguistik sejak hari Pentakosta.

Dalam seluruh suratnya, Paulus berbicara sebagai suara Tuhan pada gereja yang sudah menyimpang. Bagi mereka yang masih mempertanyakan otoritasnya, dia menasehatkan: “Jika seorang menganggap dirinya nabi atau orang yang mendapat karunia rohani, ia harus sadar, bahwa apa yang kukatakan kepadamu adalah perintah Tuhan. Tetapi jika ia tidak mengindahkannya, janganlah kamu mengindahkan dia. Karena itu, saudara-saudaraku, usahakanlah dirimu untuk memperoleh karunia untuk bernubuat dan janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh. Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.” Ayat 37-40.

 Dan dengan kedua kualifikasi penjelasan kata keterangan  ini Paulus memberikan permohonan terakhirnya kepada anggota yang sikap tidak pantasnya telah menyebabkan gereja didiskreditkan dan perilaku yang tidak teratur mereka telah sangat menghambat pertumbuhan gereja.

Selama abad-abad setelah kematian Kristus, pengalaman Pantekosta dari para rasul seperti yang dicatat dalam kitab Kisah menjadi semakin tidak dibutuhkan. Pada awalnya para rasul mem-butuhkan karunia bahasa roh untuk menjangkau orang-orang yang hanya mengerti bahasa asing. Kemudian, mereka yang telah bertobat melanjutkan pemberitaan injil ini ke daerah yang jauh. Di tahun-tahun kemudian seluruh negara mengenal akan kabar kasih yang revolusionaris ini, baik melalui para misionaris ataupun para umat percaya yang membagikan cerita Kristus di negara-negara/kampung halaman mereka. Akibatnya, kebutuhan glossolalia mulai ber-kurang, karena halangan bahasa mulai diruntuhkan. Suatu rintang-an untuk penyebaran injil telah diatasi. Karunia bahasa roh telah di-berikan pada umat manusia untuk melakukan tugas khusus, dan ini telah tercapai. Sekarang tergantung dari manusia untuk bertindak dan melanjutkannya.

 Pada awal penulisan dari para bapa gereja, disinggung ten-tang bahasa roh.  Irenaeus (120-202 setelah Masehi), seorang yang berpendidikan, belajar dari Polycarp dari Smyrna, yang dicatat telah menjadi asisten pribadi dari rasul Yohannes. Irenaeus, dalam “Against Heresies” (bab VI, bgn.1), menuliskan pendapatnya ten-tang I Kor.2:6: “Menyatakan bahwa orang-orang yang menerima Roh Tuhan itu ‘sempurna’, dan yang melalui Roh Tuhan berbicara dalam semua bahasa, seperti Dia yang menggunakannya juga untuk berbicara. Dalam cara yang serupa kita juga mendengar banyak saudara-saudara dalam gereja yang memperoleh karunia bernubuat dan yang melalui Roh berbicara dalam segala macam bahasa dan membawa terang untuk kepentingan umum tentang hal-hal ter-sembunyi bagi manusia, dan menyatakan misteri tentang Tuhan.”1

Ahli Apologi Kristen, Justin Martyr (110-165 sesudah Masehi) mendukung hal ini dalam Dialogue With Trypho, bab LXXXVIII, dimana dia menyatakan: “Sekarang memungkinkan untuk melihat diantara pria dan wanita, siapa yang memperoleh karunia Roh Tuhan.”2

Bahkan Tertullian (160-220 sesudah Masehi), dalam “Against Marcion,” book V, bab VIII, menulis tentang pengenalannya tentang karunia. Dalam argumentasinya dengan Marcion, dia menuliskan pernyataan berikut ini: “Biarlah kalau begitu Marcion menunjukkan, sebagai pemberian dari dewanya, beberapa nabi, yang berbicara dalam bahasa yang tidak dapat dimengerti oleh manusia, tetapi me-rupakan Roh Tuhan,seperti keduanya telah memprediksikan hal-hal yang akan datang, dan telah memberikan manifestasi rahasia isi hati; biarlah dia menuliskan mazmur-mazmur, ilham, doa, tetapi biarlah itu berasal dari Roh, dalam suatu kegairahan yang dalam pengangkatannya (rapture), saat interpretasi bahasa diberikan padanya… Sekarang semua tanda-tanda ini (karunia roh) datang ke pihak saya tanpa kesulitan apapun, dan mereka juga setuju dengan peraturan dan dispensasi, dan instruksi dari sang Pencipta; oleh sebab itu tanpa meragukan Kristus, dan Roh, dan rasul, hanya milik Tuhan saya.”3

Selama injil belum sampai ke lokasi-lokasi strategis dalam dunia, maka merupakan alasan yang baik, baik di surga maupun di bumi untuk tetap mempertahankan adanya glossolalia. Namun jika penginjilan telah sampai ke seluruh penjuru bumi, dan semua jalan masuk telah diterobos, maka dengan cepat karunia berbahasa roh akan menghilang.

 Tidak sampai abad ke-3 setelah Masehi, para cendekiawan dan ahli sejarah mulai mempertanyakan apa yang terjadi dengan berkhotbah dalam bahasa roh.

Mendiskusikan karunia roh seperti yang terdapat dalam I Ko-rintus, John Chrysostom (345-407 Setelah Masehi) mengawali “Homily XXIX”nya (tentang I Kor.12:1,2) demikian: “Karunia roh ini sangat sulit untuk dimengerti (menunjuk pada I Kor.12:1,2), tetapi pengertian kita yang samar-samar ini disebabkan oleh karena keacuhan kita tentang hal-hal yang disebut dan kapan karunia itu berhenti terjadi, di mana mungkin dulunya sering terjadi tetapi sekarang sudah tidak ada lagi.”4

Mungkinkah ini merupakan titik penentu di mana glossolalia telah menyelesaikan tugasnya dan tidak diberikan lagi? Tidak ada alasan untuk meragukan valitidas pernyataan Chrysostom, khusus-nya sejak Augustine (354-430 Sesudah Masehi) praktisnya membe-rikan konklusi yang serupa.Dalam “Ten Homilies on the First Epistle of St.John”, Homily VI, bgn.10, dia menuliskan: “Pada mulanya, Roh Kudus dicurahkan pada mereka yang percaya; dan mereka berbicara dalam bahasa roh,” yang belum pernah mereka pelajari sebelumnya, “karena Roh yang mengajarkan apa yang mereka katakan.” Nampaknya pemberian ini disesuaikan dengan waktu. Karena nampaknya benar terlihat adanya Roh Kudus dalam semua bahasa roh, menunjukkan bahwa Injil Tuhan akan disebarkan keseluruh bangsa di seluruh bumi. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan hal itu, dan sudah berlalu.”5

 Beberapa ahli teologi berusaha untuk mempertahankan kelanjutan karunia bahasa supernatural yang diambil dari contoh-contoh terpisah yang diragukan (Montanus), tetapi setelah manifestasinya yang luar biasa pada zaman rasul-rasul dan mungkin hingga abad ke-3, karunia ini menghilang dari permukaan, dan tidak ada sejara-wan manapun sejak saat itu yang menemukan bukti-bukti konkrit untuk membuktikan kelanjutan dari karunia bahasa roh. Jika karunia ini masih dipraktekkan dalam gereja, maka tentu saja penemu-penemu gereja lainnya akan banyak menulis tentang “karunia roh” ini secara besar-besaran karena merupakan manifestasi utama dari kuasa Tuhan. Karunia ini begitu kontroversial dan begitu superna-tural dari awalnya sehingga kelanjutannya sudah pasti akan secara nyata terlihat di mana-mana.

Glossolalia yang sebenarnya menghilang karena kebutuhan-nya mulai berkurang, tetapi bagaimana dengan “karunia bahasa roh” lainnya, kata-kata yang tidak dimengerti yang mirip dengan perbaktian iblis orang-orang kafir?

 Mereka yang mempraktekkan okultisme mempertahankan bahwa karunia ini tidak pernah hilang, tetapi tetap aktif dalam gua-gua penyihir, pesulap, dan tempat pertemuan dengan roh-roh orang mati.  Bahasa roh mereka adalah tandingan yang berasal dari iblis, karena Tuhan tidak akan pernah menampakkan diri-Nya dengan cara demikian dan dalam lingkaran mereka.  Bahkan pada saat itupun karunia ini tidak terlalu terkenal hingga seribu tahun setelah Masehi di mana melalui usaha seorang wanita bernama Hildegard, yang disebut sebagai Nabiah dari Rhine (1098-1179) kembali memuncul-kan karunia ini ke permukaan.

Gambaran tentang “Lingua Ignota” menurut Ensiklopedia Katolik, yang menjelaskan tentang pengalaman dari wanita ini menyatakan:

“Manuskripnya dalam sebelas lembar folio yang menuliskan suatu daftar yang terdiri dari sembilan ratus kata-kata yang tidak dimengerti, yang kebanyakan terdiri dari kata benda dan beberapa kata sifat dalam bahasa Latin, dan beberapa dalam bahasa Jerman, digabungkan dengan 23 huruf yang tidak dikenal yang semuanya dicetak dalam Pitra.”6 Jika ini merupakan lanjutan dari pengalaman Pantekosta, maka suatu transformasi yang drastis tentunya telah terjadi selama berabad-abad secara tersembunyi, karena bunyinya aneh dan asing, tanpa disertai bahasa atau struktur bahasa yang di-kenal. Huruf-huruf ini telah diperiksa secara teliti oleh berbagai ahli bahasa, namun mereka tidak menemukan bahasa mana yang “cocok” dengan istilah-istilah yang diberikan. Bahkan, tidak ada seo-rangpun yang mampu menghubungkan norma-norma tertentu dalam bahasa manapun, di mana jika ini merupakan suatu media komunikasi, tentunya harus ada yang suatu bahasa yang dapat mengerti istilahnya.

Banyak dari glossolalia moderen dimulai pada era post-reformasi. Martin Luther tidak mempraktekkan karunia ini dalam bentuk apapun secara pribadi, tetapi banyak sekte dan ajaran yang muncul dari pergerakan reformasinya yang langsung merasa membutuhkan pengalaman ‘eksklusif’ dan metode sebagai jaminan bagi mereka agar tetap dapat memiliki hubungan pribadi yang dekat dengan Tuhan. Ketidakpastian yang terjadi pada abad ke-16 dan 17 ini tidak diragukan lagi merupakan alasan utama untuk pencarian superioritas rohani dan eksklusivitas.

Dengan dimasukkan ke dalam doktrin yang lebih formal, ber-bicara dalam bahasa asing yang tidak dapat dimengerti telah menyusup masuk dan menjadi suatu ritual yang diterima dalam banyak acara perbaktian dan sekte agama yang baru. Sekali lagi, walaupun pada mulanya kegiatan ini nampaknya lambat, namun segera setelah ucapan-ucapan yang aneh ini dinilai merupakan sesuatu yang ilahi, bahasa roh kemudian muncul di tempat-tempat yang paling aneh sekalipun.

William Howitt dalam History of the Supernatural menuliskan suatu kejadian di Amsterdam pada tahun 1566, sebagai berikut: “Mereka memanjat dinding dan atap seperti kucing, membuat suara tawa yang sangat menakutkan/menyeramkan dan berbicara dalam bahasa asing…. Kadang mereka menjadi kataleptik, yaitu kaku se-perti batang pohon dan dapat dibawa kemana-mana dengan cara yang sama.’  Sekitar 150 tahun kemudian, praktek yang sama mun-cul kembali, kali ini dicampur dengan bernubuat. G.B.Cutten menyebutkan insidensi ini dalam bukunya The Psychological Pheno-mena of Christianity.  Melihat suatu fenomena yang aneh yang tiba-tiba mempengaruhi kemampuan mental dari suatu kelompok besar anak-anak yang berasal dari kaum Huguenots Perancis, dia tulis-kan, “Pertamanya mereka berayun dan menjadi tidak peka terhadap segala panca indera. Kemudian, walaupun mereka tidak tahu bahasa Perancis, anak-anak berusia 3 tahun keatas ini semua berkhotbah selama ¾ jam dalam bahasa Perancis yang sempurna/benar …. Jika sudah mulai, mereka tidak dapat dihentikan, dan mereka akan melanjutkan keadaan abnormal ini hingga mereka selesai.” Hlm. 56.

Peneliti Kelsey menambahkan: “Kejadian pertama dari karu-nia bahasa roh (mereka) berasal dari kata-kata nubuat seorang anak berusia 10 tahun bernama Isabeau Vincent, yang minggat dari rumah karena perlakukan ayahnya yang tidak baik dan telah melihat tentara raja membunuh wanita dan anak-anak yang berbakti bersama dalam gereja dengan senjata bayonet mereka. Dalam pengalaman yang menggairahkan, dia membuat panggilan untuk bertobat.”–Morton T. Kelsey, Tongue Speaking (Garden City, NY: Doubleday, 1964), hlm. 52,53.

Para pengikut Cornelius Jansen yang menamakan diri mere-ka the Jansenists merupakan pergerakan Reformasi Katolik pada abad ke-17 yang juga terkenal dengan gerakan ekstatik mereka. Mereka juga melakukan glossolalia ekstatik, yang biasanya terjadi saat mereka bermeditasi di pusara the Archdeacon of Paris, yang merupakan pembela setia dari penganut Jansenist. Gerakan menyentak, berbicara dalam bahasa roh, daan tanda-tanda fisik lainnya merupakan manifestasi dari gerakan meditasi mereka meyakin-kan mereka bahwa Roh Tuhan bekerja bersama mereka. Seperti halnya para ahli glossolalia moderen, mereka mempercayai bahwa ada suatu kuasa di luar sana yang menggunakan organ bicara mereka dan menggerakkan mereka untuk mengeluarkan kata-kata dan tanda-tanda menyentak yang tidak dapat mereka kuasai.

Kasus “Mother” Ann Lee (1736-1784), pendiri the Shakers, membuat perhatian dari dunia religi pada abad ke-18 berpusat pada pembaharuan penekanan bahasa roh. Bahkan sebelum datang ke Amerika pun Mother Lee telah mendapat masalah di Inggris karena perilaku tidak teratur yang terlihat seperti kerasukan roh. Dengan tu-duhan menghujat Tuhan, dia dipanggil untuk menjelaskan tindakan-nya di depan sekelompok pendeta dan ahli bahasa dari Church of England. Saat tampil di hadapan mereka, wanita ini menerima ‘ka-runia’ rohnya dan kemudian berbicara di hadapan kumpulan pendeta ini paling tidak dalam 72 bahasa yang berbeda. Paling tidak, itu-lah pernyataan mereka. Sebagian besar dari mereka bahkan lebih lanjut menyatakan bahwa dia berbicara dalam bahasa-bahasa ini dengan sangat lancar. Tentu saja, pertanyaan bagi kita adalah, dari mana Church of England dapat menemukan 4 pendeta ahli yang berkualitas untuk menilai ketepatan grammar dari 72 bahasa yang berbeda-beda? George W.Dollar menjelaskan tentang ekspresi kegairahan rohani yang lain dari the Shakers sebagai berikut: “Karunia bahasa roh ini kadang juga disertai dengan sukacita yang tiada ter-hingga dan tarian pada saat lagu gereja mereka dikarang, walaupun kata-katanya terdiri dari kata-kata yang tidak bermakna dan tidak dimengerti.” – “Church History of the Tongues Movement,” Bibliothe-ca Sacra, Okt-Des.1963, hlm. 320.

Dua contoh lain yang menyita perhatian yang cukup besar tentang ucapan-ucapan yang tidak dapat dimengerti adalah penganut Irvingites dan Mormons. Para pengikut Irvingites berpusat di Inggris yang merupakan pengikut dari anggota Presbiterian di Skot-landia bernama Edward Irving. Mereka nampaknya sangat kuat dalam hal bernubuat dan merasa yakin bahwa sebelum kedatangan Kristus yang kedua kali, karunia bahasa roh sekali lagi akan terjadi dalam gerejaNya. Bunyi-bunyi yang aneh mulai keluar dari mulut-mulut para penyembah. Interpretasi dan evaluasi terhadap gerakan ini menyebutnya sebagai bahasa maupun ucapan yang tidak dime-ngerti. Menurut pendapat R. A. Knox, penilaian linguistiknya sudah jelas dipertanyakan. Dia menuliskannya dalam Enthusiasm (Lon-don: 1950), hlm. 553 bahwa, “spesimen glossolalia dari penganut Irvingite yang telah dipertahankan menurut kami tidak terdapat da-lam kamus manapun. Ucapan-ucapan seperti  “Hippo gerosto niparos boorastin farini O fastor sungor boorinos epoongos menati’ …sulit menunjukkan sebagai ‘bahasa yang jelas, sesuai struktur bahasa dan terangkai dengan baik.’ Para ahli perkembangan baha-sa (filologi) dari dunia lain tidak dapat menjawab pertanyaan kami, tetapi bila menilai menurut hasil yang ada sesuai standar manusia biasa, kami harus mengakui bahwa seorang anak kecilpun dapat mengeluarkan bunyi yang serupa.”

Sementara tentang anggota Mormon, yang didirikan oleh Joseph Smith (1805-1844), prinsip bahasa roh pertama kali diperkenalkannya dalam gerejanya pada tahun 1833 dan kemudian diku-atkan lagi dalam deklarasi doktrin gereja Mormon sebelas tahun ke-mudian. Namun, harus ditekankan bahwa orang-orang Mormon mu-la-mula tidak pernah menyatakan bahwa apa yang mereka ucapkan merupakan salah satu bahasa. Namun mereka memang menyatakan bahwa Tuhan akan membentuk berbagai bunyi menjadi suatu bahasa dan membuat bunyi itu menjadi sesuatu yang dapat dimengerti.

Merujuk pada salah satu dari pertemuan mereka, telah dilaporkan bahwa “dapat dikatakan bahwa pada suatu pertemuan tertentu seseorang akan berbicara dalam bahasa roh. Saat pertemuan sedang berlangsung, Pendeta Smith akan memanggil seorang yang buta huruf untuk berdiri dan berbicara dalam bahasa roh dalam na-ma Yesus.

“Perintah diberikan, ‘Berdirilah, berbicaralah, bersuaralah, tetaplah mengeluarkan suara apa pun dan Tuhan akan membuatnya menjadi satu bahasa dari bunyi itu.”–C. B. Cutten, Speaking in Tongues, hlm. 68.

Pada kenyataannya, glossolalia tidak dimulai pada saat Pentakosta, bahkan, juga tidak berakhir pada saat itu!  Karunia bahasa yang benar nampaknya menghilang saat Tuhan melihat kegunaan dari karunia ini tidak dibutuhkan lagi, namun bahasa roh Setan se-belum masa keKristenan tetap berlanjut. Sejarah secara sederhana dan jelas dalam memberikan contoh-contoh glossolalia kekafiran pada masa pra-Kristen. Pembahasan karunia bahasa roh yang be-nar dalam kitab Kisah menyebabkan bahasa roh tandingan membu-at penekanan yang baru. Sehingga sekarang orang-orang yang mempraktekkannya mengacaukannya dengan membandingkan ka-runia mereka dengan kemampuan yang diberikan oleh Tuhan, sehingga oleh karenanya menyamarkan sebisa mungkin latar belakang kekafirannya dan menyelubungi secara sempurna keberlanjutannya di masa pasca Kristen dengan suatu fenomena berjubah-kan kehormatan Kristen.


Mari bagikan artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *