kehidupan limpah dalam kristus

KEHIDUPAN YANG LIMPAH DALAM KRISTUS

Renungan Harian

Kristus dalam Hidupku

Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. Yohanes 10:10

Seluruh makhluk ciptaan hidup melalui kehendak dan kuasa Allah. Mereka adalah penerima kehidupan dari Putera Allah. Betapa pun kesanggupan dan talenta, betapa pun besar kemampuannya, mereka diisi dengan kehidupan dari sumber segala kehidupan. Dialah sumber, mata air hidup. Hanya Dia saja memiliki keadaan yang tidak akan binasa, hidup dalam terang dan kehidupan, dapat berkata, “Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali.”. . .

Kristus memiliki hal untuk memberi peri yang tidak akan binasa. Kehidupan yang diletakkan-Nya dalam manusia, diambil-Nya kembali dan memberikan-Nya kepada manusia. Aku datang, “kata-Nya,” “supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.”. . .

Semua yang menjadi satu dengan Kristus oleh iman kepada-Nya mendapat suatu pengalaman yang berarti kehidupan kepada kehidupan yang kekal. . . . “sebab Aku hidup dan kamupun akan hidup.”

Kristus menjadi satu dengan manusia, agar manusia dapat menjadi satu dengan Roh dan hidup dengan Dia. Oleh jasa persatuan dalam penurutan kepada Firman Allah, kehidupan-Nya menjadi kehidupan mereka. Kata-Nya kepada orang yang menyesal, “Akulah kebangkitan dan hidup.” Kematian dipandang oleh Kristus sebagal tidur diam, gelap, tidur. la berbicara mengenal hal itu seolah-olah hal itu sesaat saja. “Barang siapa hidup dan percaya kepada-Ku,” kata-Nya, “tidak akan pernah mati.” . . . Dan kepada orang percaya, kematian hanyalah masalah yang kecil saja. Dengan diam mati hanyalah tidur.

Kuasa yang sama yang telah membangkitkan Kristus dari kematian akan membangkitkan gereja-Nya dan mempermuliakannya bersama Kristus, sebagai pengantin perempuan, di atas segala penguasa, di atas segala kuasa, di atas segala nama bukan saja di dunia ini, melainkan juga dalam istana surga, dunia yang di atas. Kemenangan orang saleh yang tidur akan menjadi mulia pada pagi kebangkitan itu.

Hidupku Kini, hlm. 297

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *