KELEMBUTAN YESUS

Renungan Harian
Mari bagikan artikel ini

“Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang” (Matius 12:20).

Satu dari tabiat Yesus yang penuh kasih karunia itu adalah kelembutan. Dia memperlakukan semua orang yang datang kepada-Nya dengan kelembutan, menganggap mereka semua adalah orang-orang yang berharga, dan Dia sedang mencari cara menjangkau jiwa agar Injil itu menemukan tempatnya.

Kepada seorang pejabat muda yang kaya, Yesus berbicara tentang harta milik. Kepada perempuan yang ada di sumur dengan timba di tangannya. Yesus berbicara tentang air. Kepada ahli hukum, Dia berbicara tentang perintah yang terbesar di dalam hukum. Kepada perempuan yang tertangkap basah melakukan perzinahan, yang dosanya dipaparkan kepada banyak orang dan kepada dirinya sendiri, Yesus tidak mengatakan sepatah kata pun.

Sesudah Matius yang di dalam buku Injilnya menyimpulkan penginjilan Yesus kepada orang-orang sakit, dia mengutip Yesaya 42:1-4, pasal tentang “hamba” yang luar biasa yang melukiskan pekerjaan dari sang Mesias. Tidak ada kekerasan di sana. Tidak ada kekakuan. Tidak ada paksaan. Hanyalah kebaikan, belas kasih, kepekaan, dan penuh perhatian.

Itulah Yesus. Sang Juruselamat! Sahabat terindah!

Kelembutan bukanlah kelemahan. Yesus itu lembut, bukan lemah. Bila keadaan mengharuskan, Dia dapat menjadi kuat dan peka, membalikkan bangku-bangku dan meja-meja, membuat para pedagang dan para penukar uang lari tunggang langgang menghadapi cambuk yang diayunkan-Nya.

Hampir di setiap waktu Yesus merupakan lambang dari kelembutan. Terhadap anak-anak. Terhadap para ibu. Terhadap orang-orang yang dibuang dari masyarakat. Terhadap para pria dan wanita yang rusak keadaan tubuh dan jiwanya.

Dunia mengagungkan kekuasaan, kita mengagungkan Yesus yang lembut. Dunia meninggikan tipu daya, kepintaran, dan melakukan “apapun untuk menang.” Kita meninggikan Yesus yang lembut.

Kelembutan-Nya itu lebih berkuasa dan lebih sempurna daripada presiden, orang-orang yang berkuasa atau para ahli politik. Kelembutan-Nya membuat orang menjadi baru.

Kelembutan-Nya membuat kita menjadi lembut juga. “Sebagai rasul-rasul Kristus, kami mungkin saja menjadi beban bagimu, namun kami ini lemah lembut di antara kamu, seperti seorang ibu mengasuh anak-anaknya,” tulis Rasul Paulus (1 Tesalonika 2:6, 7).

Yesus yang lembut, jadikanlah kami seperti Engkau pada hari ini.

Ps. William G. Johnsson – Hati yang Berlimpah Kasih Karunia, hlm.  55

Mari bagikan artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.