KEPEMIMPINAN YANG BERBUAH

Renungan Harian
Mari bagikan artikel ini

Di dalam tabut perjanjian itu tersimpan botol emas berisi manna, tongkat Harun yang pernah bertunas dan loh-loh batu yang berisi perjanjian (Ibrani 9:4)

Pada 2009, seseorang dengan nama pena Chaos@Work menulis sebuah buku berjudul My Stupid Boss. Buku ini bercerita tentang “kegilaan” bos si penulis; dari meminta barang supplier secara cuma-cuma sampai menyalahkan anak buah ketika kapal lautnya terlambat ketika cuaca buruk. Ternyata kisah bos yang “bodoh” ini menarik perhatian masyarakat luas. Bahkan setelah terbit jilid keduanya, muncul juga My Stupid Boss edisi Fans’ Stories, yang berisi curahan hati para pembaca mengenai para bos mereka sendiri.

Kesuksesan serial My Stupid Boss yang telah berulangkali dicetak ulang ini menguak sebuah realitas bahwa di dunia atau minimal di Indonesia–banyak orang menjalankan kepemimpinannya dengan kurang bijak. Lalu, seperti apa sebaiknya sikap kita dalam menjalankan tugas kepemimpinan?

Pertama, kita harus ingat bahwa Tuhan tak menuntut bahwa hanya manusia “sempurna” yang dapat mengisi posisi pemimpin. Bahkan, Harun pernah mengizinkan bangsa Israel menyembah lembu emas dan bersekongkol dengan Miryam untuk melawan Musa (Bilangan 12). Namun, terpujilah Tuhan, ia masih dipercaya dan diberi kesempatan untuk memimpin. Kedua, sebagaimana tongkat yang kering menjadi hidup, kepemimpinan kita harus menghasilkan buah bagi sesama, serta mengubah lingkungan menjadi lebih baik.

Pada akhirnya, tongkat Harun yang bertunas itu disimpan bersama Tabut Perjanjian. Setinggi apa pun posisi kita, seperti Harun yang diangkat menjadi imam besar Israel, ingatlah bahwa semuanya berasal dari Tuhan. Maka, kita harus mempertanggungjawabkannya kembali kepada-Nya.

Kepemimpinan sejati adalah kepemimpinan yang berbuah dan bertanggung jawab kepada Tuhan.

Pdt. Sonny Situmorang – Let Your Light Shine, hlm. 248

Mari bagikan artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *