Ketopong Keselamatan

KETOPONG KESELAMATAN

Renungan Harian
Diperlengkapi untuk Kemenangan
Ia mengenakan keadilan sebagai baju zirah dan ketopong keselamatan ada di kepalanya; ia mengenakan pakaian pembalasan dan menyelubungkan kecemburuan sebagai jubah.  Yesaya 59:17

Banyak orang mempunyai gagasan-gagasan yang kacau mengenai pertobatan. Terlalu sering mereka mendengar dari atas mimbar perkataan yang diulang-ulangi, “Kamu harus dilahirkan kembali.” (Yohanes 3:7). “Kamu harus memiliki suatu hati yang baru.” Sebutan-sebutan ini membingungkan mereka. Mereka tak dapat mengerti rencana keselamatan.

Banyak yang telah jatuh tersandung oleh karena ajaran-ajaran keliru yang diajarkan oleh beberapa pendeta mengenai perubahan yang harus dilakukan pada pertobatan. Ada yang telah hidup bertahun-tahun dalam kesedihan, menunggu-nunggu kenyataan sebagai tanda bahwa mereka telah diterima oleh Allah. Mereka telah memisahkan diri mereka sendiri secara besar-besaran dari perkara dunia, dan memperoleh kesenangan bersatu dengan umat Allah; namun mereka tidak berani mengakui Kristus sebab mereka merasa khawatir nanti dianggap takabur dengan mengaku bahwa mereka adalah putera-puteri Allah. Mereka sedang menunggu perubahan yang khusus itu sehingga mereka telah dituntun untuk mempercayai hal yang berhubungan dengan pertobatan.

Setelah sekian lama beberapa dari antara mereka memang menerima petunjuk terhadap penerimaan Allah pada mereka, yang kemudian membawa mereka itu sendiri menjadi umat-Nya. Mereka menyatakan bahwa inilah tanggal pertobatan mereka. Tetapi sebenarnya mereka telah diangkat menjadi anggota keluarga Allah sebelum saat itu. Allah telah menerima mereka ketika mereka jemu akan dosa, ketika mereka menghilangkan keinginan akan kepelisiran duniawi, ketika mereka memutuskan hendak mencari Allah dengan bersungguh-sungguh. Namun, gagal memaklumi kesederhanaan rencana keselamatan, mereka kehilangan kesempatan dan berkat-berkat yang mereka boleh tuntut dengan hanya melalui percaya, pada saat pertama kali mereka berpaling kepada Allah, yang telah menerima mereka.

Ada yang lain jatuh ke dalam kesalahan yang lebih berbahaya. Mereka dikendalikan oleh dorongan hati. Rasa kasihan mereka tergerak lalu mereka merasa bahwa bekerjanya perasaan ini adalah suatu petunjuk bahwa mereka telah diterima oleh Allah dan telah bertobat. Tetapi prinsip kehidupan mereka tidak berubah. Petunjuk-petunjuk dari suatu pekerjaan anugerah yang tulen ke atas hati bukanlah di dalam perasaan, tetapi di dalam kehidupan.

Hidupku Kini, hlm. 316

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *