Allah itu Bapaku, KESERUPAAN DENGAN KRISTUS, pencobaan

PADA MASA PENCOBAAN

Renungan Harian
Mari bagikan artikel ini

Disertai oleh Roh
Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Ibr. 4:15.

Kristus tinggal di dalam diri setiap orang yang menerima Dia oleh iman. Walaupun berbagai pencobaan akan datang kepada jiwa itu, namun hadirat Tuhan akan menyertainya. Semak yang terbakar, di mana hadirat Tuhan berada, tidak membakar hangus, Api itu tidak membakar serta pun dari cabang-cabangnya. Demikianlah yang akan terjadi dengan manusia yang lemah yang menaruh kepercayaannya pada Kristus. Api penggodaan mungkin menyala, penyiksaan dan pencobaan mungkin datang, tetapi hanya kotoran yang akan terbakar habis. Emas itu akan bersinar lebih cemerlang melalui proses pemurnian tadi.

Dia yang berada dalam hati orang yang setia, lebih besar daripada dia yang mengendalikan hati orang-orang yang tidak percaya. Janganlah mengeluh ,karena pencobaan yang datang kepada Anda, tetapi arahkanlah matamu tertuju pada Kristus, yang telah menyelubungi Keilahian-Nya dengan kemanusiaan? agar kita mengerti betapa besarnya perhatian-Nya pada kita -karena Dia telah menyamakan diri-Nya dengan umat manusia yang menderita; Dia telah mengecap, cawan kesedihan manusia, Dia telah merasakan segala penderitaan kita, Dia telah disempurnakan melalui penderitaan, dicobai dari segala titik, sama seperti manusia dicobai, agar Dia boleh menolong mereka yang berada dalam pencobaan.

Dia berkata “Aku akan membuat orang lebih berharga dari pada emas murni dan manusia lebih berharga dari pada emas Ofir (Yes 13:1 2). Dia akan menjadikan manusia berharga oleh tinggal bersama dia, dengan memberikan Roh Kudus kepada manusia itu. Dia berkata, “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada Anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya” (Luk 11:13).

Tuhan telah mengajarkan agar kita memanggil Allah sebagai Bapa kita; menganggap Dia sebagai sumber dari kasih orang tua, sumber dari kasih yang telah mengalir sepanjang abad melalui salurannya, yaitu hati manusia. Segala kasih yang telah dinyatakan di atas dunia telah mengalir dari takhta Allah, dan dibandingkan dengan kasih yang terdapat di dalam  hati-Nya, laksana mata air dan samudra. Kasih-Nya mengalir terus untuk menguatkan orang yang lemah, meneguhkan hati orang yang kecut, sehingga mereka boleh datang kepada Bapa dalam nama Anak-Nya; Pelajaran dan nyanyian kita adalah “Dengarlah apa yang telah diperbuat Allah bagi jiwaku.”– Signs of the Times, 5 Maret 1896.

Kamu Akan Menerima Kuasa, hlm. 126


Mari bagikan artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.