PERBEDAAN PERJANJIAN YANG LAMA DAN PERJANJIAN YANG BARU (2)

Belajar Firman Featured Pendalaman Alkitab
Mari bagikan artikel ini

  1. Perjanjian Yang Lama Dan Perjanjian Yang Baru Dinyatakan Dalam Kehidupan Abraham

Melalui kebenaran Alkitab, kita akan melihat bahwa perbedaan di antara perjanjian Allah yang lama dan perjanjian Allah yang baru, telah dinyatakan dalam kehidupan leluhur kita Abraham. Hal ini kita tekankan di sini, oleh sebab banyak orang Kristen telah membuat pembedaan di antara buku Perjanjian Lama dan buku Perjanjian Baru. Banyak orang hanya mau mengikuti ungkapan kebenaran apabila ditulis dalam buku Perjanjian Baru. Betapa salahnya pendirian ini!

Kebenaran Alkitab merupakan suatu jalinan yang utuh dari tulisan-tulisan Perjanjian Lama sampai tulisan-tulisan Perjanjian Baru. Kedua tulisan itu tidak dapat dipisah-pisahkan!

Marilah kita belajar dari tulisan Rasul Paulus yang terdapat dalam Galatia 4:22-26. Demikian bunyinya: “Bukankah ada tertulis, bahwa Abraham mempunyai dua anak, seorang dari perempuan yang menjadi hambanya dan seorang dari perempuan yang merdeka? Tetapi anak dari perempuan yang menjadi hambanya itu diperanakkan menurut daging dan anak dari perempuan yang merdeka itu oleh karena janji. Ini adalah suatu kiasan. Sebab kedua perempuan itu adalah dua ketentuan Allah; yang satu berasal dari Gunung Sinai dan melahirkan anak-anak perhambaan, itulah Hagar – Hagar ialah Gunung Sinai di Tanah Arab – dan ia sama dengan Yerusalem yang sekarang, karena ia hidup dalam perhambaan dengan anak-anaknya. Tetapi Yerusalem sorgawi adalah perempuan yang merdeka, dan ialah ibu kita.”

Atas dasar  tulisan Rasul Paulus yang di atas, kita dapat membedakan kedua perjanjian Allah itu sebagai berikut:

a)  Menurut Daging (perjanjian yang lama).
Hagar dan Ismael.
Sinai – mencari penurutan dengan kekuatan daging.
Hasilnya: Yerusalem yang berada di dunia sekarang ini, yang akan dibinasakan.

b)  Menurut Janji ((perjanjian yang baru).
Sara dan Ishak.
Golgotha – mencari penurutan dengan kekuasaan iman.
Hasilnya: Yerusalem Sorgawi (Wahyu 21:2) yang telah direncanakan dan dibangun oleh Allah sendiri.

Dua jalan yang sangat mudah dimengerti telah dikemukakan oleh Allah kepada kita. Satu jalan akan membuat kita ikut binasa dengan dunia yang sekarang ini, dan jalan yang lainnya akan membuat kita mewarisi Yerusalem Sorgawi yang telah dijanjikan oleh Allah kepada kita.

Abraham telah menerima satu janji bagi seorang keturunan dari Allah. Tetapi Abraham dan Sara telah menanggapi janji Allah itu dengan “pikiran daging” mereka. Mereka melihat bahwa Sara sudah tua dan melampaui segala kemungkinan untuk dapat memperoleh keturunan lagi. Mereka menyimpulkan bahwa keturunan Abraham tidaklah mungkin datang dari Sara. Oleh sebab itu, keduanya telah bersepakat bahwa keturunan Abraham haruslah datang melalui seorang perempuan yang lain. Inilah yang jalan yang mereka pilih berdasar pikiran manusiawi, yang dalam anggapan mereka akan menjadi jalan di mana janji Allah itu dapat digenapi.

Lalu Abraham mengambil Hagar, seorang hamba perempuannya, dan melahirkan Ismael. Walaupun Ismael, secara silsilah, adalah bapa bangsa Arab yang kita kenal sekarang, Alkitab menggunakan Ismael secara rohani untuk mengibaratkan bangsa Israel yang telah membuat suatu “perjanjian tandingan” dengan perjanjian Allah di Gunung Sinai.

Dari kisah Abraham mari kita beranjak kepada kisah saat Tuhan datang kepada bangsa Israel (keturunan Abraham) di Gunung Sinai dengan pameran kebesaran dan kemuliaan-Nya yang luar biasa. “Dan terjadilah pada hari ketiga, pada waktu terbit fajar, ada guruh dan kilat dan awan padat di atas gunung dan bunyi sangkakala yang sangat keras, sehingga gemetarlah seluruh bangsa yang ada di perkemahan. Gunung Sinai ditutupi seluruhnya dengan asap, karena Tuhan turun ke atasnya dalam api; asapnya membubung seperti asap dapur, dan seluruh gunung itu gemetar sangat. Bunyi sangkakala kian lama kian keras.” – Keluaran 19:16, 18. “Maka bangsa itu takut dan gemetar dan mereka berdiri jauh-jauh. Mereka berkata kepada Musa: ‘Engkaulah berbicara dengan kami, maka kami akan mendengarkan; tetapi janganlah Allah berbicara dengan kami, nanti kami mati.’” – Keluaran 20:18, 19.

Dan sebelum menunjukkan kebesarannya di dalam ayat di atas (Keluaran 19:16, 18), Tuhan  mengucapkan sebuah janji yang dulu juga pernah diucapkannya kepada Abraham bahwa keturunannya akan menjadi bangsa yang besar. Keluaran 19:5, “Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus.” – Keluaran 19:5. Ini adalah perjanjian yang Tuhan buat kepada Israel untuk menjadikan mereka sebagai bangsa yang kudus.

Betapa sigapnya Israel telah menanggapi apa yang dikatakan Tuhan di atas! Tanpa memikir panjang apakah arti “mendengarkan firman-Ku” dan “berpegang pada perjanjian-Ku”, mereka dibawa oleh kebanggaan bahwa mereka akan “menjadi harta kesayangan” Tuhan sendiri “dari antara segala bangsa”. Tanpa memikir panjang apakah arti ucapan “menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus”, mereka secara spontan menyampaikan jawab kepada Tuhan bahwa: “Segala yang difirmankan Tuhan akan kami lakukan.” – Keluaran 19:8. Di sinilah mereka telah membuat “perjanjian tandingan.”

Berbeda sekali dengan respon Abraham saat Tuhan mengucapkan janji yang sama ratusan tahun sebelumnya mengenai seorang keturunan dan dari keturunan itu akan muncul bangsa yang besar. Keluaran 15:5, 6: “Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.” Maka firman-Nya kepadanya: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.”

Respon Abraham tidak berada dalam kepercayaan diri yang membuat dia lupa bahwa Tuhan sendiri yang akan menggenapi janji-Nya mengenai keturunan yang akan berkembang menjadi bangsa yang besar. Sebagaimana yang telah kita bahas di atas, sekalipun Abraham pernah gagal dalam menunggu kegenapan janji ini saat mengambil Hagar sebagai istri dengan tujuan “membantu Allah” menggenapi janji itu, namun pada akhirnya sebelum Sara mengandung Ishak, saat Allah mengulangi janji-Nya saat Abraham menyadari kegagalannya dalam usahanya menggenapi janji Allah dengan kekuatan dagingnya, maka dia kembali pada respon yang semula bahwa dia percaya bahwa Tuhan akan menggenapinya bahkan di saat “usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup.” Roma 4:19.

Namun bangsa Israel tidak belajar dari pengalaman kegagalan Abraham di atas. Saat janji Tuhan diucapkan dalam Keluaran 19:5 bahwa akan menjadikan mereka sebagai “harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus” bilamana mereka “sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku”, maka jawab mereka adalah: “Segala yang difirmankan Tuhan akan kami lakukan.” – Keluaran 19:8. Sepertinya terdengar benar, namun coba perhatikan apa yang yang disampaikan dalam pernyataan di bawah ini.

Dalam buku The Everlasting Covenant 332, sebuah penjelasan menarik mengenai kisah ini: “Pembacaan hati-hati kitab Keluaran 19:1-6, akan menunjukkan bahwa tidak ada pertanda bahwa sebuah perjanjian yang lain akan dilakukan… tetapi buktinya adalah bertolak-belakang. Tuhan menunjuk kepada perjanjian-Nya – perjanjian yang jauh sebelumnya telah diberikan kepada Abraham – dan mendorong mereka untuk menurutinya, dan mengatakan apa yang akan menjadi hasil dari penurutan mereka. Perjanjian-Nya dengan Abraham adalah… perjanjian iman, dan mereka dapat menurutinya hanya dengan iman. Allah tidak meminta mereka untuk memasuki sebuah perjanjian yang lain dengan Dia, tetapi hanya untuk menerima perjanjian damai-Nya, yang mana Ia telah berikan kepada para leluhur mereka jauh sebelumnya.

Jawaban yang tepat bangsa itu seharusnya adalah, “Amin, jadilah Tuhan, jadilah sesuai dengan kehendak-Mu.” Tetapi sebaliknya mereka berkata, “Segala yang difirmankan TUHAN kami akan lakukan;” dan mereka mengulangi janji mereka, dengan penekanan tambahan, bahkan setelah mereka mendengar hukum itu dinyatakan… pikirkanlah manusia fana yang beranggapan untuk dapat melakukan pekerjaan Allah!

Asumsi mereka untuk mengerjakan tanggung jawab pekerjaan Allah (dalam menggenapi janji-Nya), menunjukkan kurangnya penghargaan akan kebesaran dan kesucian-Nya… Janji-janji mereka tidak ada manfaatnya, karena mereka tidak memiliki kuasa untuk memenuhinya. Apa yang mereka bisa dapatkan dari perjanjian itu adalah apa yang mereka bisa dapatkan bagi diri mereka sendiri, dan itu adalah kematian… Keikutsertaan mereka ke dalam perjanjian tersebut adalah pemberitahuan maya mereka kepada Tuhan bahwa mereka dapat maju sendirian tanpa-Nya; bahwa mereka dapat memenuhi setiap janji yang Ia buat.”

Semua terjadi oleh karena Israel dipenuhi rasa percaya diri pada kemampuan mereka sendiri untuk melakukan segala sesuatu yang telah difirmankan Tuhan! Israel telah lupa bahwa ada setan dan malaikat-malaikat jahatnya yang jauh lebih kuat dari mereka! Mereka telah lupa untuk selalu bergantung kepada Tuhan! Sinai melambangkan usaha Israel untuk menggenapi perjanjian Allah dengan “perjanjian tandingan” yang mereka buat berdasarkan kekuatan daging mereka sendiri. Apakah hasilnya? Tidak lama setelah mereka mengikrarkan “perjanjian tandingan” mereka untuk setia, Keluaran 32 mencatat mereka telah jatuh dalam dosa membuat patung anak lembu emas. Begitu kontras dengan janji setia mereka saat mengucapkan “segala yang difirmankan Tuhan akan kami lakukan.”

Dari satu keturunan hingga keturunan berikutnya sikap ini dipertahankan bangsa Israel, yaitu kepercayaan mereka pada kemampuan mereka sendiri. Maka tidak mengherankan pada akhirnya mereka menolak Yesus sebagai Juruselamat mereka. Akibatnya, mereka telah dikerat sebagai bangsa pilihan Allah, dan Yerusalem serta rumah ibadat mereka yang berada di Yerusalem dibinasakan oleh Allah. Tuhan telah memutuskan perkara-Nya, dan Yerusalem akan tetap mengibaratkan Sinai dan akan dibinasakan bersama-sama dengan dunia ini.

Hanya ada satu Yerusalem yang dapat diterima oleh Allah, yaitu Yerusalem Sorgawi yang akan turun dari sorga. Allah tidak akan menerima sebuah kota yang lain. Allah sudah berjanji kepada Abraham dengan sumpah, dan Allah akan menggenapi janji-Nya dengan menurunkan Yerusalem Sorgawi yang telah direncanakan dan dibangun oleh Allah sendiri. Apa saja yang lainnya, yang dibangun oleh manusia, tidak akan memenuhi syarat-syarat kesucian Allah.

Yerusalem Sorgawi ini hanya akan diwarisi melalui perjanjian yang baru, yaitu suatu perjanjian yang berdasarkan kegenapan janji Allah saja. Penggenapan warisan ini dilambangkan dengan lahirnya Ishak melalui Sara di saat rahimnya telah tertutup, yang walaupun telah melewati umur untuk dapat melahirkan seorang anak laki-laki, telah melahirkan Ishak sebagai suatu pemberian sesuai dengan janji Allah itu. Perjanjian ini didasarkan atas perbuatan dari Allah dan bukan atas usaha dan kebaikan manusia itu sendiri.

Perjanjian yang baru ini didasarkan atas Bukit Golgota. Perjanjian ini berdasarkan IMAN pada jasa penebusan Yesus Kristus. Dunia yang sekarang ini akan dilebur. Ini adalah janji Allah yang sudah dikatakan-Nya dengan sumpah. Segala sesuatu yang ada di dunia ini, yang sudah pernah dijamah oleh dosa, akan dihancurkan sampai meleleh oleh panas api dari Allah. Yang tidak ikut binasa adalah umat percaya yang akan diangkat dari dunia ini untuk bertemu dengan Yesus di awan-awan. Mereka dan Yerusalem Sorgawi saja yang akan luput dari api Allah oleh sebab mereka ada di luar dunia ini.

  1. Adakah Di antara Kita Yang Masih Merasa Tergoda Untuk Mengikuti Jalan Keselamatan Menurut Perjanjian Yang Pertama di Gunung Sinai?

Inilah permasalahan yang menghadapi kita yang mengaku sebagai umat Tuhan. Kita begitu terpikat pada usaha-usaha kita untuk menurut hukum dengan kekuatan dan kuasa kemauan kita sendiri sehingga Yesus telah terlupakan di belakang kita. Kita menuju ke sorga dengan semangat yang begitu tinggi melalui usaha-usaha penarikan jiwa yang tidak berpusat pada pengorbanan Kristus, sehingga salib-Nya sudah tidak kita pandang lagi. Sehingga tidaklah mengherankan pikiran banyak orang dibingungkan saat dalam kebutaan rohani mereka melihat tuntutan hukum begitu berat untuk dihadapi seorang berdosa, sementara Yesus tidak dihadapkan ke dalam pemikiran sebagai jalan keluar dari keterbatasan manusia fana sebagaimana Dia sendiri berkata bahwa “di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Yohanes 15:5.

Suatu catatan dalam General Conference Bulletins 412, oleh A.T. Jones pada tahun 1893: “Jadi,” kata seseorang, “Saya belum memilikinya (penurutan), tetapi saya sudah melakukan yang terbaik.” Namun hukum itu akan berkata, “Itu bukanlah yang saya minta. Saya tidak menginginkan ‘yang terbaik’ anda. Saya menginginkan kesempurnaan. Namun bukan juga perbuatan benarmu yang kuinginkan; melainkan perbuatan benar Tuhan-lah yang kuinginkan. Yang kucari bukanlah kebenaranmu; Saya menginginkan kebenaran Allah darimu. Bukanlah perbuatanmulah yang kuinginkan. Yang kuinginkan adalah perbuatan benar Allah dalam hidupmu.” Itulah yang dikatakan oleh hukum itu kepada setiap orang.”

Seandainya tema dalam pernyataan di atas disadari setiap orang Kristen maka mereka akan melihat hukum bukan lagi sekadar sebuah tuntutan yang begitu berat, namun mereka akan melihat bahwa Yesus adalah solusi yang dibutuhkan setiap manusia fana dalam menghadapi setiap tuntutan kesempurnaan dari hukum Tuhan karena janji-Nya adalah “di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Yohanes 15:5.

Namun seringkali kita, kita dan sekali lagi kita yang telah menjadi fokus perhatian pikiran kita, sehingga kita menjadi tidak sadar lagi bahwa kita telah memisahkan diri kita dari Kristus. Yang membuat keadaan kita sangat berbahaya adalah bahwa kita mengaku percaya pada Yesus Kristus. Kita mengaku bahwa kita mempercayai darah yang telah dikorbankan di Bukit Golgota. Hal ini memang benar secara pengakuan. Tetapi sayang sekali, kuasa darah korban di Golgota itu sama sekali tidak bekerja di dalam kebanyakan dari kita!

Saat dihadapkan pada perintah Allah kita melihatnya sebagai tuntutan yang harus dipenuhi, sehingga dengan kekuatan sendiri berusaha menggenapinya. Seharusnya dengan mengingat kembali pada pengorbanan Kristus yang membenarkan kita, maka ini akan membawa pikiran kita kepada suatu kesadaran bahwa hati kita yang licik dan kotor ini akan mustahil menggapai kesempurnaan hukum Tuhan. Sehingga akan menyadarkan kita untuk bergantung penuh pada kuasa Kristus yang menjadi sumber kekuatan dalam menghadapi tuntutan hukum Allah. Dengan demikian hukum Allah tidak lagi kita lihat sebagai tuntutan Allah semata, namun itu mengandung janji Allah yang mana hanya Dia saja yang “berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan” (Roma 4:21). Dengan demikian kita akan meminta hati yang baru (Yehezkiel 36:26, 27), dan menyerahkan hati yang lama yang penuh dengan kelicikan dan kejahatan (Yeremia 17:9) karena mustahil Kristus bekerja menggenapi janji Tuhan dalam kehidupan kita bila hati belum diubahkan.

Tuhan telah menggunakan alat-alat pilihan-Nya sendiri untuk memberitakan pekabaran-Nya di mana-mana di dunia ini. Di tengah-tengah banyaknya hamba-hamba Allah yang sekadar mengaku memiliki iman, namun Tuhan tetap memiliki hamba-hamba-Nya yang setia untuk membangunkan sidang-Nya yang tertidur! Kita harus memasang telinga kita, dan memperhalus kepekaan hati nurani kita, agar kita dapat menangkap setiap terang yang dikirim Allah kepada sidang-Nya.

Hentikan segala perselisihan di antara kita sendiri, bergumullah dalam doa yang sungguh-sungguh setiap hari untuk setiap dosa dan kelemahan kita,  akuilah segala sifat, tabiat atau pun tingkah laku kita yang mementingkan diri sendiri itu yang telah ditunjukkan oleh Tuhan.

Buatlah perjanjian yang baru dengan iman bukan dengan kekuatan kita sendiri bahwa kelak suatu saat segenap hukum kasih-Nya akan genap dalam kehidupan pribadi kita dan nama Tuhan akan ditinggikan untuk selama-lamanya. Biarlah segala pujian, hormat, dan kemuliaan hanya ditujukan kepada Yesus Kristus yang telah tertumpah darah-Nya di salib Golgota!

Tanda-tanda kedatangan Tuhan sudah sangat semakin jelas, Tuhan segera akan datang! Maukah saudara dipersiapkan oleh-Nya? Tuhan rindu segera bertemu dengan umat-Nya di angkasa (1 Tes. 4:17), bagaimana dengan kita?

Maranatha!

Ditulis oleh Setyo K.A.


Mari bagikan artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *