RASA HAUS

Renungan Harian
Mari bagikan artikel ini

Hewan apa yang bisa berlari lebih cepat dari kuda, melihat ke belakang tanpa menoleh, dan lebih tahan tanpa meminum air dari unta? Jerapah!

Jerapah adalah mamalia tertinggi di dunia. Ia hidup di beberapa bagian Afrika di sabana atau padang rumput, menghindari hutan lebat yang mungkin menyembunyikan pemangsa. Makanan jerapah terdiri dari serangga dan tanaman, terutama daun dari pohon tinggi. Lidah hitam panjang mereka bisa mencapai 45 sentimeter, membantu hewan itu meraih dan mengambil makanan. Kandungan air dari daun inilah yang memungkinkan jerapah bertahan selama berminggu-minggu tanpa minum air.

Haus adalah respons alami tubuh terhadap kebutuhan air. Saat tubuh kita menggunakan air, sensasi haus mendorong kita untuk mencari dan mengonsumsi lebih banyak. Beberapa makhluk bisa hidup lebih lama dari yang lain tanpa air. Sebagai manusia, kita hanya bisa bertahan beberapa hari, tergantung pada faktor-faktor seperti suhu dan usia. Beberapa hewan dapat bertahan lebih dari dua minggu, tergantung pada sumber makanan yang tersedia.

Raja Daud mengenali jenis kehausan lainnya dalam Mazmur 42. Dia mengamati bagaimana binatang haus dan mencari air dan membandingkannya dengan rasa hausnya sendiri akan Tuhan. “Jiwaku haus akan Tuhan, Tuhan yang hidup. Kapan saya akan datang dan menghadap Tuhan?” Daud telah berjalan dengan Tuhan dan tahu bagaimana rasanya memiliki persekutuan yang erat dengan-Nya. Ketika dia tidak memiliki waktu dengan Tuhan, dia menyadari kebutuhannya. Dia ingat saat-saat sukacita dan pujian ketika dia memiliki hubungan dekat dengan Tuhan, dan dia ingin saat-saat itu kembali. Terkadang rasa haus inilah yang dapat membantu kita kembali kepada Juruselamat kita. Ketika kita melihat kembali perjalanan kita dengan Tuhan dan mengingat apa yang telah Dia lakukan dalam hidup kita, kita ingin hubungan itu tetap kuat. Kita tahu betapa besar perbedaan yang Dia buat dalam hidup kita!

Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Mazmur 42:2.

-Doug Batchelor-


Mari bagikan artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *