Amazingfacts.id: Apakah menggenggam tangan orang yang dicintai benar-benar dapat meredakan rasa sakit? Itulah yang dipikirkan Pavel Goldstein, seorang peneliti di Universitas Colorado, saat ia menggenggam tangan istrinya saat kelahiran putri mereka. Ia melakukan eksperimen yang menunjukkan bahwa menggenggam tangan orang yang dicintai yang sedang merasakan sakit tidak hanya membuat pernapasan dan detak jantung menjadi sinkron, tetapi pola gelombang otak pun akan menjadi selaras.
Goldstein menemukan bahwa berada di ruangan yang sama tidak se efektif memegang tangan orang yang dicintai dalam meredakan rasa sakitnya. Sinkronisasi gelombang otak meningkat secara signifikan ketika orang tersebut menunjukkan empati. Semakin sinkron otak mereka, semakin berkurang rasa sakitnya. Ada kekuatan penyembuhan dalam sentuhan yang penuh empati!
Beberapa orang berargumen bahwa Allah begitu transenden sehingga Ia sama sekali tidak memahami pengalaman manusia. Namun, ketika Kristus datang ke bumi “dalam rupa daging yang berdosa” (Roma 8:3), Allah menunjukkan bahwa Dia memang mampu “bersimpati dengan kelemahan kita” (Ibrani 4:15). Kata Yunani untuk “bersimpati” secara harfiah berarti “tergerak” dan “mengalami bersama-sama.”
Sungguh indah mempelajari penyembuhan-penyembuhan Yesus dalam Injil. Seringkali Alkitab menyebutkan bahwa Kristus menyentuh orang-orang. Bagi seorang pria yang menderita kusta, tertulis, “Yesus mengulurkan tangan-Nya dan menyentuhnya” (Matius 8:3). Mengenai ibu mertua Petrus, yang sakit demam, Yesus “menyentuh tangannya, dan demam itu pun hilang” (Matius 8:15).
Sentuhan Yesus bukanlah sekadar tindakan mekanis, melainkan merupakan ungkapan kepedulian dan kasih-Nya. Ketika dua orang buta meminta Kristus untuk menyembuhkan mereka, Alkitab berkata, “lalu Ia (Yesus) menjamah mata mereka dan seketika itu juga mereka melihat lalu mengikuti Dia.” (Matius 20:34). Yesus menjadi manusia, dan meskipun Ia tanpa dosa, kita yakin bahwa Kristus merasakan penderitaan kita dan siap mengulurkan tangan-Nya yang menyembuhkan serta menyentuh kita pada “waktu kita membutuhkan” (Ibrani 4:16).
Terapkan: Temukan seseorang yang Anda sayangi yang sedang menderita, duduklah bersama mereka, ungkapkan empati atas rasa sakit mereka, lalu ulurkan tangan dan peganglah tangan mereka.
Pelajari Lebih Dalam: Matius 4:1–11; Roma 12:15; Ibrani 2:18.
Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. (Ibrani 4:15).
– Doug Batchelor –






