Museum Kegagalan

Blog AFI

Daya tarik wisata terbaru di Hollywood bukanlah merayakan kesuksesan bintang di layar perak – ataupun di layar televisi. Bahkan, bukanlah merayakan sebuah kesuksesan sama sekali.

Museum Kegagalan dibuka pada 8 Maret 2018, menyusul “perjanjian terbatas” di pusat kota Los Angeles. Museum ini dirancang untuk menampilkan “kisah-kisah kekecewaan dan kegagalan besar” seperti “Coca-Cola BlaK atau Ford Edsel 1957, beserta artefak-artefak terbentang dari abad ke-17 hingga hari ini, termasuk daging sapi beku oleh pembuat pasta gigi Colgate.”

Psikolog Samuel West, professor Universitas Lund di Swedia, menyelenggarakan pameran. “Di Hollywood, ada sebuah garis yang jelas antara kegagalan dan kesuksesan,” kata nya. “Pusat hiburan dan kebintangan tidak datang tanpa kesulitan dan rintangan – disini, kegagalan telah menghasilkan beberapa selebritis kesayangan kita.”

Beberapa kegagalan – seperti pembuatan mobil DeLorean-Irlandia Utara – kemudian menemukan kesuksesan nya, melalui Hollywood itu sendiri. Mobil DeLorean ditampilkan dalam seri film “Back to the Future”, menyalakan kembali minat pada apa, yang kenyataannya, merupakan kegagalan perdagangan.

Menurut laporan berita BBC, West berfilosofi mengenai kegagalan. “Kegagalan selalu kontekstual, baik dalam waktu dan tempat,” imbuh West. Sebuah piagam pada pintu masuk museum menirukan sebuah pemikiran: “Setiap orang pernah gagal…itulah bagian kehidupan.”

Tentunya anda tidak perlu naik pesawat atau berkendara ke California selatan untuk menemukan sebuah “Museum Kegagalan”. Kebanyakan kita dapat mengingat kembali kegagalan kita tanpa bantuan dari sebuah pameran. Beberapa dari kita melihat nya setiap pagi pada cermin; yang lain menemukannya ketika momen terendah atau malam tergelap kita. Sekiranya kesalahan kita dipertunjukkan pada dunia, kita akan tenggelam dalam kengerian.

Semua kegagalan kita, dapat dikatakan, bisa ditelusuri kembali pada kegagalan pertama dalam sejarah manusia – kegagalan manusia pertama, Adam, dan wanita pertama, Hawa, yang tidak mengindahkan perintah Tuhan untuk tidak memakan buah suatu pohon di Taman. Oleh karena dosa yang masuk ke dunia, kita semua gagal memenuhi standar tinggi Tuhan.

Tapi untungnya, kegagalan universal itu bukanlah akhir dari sejarah. Tuhan dapat saja mencuci tangan-Nya dari kita, namun Dia sangat mengasihi manusia yang diciptakan-Nya sehingga Dia membuat sebuah jalan supaya masing-masing kita dapat kembali dari kegagalan.

Bukanlah tanpa sebuah pengorbanan, bahkan suatu harga yang tak ternilai – Anak Allah, Yesus, datang ke Bumi, menghidupi kehidupan tak berdosa, dan disalibkan sebagai pendamaian atas dosa, kegagalan setiap manusia. Dan karena Yesus bangkit dari kematian dan sekarang hidup, kita dapat lepas dari kegagalan – hanya jika kita percaya pada-Nya dan memelihara ketetapan-ketetapan-Nya.

Klik disini untuk membaca “Mahalnya Harga Salib”, sebuah buku kecil yang dapat menolong anda menemukan yang Yesus korbankan sebetulnya untuk pendamaian bagi dosa-dosa kita – kegagalan kita memuliakan dan menurut hokum Tuhan – dan apa yang kita dapat peroleh dengan mendedikasikan hati dan hidup kita pada-Nya. Ini adalah sebuah cerita yang sangat menarik lebih dari museum itu sendiri!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *