Ada pertanyaan dengan jawaban yang jelas: Apa tujuan dari botol air?
Tentu saja, botol air dirancang untuk menyimpan air dan menjaga agar kamu cukup minum.
Kamu bisa saja menggunakan botol airmu untuk membawa pasir di pantai. Namun, hal itu akan membuatnya kotor dan tidak layak lagi untuk tujuan aslinya. Ada pasir di botol airku? Tidak, terima kasih!
Sekarang, ada pertanyaan dengan jawaban yang kurang jelas: Apa tujuan hidupmu?
Apakah kamu tahu untuk apa kamu diciptakan? Dan bagaimana seharusnya kamu melayani Tuhan? Hal itu mungkin lebih sulit untuk dipahami.
Mari kita mulai dengan definisi tujuan menurut kamus: alasan mengapa sesuatu dilakukan atau diciptakan, atau alasan mengapa sesuatu itu ada.
Untuk mengetahui tujuanmu, kamu perlu mengetahui mengapa kamu diciptakan dan untuk apa kamu diciptakan.
Mengapa Kamu Diciptakan?
Tuhan ingin kamu menjadi anak-Nya—dan sahabat-Nya. Dengarkan apa yang Dia katakan melalui nabi Yesaya: “Tetapi sekarang, beginilah firman TUHAN, yang menciptakan kamu. … Janganlah takut, sebab Aku telah menebus kamu; Aku telah memanggil kamu dengan namamu, kamu adalah milik-Ku. … Kamu berharga di mata-Ku. … Aku telah mengasihi kamu” (Yesaya 43:1, 4).
Kamu diciptakan karena Tuhan mengasihi kamu dan menginginkan kamu. Orang tuamu mungkin tidak menginginkanmu, tetapi Allah menginginkanmu. Kamu bukanlah sebuah kecelakaan.
Dia telah memikirkanmu jauh sebelum kamu lahir. Bahkan, Dia berkata, “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau” (Yeremia 1:5).
Tetapi, apakah Dia memiliki tujuan khusus untukmu—sesuatu yang seharusnya kamu lakukan dalam hidupmu?
Untuk Apa Saya Diciptakan?
Ya! Tuhan menciptakanmu untuk memuliakan-Nya. “Semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!” (Yesaya 43:7).
Tujuanmu adalah untuk memuliakan Tuhan. Dan sama seperti botol air akan berfungsi optimal ketika digunakan sesuai tujuan aslinya, kamu akan menjalani hidup terbaikmu ketika kamu melakukan apa yang Tuhan rencanakan untukmu.
Namun, apa artinya memuliakan Allah?
Allah memberitahu kita beberapa ayat selanjutnya: “Kamu inilah saksi-saksi-Ku,” demikianlah firman Tuhan , ”dan hamba-Ku yang telah Kupilih, supaya kamu tahu dan percaya kepada-Ku dan mengerti, bahwa Aku tetap Dia.” (Yesaya 43:10).
Diciptakan untuk kemuliaan Allah artinya hidup menunjukkan siapa Allah sebenarnya—menjadi saksi akan keberadaan-Nya, karakter-Nya, dan kuasa penyelamatan-Nya.
Kamu dan aku memiliki hak istimewa untuk menunjukkan kepada seluruh alam semesta betapa luar biasanya Allah kita. Ketika kita memilih untuk mengikuti-Nya dan memberi-Nya izin untuk mengubah hidup kita, kita bersaksi bahwa Allah sungguh-sungguh adalah Allah yang penuh kasih, belas kasihan, dan kuasa.
Kisah Annika
Annika tumbuh besar dalam keluarga Katolik yang hanya sekadar nama. Sebuah patung Bunda Maria berdiri di sebuah ruangan kecil, dan ia belajar membuat tanda salib saat berdoa. Namun, Yesus bukan sosok yang berarti baginya. Hidupnya sulit, dan segalanya tidak berjalan lancar baginya selama beberapa waktu.
Ketika segalanya menjadi sangat buruk, Annika mulai mencari Tuhan dengan segenap hatinya. Yesus menemuinya di masa-masa sulit itu, dan Annika jatuh cinta kepada Juruselamat kita. Ia mulai membaca Alkitab dan berdoa setiap hari. Sukacita menggantikan rasa takut dan kecemasan yang selama ini ia rasakan. Segera setelah itu, ia mulai menceritakan kepada keluarganya tentang iman barunya kepada Yesus. Ia telah menjadi seorang saksi.
Cara Menjadi Saksi
Terkadang, menjadi saksi bisa berarti berkeliling dunia untuk menjadi misionaris. Atau bisa juga berarti berbagi dengan keluarga, seperti yang dilakukan Annika.
Seringkali, menjadi misionaris artinya menunjukkan melalui tindakanmu bahwa kamu adalah anak Allah—berusaha sebaik mungkin di sekolah, berdoa bersama adik perempuamu saat dia sedih alih-alih marah padanya, serta menata piring-piring bersih tanpa harus diminta.
Setiap kali kamu memilih untuk menyerahkan keinginanmu sendiri kepada Tuhan dan hidup seperti Yesus, kamu sedang menjadi saksi.
Inilah Aku, Utuslah Aku!
Dahulu kala, seorang pemuda bernama Yesaya sedang menyembah Tuhan di bait suci. Saat berada di sana, ia melihat penglihatan tentang Tuhan yang duduk di atas takhta-Nya dan mendengar seruan ini: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” (Yesaya 6:8).
Yesaya menjawab panggilan itu, dengan berkata, ”Ini aku, utuslah aku!”
Bagaimana denganmu? Akankah kamu menjawab panggilan Tuhan untuk memuliakan-Nya? Kamu tidak perlu menunggu sampai dewasa atau lulus sekolah untuk mulai melayani Tuhan. Saat kamu mengisi waktu bersama Yesus setiap hari, Dia akan memberimu wawasan tentang bagaimana kamu dapat melayani-Nya dan sesamamu. Dia akan memberimu kemampuan untuk menjadi saksi—setiap hari dalam hidupmu.






