FIRDAUS YANG HILANG DAN DITEMUKAN

Renungan Harian
Mari bagikan artikel ini

Kita semua pernah mendengar kisah sebenarnya tentang Pemberontakan di Kapal Angkatan Laut Inggris HMS Bounty, tetapi satu aspek dari kisah ini yang layak diceritakan kembali adalah transformasi yang luar biasa yang disebabkan oleh satu buku.

Tak lama setelah pemberontakan yang terkenal di atas kapal Bounty pada tahun 1789, sembilan pemberontak dengan enam lelaki Tahiti dan dua belas perempuan pergi ke Pulau Pitcairn — sebuah pulau kecil di Samudra Pasifik selatan. Mereka membakar kapal Bounty dan mendirikan koloni yang baru. Segala sesuatunya berjalan baik. Dalam beberapa aspek, sepertinya mereka hidup di surga. Tetapi beberapa pemberontak memperlakukan orang Tahiti dengan tidak hormat dan perpecahan terjadi di antara mereka, akhirnya mengakibatkan kematian sebagian besar pria di kedua belah pihak. Setelah itu, ada kedamaian sebentar, sampai salah satu pelaut mulai menyaring alkohol dari tanaman asli. Sebagian besar pemukim yang masih hidup, minum berlebihan. Segera koloni kecil tercebur dalam pesta pora, kejahatan, dan pembunuhan.

Sepuluh tahun kemudian, hanya satu pria — John Adams — yang tetap bertahan hidup, dikelilingi oleh sepuluh wanita pribumi dan sekelompok anak-anak. Suatu hari pelaut ini menemukan sebuah Alkitab di peti tua yang berasal dari kapal Bounty. Dia mulai membacanya dan kemudian mengajarkannya kepada yang lain. Hasilnya adalah, hidupnya sendiri dan, pada akhirnya, kehidupan semua orang di pulau itu berubah secara dramatis. Faktanya, ketika Pulau Pitcairn dikunjungi pada tahun 1808 oleh kapal Amerika, koloni yang sebelumnya penuh dengan kejahatan telah menjadi komunitas yang berkembang tanpa penjara, tanpa wiski, tanpa kemalasan, dan tanpa kejahatan.

Saat ini keturunan koloni ini masih hidup dalam masyarakat moralistik di salah satu pulau paling terpencil di dunia. Bisakah prinsip-prinsip Alkitab benar-benar mengubah budaya dari kejahatan menjadi kedamaian pada hari ini? Saya yakin bisa. Firman Tuhan menarik kita menjauh dari ketertarikan dunia dengan segala kesenangan dan keburukannya. Dengan membaca dan mempelajari Alkitab, pikiran kita diperbarui dan diubahkan menjadi seperti pikiran Kristus. Kita merasakan kedamaian di hati, kesesuaian dengan kehendak Tuhan, dan hubungan yang menyelamatkan dengan-Nya. Nah, itu baru surga yang nyata!

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Roma 12:2

-Doug Batchelor-


Mari bagikan artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.