JANGANLAH GELISAH HATIMU

Mengenal Yesus
Mari bagikan artikel ini

Oleh Elizabeth Viera

Saat itu saya berada di Filipina, menikmati makan siang bersama dengan teman-teman di sebuah restoran yang menghadap ke danau yang indah dengan kawah gunung berapi non-aktif di tengah-tengahnya. Tiba-tiba, kami melihat awan kecil muncul di atas kawah dan terus bertambah besar sampai kami menyadari bahwa Gunung Api Taal baru saja bangun dari tidur panjangnya. Saat kami tiba di rumah, hujan abu sudah turun! Dalam beberapa jam semuanya ditutupi oleh lapisan tebal abu vulkanik.

Ini bukan satu-satunya krisis tak terduga yang terjadi di tahun 2020. Gunung berapi, tornado, pandemi virus corona— dan semuanya terjadi pada paruh pertama tahun ini! Di saat seperti ini, bagaimanakah kita bisa hidup dengan “hati yang tidak gelisah?” Bisakah kita mengalami kedamaian Tuhan sambil menghadapi gunung berapi, banjir, tornado, kebakaran, gejolak emosi, dan pandemi? Izinkan saya berbagi mengenai empat K yang berpusat pada siapa Tuhan itu dan mengapa kita bisa memilih iman daripada rasa takut.

KEHADIRANNYA

Sepanjang sejarah, umat Allah telah menghadapi masalah yang tak dapat diatasi, namun Allah telah mengulangi berkali-kali: “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau” (Yes. 41: 10). Sejak semula, Allah telah menawarkan kehadiran-Nya bagi umat manusia sebagai penangkal rasa takut. Tuhan mengucapkan kata-kata penghiburan itu kepada Abraham, Yosua, Daud, Yesaya, dan banyak tokoh Alkitab lainnya. Dia menjanjikan kehadiran-Nya kepada umat-Nya sampai akhir. Yesus sendiri mengingatkan kita, “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28: 20). Mengapakah kehadiran-Nya begitu penting?

KUASANYA

 Kehadiran-Nya tidak hanya menghibur tetapi juga memiliki kuasa. Ketika orang-orang Israel berkemah di Laut Merah tanpa tempat untuk bersembunyi dan melihat Firaun dan pasukannya mendekati mereka, mereka ketakutan. Tetapi Tuhan meyakinkan mereka melalui Musa bahwa Dia akan bertindak bagi mereka dengan kekuatan untuk membawa pembebasan. “Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu . . . TUHAN akan berperang untuk kamu dan kamu akan diam saja” (Kel. 14: 13, 14).

Pesan yang sama datang kepada Raja Yosafat beberapa abad kemudian, ketika ia menghadapi invasi yang tiba-tiba membangkitkan rasa takut (2 Taw. 20: 17). Di seluruh Alkitab kita melihat kehadiran Allah yang kuat membawa pembebasan bagi umat-Nya dengan cara-Nya dan pada waktu-Nya. Saya sering bertanya-tanya seperti apa rasanya berada di perahu bersama Yesus di Danau Galilea, berada di tengah badai yang datang tiba-tiba, dan mendengar kata-kata-Nya: “Mengapa kamu takut?” (Mat. 8: 26), diikuti dengan ketenangan yang sempurna setelah Ia menegur angin dan ombak. Saya membayangkan para murid berpikir, ya! Kenapa kami harus takut? Yesus ada bersama kita, dan Dia berkuasa atas segalanya!

Tetapi bagaimana kita dapat yakin akan kehadiran-Nya yang kuat bersama kita setiap saat?

KESENGSARAANYA

Banyak orang yang hidup dalam ketakutan, percaya bahwa mereka harus melakukan sesuatu yang pantas untuk menjadi layak mendapatkan kehadiran Allah dalam hidup mereka. Namun, jaminan sejati datang kepada kita hanya oleh sengsaraNya. Jaminan itu datang bukan karena fakta bahwa Allah yang mengasihi kita, meskipun dia memang mengasihi kita, atau bahwa Allah berbelas kasihan kepada kita, meskipun Dia juga berbelas kasihan kepada kita. Saya mengacu pada Kesengsaraan Yesus, kematian-Nya di kayu salib untuk kita semua. Dia dihukum karena dosa-dosa kita sehingga kita dapat memiliki hidup yang kekal. Dia menerima apa yang pantas kita terima sehingga kita dapat menerima apa yang layak Dia terima (2 Kor. 5: 21). Dia membeli kedamaian kita: “Ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya” (Yes. 53: 5).

Ketika kita menerima Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan kita, tidak ada apa pun—tidak ada masalah, tidak ada kesulitan, tidak ada bencana, tidak ada penyakit, bahkan kematian—yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah melalui Kristus (Rm. 8: 31–39). Kita dapat hidup dengan jaminan rahmat-Nya dan kehadiran-Nya yang kuat bersama kita setiap hari sampai akhir.

Kita dapat menjadi pribadi yang tak kenal takut tentang masa yang akan datang karena kita mengenal Dia yang memberi tahu kita bagaimana kisah ini akan berakhir!

KEPASTIAN AKAN JANJINYA

“Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku …. Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.” (Yohanes 14: 1–3). Jaminan yang diberkati oleh janji-Nya! Para murid telah menerima kabar buruk bahwa Yesus akan pergi, dan bahwa kali ini mereka tidak dapat mengikuti Dia (Yohanes 13: 33, 36). Mereka tentu saja menjadi takut dan cemas, karena bab berikut dimulai dengan kata-kata Yesus yang menghibur: “Janganlah gelisah hatimu.” Mereka takut dan tertekan, dan Yesus memberi mereka alasan untuk tidak merasa takut dan tertekan. Mereka bisa memilih iman di atas rasa takut dan percaya kepada-Nya! Yesus punya rencana; Dia akan mencapainya dan kembali untuk mereka! Dia akan menyiapkan rumah untuk mereka.

Yesus tahu bahwa murid-murid-Nya akan mengalami keadaan yang sulit. Tetapi Dia mengundang mereka untuk percaya kepada-Nya, untuk percaya pada janji-Nya bahwa Dia akan kembali untuk mereka dan tinggal bersama mereka selamanya.

Setiap pengikut Yesus dapat mengklaim janji ini, karena kita tahu bagaimana kisah ini berakhir: Yesus menang! Kita akan bersama-Nya—selama-lamanya. Dalam buku terakhir di Alkitab, kita diingatkan bahwa penangkal rasa takut adalah Kristus yang disalibkan dan bangkit. Dia memegang kunci kematian. Dia ada di awal dan akan ada di akhir: “Jangan takut. Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut” (Why. 1: 17, 18).

Jadi, dapatkah kita menghadapi kesulitan dengan “hati yang tidak gelisah?” Dapatkah pengikut Yesus mengalami kedamaianNya saat menghadapi gunung berapi, banjir, tornado, kebakaran, gejolak emosi, dan pandemi? Tentu saja! Mengapa? Karena kehadiran-Nya dan kuasa-Nya dijamin oleh sengsara-Nya untuk semua yang percaya kepada janji–Nya.


Mari bagikan artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.