renungan

MAKANAN TERATUR

Renungan Harian

Bertarak dalam Segala Hal

Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat. Filipi 4:1

Hidup secara teratur waktu makan sangatlah panting buat kesehatan tubuh dan ketenangan pikiran. Pada umumnya anak-anak kecil tidak diajar tentang pentingnya kapan, bagaimana dan apa yang harus mereka makan. Mereka dibiarkan saja memanjakan cita rasa mereka, makan sepanjang waktu, member mereka buah bilamana mata mereka tergoda dengan buah itu, dan demikian juga dengan pastel, kue, roti dan mentega, dan daging manis dimakan terus-menerus, menjadikan mereka kekenyangan dan sukar mencerna. Alat-alat pencernaan, bagaikan sebuah mesin yang terus berputar menjadi lemah, tenaga hayati harus terserat dari otak membantu perut dalam pekerjaannya yang terlalu berat itu, dan demiklanlah tenaga pikiran dilemahkan. Rangsangan yang tidak lazim dan pemakaian tenaga hayati yang berlebih-lebihan membuat mereka gelisah, tidak sabar menahan diri, menurut kehendak sendiri, dan mudah tersinggung. . . . Tampaknya sukar untuk mendorong meraka supaya merasa malu dan jijik atas dosa itu.

Tidak  ada suatupun yang harus dimakan di antara waktu makan,baik gula-gula, kacang-kacangan, buah-buahan, dan makanan yang lain. Makan dengan tidak teratur merusak kesehatan alat-alat pencernaan, merugikan kesehatan dan kesenangan hati.

Sifat buruk yang lain adalah makan menjelang waktu tldur. . . .

Waktu tidur itu sering terganggu dengan mimpi-mimpi yang tidak menyenangkan, dan pada pagi harinya orang itu bangun kurang segar dan kurang nafsu makan pagi. Bilamana kita berbaring untuk istirahat, perut sudah seharusnya menyelesaikan pekerjaannya, agar alat-alat tubuh yang lain beristirahat dengan nikmatnya.

Setiap larangan Allah adalah untuk kesehatan dan kebaikan hidup manusia. Bilamana mereka (umat Allah) menjauhkan diri dari segala pemanjaan nafsu makan yang merusak kesehatan, maka mereka akan memiliki penglihatan yang lebih jelas tentang apakah yang merupakan ibadat sejati. Perubahan yang ajaib akan tampak dalam pengalaman agama.

Hidupku Kini, hal. 148

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *