MASADA

Renungan Harian
Mari bagikan artikel ini

Masada, yang berarti “benteng” dalam bahasa Ibrani, adalah tempat perlindungan yang berada di puncak gunung di padang pasir Yudea, yang dibangun di atas gunung batu, tempat terisolasi dan bentuknya naik secara tiba-tiba setinggi 2.000 kaki dekat dengan Laut Mati. Benteng itu direnovasi oleh Herodes Agung antara tahun 37 sampai 31 SM. Ketika Yerusalem direbut tentara Romawi pada tahun 70 M., orang Israel yang tersisa, sebuah sekte Yahudi yang dikenal sebagai bani Zelot, memberontak dan merebut benteng itu dari pemerintahan Romawi. Mereka menolak untuk menyerah.

Dengan banyaknya persediaan makanan dan air, kelompok yang terdiri dari sekitar 1.000 pria, wanita, dan anak-anak yang dipimpin oleh Eleazar ben Jair, bertahan dari kepungan pasukan Romawi selama lebih dari dua tahun. Setelah pengepungan yang lama ini, 15.000 tentara Romawi dari Legiun Kesepuluh menjembatani puncak benteng dengan menimbun tanah dalam jumlah yang sangat besar, menerobos tembok lalu menaklukkannya. Mereka menemukan mayat lebih dari 960 pria, wanita, dan anak-anak, korban pakta bunuh diri untuk mencegah orang Romawi menjadikkan mereka sebagai budak. Semua kecuali tujuh orang, bunuh diri, daripada menyerah kepada musuh mereka.

Situs Masada ditemukan kembali pada tahun 1842 dan secara luas digali oleh arkeolog Higael Yadin antara tahun 1963 dan 1965. Saat ini wisatawan dapat mendaki Jalur Ular di sisi timur atau naik kereta gantung ke atas. Karena iklim yang kering, sebagian besar Masada tetap tidak tersentuh oleh manusia selama lebih dari 2.000 tahun. Sebuah museum sekarang didirikan untuk menampilkan semua penemuan dan tur diberikan setiap hari, menceritakan kisah para patriot fanatik yang menolak untuk menyerah.

Tentu saja ada saat-saat di mana kita harus berani melawan musuh. Tetapi ada juga waktu untuk menyerah — bukan kepada iblis, tetapi kepada Kristus. Ketika Paulus membagikan Injil kepada orang-orang Korintus, ia menulis, “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.” (1 Korintus 1:18). Bagi dunia tampaknya tidak masuk akal untuk menyembah Tuhan yang menyerahkan nyawa-Nya. Namun, dengan cara yang sama kita dapat menemukan kehidupan ketika kita mati untuk diri sendiri dan merendahkan diri di hadapan Tuhan.

Teks Alkitab kita hari ini memanggil kita untuk menjadi seperti Yesus dan disalibkan bersama-Nya. Bukan tubuh fisik kita yang harus memanjat salib dan mati. Kita harus menyerahkan diri. Dengan meletakkan hak-hak kita, keinginan kita untuk menjadi yang pertama dan semua keinginan daging kita agar kita bisa menerima keselamatan. Kita akan mengakui kekalahan dalam pertempuran melawan diri kita sendiri, namun kita akan memenangkan perang bila kita menyerah kepada Yesus.

Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.

Galatia 2:20

-Doug Batchelor-


Mari bagikan artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.