MENGAPA MENURUTI SEPULUH HUKUM?

Renungan Harian
Mari bagikan artikel ini

Pada hari-hari ketika banyak sekolah negeri di Amerika memamerkan Sepuluh Hukum Allah, persentase penduduk yang mengenalnya lebih tinggi. Sekarang, menurut sebuah jajak pendapat, kurang dari 60 persen orang Amerika mengetahui perintah tentang pembunuhan dan hanya 34 persen yang mengenal perintah tentang hari Sabat.

Paulus berkata, “hukum Taurat itu bukanlah bagi orang yang benar, melainkan bagi orang durhaka dan orang lalim, bagi orang fasik dan orang berdosa, bagi orang duniawi dan yang tak beragama, bagi pembunuh bapa dan pembunuh ibu, bagi pembunuh pada umumnya” (1 Timotius 1:9). Sepuluh Hukum menunjukkan orang-orang yang berbuat dosa di mana kesalahan mereka.

“Sekarang tujuan dari perintah itu adalah kasih,” tambahnya. Sepuluh Perintah menunjukkan kepada kita bagaimana hidup dengan cara yang mencerminkan kasih Pencipta kita.

Karena “hukum tidak dibuat untuk orang benar”, apakah ini berarti bahwa orang yang bermoral lurus tidak perlu repot-repot menjalankan hukum? Tentu saja tidak. Itu berarti mereka sudah menurutinya!

Tuhan menulis Sepuluh Hukum di atas batu untuk menandakan sifat hukum yang tidak berubah. Selama berada di Bumi, Yesus selalu menjunjung tinggi sepuluh hukum sebagai cerminan karakter kasih-Nya; mereka adalah bagian dari ajaran-Nya. Dan Dia berkata kepada semua murid-Nya, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” (Yohanes 14:15).

Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas. Tetapi ada orang yang tidak sampai pada tujuan itu dan yang sesat dalam omongan yang sia-sia. Mereka itu hendak menjadi pengajar hukum Taurat tanpa mengerti perkataan mereka sendiri dan pokok-pokok yang secara mutlak mereka kemukakan. Kita tahu bahwa hukum Taurat itu baik kalau tepat digunakan, yakni dengan keinsafan bahwa hukum Taurat itu bukanlah bagi orang yang benar, melainkan bagi orang durhaka dan orang lalim, bagi orang fasik dan orang berdosa, bagi orang duniawi dan yang tak beragama, bagi pembunuh bapa dan pembunuh ibu, bagi pembunuh pada umumnya, bagi orang cabul dan pemburit, bagi penculik, bagi pendusta, bagi orang makan sumpah dan seterusnya segala sesuatu yang bertentangan dengan ajaran sehat. 1 Timotius 1:5-10.

-Doug Batchelor-


Mari bagikan artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.