Panggilan untuk Menunaikan Tugas

Blog AFI
Mari bagikan artikel ini

Blog_CallOfDutyAmerika Serikat telah menderita karena serangan yang menghancurkan. Kelihatannya sedang menuju kepada akhir dunia. Industri dan infrastukrtur negara sudah hampir lenyap. Banyak orang telah meninggal, dan pemerintah sepertinya akan meledak. Untungnya anggota Operasi Khusus AS akan menuntun pemogokan untuk memperoleh kembali kontrol Amerika dari “Federasi” kelompok pemberontak. Mereka memiliki senjata-senjata rahasia. Ini terjadi pada tahun 2023.

Apakah ini terdengar seperti alur cerita dari buku Wahyu? Tidak, ini adalah latar belakang untuk video game terbaru “first-person shooter” (Penembak Orang Pertama) yang bernama Call of Duty: Ghosts (Panggilan untuk menunaikan Tugas: Setan). Ini sebenarnya adalah rangkaian lanjutan dari seri kesepuluh game Call of Duty dan sudah menghasilkan miliyaran dolar. Percakapan dari sebuah trailer (video promosi) untuk mengumumkan akan dikeluarkannya seri terbaru video game ini terdengar hampir Alkitabiah. Seorang ayah berkata kepada kedua anak laki-lakinya, “Musuh kita telah maju menyerbu dari arah selatan khattulistiwa dan melumpuhkan Negara kita. Tetapi saya telah melatih kamu dengan baik. Dan kamu tidak akan sendirian.” Kemudian sang ayah berkata, “Seorang pria yang sungguh-sungguh mencintai negaranya tidak hanya memberikan hidupnya… tapi dia juga akan memberikan anak laki-lakinya.”

Jadi apakah yang membahayakan dengan bermain video game untuk membantu menyelamatkan negara Anda? Bukankah itu adalah hal yang baik dan itu hanya memberikan kita suatu bentuk hiburan yang tidak jahat? Haruskah seorang Kristen membeli dan memainkan video game ini?

Pertama mari kita lihat terlebih dahulu kepada rating (nilai) dari ESRB (Entertainment Software Rating Board-Program untuk menilai suatu Entertaiment) untuk video game Call of Duty: Ghosts. Diberikan rating “M” untuk Dewasa 17+, kategori ini menyatakan bahwa game ini berisi “darah, referensi penggunaan obat-obatan, kekerasan yang kuat, dan bahasa yang keras (kasar).” Semua ini adalah cara yang halus untuk menggambarkan bahwa didalam video game ini ada pembunuhan secara besar-besaran, penyembelihan, darah kental dan kekejaman. Ini bertolak belakang dengan yang dinasihatkan oleh rasul Paulus untuk menjaga pikiran kita supaya dipenuhi dengan “semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (Filipi 4:8).

Ada beberapa factor yang perlu diperhatikan oleh seorang Kristen ketika akan bermain video game yang berisi kekerasan, berbau seksual dengan jelas, dan pemandangan yang mengerikan. Secara alamiahnya game seperti ini akan menghabiskan banyak waktu dan kita terfokus hanya kepada game itu sendiri. Ketergantungan terhadap game ini akan mendorong kita terisolasi secara social. Menonton aksi kekerasan mutilasi dan penyiksaan, dan secara tidak sadar membuat perilaku dan pikiran sehat kita menjadi mati rasa terhadap kebenaran dan kasih. Semua hal itu akan menghancurkan kemampuan moral kita untuk membedakan hal yang benar. Kristus mengajarkan bahwa kita telah berdosa bahkan ketika kita mempunyai hawa nafsu dan rasa ingin membunuh di dalam hati (pikiran) kita. (Matius 5:21-30).

Peringatan terakhir ketika kita menonton atau memainkan video game ini adalah penyimpangan alur cerita yang menggambarkan mengenai keadaan akhir zaman. Kita melihat pertempuran dunia dengan menggunakan aksi kekerasan yang melibatkan kecepatan dan keahlian dari para prajurit untuk mengakali musuh dengan menggunakan senjata dan bom. Tetapi Alkitab mengatakan kepada kita bahwa pertempuran yang sesungguhnya adalah pertentangan antara kekuasaan yang baik dan jahat, antara Kristus dan Setan, antara orang-orang yang menuruti hukum Tuhan dan orang-orang yang memberontak. Peperangan yang sesungguhnya terjadi didalam hati (pikiran) kita.

Ada sebuah panggilan untuk menunaikan tugas yang diberikan kepada setiap orang Kristen. Yaitu untuk mengikut Yesus dan menyebarkan Injil. Kita tidak seharusnya untuk membunuh musuh kita tapi untuk mengasihi mereka. Wanita bukan sebagai obyek tetapi untuk dilindungi. Peperangan terakhir tidak akan datang dari negara yang jauh terpisah dengan kita, tapi peperangan terakhir itu adalah upaya dari binatang dan naga, sebuah persatuan antara kekuasaan agama dan politik untuk menghancurkan umat Tuhan. Ini adalah pertempuran yang nyata terjadi. Senjata rahasia nya bukanlah sejenis sinar laser galactic; senjata rahasianya adalah sebuah hubungan pribadi bersama Kristus yang dipelihara melalui belajar dengan satu-satunya peta pertempuran yang dapat dipercaya—Alkitab.


Mari bagikan artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.