Domba yang hilang

SEKUAT APA MANUSIA UNTUK MENURUTI PERJANJIANNYA DENGAN ALLAH? (1)

Belajar Firman Featured Pendalaman Alkitab
Mari bagikan artikel ini

  1. Janji Israel Kepada Tuhan

 “Segala yang difirmankan Tuhan akan kami lakukan.” (Keluaran 19:8)

Betapa indahnya bunyi janji itu dari bangsa Israel itu!

Tuhan berfirman: “Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada orang Mesir, dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku. Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Inilah semuanya firman yang harus kaukatakan kepada orang Israel.” Keluaran 19:4-6.

Peristiwa pelepasan bangsa Israel dari perhambaan bangsa Mesir yang dahsyat itu baru terjadi selang tiga bulan. Peristiwa tersebut bukanlah suatu peristiwa yang biasa. Peristiwa itu disertai dengan pernyataan kuasa Allah yang sangat besar. Dan sekarang Allah Yang Maha Kuasa meminta agar bangsa Israel mau sungguh-sungguh mendengarkan firman-Nya dan berpegang pada perjanjian-Nya, sebab apabila mereka melakukan hal ini, maka mereka akan dijadikan harta kesayangan Allah sendiri dari antara segala bangsa dan mereka akan dijadikan suatu kerajaan imam dan suatu bangsa yang kudus.

Mana ada perkara yang terlebih indah dari pada dijadikan harta kesayangan Allah yang begitu berkuasa untuk membelah Laut Merah supaya terjadi suatu jalan pelarian bagi umat yang terkejar itu?  Mana ada perkara yang dapat diharap-harapkan lebih dari pada dijadikan suatu kerajaan imam dan bangsa yang kudus bagi Allah yang begitu kuat untuk mengubur musuh yang mengejar di dalam air laut?  Lagipula persyaratannya begitu ringan!  Mereka hanya diminta untuk sungguh-sungguh mendengarkan firman Allah dan berpegang pada perjanjian-Nya!

Oleh sebab itu pada waktu Musa memanggil para tua-tua bangsa Israel dan menghadapkan kepada mereka pesan dari Tuhan yang di atas, seluruh bangsa itu menjawab bersama-sama: “Segala yang difirmankan Tuhan akan kami lakukan.” Keluaran 19:8. Janji yang serupa juga tercatat dalam Keluaran 24:7, “Segala firman Tuhan akan kami lakukan dan akan kami dengarkan.”

Namun pertanyaannya: Mampukah bangsa Israel menepati dan memegang janjinya itu?

Dalam buku Para Nabi dan Bapa, bab 32: “Umat Israel tidak menyadari betapa jahatnya hati mereka sendiri dan bahwa tanpa Kristus tidaklah mungkin bagi mereka untuk menuruti hukum-hukum Allah; …… Merasa bahwa mereka mampu untuk mengadakan kebenaran mereka sendiri, mereka berkata, “Segala firman Tuhan akan kami lakukan dan akan kami dengarkan.” (Keluaran 24:7) ……Tetapi setelah lewat beberapa minggu saja mereka telah melanggar janji mereka kepada Allah dan menyembah pada patung ukiran (Keluaran 32).”

  1. Janji Maria Kepada Yesus

 Siapakah Maria?  Kita perlu mempelajari kehidupan Maria dengan tujuan supaya kita dapat melihat perkara-perkara Allah Yang Maha Tinggi dan dapat mengerti jalan pimpinan kasih-Nya yang melampaui apa yang terpikirkan oleh kita.

Kita telah mengetahui siapa Maria dan Marta (Lukas 10:38-42). Tetapi yang belum kita ketahui dan belum kita perhatikan adalah bahwa Marta itu seorang yang ber-agama, tetapi Maria adalah seorang yang ber-kerohanian. Hal ini mengejutkan kita!  Kita mengetahui bahwa Marta adalah seorang yang berkelakuan baik, sedangkan Maria adalah seorang yang yang berdosa secara terbuka.

Mengapa orang yang bemoral dan berkelakuan baik hanya disebut orang yang beragama, sedangkan seorang yang bermoral rendah dikatakan berkerohanian?  Apakah semua orang yang bermoral baik itu hanya sekedar beragama saja, dan semua orang yang bermoral rendah mempunyai kerohanian tinggi?  Bukan begitu!  Maria dan Marta merupakan suatu contoh kasus yang harus kita pelajari sama-sama. Masih ada kemungkinannya bahwa seorang yang ‘baik’ namun hatinya tidak sedekat kepada Yesus dibandingkan dengan seorang yang ‘jahat’ menurut penilaian orang. Hanya Yesuslah yang mengetahui dan mengenal keadaan hati seseorang yang sesungguhnya.

Dalam contoh kasus Maria dan Marta, Tuhan hanya ingin menyatakan kebenaran bahwa apa yang dilihat orang dari luar belum tentu mencerminkan keadaan hati seseorang yang sesungguhnya. Belum tentu seorang yang tidak ke gereja adalah seorang yang ‘murtad’, atau belum tentu seorang pendeta atau ketua majelis gereja adalah seorang yang ‘rohani’. Atau belum tentu seorang yang sering melakukan kesalahan atau menyebabkan kekacauan di gereja adalah seorang yang ‘tidak baik’. Ingat pelajaran tentang ‘Seismograf Dosa’? Betapa sering hati dan telunjuk kita mengacung kepada seseorang yang kita anggap miskin yang kerjanya hanya minta sumbangan terus pada gereja, kita tidak tahu bagaimana pergumulan hidup sebenarnya orang itu. Oleh sebab itu kita tidak boleh ikut campur dalam pekerjaan Yesus dalam menghakimi seseorang. Hal untuk menghakimi adalah hak tunggal Tuhan kita!

Maria tinggal di kota Betani. Maria adalah seorang yang berkepribadian yang ramah dan suka bersosial. Kepribadiannya ini membuatnya mempunyai banyak teman dan hal ini pada suatu saat membuatnya menjadi korban suatu perbuatan yang tercela oleh seseorang.

Dan Maria menjadi topik pembicaraan banyak orang di kotanya. Cerita tentang perbuatan jeleknya berpindah-pindah dari satu mulut ke telinga yang lainnya sehingga Maria menjadi pusat perhatian bagi setiap orang yang melihatnya. Karena tidak tahan menanggung segala keadaan itu, maka Maria berpindah dari Betani ke sebuah kota lain yang bernama Magdala, sehingga Maria dikenal sebagai Maria Magdalena.

Di kota Magdala, Maria tidak berhasil mencari nafkah hidup dengan jalan yang halal. Karena dia seorang diri dan tidak mempunyai jalan keluar yang lain lagi, dan lagipula karena dirinya sudah terjerumus ke dalam wilayah iblis yang disebabkan seorang Farisi dan seorang tokoh agama terkemuka, akhirnya Maria mencari nafkah hidupnya dengan jalan yang tidak halal. Maria menjual dirinya dan kita tahu bahwa pekerjaan Maria itu sebagai wanita tunasusila.

Maria telah meninggalkan agama dan hidup dalam pelanggaran terhadap hukum-hukum Allah. Secara perhitungan duniawi, Maria telah hidup berhasil. Maria banyak mengumpulkan uang dan menjadi seorang yang ‘kaya’. Karena tidak tahu bagaimana harus menyimpan uangnya yang banyak itu secara aman, maka pada suatu hari Maria membeli sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi yang sangat mahal harganya (Yohanes 12:3).

Dan pada suatu hari, Maria mendengar seorang Pengkhotbah yang sedang singgah di kotanya. Menurut informasi yang didengarnya, Pengkhotbah ini agaknya berbeda dengan guru-guru agama lainnya. Guru-guru agama….. tentu saja Maria tidak dapat melupakan seorang guru agama yang telah menjatuhkan dirinya tetapi yang telah berhasil mencuci bersih tangannya sendiri dan meninggalkan Maria terjeblos ke dalam jurang kenistaan dan hanya mau menerima orang-orang yang suci dan berkelakuan baik saja. Tetapi Maria mendengar bahwa Guru Agama yang satu ini berbeda dan mau menerima orang-orang yang berdosa yang sudah disingkirkan oleh masyarakat. Sungguh Maria merindukan Guru ini dan sangat ingin bertemu dengan-Nya.

Kemudian Maria berusaha mencari Guru ini. Rupanya Guru ini didapati sedang dikerumuni oleh banyak orang. Maria menjadi ragu-ragu untuk datang kepada Guru ini. Pulang saja karena banyak orang yang mengelilingi Guru ini?  Mana ada kesempatan dia bisa untuk bertemu dengan-Nya?  Lagipula, mana ada waktu bagi Guru itu untuk menanggapi dirinya? Maria merasa dirinya kotor dan hina, dan dia hendak kembali pulang. Hati Maria bergumul antara mau maju atau mundur. Tetapi Roh Suci menjamah hatinya dan mendorongnya untuk menemui Guru itu. Hati Maria melembut untuk menerima bisikan-bisikan Roh Allah dan ia menurut pada dorongan hatinya itu. Itulah sebabnya Maria dikatakan sebagai orang yang berkerohanian!  Saat itu Maria tidak beragama. Maria tidak pernah pergi ke Bait Suci lagi. Maria hidup dalam pelanggaran-pelanggaran terhadap hukum Allah. Tetapi Maria rohani!

Maria tidak jadi kembali pulang. Dan akhirnya ia menerobos kerumunan banyak orang itu, tanpa memperdulikan tatapan banyak mata yang memandang hina kepadanya. Maria menemui Yesus. Maria langsung duduk bersimpuh merendah di kaki Yesus. Maria meledak dalam tangisan dan mencurahkan isi hatinya kepada siapa yang ia percayai sebagai orang yang dapat menyelamatkan dirinya. Yesus yang penyayang pada setiap jiwa orang, tidak terlalu sibuk untuk memperhatikan dan menolong Maria. Yesus menghibur dan menguatkan Maria. Sungguh Tuhan itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang!  Maria yang merasa dirinya sudah terhilang dan terbuang, mendapatkan dirinya diterima kembali oleh Allah!  Allah yang di sorga masih mau menerima dirinya yang jahat itu!  Hal itu diketahui oleh Maria melalui sikap dan perilaku Yesus terhadap dirinya. Hati Maria hancur dan Maria bertobat!  Maria mengasihi Yesus!

Apakah Maria benar-benar sudah bertobat?  Bagaimana pengertian kita tentang pertobatan ini? Sudahkan kita memiliki pengertian yang benar?

Maria mengikuti Yesus kemana saja Ia pergi. Maria sangat gemar mendengarkan kata-kata yang keluar dari mulut Yesus. Selama Yesus berada di kota Magdala, Maria selalu mendekatkan diri kepada Yesus. Tetapi tiba saatnya suatu hari, Yesus harus meninggalkan kota itu. Segera saja Maria terpisah dari Gurunya. Maria masih mengenang setiap perkataan indah yang diucapkan Gurunya, tetapi di samping itu, Maria harus mendengarkan lagi kata-kata manis yang keluar dari orang-orang yang didorong oleh iblis. Pertimbangan-pertimbangan hidup dan keduniawian datang kembali mendesak ke dalam kehidupan Maria. Akhirnya Maria jatuh kembali ke dalam cengkraman iblis.

Apakah Maria sudah bertobat?  Kalau sudah bertobat, mengapa Maria kembali jatuh ke dalam kehidupan dosanya?  Bukankah orang yang sudah bertobat itu meninggalkan segala dosa-dosanya? Bukankah ia akan menjadi suatu ciptaan yang baru? Kita harus bersyukur kepada Tuhan karena Injil itu serba lengkap!  Tanpa kebenaran Injil, kita akan hilang!  Tidak akan ada terang untuk menerangi kegelapan jiwa kita!  Kita semua akan hancur dan binasa tanpa pengharapan disebabkan kurangnya pengertian kita tentang arti pertobatan yang sebenarnya.

Maria telah bertobat dengan sungguh-sungguh hati. Ia telah menemukan Yesus dan ingin mengikuti Yesus. Maria menyesali kehidupannya yang jahat itu dan ia berjanji pada dirinya sendiri untuk meninggalkan dosanya. Tetapi, sebagaimana bangsa Israel berjanji kepada Tuhan untuk mendengarkan firman-Nya dan telah gagal untuk menepatinya, demikian pula Maria!  Maria telah bertobat, tetapi Maria belum sanggup untuk mengatasi kelemahan-kelemahannya itu. Pertobatan bukanlah suatu pekerjaan sesaat atau hanya sekali saja. Pertobatan sejati berlaku setiap hari dan sepanjang umur hidup seseorang. Maria sudah menemukan jalan kepada Yesus, tetapi Maria belum menemukan kuasa untuk kemenangan atas dosanya!  Maria masih hidup dalam kekuatannya sendiri. Maria belum hidup dengan kekuatan yang berasal dari Yesus melalui Roh Suci!  Itulah sebabnya Maria masih terjerumus kembali ke dalam dosanya yang lama.

Pada kesempatan kunjungan Yesus yang berikutnya ke daerah Galilea, Maria menemui Yesus lagi. Tidak ada yang dapat menceraikan dirinya dari Yesus; bahkan sekali pun kehidupannya yang bergelimang dosa itu. Yesus merupakan satu-satunya Penolongnya. Maria menceritakan kegagalan-kegagalannya kepada Yesus dan Yesus pun mendoakannya. Kasihnya kepada Yesus bertambah pada pertemuan yang kedua ini. Maria melihat betapa bedanya Yesus ini dibandingkan dengan guru-guru agama yang lain. Dirinya telah bertobat kepada Yesus, tetapi ia telah jatuh kembali ke dalam dosa yang sama. Namun Yesus ini tidak menolaknya bahkan semakin mengasihi Maria. Dan hal ini membuat Maria membalas kasih Tuhannya itu!

Menurut Alkitab, sedikitnya 7 kali Maria mengalami kejatuhan kembali ke dalam dosanya yang lama, dan Yesus telah mengusir setan keluar dari Maria setiap kali (Markus 16:9). Begitu sejatinya kasih Yesus bagi seseorang yang mau bertobat kepada diri-Nya!  Ketika Yesus ditanya oleh Petrus sampai berapa kali kita harus mengampuni kesalahan seorang saudara kita?  Apakah sampai 7 kali?  Yesus menjawab sampai 70 kali 7 kali!  Petrus sungguh belum dapat menjangkau dalamnya kasih Tuhan itu!

 

  1. Kemenangan Maria

 Yesus mengampuni sambil mendidik. Ia mengampuni dan mendidik  bangsa Israel; Ia mengampuni dan mendidik Maria; Ia mengampuni dan mendidik masing-masing kita!  Yesus telah mengampuni segala kegagalan bangsa Israel. Ia mendidik mereka untuk menyadari keadaan hati mereka yang jahat yang sudah dikuasai oleh setan. Mereka tidak akan dapat melepaskan diri dari perhambaan dosa yang didatangkan oleh kuasa kegelapan.

Oleh sebab itu, melalui buku Daniel 9:24, Yesus berseru kepada mereka: “Tujuh puluh kali tujuh masa telah ditetapkan atas bangsamu dan atas kotamu yang kudus, untuk melenyapkan kefasikan, untuk mengakhiri dosa, untuk menghapuskan kesalahan, untuk mendatangkan keadilan yang kekal, untuk menggenapkan penglihatan dan nabi, dan untuk mengurapi yang maha kudus.”

Bangsa Israel diminta untuk menerima Yesus sebagai Raja dan Juruselamat yang telah dijanjikan. Tetapi mereka menolak Yesus walau pun 70 x 7 masa keampunan telah diberikan kepada mereka. Bangsa Israel telah berusaha untuk mengakhiri dosa, menghapus kesalahan, dan menggenapi tuntutan hukum-hukum Allah dengan kekuatan dan kebenaran mereka sendiri. Mereka gagal dan akhirnya terpaksa ditolak oleh Tuhan sebagai suatu bangsa pilihan!

Maria telah berjanji kepada Tuhan untuk meninggalkan dosa-dosanya dan Maria telah gagal. Pada mula pertama Maria belum menyadari bahwa dengan kekuatannya sendiri dan hatinya yang jahat, Maria tidak akan dapat melepaskan dirinya dari dosa-dosanya. Tetapi Maria telah memilih hal yang baik. Maria mempercayai Yesus. Maria menerima Yesus sebagai Pelepasnya.  Itulah sebabnya, walau pun dosa masih meliputi hidupnya, dan setiap kali Yesus datang ke kotanya, ia meninggalkan segalanya dan mendapatkan Yesus. Sampai tujuh kali Maria gagal, namun setiap kali ia gagal, ia selalu lari kepada Yesus. Yesus bukan hanya bersedia mengampuni dirinya sampai tujuh kali, bahkan Yesus bersedia mengampuni Maria sampai 70 x 7 kali (= masa pengampunan bagi bangsa Israel = 490 tahun). Yesus tidak hanya sekedar mengampuni, tetapi bagi setiap orang yang tekun imannya, seperti Maria, Yesus mengerjakan kemenangan bagi orang tersebut. Yesus mendidik kita untuk selalu mempercayai-Nya. Kita harus sadar bahwa hati kita jahat. Tidak ada seorang pun yang ‘baik’ di antara kita. Dengan keadaan hati kita seperti sekarang ini, kita tidak akan pernah berhasil untuk menurut hukum-hukum Allah. Hati kita harus diperbaharui, dan yang dapat mengerjakan pembaharuan hati kita hanyalah Yesus melalui Roh Kudus.

Bersambung. . .

Editor: Setyo Kusuma A.


Mari bagikan artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *