MALAM TERAKHIR (1)

Belajar Firman Featured Pendalaman Alkitab

Satu hari terakhir sebelum disalibkan adalah saat-saat penting dalam pelayanan Yesus kepada murid-murid-Nya. Dan beberapa jam sebelum ditangkap dan sebelum kematiaan-Nya tepat di hari raya Paskah, Yesus memiliki kerinduan besar untuk makan Paskah dengan murid-muridNya.

Yesus mengetahui bahwa keesokan harinya Dia sendiri yang akan menjadi Anak Domba yang akan dikorbankan untuk keselamatan manusia. Selama bertahun-tahun kematian dan pengorbanan-Nya dilambangkan oleh  domba yang dikorbankan.

Sepanjang hidup-Nya Yesus menunjukkan suatu kehidupan yang tidak mementingkan diri. Kehidupan-Nya adalah teladan terbaik tentang arti sebuah pelayanan  tepat seperti yang Dia sendiri katakan bahwa “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (Mat. 20:28).

Ini  merupakan pelajaran yang terlihat dari setiap perbuatan‑Nya. Tetapi murid‑murid belum memahami pelajaran itu. Ini membuat Yesus rindu mengulangi ajaran‑Nya dengan suatu gambaran yang berkesan selama‑lamanya dalam pikiran dan hati mereka. Sehingga beberapa jam yang tenang masih sisa bagi‑Nya, Dia rindu untuk menggunakannya bagi kepentingan murid‑murid‑Nya yang sangat dikasihi.

Dalam Lukas 22:8, untuk mengadakan perjamuan Paskah terakhir dengan para murid-Nya Yesus berkata kepada Petrus dan Yohanes: “Pergilah, persiapkanlah perjamuan Paskah bagi kita supaya kita makan.”

Biasanya, perkumpulan antara Yesus dengan murid-murid adalah menjadi momen yang menyenangkan. Yesus bercerita banyak hal, dan murid-murid mendengarkan dengan antusias. Namun pada perjamuan Paskah terakhir ini wajah Yesus terlihat begitu susah. Hatinya dibebani. Dan sebuah bayang‑bayang penderitaan terlihat pada wajah‑Nya. Para murid menyadari hal ini, sehingga mereka mencoba menaruh simpati kepada Yesus.

Ketika masuk dalam ruangan pertemuan perjamuan itu muncullah suatu perkataan yang keluar dari mulut Yesus. Lukas 22:15, 16, “‘Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu, sebelum Aku menderita. Sebab Aku berkata kepadamu: Aku tidak akan memakannya lagi sampai ia beroleh kegenapannya dalam Kerajaan Allah.'”

Kristus mengetahui bahwa saatnya telah tiba bagi‑Nya untuk meninggalkan dunia ini. Karena telah mengasihi umat‑Nya sendiri yang ada di dunia, Ia mengasihi mereka sampai kesudahan. Namun kini Ia sudah dalam bayang‑bayang salib, dan rasa sakit sedang menyiksa hati‑Nya. Ia mengetahui bahwa Ia akan ditinggalkan para murid-Nya pada saat Yudas menjalankan pengkhianatannya.

Ia mengetahui bahwa Ia akan disalibkan, suatu proses yang paling menghinakan yang biasanya dialami oleh para penjahat besar. Yesus menyadari betapa besar pengorbanan yang beberapa jam lagi akan dibuat-Nya di kayu salib, dan sesungguhnya bagi kebanyakan orang pengorbanan-Nya itu akan sia-sia belaka.

Tetapi di tengah-tengah beban pikirannya yang besar, tetap pikiran Yesus terfokus kepada murid-murid-Nya. Ada banyak hal yang Yesus ingin ceritakan sebelum perpisahan dengan mereka supaya para murid dihindarkan dari dukacita yang memilukan oleh karena ketidakmengertian di pihak para murid akan misi Yesus di dunia.

Kepiluan Yesus ditambah ketika terdapat suatu kecemburuan dan pertengkaran. “Terjadilah juga pertengkaran di antara murid-murid Yesus, siapakah yang dapat dianggap terbesar di antara mereka” Lukas 22:24. Di tengah-tengah kesedihan dan beban Guru mereka yang tidak mereka ketahui, para murid bertengkar tentang siapa yang lebih baik dari antara mereka semua.

Mereka telah memberikan perkiraan (penilaian) pada diri sendiri dan pada satu dengan yang lain. Dan gantinya menganggap saudara‑saudara mereka lebih layak, mereka menempatkan diri sendiri lebih dulu dari yang lain.

Apa yang menyebabkan pertengkaran untuk mendapatkan tempat tertinggi di antara mereka? Murid‑murid berpaut pada pendapat yang mereka sukai bahwa Kristus akan menyatakan kuasa‑Nya, dan mengambil kedudukan‑Nya di atas takhta Daud. Dan dalam hati, masing‑masing masih merindukan tempat tertinggi dalam kerajaan itu.

Karena mereka berpkir bahwa Yesus akan mendirikan kerajaan-Nya di bumi ini seperti pada zaman Daud, sehingga mereka berlomba-lomba untuk terlihat menjadi yang terbaik di hadapan Yesus. Mereka ingin mendapat kedudukan yang lebih tinggi dari pada yang lainnya.

Kesalahmengertian akan misi Yesus yang membuat mereka memperebutkan tempat tertinggi dan berakibat pada perselisihan atau pertengkaran.

Apakah kita juga mengalami dan melakukan hal yang sama satu dengan yang lain? Saling bersaing untuk terlihat lebih baik dari orang lain. Apakah kita sedang memikirkan dan mengusahakan reputasi diri dan menjatuhkan orang lain demi mencapai ambisi kita? Sungguh hal ini mendukakan Kristus.

Apa yang membuat mereka tidak mengerti misi dan pekerjaan Yesus di dunia?  Terpengaruh pada pandangan umum yang beranggapan bahwa kedatangan Mesias yang dijanjikan adalah memulihkan kerajaan Israel, takhta Daud.

Dalam Lukas 24:21 terdapat dua murid yang melakukan perjalanan ke Emaus mengungkapkan pendapat yang mewakili pemikiran seluruh murid. “Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel.”

Atau Markus 10:35, 37, “Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya: ‘Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami! . . .  Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu.’”

Hampir 3,5 tahun mengikuti Yesus namun mereka masih tetap saja tidak mengerti misi dan ajaran Guru mereka. Pandangan umum tentang kedatangan Mesias masih mempengaruhi dan terpatri dalam pikiran mereka. Mereka menjadi murid Yesus, namun ajaran orang-orang dunialah yang ada di pikiran mereka. Bahkan yang menyebabkan mereka nantinya tidak percaya kepada kebangkitan Yesus adalah terpengaruh ajaran orang-orang Saduki yang tidak percaya akan kebangkitan (Matius 22:23). Apakah ini juga yang terjadi dengan kita?

Saudara-saudara, mengerti misi dan pekerjaan yang Yesus lakukan pada zaman sekarang adalah sama pentingnya dengan para murid zaman dahulu untuk mengerti misi dan pekerjaan Yesus di atas dunia ini.

Karena kegagalan mengerti misi dan pekerjaan Yesus membuat para murid berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik. Para murid mengalami kesusahan besar ketika Guru mereka mati di Salib. Bahkan mereka meninggalkan Guru mereka ketika Dia ditangkap dan disalibkan. Dan jika kita juga melakukan kesalahan yang sama maka bisa jadi kita juga akan mengalami kesusahan dan kekecewaan di masa mendatang.

Saat ini ajaran-ajaran dari gereja yang sudah sangat familiar dengan telinga kita. Teologi kemakmuran banyak mempengaruhi orang-orang Kristen untuk percaya bahwa mengikut Yesus adalah kehidupan tanpa kesusahan dan penderitaan. Banyak orang berpindah-pindah gereja asalkan kehidupan mereka sehari-hari terpenuhi. Ajaran Alkitab yang keras dan menempelak dosa bukanlah favorit untuk didengar dan diperhatikan, melainkan lebih suka dengan khotbah-khotbah yang enak didengar. Sehingga ketika kesusahan, penderitaan dan kekurangan datang dalam hidup, mungkin saja banyak orang akan meninggalkan Tuhan dan gereja.

Lalu apakah pekerjaan Tuhan sekarang yang patut untuk kita mengerti? Dalam Daniel 8:14 ada nubuatan “dua ribu tiga ratus petang dan pagi.”  Nubuatan ini diawali tahun 457 SM dan berakhir 1844 M. Sejak berakhirnya nubuatan 2300 tahun pada 1844, dikatakan bahwa “tempat kudus itu akan dipulihkan dalam keadaan yang wajar.” Apa maksudnya dengan kalimat ayat itu ketika tempat kudus itu akan dipulihkan dalam keadaan yang wajar? Ini adalah tentang dimulainya masa penghakiman di sorga yang ditandai dengan berpindahnya pelayanan Yesus dari Bilik Yang Suci ke dalam Bilik Mahasuci di Bait Suci Surgawi untuk menjadi Imam Besar kita yang mengadakan pendamaian dan penyucian dari dosa bagi kita. Terjadi suatu masa penghakiman bagi manusia dari zaman Adam sampai pada zaman kita.

(untuk mempelajari lebih lanjut tentang penghakiman Anda dapat memklik http://amazingfacts.id/nubuatan-alkitab-terpanjang-yang-paling-menakjubkan-1/ (1), http://amazingfacts.id/nubuatan-alkitab-terpanjang-yang-paling-menakjubkan-2/ (2), http://amazingfacts.id/nubuatan-alkitab-terpanjang-yang-paling-menakjubkan-3 / (3).

Lalu apa yang menjadi bagian kita sekarang ketika Imam Besar kita sedang melakukan pengantaraan bagi kita sepanjang masa penghakiman ini?  Dalam kehidupan orang Israel Perjanjian Lama, dalam sekali setahun setiap “tanggal sepuluh bulan yang ketujuh itu ada hari Pendamaian (Imamat 23:27). Ini adalah hari raya tahunan yang Tuhan tetapkan untuk diperingati orang Israel yang sesungguhnya menjadi lambang akan ada hari Penghakiman di sorga. Tepat di hari Pendamian itu nasib setiap orang Israel akan ditentukan apakah kepada kehidupan atau kematian.

Namun di dalam Imamat 23:24 dikatakan bahwa “dalam bulan yang ketujuh, pada tanggal satu bulan itu, kamu harus mengadakan hari perhentian penuh yang diperingati dengan meniup serunai (terompet).”

Sepuluh hari sebelum hari raya Pendamaian diperingati, akan ada beberapa imam yang meniup serunai atau terompet sebagai tanda bahwa hari raya Pendamaian atau Penghakiman akan dimulai.

Kira-kira apa yang orang Israel lakukan selama sepuluh hari itu? Saudara, kalau sendainya kita tahu bahwa dalam 10 hari ke depan kita tahu bahwa nasib kita akan ditentukan pada 2 pilihan antara kematian atau kehidupan, apakah kita akan hidup bersenang-senang, pesta pora, jalan-jalan ke mall, menghabiskan waktu dengan HP dan gadget Anda? Apakah ibadah Anda akan asal-asalan? Tentu saja tidak. Ini juga yang dihindari orang Israel selama rentang waktu 10 hari itu.

Kepada mereka diperintahkan “jangan melakukan pekerjaan berat” (ayat 25) pada hari ketika pengumuman diberikan. Bahkan saatnya tiba hari pendamaian atau penghakiman diperintahkan supaya “janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan” (ayat 28). Mereka tidak dilarang untuk bekerja, tidak dilarang memberi makan domba atau ternak peliharaan mereka. Mereka masih boleh untuk beraktifitas namun akan ada waktunya pada hari ke sepuluh mereka harus benar-benar berhenti supaya focus mereka terpusat pada Tuhan sambil merendahkan diri dan menyelidik hati (ayat 27). Mereka diminta untuk menyelidik hati kalau saja ada kebiasaan atau dosa yang masih belum dibereskan yang merusak hubungan mereka dengan sesama mereka, terkhusus yang merusak hubungan mereka dengan Tuhan.

Mereka juga diperintahkan untuk “mempersembahkan korban api-apian kepada Tuhan.” (ayat 27). Apakah dalam mempersembahkan korban ini kepada Tuhan akan mereka lakukan dengan asal-asalan? Jika dalam keseharian mereka melakukannya dengan penuh kehati-hatian dan sesuai petunjuk Tuhan, terlebih dalam masa menjelang hari Raya Pendamaian itu mereka akan lebih teliti dan sesuai petunjuk Tuhan.

Saudaraku, hal yang sama terjadi sejak 1844 ketika masa penghakiman di sorga dimulai. Yesus menjalankan pendamaian dan penyucian dari dosa bagi kita di Bait Suci Sorga. Kehidupan yang dihidupkan oleh orang-orang Israel dulu itulah yang seharusnya kita lakukan. Di tengah-tengah kesibukan dan aktifitas kita mari terus arahkan pandangan kita pada pekerjaan Yesus sebagai Imam Besar dan Pengantara kita di sorga. Tidak ada lagi waktu yang dibuang selain daripada merendahkan hati, menyelidik hati untuk menemukan dosa-dosa yang menjadi penghalang antara kita dengan Tuhan.

Rasul Yohanes dalam Wahyu 14:7 mengamarkan kepada kita untuk: “Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena telah tiba saat penghakiman-Nya, dan sembahlah Dia yang telah menjadikan langit dan bumi dan laut dan semua mata air.”

Takut akan Allah artinya berikan hormat, kasih, dan kemuliaan hanya kepada Tuhan.

Muliakanlah Allah adalah apa yang Paulus katakan dalam 1 Korintus 10:31, “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” Memuliakan Tuhan melalui tubuh yang adalah bait Tuhan. Ini adalah tentang gaya atau pola hidup kita, entah itu berhubungan dengan makanan dan minuman kita, atau pakaian yang kita kenakan, tontonan kita, yang kita dengarkan melalui telinga kita.

Segala hal-hal yang tidak berkenan dan menghalangi kita mempersembahkan tubuh, hati, dan pikiran kita sebagai persembahan yang hidup bagi Tuhan haruslah kita singkirkan. Segala peribadatan yang menghalangi focus kita kepada Tuhan mari tinggalkan.

Menyembah Dia sebagai Pencipta berhubungan dengan pemeliharaan Sabat. Sabat adalah tanda peringatan bahwa Tuhan adalah pencipta (Keluaran 20:8-11). Sabat adalah yang menjadi peringatakan bahwa Dia adalah penebus kita dari perbudakan dosa sebagaimana dahulu Sabat menjadi tanda peringatan bagi orang Israel bagaimana mereka dibebaska dari perbudakan di Mesir (Ulangan 5:12-15). Jika kita masih berkompromi dan menolak Sabat, berarti belum sepenuh hati dan pikiran untuk menyembah Tuhan.

Dalam sebuah buku Christ in His Sanctuary, cp. 9, pg. 126  mengatakan:   Kita sekarang ini hidup pada hari besar pendamaian. Dalam pelayanan khusus, ketika Imam Besar sedang mengadakan pendamaian bagi bangsa Israel, semuanya diharuskan untuk merendahkan diri mereka dengan berpuasa serta menyesal terhadap dosa dan merasa tidak layak di hadapan TUHAN, kalau tidak mereka akan dilenyapkan dari antara bangsa itu. Dengan cara seperti itu, semua orang yang mau agar nama mereka tetap ada di dalam buku kehidupan, sekarang ini, pada hari-hari yang tersisa dari masa percobaan mereka, haruslah mereka  merendahkan diri dengan berpuasa di hadapan Allah serta menyesal terhadap dosa dan mengadakan pertobatan sejati  Haruslah dengan mendalam, penyelidikan hati dengan setia. Terang, roh sembrono yang dimanjakan dengan begitu banyak yang mengaku Kristen haruslah disingkirkan . . .  Pekerjaan persiapan adalah pekerjaan individu (perorangan). Kita tidak diselamatkan secara kelompok. Kemurnian dan pengabdian seseorang tidak akan mengimbangi keperluan kualitas ini pada orang yang lain. Meskipun semua bangsa harus melewati dalam penghakiman di hadapan Allah, namun Ia akan memeriksa kasus setiap individu dengan begitu teliti dan mencari dengan cermat seolah-olah tidak ada makhluk lain di atas bumi. Setiap orang harus diuji dan ditemukan tanpa cacat atau kerut atau yang serupa dengan hal itu.

“JIka Anda mau tetap berdiri selama masa pencobaan, Anda harus mengenal Kristus, dan menggunakannya dengan tepat karunia kebenaran-Nya, yang Ia telah hubungkan dengan orang berdosa yang bertobat.–The Review and Herald, Nov. 22, 1892.  {1SM 363.1}.

Karunia kebenaran Kristus harus dipandang dengan tepat. Kasih karunia-Nya tidak dimaksudkan supaya kita terus hidup dalam kebiasaan yang mejauhkan kita dari Tuhan.

“Pelajaran mengenai tempat kudus dan pengadilan pemeriksaan harus dimengerti dengan jelas oleh umat Allah. Semua harus mengerti kedudukan dan pekerjaan Imam Besar Agung mereka. Kalau tidak, mustahil bagi mereka mengamalkan iman yang diperlukan sekarang ini atau, menempati kedudukan yang Allah rencanakan bagi mereka.” Great Controversy, Chapter 28, P. 488.

“Banyak yang telah kehilangan pandangan terhadap Kristus. Mereka perlu mengarahkan mata mereka langsung kepada sosok pribadi Ilahi-Nya, jasa-jasa-Nya dan kasih-Nya yang tak pernah berubah untuk keluarga manusia. Segala kuasa telah diserahkan ke dalam tangan-Nya, supaya Ia dapat membagikan karunia-karunia yang limpah kepada manusia, memberikan karunia yang tak ternilai dari kebenaran-Nya sendiri kepada manusia yang tak berdaya.” TM 91, 92. 

Pekerjaan penyelidikan hati dan merendahkan diri haruslah diawali dengan memandang kepada Yesus dan pekerjaan-Nya sebagai Imam Besar dan Perantara kita di sorga.

Apa yang dapat mendorong kita untuk memandang Yesus dan pekerjaan-Nya di Bait Suci sorga? Kita akan lanjutkan dalam pelajaran kita yang akan datang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *