KEMANUSIAAN YESUS (Bag. 3)

Belajar Firman Mengenal Yesus
Mari bagikan artikel ini

  1. Apakah Yesus memiliki suatu sifat kemanusiaan yang dimiliki Adam sebelum kejatuhannya di dalam dosa?

Beberapa pertanyaan muncul bahwa Kristus tidak mungkin mempunyai sifat yang sama seperti sifat manusia, oleh sebab apabila demikian, Ia pasti akan jatuh di bawah pencobaan-pencobaan yang sama? Jawabannya adalah “apabila Ia tidak memiliki sifat kemanusiaan (kita yang telah jatuh), Ia tidak dapat menjadi teladan kita. Apabila Ia tidak mengambil bagian dalam sifat kita, Ia tidak dapat digoda sebagaimana manusia telah digoda.” – 1. S.M. 408.

Adalah jelas sekali bahwa Yesus tidak mengambil suatu jenis kemanusiaan yang lain dari apa yang kita kenal. Tetapi kutipan ini ‘mungkin’ masih belum memastikan apakah kemanusiaan Yesus adalah seperti yang dimiliki Adam sebelum kejatuhannya atau seperti yang dimiliki manusia setelah kejatuhannya dalam dosa. Kita harus membaca dengan lebih teliti.

Sebetulnya, kutipan yang di atas sudah memastikan bahwa kemanusiaan yang dikenakan Yesus adalah kemanusiaan yang telah dikutuk dosa. Kata-kata “menjadi teladan kita” (merujuk kepada 1 Petrus 2:21, 21) berperan sebagai “kunci”. Yesus tidak menjadi teladan bagi Adam sebelum kejatuhannya. Seandainya Adam tidak jatuh, Yesus sama sekali tidak perlu menjelma sebagai manusia. Adam yang tidak jatuh tidak perlu diberi contoh. Adalah Adam yang telah jatuh dalam dosa, dan kita semua sebagai keturunan-keturunannya, yang diberi contoh oleh Yesus! Untuk menjadi contoh kita, Ia telah “mengambil bagian dalam sifat kita” (merujuk pada Ibrani 2:16, 17; 4:15), agar Ia dapat memberi petunjuk-petunjuk bagaimana kita dapat menang! Inilah tujuannya yang penting! Karena itu Paulus berkata, “Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus” (Ibrani 12:2).

Dalam mempelajari tulisan yang diilhamkan Allah kita tidak boleh mengikat diri kita pada bunyi kata-kata melulu. Kita harus mencari dasar-dasar atau prinsip-prinsip kebenarannya. Dengan begitu, kita baru akan mencapai kebenarannya!

Pada pelajaran yang lalu, kita telah memperoleh suatu rumus. Rumus itu menyatakan satu prinsip kebenaran. Satu prinsip kebenaran, apabila telah diperoleh, tidak akan banyak dipengaruhi oleh kata-kata yang mungkin tidak sangat jelas penggunaannya. Rumus atau prinsip yang telah kita peroleh adalah:

Kemanusiaan Adam sebelum ia berdosa + kehidupan Yesus yang tanpa dosa = kemanusiaan Yesus yang tidak dapat mati.

Jangan terjebak dengan rumus di atas, karena pada dasarnya itu adalah rumus yang berkebalikan dari rumus yang benar. Sebab apabila Yesus telah mengenakan kemanusiaan yang tidak dapat mati, Yesus tidak dapat menebus dosa-dosa kita sebab tidak mungkin Dia akan mati. Dengan rumus ini, semua tulisan Alkitab harus dimengerti.

Contoh yang lain: Dunia kita telah dinodai dosa. Dunia kita telah menjadi suatu keganjilan dalam pemerintahan Allah! Itulah sebabnya, Yesus telah turun tangan dan merelakan diri-Nya untuk menebus kembali dunia kita ini supaya akhirnya noda dosa dapat dihapus dari dunia ini untuk selama-lamanya. Dengan lain kata, semesta alam akan dibersihkan kembali dari segala hasil perbuatan dosa bahkan ingatan akan dosa. Ini adalah suatu prinsip kebenaran: Allah tidak mau melihat atau mengingat dosa itu lagi! Dengan prinsip kebenaran ini, kita dapat memperoleh pengertian yang tepat dari hal NERAKA! NERAKA bukanlah tempat di mana orang berdosa akan dibakar untuk selama-lamanya sehingga Tuhan dan semua penghuni semesta alam akan mengingat dosa itu untuk seterusnya. Walaupun kata-kata Alkitab berbunyi: “Mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya” (Wahyu 20:10), namun frase “selama-lamanya“ di dalam Alkitab tidak selalu merujuk suatu jangka waktu yang tidak berkesudahan.

Kita tahu bahwa: “Hari itu datang, menyala seperti perapian, maka semua orang gegabah dan setiap orang yang berbuat fasik menjadi seperti jerami dan akan terbakar oleh hari yang datang itu, … sampai tidak ditinggalkannya akar dan cabang mereka.” – Maleakhi 4:1.

“Hal-hal yang dahulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi dalam hati.” – Yesaya 65:17.

(Untuk topik neraka, selengkapnya Anda dapat klik di NERAKA DANAU API DI DALAM BUKU WAHYU 3).

Jadi, apabila kita membaca ayat-ayat Alkitab dengan tujuan untuk mencari prinsip-prinsip kebenarannya secara menyeluruh, kita akan mendapatkan kebenaran-kebenaran tulisan-tulisan tersebut.  Kita tidak boleh mengikat diri kita pada bunyi kata-kata melulu, oleh sebab kalau kita melakukan hal ini, kita akan mudah sekali dibelokkan dari kebenaran untuk mendukung pendapat-pendapat kita sendiri! Marilah kita bersama-sama belajar untuk tidak melakukan hal ini! Kita semua harus ingat bahwa dalam mempelajari kebenaran firman Allah, bukanlah diri kita atau nama kita yang perlu ditinggikan dan disanjung-sanjung! Kemuliaan kita harus dikubur di dalam debu agar Yesus Kristus saja yang kita tinggikan!

Kita telah menemukan prinsip bahwa tujuan Yesus mengambil kemanusiaan kita adalah agar Ia dapat menjadi TELADAN kita agar kita boleh mengetahui bagaimana kita seharusnya hidup untuk mengalahkan setan dalam persiapan kita untuk menyongsong kedatangan Yesus yang kedua kali.

“Dalam diri Kristus, keilahian dan kemanusiaan telah disatukan. ……. Tetapi rencana Allah, yang telah dibuat untuk keselamatan manusia (manusia yang sudah berdosa), telah diatur agar Kristus mengenal kelaparan, kemiskinan, dan setiap segi dari pengalaman manusia (Ibrani 2:17). Ia telah mengalahkan setiap pencobaan (Ibrani 4:15), dengan kuasa yang juga dapat dimiliki manusia. Ia berpegang pada takhta Allah, dan tidak ada seorang pria atau wanita yang tidak dapat memperoleh pertolongan yang sama oleh iman pada Allah. …… Kristus telah datang untuk menyatakan sumber kekuasaan-Nya, agar manusia jangan pernah bersandar kepada kemampuan kemanusiaannya yang tidak diberi pertolongan.” – 1 S.M. 408, 409.

Dalam diri Kristus, keilahian dan kemanusiaan telah disatukan. Terlalu sering kita mengartikan sebutan ini bahwa di dalam diri Kristus didapati penyatuan di antara kemanusiaan dan keilahian-Nya sendiri. Memang Yesus bukanlah seorang manusia yang biasa. Yesus bukanlah 100% seperti kita. Kemanusiaan Yesus menyelubungi keilahian-Nya. Tetapi yang dimaksud oleh tulisan yang di atas bukanlah ini!

Tulisan yang di atas berbicara tentang “rencana keselamatan Allah bagi manusia yang telah jatuh dalam dosa”. Dalam rencana tersebut telah diatur agar Yesus “mengenal kelaparan, kemiskinan, dan setiap segi pengalaman manusia” yang hendak diselamatkan-Nya! Yesus tidak datang dengan kemanusiaan Adam yang belum mengenal arti “mementingkan diri sendiri”. Kemanusiaan Yesus, apabila tidak dikendalikan oleh KUASA KEILAHIAN yang selalu dipegang-Nya (bukan kuasa keilahian-Nya sendiri), akan segera dikalahkan setan!

Kita tahu bahwa hamba Allah tidak berbicara tentang KUASA KEILAHIAN YESUS SENDIRI oleh sebab ia mengatakan bahwa KUASA YANG SAMA atau PERTOLONGAN YANG SAMA dapat diperoleh setiap pria dan wanita yang menaruh iman pada Allah. Yesus harus ditolong sebagaimana kita harus ditolong. Yesus telah berpegang pada takhta Allah sebagaimana kita harus berpegang pada takhta Allah.

Yesus telah datang untuk ”menyatakan sumber kekuasaan-Nya”. Sumber kekuasaan-Nya adalah Roh Suci dan Sabda Allah. Sumber kekuasaan-Nya bukanlah keilahian-Nya sendiri. Apabila keilahian-Nya sendiri yang merupakan sumber kekuasaan-Nya itu, kita semua tidak akan memiliki kuasa itu oleh sebab kita bukanlah “ilahi”.

 

  1. Kemanusiaan Yesus adalah sama dengan kemanusiaan kita

Yesus telah menghampakan (mengosongkan) diri-Nya lebih dari apa yang kita perkirakan (Filipi 2:6-8). Sekiranya Yesus mengambil sifat kemanusiaan Adam sebelum kejatuhan-Nya ke dalam dosa, hal itu telah merupakan suatu hinaan yang luar biasa bagi-Nya. Tapi malahan Yesus mengenakan kemanusiaan yang sudah jatuh (Ibrani 2:16, KJV) bahkan sempat ribu tahun setelah Adam jatuh.

“Sungguhlah merupakan kehinaan yang tidak terhingga bagi Anak Allah untuk mengambil sifat manusia, sekali pun ketika Adam masih dalam keadaannya yang tidak berdosa di Eden dahulu kala. Tetapi Yesus rela menjadi manusia setelah bangsa manusia itu dilemahkan oleh dosa selama empat ribu tahun. Seperti setiap anak Adam, Ia menerima segala akibat buatan hukum hereditas yang besar (hereditas: sifat genetika turunan dari orang tua kepada anak). …… Ia (Allah Bapa) mengizinkan Dia (Kristus) …….. bertempur dalam peperangan sebagaimana setiap anak manusia wajib bertempur.” – Kerinduan Segala Zaman, Bab 4, hal.  39.

Adalah jelas sekali bahwa Yesus bertempur sebagaimana kita harus bertempur. Yesus telah bertempur dengan keadaan manusia yang tidak dibebaskan dari undang-undang keturunan yang besar. Yesus harus bertempur di tempat kita, agar Ia dapat memberikan teladan kepada kita bagaimana kita semua seharusnya bertempur.

“Dalam membahas kemanusiaan Kristus, saudara harus berjaga-jaga dengan sekuat tenaga dalam membuat pernyataan-pernyataan, agar kata-kata saudara tidak diberi arti yang lebih dari apa yang dimaksud. ……. Janganlah sekali-kali meninggalkan kesan dalam pikiran orang-orang bahwa ada satu gores kejahatan, atau kecenderungan kepada kejahatan, yang boleh didapati dalam diri Kristus. …. Biarlah semua orang menerima amaran untuk tidak membuat Yesus seluruhnya sama dengan manusia seperti kita (baca: meski memiliki kemanusiaan yang sama tetapi kita jatuh sedangkan Yesus tidak jatuh); oleh sebab hal itu tidak dapat terjadi.”  — EGW, Q.O.D. 62.

“Kita tidak boleh mempunyai pengertian yang salah dari hal kemanusiaan Yesus yang sama sekali tidak mengandung dosa.” – EGW, Q.O.D. 60, 61.

Firman Tuhan membuat perbandingan di antara manusia yang hidupnya tidak dikendalikan Roh Kudus, dan Kristus yang hidup-Nya sepenuhnya dikendalikan oleh Roh Kudus.

Kita mengetahui bahwa manusia yang hidupnya tidak sepenuhnya dikendalikan Roh Kudus, telah berbuat dosa. “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.”  — Roma 3:23.

Dalam hal “berbuat dosa” ini, sama sekali tidak ada perbedaan di antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya. Semua berada di dalam satu kapal. Tetapi, walaupun Yesus telah mengenakan kemanusiaan kita, kemanusiaan yang telah menerima “segala akibat undang-undang keturunan yang besar”, kita diamarkan untuk tidak menyamakan Yesus dengan kita yang berdosa ini.

“Janganlah sekali-kali meninggalkan kesan dalam pikiran orang-orang bahwa ada satu gores kejahatan, atau kecenderungan kepada kejahatan, yang boleh didapati dalam diri Kristus. …. Biarlah semua orang menerima amaran untuk tidak membuat Yesus seluruhnya sama dengan manusia seperti kita; oleh sebab hal itu tidak dapat terjadi.”

Rasul Paulus telah membuat semua manusia sama dengan tiada perbedaan-perbedaannya dalam hal “berbuat dosa”, tetapi kita telah diamarkan untuk tidak menyamakan Yesus “seluruhnya sama dengan manusia seperti kita” dalam hal mempunyai “gores kejahatan” atau “kecenderungan kepada kejahatan”. “Kemanusiaan Yesus sama sekali tidak mengandung dosa” (karena Dia tidak pernah sekalipun jatuh saat kena pencobaan). Yesus telah menang! Ibrani 4:15, “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.”

Yesus telah 100% menang dalam pertempuran-Nya dengan keadaan kemanusiaan seperti kemanusiaan kita, dan Ia hendak menyatakan sumber kekuasaan-Nya kepada kita. Yesus hendak memberi tahu kepada kita bahwa Ia telah menang bukan disebabkan keilahian-Nya atau kemanusiaan-Nya yang lebih unggul dari kemanusiaan kita; Ia telah menang oleh karena penyatuan kemanusiaan-Nya dengan keilahian Roh Kudus dan Bapa yang di sorga. Jalur ini dinyatakan-Nya terbuka bagi masing-masing kita!

“Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.” Ibrani 4:16.

Bersambung . . .

Editor : Setyo Kusuma A.

KEMANUSIAAN YESUS (Bagian 1)

KEMANUSIAAN YESUS (Bagian 2A)

KEMANUSIAAN YESUS (Bagian 2B)


Mari bagikan artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *