PARA PENGELOLA MISTERI

Renungan Harian
Mari bagikan artikel ini

“Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah. Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai” 1 Korintus 4:1, 2.

Kata-kata Paulus tertuju pada semua orang yang terpilih bertanggung jawab dalam pekerjaan gereja, baik itu seorang pemimpin awam maupun seorang pegawai. Kita bukanlah eksekutif bisnis, tidak juga pekerjaan Allah akan pernah diturunkan menjadi organisasi duniawi.

Ketika saya mengajar di seminari, suatu hari rektor memanggil saya ke kantornya dan bertanya apakah saya bersedia mengadakan minggu sembahyang musim semi untuk universitas. Itu memang minggu yang baik, diberkati oleh Tuhan, tetapi satu hal menyusahkan saya. Saya pikir saya harus menyediakan diri untuk para mahasiswa yang ingin berbicara, dan bertemu secara terpisah dengan dekan pria dan wanita untuk membicarakan jadwal. Penyambutan yang saya terima di salah satu asrama tidak ramah—malah, dingin. Saya mendapat kesan nyata bahwa ini wilayah mereka, dan mereka tidak ingin siapa pun masuk. Saya tidak memahami apa yang ada di balik sikap sang dekan tersebut. Apakah asrama itu dianggap sebagai wilayah kekuasaan dekan itu, yang harus dikelola oleh dekan itu sendiri?

Tetapi Paulus mengatakan kita ini bukan hanya para pengelola; kita terlibat dalam sesuatu yang berada di luar bisnis. Ada elemen yang sangat penting. Sifat dari pekerjaan kita itu sedemikian rupa sehingga kita tidak benar-benar mengendalikannya; ini mempunyai kualitas yang sukar dipahami. Allah, bukan manusia, berada pada titik pusatnya.

Ketika Paulus merujuk pada Kekristenan sebagai sebuah misteri, ia maksudkan rencana Allah, dipegang teguh di dalam hati-Nya, untuk menyelamatkan dunia. Ini rahasia, tetapi sekarang di dalam Yesus Kristus ia telah memberitahukannya. Pusatnya pada Yesus, manusia Allah, paduan misterius Allah yang kekal dengan kemanusiaan. Ini melibatkan pengetahuan pribadi tentang Allah, agar Kristus tinggal di dalam kita, harapan kemuliaan. Dan ini mengajak seluruh dunia, agar orang bukan Yahudi bisa diikutsertakan di antara umat Allah.

Di inti agama kita terletak sebuah rahasia, rahasia Allah. Bagaimana Allah menjadi manusia, bagaimana Allah menyelamatkan kita, bagaimana Allah membalikkan orang-orang berdosa kepada din-Nya sendiri. Inti agama kita mengelak dari definisi dan penjelasan yang tepat sekali. Tetapi kita ingin mendefinisikan, menjelaskan. Jadi, secara individu maupun kelompok, kita cenderung kehilangan pandangan secara perlahan terhadap dimensi yang sangat penting.

Dalam pekerjaan gereja kita perlu bekerja bersama-sama, berbagi rencana, dan menyelaraskan upaya kita. Tetapi marilah kita senantiasa mengingat bahwa Allah itu sangat besar, lebih besar dari rencana kita yang terbaik, lebih besar dari pandangan kita yang paling hebat, Allah bisa dan melakukan, pekerjaan melalui rencana kita, tetapi Ia juga bekerja di luar dari rencana kita. Allah adalah Allah; kita tidak mengatur tindakan-Nya.

Ps. William G. Johnsson – Hati yang Berlimpah Kasih Karunia, hlm. 162

Mari bagikan artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *